Tampilkan postingan dengan label Budaya Pop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Pop. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

Jual Buku Politik dan Grafiti Penulis: Rias Fitriana Indriyati

Jual Buku Politik dan Grafiti, Penulis: Rias Fitriana Indriyati
Judul Politik dan Grafiti
Penulis: Rias Fitriana Indriyati
Harga Rp 40.000
Editor: Wigke Capri Arti
Terbitan: Cetakan pertama, Oktober 2011
Jumlah halaman: 146+ xxiv halaman
Kata Pengantar: Amalinda Savirani, M.A.
Kondisi : Baru

Belum banyak orang menyadari bahwa politik tidak saja berada dalam ranah lembaga-lembaga formal seperti negara, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, politik sebenarnya bersifat sangat cair, termasuk dalam hal strategi penyampaian aspirasi politik yang dapat dilakuka melalui media gambar. Perspektif daily politics ini digunakan untuk melacak fenomena grafiti di Yogyakarta. Grafiti sebenarnya merupakan media komunikasi politik sehari-hari yang berisi berbagai masalah sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Keberadaan grafiti pada tembok jalanan yang notabene merupakan ruang publik juga mengandung relasi kuasa antar berbagai aktor. Studi ini menemukan indikasi bah ternyata dunia grafiti telah “dimanfaatkan” oleh para pemilik modal, kelompok sosial dan budaya yang dominan, serta negara. Dengan kata lain, dunia grafiti telah mengalami “kromonisasi” atau penjinakan (domestication). Sebagai konsekuensinya, grafiti bukan sekadar media dan representasi realitas sehari-hari versi grafiti, tetapi juga telah menjadi media dari representasi kelompok-kelompok dominan.

Rabu, 13 Agustus 2014

Kamis, 08 Mei 2014

Jual Buku Budaya Populer di Indonesia /Ariel H

Title / Judul :Budaya Populer di Indonesia
oleh: Ariel Heryanto
Penerbit :Jalasutra
Tgl Penerbitan :2012-08-00
Edisi :    Soft Cover
ISBN :6028252816
ISBN-13 :9786028252812
Bahasa :Indonesia
Halaman :0
Ukuran :0x0x0 mm
Berat :442 gram
Harga   Rp 65.000
Sinopsis Buku:
Buku ini mengkaji budaya populer di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbanyak dan berkiblat pada sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia. Buku ini menyajikan gambaran lengkap kecenderungan penting yang muncul sejak jatuhnya rezim otoriter Suharto (1998), masa terjadinya perubahan besar-besaran di Indonesia secara umum. Buku ini juga menguraikan bagaimana salah satu akibat terpenting dari pertumbuhan industrialisasi di Asia Tenggara sejak tahun 1980-an ialah perluasan konsumsi dan berbagai bentuk baru media, dan Indonesia merupakan contoh terbaik atas perkembangan tersebut.

Buku ini juga menggambarkan kendati krisis ekonomi yang terjadi di Asia tahun 1997 memberi dampak langsung dan pengaruh negatif pada pemerintah yang tengah berkuasa, dan pada kehidupan sosio-ekonomi masyarakat di seluruh kawasan, di saat yang sama budaya populer secara dramatis mengalami kebangkitan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Analisis terhadap berbagai tema penting dimuat dalam buku ini, termasuk aktivisme politik dan kewarganegaraan, jender, kelas sosial, dan etnisitas.

Secara keseluruhan, buku ini menunjukkan bagaimana proses pembentukan identitas yang berlapis-lapis dan saling-bertentangan di Indonesia teranyam erat dengan budaya populer. Sumber asli terjemahan ini mungkin merupakan salah satu buku berbahasa Inggris pertama yang mengupas media dan budaya populer di Indonesia. Dengan demikian buku ini diharapkan akan memberikan sumbangan penting bagi kepustakaan budaya populer di Asia, dan akan bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan perkembangan terbaru media dan budaya populer di Indonesia dan Asia.

Jual Buku Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia

Jual Buku Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop  dalam Masyarakat Komoditas Indonesia,  Penulis : Idi Subandy Ibrahim, Jalasutra,
Title / Judul : Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop
dalam Masyarakat Komoditas Indonesia
Harga Rp 85.000
TERJUAL 20/8/14
Penulis : Idi Subandy Ibrahim (ed.)
Cetakan : 2004
Tebal : 292 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-02-X
Kondisi stok lama
Deskripsi:

Mengapa kalau lapar ke McDonald’s, dan bila haus mesti minum Coca Cola? Mengapa shopping malls kian menjamur, sementara pasar-pasar tradisional mulai menusut? Mengapa produksi hand phone terus digenjot, sementara fasilitas telepon umum cenderung mandeg? Mengapa produksi mobil pribadi kian menderas sementara kendaraan umum senantiasa kekurangan? Gaya hidup, berikut simbol-simbolnya saat ini tengah mengguncang struktrur kesadaran manusia. Masyarakat cenderung terserap dalam keperkasaan kebudayaan pop yang kian hegemonik dengan segala atributnya. Gaya hidup telah menjadi komoditas, dan dalam menapaki kehidupannya, kebanyakan orang tamak lebih mementingkan “kulit” ketimbang “isi”.

Buku ini mencoba menunjukkan ada mesin besar “ideologi gaya hidup”, “ideologi waktu senggang”, “halusinasi haus kenikmatan”, dan mitologi penampilan diri yang mendorong manusia modern untuk terus mengonsumsi demi kehidupan yang “wah” dan penuh hura-hura. Gelombang kebudayaan pop dalam masyarakat komoditas Indonesia ditelusuri dari pelbagai sudut pandang oleh para pakar yang kompeten di bidangnya. Buku ini berguna bagi para pengkaji kebudayaan Indonesia, pemerhati industri hiburan, pengkaji sastra, dan seni populer, serta para dosen dan mahasiswa dalam disiplin komunikasi dan politik.
Resensi Buku:
Kebudayaan Massa di Tengah Masyarakat
oleh: Rimbun Natamarga
Idi Subandi Ibrahim pernah menyunting sebuah kumpulan tulisan tentang kebudayaan massa di Indonesia yang diberi judul Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia (Mizan, Bandung, 1997) sembari menanyakan keberadaan moralitas di dalamnya. Terlepas dari apapun moralitas yang dipertanyakan dalam produk-produk kebudayaan massa, dalam Lubang Hitam Kebudayaan (Kanisius, Yogyakarta, 2002) hasil penelitian Hikmat Budiman, generasi yang lahir dan tumbuh di dalam kebudayaan tersebut di Indonesia ini justru telah berperan penting menjatuhkan Suharto dari kekuasaannya pada tahun 1998. Generasi itu, dengan mengutip istilah Bre Redana, seorang wartawan Kompas, olehnya disebut sebagai “Generasi MTV.” Penerbit Jalasutra akhirnya menerbitkan kembali kumpulan tulisan tersebut. Ada 24 tulisan di dalamnya ditambah semacam “Kata Pengantar” oleh penyunting. Beberapa kontributor antara lain—dapat disebutkan di sini—Ariel Heryanto, Ashadi Siregar, Bre Redana, Clifford Geertz, Danarto, Darmanto Jatman, Jalaluddin Rahmat, Keith Foulcher, Kuntowijoyo, Marwah Daud Ibrahim, Masri Singarimbun, Sapardi Djoko Damono, Sarlito Wirawan Sarwono, Umar Kayam, dan Yasraf Amir Piliang. Kesemuanya itu dibagi dalam empat bagian, yakni “Budaya Massa atau Budaya Pop: Sebuah Pendahuluan,” “Budaya Media dan Budaya Citra,” “Budaya Simbolik dan Komodifikasi Gaya Hidup,” dan “Hegemoni Kesadaran dan Industri Budaya Kapitalisme.” Mengenai “kebudayaan massa”, ini adalah istilah kita untuk mass culture. Istilah Inggris ini konon berasal dari bahasa Jerman Masse dan Kultur. Sebenarnya istilah “kebudayaan massa” sendiri merupakan istilah yang mengandung nada mengejek atau merendahkan. Istilah ini merupakan pasangan dari high culture, “kebudayaan elite” atau “kebudayaan tinggi.” Biasanya, istilah “kebudayaan tinggi” diacukan tidak hanya ke berbagai jenis kesenian produk simbolik yang menjadi pilihan kaum elit terpelajar dalam masyarakat Barat, tetapi juga ke segala sesuatu yang ada kaitannya dalam pikiran dan perasaan mereka yang memilih jenis kesenian dan produk simbolik tersebut. Sebaliknya, “mass” atau “masse” mengacu ke mayoritas masyarakat Eropa yang tak-terpelajar dan non-aristokratik, terutama sekali masyarakat yang sekarang ini biasa kita sebut sebagai kelas menengah bawah, kelas pekerja, dan kaum miskin. Dengan demikian, jika “kebudayaan tinggi” dikaitkan dengan mereka yang “berbudaya”, yang elit dan terpelajar, maka istilah “kebudayaan massa” dianggap milik mayoritas masyarakat tak berbudaya dan tak-terpelajar. Dalam sosiologi, istilah “massa” mengandung pengertian kelompok manusia yang tak bisa dipilah-pilah, bahkan semacam kerumunan (crowd) yang bersifat sementara dan dapat dikatakan: segera mati. Dalam kelompok manusia yang seperti ini, identitas seseorang biasanya tenggelam. Masing-masing akan mudah sekali meniru tingkah laku orang-orang lain yang “sekerumunan.” Puncak dari tingkah laku mereka akan dilalui, katakanlah maksudnya selesai, apabila secara fisik mereka sudah lelah dan tujuan bersamanya tercapai. Begitu pula halnya dengan kebudayaan. Kebudayaan massa lebih kurang menunjuk pada berbagai produk dan praktek-praktek kultural yang melibatkan sekumpulan besar orang tanpa organisasi sosial, adat, tradisi, struktur peran dan status, tidak memiliki kompetensi dalam menilai kualitas suatu produk budaya, dan juga...berselera dangkal! Bagi mereka yang “terjerat” di dalamnya, produk-produk dari kebudayaan massa adalah komoditas yang semata-mata ditujukan untuk konsumsi, (dan celakanya) tanpa mereka sendiri memiliki kesanggupan untuk menolaknya—meskipun umur produk-produk itu relatif sementara. Bagaimana kita dapat mengenali produk-produk dan/atau praktek-prakteknya? Untuk mengenalinya, menurut Kuntowijoyo dalam tulisannya (“Budaya Elite dan Budaya Massa”), kita dapat lihat dari ciri-ciri yang selalu menyertainya. Sebab kebudayaan massa adalah akibat dari massifikasi. Adapun massifikasi sendiri, terjadi bila orang kebanyakan memakai simbol lapisan atas melalui proses industrialisasi dan komersialisasi dalam sektor budaya, sekalipun industrialisasi dan komersialisasi tidak selalu berarti negatif bagi budaya. Ciri pertama adalah objektivasi; artinya, pemilik hanya menjadi objek, yaitu penderita yang tidak mempunyai peran apa-apa dalam pembentukan simbol budaya. Ia hanya menerima produk budaya sebagai barang jadi yang tidak boleh berperan dalam bentuk apapun. Ciri kedua adalah alienasi; artinya pemilik budaya massa akan terasing dari dan dalam kenyataan hidup. Dengan demikian ia juga kehilangan dirinya sendiri dan larut dalam kenyataan yang ditawarkan produk budaya. Dan ciri ketiga (ciri terakhir) adalah pembodohan, yang terjadi karena waktu terbuang tanpa mendapatkan pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup yang berguna jika ia mengalami hal serupa. Senada dengan itu, Sapardi Djoko Damono dalam tulisannya (“Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil”) mengatakan bahwa, pada hakikatnya yang kita risaukan adalah kebudayaan massa ini yang, sebagai akibat dari semakin berkembangnya komunikasi, memang tak dapat dihindari. Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan kerisauan kita itu: (1) kebudayaan massa diproduksi secara besar-besaran berdasarkan perhitungan dagang belaka, (2) kebudayaan massa itu merusak kebudayaan tinggi dengan cara meminjam atau mencuri atau memperalatnya, (3) kebudayaan massa menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak, dan (4) penyebarluasan kebudayaan massa dianggap tidak hanya memerosotkan atau mengurangi nilai kebudayaan (tinggi) itu sendiri tapi juga menciptakan khalayak yang pasif yang sangat tanggap terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan, sehingga membuat peluang bagi munculnya totalitarianisme. Lantas, bagaimana kita mengenali produk-produk kebudayaan tinggi? Dalam kebudayaan tinggi, pemiliknya (1) tetap menjadi pelaku (subjek budaya); (2) tidak mengalami alienasi, dan jati dirinya tetap; serta (3) akan mengalami pencerdasan. Bahwa pemiliknya menjadi pelaku, artinya menjadi orang yang utuh, yang identitasnya tidak tenggelam dalam budaya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri dan ia pun berhak penuh untuk menafsirkan apa yang dialaminya. Ia tidak larut dalam objeknya, tetapi tetap menjadi subjek. Akibatnya, pemilik sekaligus pelakunya tidak mengalami alienasi. Ia akan merasa akrab dengan kehidupan, sebab disuguhkan realitas tanpa polesan. Karena menjadi pelaku yang utuh dan tak teralienasi, maka ia akan mengalami pencerdasan. Ia pun akan mendapatkan kebijaksanaan dan menjadi lebih pandai dari sebelumnya. Sayangnya, menurut Ashadi Siregar, istilah kebudayaan massa sering disaling-pertukarkan dengan kebudayaan pop(uler), termasuk oleh penyunting buku ini. Sebab, berdasarkan pandangan MacDonald yang dikutip Hikmat Budiman dalam Lubang Hitam Kebudayaan (hal.114) tadi, keduanya memiliki perbedaan yang sering tak disadari oleh banyak orang. Pembeda paling penting di antara keduanya tidak terutama terletak pada jumlah khalayak yang menerimanya, melainkan lebih pada motif di belakang produksi yang menghasilkan dua jenis produk budaya tersebut. Budaya massa jelas budaya yang semata-mata dan secara langsung merupakan objek untuk konsumsi massa, sedangkan budaya populer tak melulu hanya dikonsumsi massa tapi juga sering dikonsumsi oleh kalangan elit-terpelajar. Sebagai sebuah kumpulan tulisan, buku ini merupakan pengantar-memadai untuk mengenal kebudayaan massa berikut contoh-contohnya yang berkembang di Indonesia ini. Menariknya, contoh-contoh tersebut diberikan sekaligus dianalisis oleh para ahli di bidangnya. Misalnya, Clifford Geertz yang mengambil contoh “kesenian populer” dalam tradisi Jawa; Kuntowijoyo yang mengambil contoh pergeseran sensibilitas pers masa Orde Baru; Umar Kayam yang menggambarkan secara ringkas perkembangan kebudayaan massa dalam film, musik, seni pertunjukan, dan sastra; Marwah Daud Ibrahim, Danarto, Krishna Sen, dan Saraswati Sunindyo yang membahas citra wanita dalam berbagai media; atau Ashadi Siregar, Sarlito W. Sarwono dan Jalaluddin Rahmat yang mengangkat contoh gaya hidup anak muda sekarang ini; dan tak ketinggalan adalah Bre Redana serta Yasraf Amir Piliang yang membahas gaya hidup konsumerisme berikut motif di belakangnya.

Rabu, 23 April 2014

Jual Buku Ekstasi Komunikasi Baudrillard

Judul buku : Ekstasi Komunikasi
Pengarang : Jean Baudrillard
Penerjemah : Jimmy Firdaus
Penerbit : Kreasi Wacana
Cetakan : Pertama, Maret 2006
Tebal buku : xxxiv + 98 halaman
Harga Rp 20.000
Minat line.sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029
Dewasa ini, manusia dalam langkahnya kerap kali di himpit oleh “representasi objek” dengan menggunakan perangkat mekanik, sehingga meyebabkan manusia bingung dalam melihat dan menafsirkan suatu objek. Hal ini dikarenakan arus informasi-tekhnologi yang berkembang sangat pesat.Tesis ini menyiratkan bahwa dalam dunia tekhnologi dan informasi telah terjadi pengkaburan eksistensi dan esensi dalam memahami segala sesuatu.
Di sisi lain eksistensi manusia sebagai makhluk oraganik yang dibekali akal untuk berkreaswi dan beraktivitas, telah berubah menjadi “makhluk mati tapi bergerak’.Dikatakan demikian karena unsur-unsur mekanik telah merasuk dan terpatri kedalam memori dan jiwa manusia, sehingga organ kemanusiaan tidak lagi aktif melainkan mesin-mesin remotlah yang mengaktifkan organ manusia. Dalam konteks ini manusia lebih mudah terjajah oleh pengetahuan yang dibingkai dalam bentuk tekhnologi dan informasi. saat ini kita dengan mudah mengetahui privasi orang lain dengan hanya melalui media informasi. Misalnya, untuk mengetahui privasi seorang artis kita tidak perlu datang kerumahnya, melainkan cukup menikmatinya didepan televisi sambil meminum kopi hangat.
Sejalan dengan jebakan tekhnologi dan informasi diatas, seorang pemikir postmodern bernama Jean Baudrillad mencoba melakukan prediksi kritis dan mengajak kepada kita untuk keluar dari jebakan tersebut. Gagasan ini dapat kita lihat dalam buku “ekstasi komunikasi” yang diterjemahkan dari judul aslinya “the ecstasy of communication.
Buku ini merupakan reaksi dari kegelisahan akademik yang dilakukan oleh Baudrillad terhadap berkembangnya tekhnologi dan informasi. Dalam buku ini Baudrillad mengawalinya dengan melakukan kajian kritis terhadap sebuah objek. Tema yang berkaitan dengan objek merupakan karakter khas dalam setiap karyanya, termasuk buku ini.Dalam buku ini objek yang dimaksud adalah “nilai guna”. Hal ini merupakan kritik Baudrillard terhadap teori ekonominya Karl Max yang menekankan pada nilai konsumsi terhadap suatu objek.
Dalam konteks ini, Baudrilard menolak terhadap sikap manusia yang acapkali memandang sebuah objek sebagai media konsumsi bukan media produksi. Menurutnya, orang lebih suka dan cenderung mencandu dalam mengkonsumsi dari pada menjadi pemroduksi. Beranjak dari inilah secara implisit kreativitas manusia untuk melakukan reproduksi terhadap sebuah objek dipasung oleh keindahan dan keunikan suatu objek tertentu yang telah dibingkai oleh pemilik objek, sehingga orang tidak lagi berfikir untuk mendinamiskan objek tersebut, melainkan menjadikan objek tersebut pasif.
Dengan gaya berfikir yang hiperbolis Baudrillard melihat pemasungan kreativitas berfikir dari sisi kelarutan manusia terhadap komunikasi yang dibingkai oleh kekuatan tekhnologi. Inilah yang olehnya dinamakan "ekstasi komunikasi", yaitu proses penyampaian dan transmisi sebuah tanda yang dalam hal ini adalah pesan yang dapat meninabobokkan manusia dalam menerima pesan tersebut. Dengan kata lain, ekstasi ini merupakan bentuk kecabulan yang bermakna sesuatu yang menghapuskan pandangan, Citra, dan setiap bentuk representasi.Sebagai bentuk karya tulis ilmiah, Baudrillard memulai buku ini dengan menggunakan sistematika penulisan yang saling berkaitan dan harus dibaca secara sistematis.
Ada beberapa poin yang akan dibahas dalam buku tersebut, diantaranya adalah ekstasi komunikasi sebagai pengantar dan penjelas untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan "ekstasi komunikasi". Setelah mengetahui tentang ekstasi komunikasi Baudrillard mencoba untuk menampilkan ritual-ritual transparansi sebagai bentuk atau unsur yang menyebabkan adanya "ekstasi komunikasi".Kemudian dari ritual transparansi tersebut dikembangkan oleh Baudrillard ke dalam wilayah metamorfosis, metafor, metastatis. Wilayah ini dipahami oleh Baudrillard sebagai bentuk godaan atau jurang superfisial yang dapat memisahkan manusia dengan dunia, Inilah yang menjadi pembahasan selanjutnya.Sebagai estafet dari pembahasan di depan Baudrillard membahas tentang adanya perubahan atau pergeseran dari sistam objek menuju takdir objek.
Diakhir buku ini Baudrillard menawarkan sebuah obat mujarab agar kita keluar dari jebakan komunikasi yang memabukkan dengan berpijak pada kekuatan teori, artinya teori harus menjadi satu bagian dari suatu peristiwa di dunia yang tengah ia deskripsikan. Inilah beberapa desain gagasan dari buku "ekstasi komunikasi" yang dipersembahkan baudrillard.Buku ini menjadi sangat menarik, ketika Baudrillard berangkat dari sebuah kegelisahan dalam memandang realitas yang benar-benar terjadi. Sehingga berangkat dari kegelisahan itulah, kemudian seorang Baudrillard berusaha memberikan sumbangan pemikiran terhadap manusia yang sudah diperbudak oleh tekhnologi-komunikasi. Apa yang dipahami oleh Jean Baudrillard dalam buku ini menjadi tawaran alternatif bagi manusia untuk keluar dari kungkungan tekhnologi-komunikasi yang telah mencandu manusia.
Jean Baudrillard adalah seorang pemikir besar telah memberikan sumbangsih tak terhitung kepada dunia intelektual. Menurut hemat penulis, Buku ini sangat cocok dibaca oleh kalangan umum, karena tawaran-tawaran yang diajukan sangat relevan dengan realitas kehidupan manusia yang men-dewa-kan modernitas (tekhnologi-komunikasi). Mungkin hanya ini yang bisa ditorehkan oleh peresensi sebagai bentuk antaran kritis untuk memasuki wilayah buku ini secara sempurna.

*Peresensi adalah pustakawan yang tinggal di Jogja(Rizem Aizid)

Jual Buku Fashion Sebagai Komunikasi / Malcolm Barnard

Jual Buku Fashion Sebagai Komunikasi,  oleh: Malcolm Barnard  Penerbit :JalasutraTitle Judul Buku Fashion Sebagai Komunikasi
oleh: Malcolm Barnard
Penerbit :Jalasutra  ,
Terbit  : 2007
Edisi : Soft Cover
ISBN : 9793684739, ISBN-13 : 9789793684734
Bahasa :Indonesia,
Tebal : 274,
Ukuran : 150x210x0 mm,
Edisi : POD
Harga Rp 65.000
Sinopsis Buku:
Dalam Fashion sebagai Kominikasi, Malcolm Barnard membahas fashion dan pakaian sebagai cara mengkomunikasikan identitas-identitas kelas, gender, seksualitas dan sosial. Karya antardisiplin ini dengan jernih menganalisis bagaimana fashion dan pakaian dipahami sebagai fenomena modern dan posmodern

Kamis, 10 April 2014

Sabtu, 29 Maret 2014

Sell Books > Jual Buku Berhala itu Bernama Budaya Pop

Jual Buku Berhala itu Bernama Budaya Pop, Penulis Ridho Bukan RhomaJudul :Berhala itu Bernama Budaya Pop
Penulis Ridho Bukan Rhoma
Harga Rp 30.000 TERJUAL
Kondisi Stok lama
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029


Jumat, 28 Maret 2014

Sell Books > Jual Buku Cultural Studies, Tantangan Bagi Teori Teori Besar Kebudayaan

Title Judul : Cultural Studies, Tantangan Bagi Teori Teori Besar Kebudayaan
Penulis Mudji Sutrisno
Harga Rp 80.000
TERJUAL SBY 1/4/14
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029

Jual Buku Budaya Konsumen Terlahir Kembali

Title Judul: Budaya Konsumen Terlahir Kembali
Penulis Martin J Lee
Penerbit: Kreasi Wacana, 2006
Tebal :xvi + 328 hlm
Dimensi : 14x21cm
ISBN: 979-3722-71-1
Kondisi : Baru
Harga Rp 45.000

Order: sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029