Judul Filsafat Politik dan Kotak Pandora
Abad ke-21
Budiono Kusumohamidjojo
Harga Rp 75.000 off
Cetakan I, 2015
xxiv+444 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-8252-90-4
Kita hidup dalam realitas yang tidak saja
semakin majemuk, tetapi juga semakin
global dan tidak memberi kesempatan
pada subjek untuk bersembunyi sehingga
politik abad ke-21 hanya bisa dipahami
dengan baik dalam kerangka globalitas
dan proses globalisasi. Filsafat Politik
dan Kotak Pandora Abad ke-21 hendak menjelaskan substansi yang sedalam-dalamnya dan politik dalam konteks zaman yang semakin sarat dengan ketidakpastian dan kontradiksi. Manusia berdasarkan akalnya hanya mempunyai banyak peluang untuk berupaya membangun kehidupanbersama yang seimbang dan memelihara harmoni yang berkelanjutan di antara pelbagai kepentingan manusia yang kompleks dan sering kali diametral.
“The 21st century will be the century of change. More things will change in more places in the
next 10 years than in the previous 100.Most countries aren’t ready for this dizzying ride –
certainly not the United States of America.” (Fareed Zakaria, 1964- ), Newsweek, 2005
Daftar isi
Daftar Singkatan xi
Pengantar xv
1. Pendahuluan 1
A. Pengertian Filsafat 1
B. Pengertian Politik 6
C. Pengertian Filsafat Politik 10
D. Filsafat Politik dan Ilmu Politik 17
E. Sekitar Wacana Teori Politik 20
F. Kegunaan Filsafat Politik 23
2. Manusia sebagai Pelaku Politik 27
A. Manusia: Zoon Politikon 27
B. Warga Negara Terpilih 33
C. Aristokrat, Klerus, dan Para Filsuf 37
D. Revolusi Industri: Pers dan Partai Politik 41
E. Imperialisme dan Organisasi-organisasi Lintas Teritorial 44
F. Sekitar Wacana Civil Society 47
3. Negara sebagai Puncak Tatanan Politik 53
A. Pengertian Negara 53
B. Asal usul Negara 58
C. Evolusi Paradigma Negara 68
D. Faktor Konstitutif Negara Abad ke-21 75
E. Relevansi Negara di Abad ke-21 82
F. Format Negara 85
G. Tujuan Negara 88
H. Perdebatan Mengenai Tujuan Negara 97
I. Negara Gagal 99
J. Negara dan Sejarah 104
4. Hakikat dan Wajah Kekuasaan 109
A. Kekuasaan, Kekuatan, Kekerasan 109
B. Asal usul Kekuasaan 114
C. Anatomi Kekuasaan 118
D. Legalitas dan Legitimitas Kekuasaan 126
E. Kekuasaan dan Moral 129
F. Kekuasaan dan Negara 139
G. Kekuasaan dan Kedaulatan 141
H. Hukum sebagai Batas Kekuasaan 146
I. Kekuasaan dan Kepemimpinan 150
5. Utopia, Ideologi dan Realisme 155
A. Ideologi dan Utopia 155
B. Utopia 157
C. Ideologi 160
D. Kritik Ideologi: Kanan dan Kiri 165
E. Realisme 168
6. Beberapa Ideologi Penting Dunia 171
A. Liberalisme 171
B. Libertarianisme 181
C. Konservatisme 185
D. Utilitarianisme 190
E. Nasionalisme 195
F. Sosialisme 203
G. Marxisme 205
H. Aliran-aliran Marxisme 211
I. Komunitarianisme 220
J. Kaum Sosial-Demokrat 222
K. Fasisme 224
L. Pancasila 227
M. Akhir dari Ideologi 231
7. Konstitusionalisme 235
A. Konstitusi dan Konstitusionalisme 235
B. Konotasi Konstitusionalisme 240
C. Problematik Pemahaman Konstitusi 245
• Tekstualisme: Makna dari suatu naskah konstitusi 245
• Originalisme 248
• Teori Maksud Hipotesis 249
• Dworkin: Teori Moral 253
• Teori Kritik 255
D. Konstitusi dan Muatannya dalam Abad ke-21 258
8. Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan 263
A. Sistem Politik 263
B. Pengertian Pemerintah (government) 268
C. Pengertian Pemerintahan (governance) 272
D. Kekuasaan Pemerintahan 275
E. Tugas Pemerintah 276
F. Perintah Konstitusi kepada Pemerintah 279
G. Bentuk Pemerintahan 282
9. Politik dan Hak Asasi Manusia 289
A. Sejarah Idea Hak Asasi Manusia 290
B. Wacana Filsafat 294
C. Perdebatan dan Konvensi Internasional 301
D. Badan-badan Internasional 304
E. Hak Asasi Manusia pada Tingkat Regional 306
F. Pelaku Bukan Negara 311
G. Universalisme dan Relativisme 313
H. Tantangan Masa Depan 316
I. Politik Hak Asasi Manusia 322
10. Interes Politik Abad ke-21 331
A. Manusia dan Alam 332
B. Merumuskan Kembali Manusia 337
C. Manusia dan Kebudayaan 340
D. Antara Kebebasan dan Kesetaraan 353
E. Demokrasi di Persimpangan? 357
11. Globalisasi Politik 365
A. Pengertian Globalisasi 365
B. Globalisasi dan Negara Kebangsaan 373
C. Sekilas Peta Kekuatan Ekonomi Dunia 377
D. Globalisasi dan Kerjasama Internasional 382
E. Teknologi Informasi 384
F. Ekosistem Global 388
G. Akhir Globalisasi dan Tata Dunia Selanjutnya 390
Glosarium 397
Daftar Pustaka 401
Daftar Situs Rujukan 411
Indeks 423
Tentang Penulis 441
Sedia dan Jual Buku Referensi Skripsi.:Thesis dan Research Bidang: Filsafat.Sosiologi.Antropologi.Pemerintahan.Hubungan Internasional. Politik.Komunikasi.Psikologi.Sejarah.Hukum.Pendidikan.Sastra Budaya dan Bahasa.
Tampilkan postingan dengan label Budiono Kusumohamiodjojo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budiono Kusumohamiodjojo. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Mei 2015
Jual Buku Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21, Budiono Kusumohamidjojo
Jumat, 12 September 2014
Jual Buku Filsafat Yunani Klasik; Relevansi untuk Abad XXI / Budiono Kusumohamidjojo
Buku Filsafat Yunani Klasik; Relevansi untuk Abad XXIPengarang: Budiono Kusumohamidjojo
Harga 58.000 dari Rp 61.000
Penerbit: Jalasutra, 2013
Ukuran: 14 x 21 cm, 376 hlm
Format: paperback, hvs 70 gr
ISBN: 978-602-8252-84-3
Sinopsis
Buku Filsafat Yunani Klasik: Relevansi untuk Abad XXI karya Budiono Kusumohamidjojo ini, mengulas dengan runut, jelas, dan cukup lengkap tentang seluk-beluk pemikiran para filsuf Yunani Klasik. Hal yang cukup menarik dan membuktikan penguasaan penulis atas data sekaligus kerendahan hatinya sebagai pemikir adalah bahwa beberapa kata, istilah, dan teori ‘tidak berani’ diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukannya untuk menghormati pemikiran asli para filsuf sekaligus untuk menghindari kesalahpahaman makna.
Tidak hanya mengulas historisitas pemikiran, buku ini menjadisangat layak untuk dibaca karena di sana-sini kita akan menemukan relevansinya dalam konteks masa kini. Banyak pemikiran dan teori yang berkembang sekarang ternyata sudah diletakkan fondasinya oleh para filsuf Yunani klasik. Dengan kata lain, filsafat Yunani klasik penting untuk diketahuidan dipelajari karena mewarisi kompleksitas pengetahuan ilmiah yang sulit diabaikan peranannya bagi perkembangan sejarah dunia. Buku Filsafat Yunani Klasik ini mengajak pembaca untuk mengetahui dengan rinci ‘dunia’ para filsuf Yunani klasik sekaligus ‘menemukan’ dan ‘memahami’ relevansinya di abad XXI.
Daftar Isi
Daftar Isi ~ v
Daftar Singkatan dan Ejaan ~ vii
00 Pengantar ~ ix
01 Pendahuluan ~ 1
02 Kultur Yunani Kuno ~ 11
03 Mitologi dan Kosmologi ~ 17
BAGIAN PERTAMA
ZAMAN PRA-SOKRATES, BANGKITNYA HELLENISME
04 Para Filsuf Pra-Sokrates ~ 23
05 Para Filsuf dari Miletos: Thales, Anaximandros, Anaximenes ~ 29
06 Kaum Pythagorean: Pythagoras, Philolaos ~ 45
07 Heraklitos ~ 61
08 Para Filsuf Monis (Anti-Pluralis) dari Eleates, Kaum Eleatik: Xenophanes, Parmenides, Zenon dari Elea, Melissos ~ 69
09 Para Filsuf Pluralis (Anti-Monis, Kaum Neo-Ionian): Anaxagoras, Empedokles ~ 91
10 Para Filsuf Atomis (Anti-Monis): Leukippos dan Demokritos ~ 117
11 Kaum Sofis ~ 137
BAGIAN KEDUA
ZAMAN PUNCAK HELLENISME
12 Sokrates ~ 159
13 Aliran-Aliran Sokratian ~ 175
14 Platon ~ 183
15 Aristoteles ~ 213
BAGIAN KETIGA
ZAMAN MEMUDARNYA HELLENISME
16 Aliran Peripatetik ~ 261
17 Kaum Skeptik ~ 265
18 Epikurianisme ~ 279
19 Kaum Stoa ~ 287
20 Neo-Platonisme dan Plotinos ~ 301
21 Penutup ~ 311
Referensi ~ 315
Glosarium ~ 331
Indeks ~ 345
Tentang penulis ~ 355
Kata Pengantar
PADA TAHUN 2005 saya ditugaskan oleh Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan untuk mengajar mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani. Saya berhenti mengajarkannya pada tahun 2010, yakni ketika saya mengundurkan diri dari sana. Penugasan itu membawa hikmah karena juga merupakan kesempatan bagi saya untuk melakukan revisit atau napak-tilas ke dalam dunia filsafat Yunani kuno yang kaya dengan prinsip-prinsip filsafat dan, bahkan prinsip-prinsip sains pertama yang kemudian banyak diterima dunia, lalu mengangkat kembali relevansinya bagi kehidupan kita di abad ke-21.
Kenikmatan ketika mengajar Sejarah Filsafat Yunani datang dari dua alasan. Pertama, tidak ada gunanya untuk mempelajari dan mendalami suatu sejarah filsafat tanpa menemukan kembali serta menarik relevansi aktualnya. Kedua, filsafat Yunani kuno, menurut pengamatan saya, mengandung banyak sekali kebijaksanaan – kalau tidak bisa dibilang semacam ‘kebenaran’ – yang, hemat saya, banyak di antaranya masih berlaku sampai sekarang. Harus diakui bahwa peradaban dunia sekarang ini banyak bertumpu pada dalil-dalil yang semula digariskan oleh pemikir-pemikir Yunani kuno.
Sebagian besar bukti tentang hal ini diperlihatkan oleh apa yang sering kita sebut sebagai ‘Peradaban Barat.’ Kendati penuh dengan kekurangan, suka atau tidak suka kita harus mengakui bahwa ‘Peradaban Barat’ sangat berperan dalam mengaktualisasikan dan memanfaatkan prinsip-prinsip filsafat Yunani kuno dalam pelbagai sektor kehidupan modern. Peradaban dunia kita sekarang banyak memanfaatkan ‘Peradaban Barat’ yang terutama menopangkan teknologinya pada premis-premis filsafat Yunani. Jangan lupa bahwa, di zamannya filsafat Yunani kuno itu mencakup juga terutama pengetahuan di bidang fisika, matematika, biologi, dan medik.1 Kenyataan itulah yang membuat filsafat Yunani kuno naik pangkat menjadi filsafat Yunani klasik. ‘Klasik,’ dengan demikian dipahami sebagai ‘barang tua yang sekarang masih berharga.’
Nyatanya, ‘Peradaban Barat’ itu pun sekarang diselenggarakan oleh sejumlah masyarakat yang melesat atau sedang melesat maju dan tidak harus ‘barat,’ seperti Jepang, Korea, Tiongkok, dan India. Di samping itu, para pemuka dari sejumlah masyarakat lain di dunia juga mendukung ‘Peradaban Barat’ secara sadar maupun tidak sadar. Dunia jarang menyadari sejarah di mana peradaban Arab telah banyak berperanan dalam menggali dan mengangkat kembali khazanah filsafat Yunani klasik seperti yang antara lain diungkapkan oleh Karen Armstrong dalam bukunya The History of God. Dalam kurun waktu tahun 800-1200, peradaban Islam memelihara ilmu dan filsafat Yunani sebagai suatu khazanah peradaban unggulan.2
Diskursus selama zaman kekuasaan Islam di Spanyol pada abad ke-11 merujuk pada Ibn Rushd dari Cordoba (Averroes, 1126–1198) yang mendapat predikat sebagai narasumber dalam stelsel Aristoteles dari para pemikir Eropa yang menyadari gelapnya wacana pengetahuan mereka.3 Kita tahu bahwa penyadaran ini membuka jalan bagi Zaman Renaissance abad ke-15 sampai ke-16 yang mendobrak kebuntuan peradaban yang dipendam oleh Zaman Kelam, serta menstimulasi para pemikir untuk memahami alam dan dirinya sendiri dengan kekuatan akalnya. Sejarah memang bisa sangat ironis, seperti diungkapkan Armstrong, “Tatkala sejumlah orang Kristen Eropa berkutat dengan penghancuran Islam di Timur Tengah, orang-orang Muslim di Spanyol menolong Barat untuk membangun peradaban mereka sendiri.”4 Tidak mengherankan jika orang seperti Bung Hatta (1902-1980), yang mengaku bukan filsuf, memandang penting untuk mengajarkan filsafat Yunani klasik yang diketahuinya dalam masa pengasingannya oleh Belanda serta kemudian menuliskan bahan pengajarannya itu tidak lain supaya kita bisa belajar banyak daripadanya.
Saya mengakui dan harus mengemukakan bahwa saya tidak termasuk dalam generasi penekun filsafat yang masih menguasai bahasa Yunani klasik meskipun kemudian saya mempelajarinya sejauh bisa, dari internet. Karena itu, kesalahan-kesalahan istilah Yunani dalam buku ini adalah hal yang tidak bisa dihindari. Kendati demikian, saya lumayan beruntung karena dua hal. Pertama, karena teknologi informasi (IT) sekarang amat memudahkan penggalian dan pelacakan naskah-naskah asli dan dalam bahasanya yang asli serta memungkinkan kita untuk mempelajarinya sejauh kita mau. Kedua, kepustakaan bahasa Jerman kaya dengan pelbagai karya di bidang filsafat Yunani, baik sebagai terjemahan (terutama dari Schleiermacher), analisis, maupun komentar. Kendati begitu, saya segera merasakan sulitnya memperoleh referensi tangan pertama.
Bahkan, karya Hermann Diels yang monumental berjudul Doxographi Graeci (Ajaran-Ajaran Yunani, 1879) dan Die Fragmente der Vorsokratiker (Percikan-Percikan Pra-Sokrates, 1903) menjadi acuan pokok bagi studi tentang filsafat Yunani pra-Sokrates di zaman modern. Sampai sekarang saya belum berhasil mendapatkan akses ke bahan itu. Hal lain yang patut disayangkan adalah bahwa saya juga belum memiliki akses kepada karya besar W.K.C. Guthrie, A History of Greek Philosophy, yang diterbitkan dalam enam jilid di London dalam kurun waktu antara 1962-1981. Untunglah, ada The Cambridge Companion to Early Greek Philosophy sekalipun terbatas hanya sampai zaman sebelum Sokrates. Di samping itu, saya memang tertolong oleh sejumlah literatur tentang filsafat Yunani klasik yang dihasilkan di zaman modern dan yang bisa kita bongkar berkat teknologi informasi, antara lain melalui Google/Wikipedia atau Stanford Philosophy Web. Tentu saja literatur seperti ini ‘membaca’ filsafat Yunani kuno itu dengan semangat zamannya sendiri.
Saya menyadari bahwa, untuk membuat buku ini ‘pantas’ bagi pembaca, saya harus mengangkat makna aktual dari filsafat Yunani klasik itu sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi sekarang. Artinya, di samping menggali kembali pengetahuan saya tentang filsafat Yunani klasik, saya sekaligus harus menampilkan aktualitas maknanya. Jika tidak demikian, itu sama saja dengan membacakan pikiran-pikiran mati dari orang-orang yang juga sudah mati. Dengan begitu, saya memang tidak saja harus ‘membacakan’ filsafat Yunani klasik, melainkan malah menghidupkannya kembali supaya kita bisa berdialog dengannya. Dalam rangka memanggungkan kembali filsafat Yunani kuno tersebut, saya hanya memberikan penjelasan yang ringkas tentang pemikir Yunani tertentu serta memberikan paparan yang rinci tentang sejumlah pemikir lainnya. Hal itu tampak misalnya pada Platon dan Aristoteles yang pada akhirnya meninggalkan materia filosofi yang terkaya dari pemikiran Yunani kuno. Saya akui bahwa tugas seperti itu tidak gampang. Tetapi lebih dari itu tugas ini menarik dan mendatangkan manfaat pribadi, karena saya memiliki kesempatan sekali lagi untuk memahami khazanah filsafat pada umumnya secara lebih mendalam. Saya merasa bahwa pemahaman itu juga bermanfaat bagi para pembaca buku ini.
Filsafat Yunani klasik yang menjadi pangkal dari ‘Peradaban Barat’ sekarang, merupakan salah satu dari tiga rumpun filsafat besar yang menoreh jalur-jalur utama sejarah dunia. Dua rumpun besar filsafat lainnya adalah filsafat India dan filsafat Tiongkok. Kedua rumpun besar filsafat ini mendekati dan menanggapi realitas dengan cara yang amat berbeda dari filsafat Yunani. Namun, jarang orang mengetahui bahwa filsafat Yunani klasik adalah akar dari filsafat Arab dan filsafat Eropa yang kemudian bersama-sama menjadi pilar dari ‘Peradaban Barat’ sekarang.5 Dengan menggali filsafat Yunani klasik, kita akan menyadari bahwa sebagian besar persoalan-persoalan dunia modern sudah mulai disoal oleh para pemikir Yunani kuno. Selanjutnya untuk sebagian besar filsafat modern dan bahkan post-modern sebenarnya hanya sekadar melanjutkan diskursus yang sudah mereka mulai dua setengah milenia yang lalu, meskipun diskursus tersebut dibaca dengan perspektif zaman masing-masing.
Di kebanyakan fakultas filsafat, filsafat Yunani kuno diberikan pada awal pendidikan yang, tidak bisa dihindarkan, bertujuan untuk mengantarkan mahasiswa ke dalam studi filsafat selanjutnya. Naskah ini ditulis terutama untuk tujuan pengajaran meskipun memang bisa berguna juga untuk pembaca umumnya. Saya berusaha semaksimal mungkin agar buku ini bisa dibaca seolah ‘buku cerita.’ Saya berharap bahwa apa yang dianggap berharga dan mendatangkan manfaat pribadi berupa harta karun pengetahuan ilmiah bagi saya berlaku sama juga bagi para mahasiswa yang harus mengetahuinya maupun bagi para pembaca pada umumnya.
Bandung, Januari 2012
BK
Tentang Penulis
BUDIONO KUSUMOHAMIDJOJO lahir di Bandung pada tahun 1949. Ia meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Parahyangan Bandung pada tahun 1976. Selanjutnya, gelar Doktor der Philosophie (Dr.phil.) dengan predikat magna cum laude dari Julius-Maximilians-Universität, Würzburg, Jerman (1982). Budiono juga memperoleh Research Grant dari Konrad-Adenauer-Stiftung, Jerman (1984) dan International Visitor’s Program for Professionals dari State Department, Amerika Serikat (1985). Ia juga menjadi penerjemah resmi-disumpah untuk bahasa Inggris, Jerman, Belanda v/v bahasa Indonesia, Universitas Indonesia, Jakarta (1995).
Dalam dunia akademik, Budiono pernah mengajar Filsafat Kebudayaan, Filsafat Politik, Filsafat Yunani, dan Filsafat Tiongkok di Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan, Bandung, tahun 1995-2010. Ia juga mengampu Filsafat Hukum pada Program Pascasarjana, Universitas Parahyangan, Bandung (1995-2002), Universitas Indonesia (2003-2004), dan Universitas Pelita Harapan (2005), Jakarta, serta Teori Hukum di Universitas Tujuh Belas Agustus, Jakarta, tahun 2009. Pada tahun 2006, Menteri Pendidikan Nasional mengangkatnya sebagai Guru Besar untuk Filsafat Hukum.
Pelbagai aktivitas yang dilakoninya adalah sebagai senior partner pada kantor konsultan hukum “Soebagjo, Jatim, Djarot” 356 Budiono Kusumohamidjojo 356 357 (1994-2009) dan sejak tahun 2010 pada “Nurhadian Kartohadiprodjo Noorchayo”, Jakarta. Ia juga anggota Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia, Jakarta (sejak 1991); PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia, nomor registrasi F.91.10331), Jakarta (sejak 2005); Perhimpunan Penerjemah Indonesia (Indonesian Translators Association, nomor registrasi HPI 01-04-65), Jakarta (sejak 2004); International Bar Association, London (sejak 1996); dan Kamar Dagang Indonesia-Jerman (sejak 1995, Board Member 2004-2006).
Beberapa bukunya yang sudah diterbitkan antara lain Netralitas dan Netralisme di Asia Tenggara (Gramedia: 1985); Konvensi Wina tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional (Binacipta: 1986); Hubungan Internasional, Kerangka Studi Analitis (Binacipta: 1987); Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (Grasindo: 2000); Filsafat Hukum, Problematik Ketertiban yang Adil (Grasindo: 2001, 2004).
Budiono termasuk aktif menulis. Lebih dari 150 makalahnya sudah dipublikasikan. Semuanya berkaitan dengan hukum, filsafat, filsafat hukum, hubungan internasional, dan kebudayaan, yang pernah dimuat di pelbagai media di Indonesia, Jerman, Australia, Kanada, dan Singapura dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman. Buku yang Anda pegang ini adalah buku ketiga yang diterbitkan Jalasutra setelah Filsafat Kebudayaan (2009, 2010) dan Sejarah Filsafat Tiongkok (2010). Buku yang tidak lama lagi akan terbit adalah Sejarah Filsafat Yunani, dan yang sedang dalam proses adalah Filsafat Politik serta Teori Hukum.
Sebagai penerjemah, ia sudah mengalihbahasakan naskah Richard Rosecrance, Kebangkitan Negara Dagang (Gramedia: 1986); Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional, Jilid I (Gramedia: 1992) dan Jilid II (Gramedia: 1993); serta Konstitusi dan Ilmu Konstitusi dalam Praktek: Peringatan 50 Tahun UUD Republik Federal Jerman (Friedrich-Naumann-Stiftung: 1999).
Bersama Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. dan Eddy Damian, S.H., dia menyunting naskah Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa ini (Alumni: 1983). Sedang bersama Prof. Dr. Soerjanto Poespowardojo dan Drs. Frans M. Parera, dia menyunting buku Pendidikan Wawasan Kebangsaan (Grasindo: 1994).[]
Jumat, 30 Mei 2014
Jual Buku Filsafat Kebudayaan / Budiono Kusumohamidjojo
Buku Filsafat Kebudayaan, Proses Realisasi Manusia
Harga Rp 60.200
Penulis: Budiono Kusumohamidjojo
Cetakan: Pertama, Desember 2009; Kedua, April 2010
Divisi: Jalasutra
Halaman: 256
Ukuran: 15 x 21
ISBN: 987-602-8252-21-8
Kondisi : Baru
Deskripsi:
Buku ini menegaskan bahwa Filsafat Kebudayaan adalah kritik kebudayaan. Buku ini mencoba berkelindan di antara kedua kutub ekstrem dilematis di atas sambil cenderung berat pada keinginan memetakan substansi yang bernama kebudayaan dalam konstelasi dunia-manusia mutakhir. Dalam buku ini, penulis memetakan awal permasalahan mendasar kebudayaan dalam refleksi filosofis secara sistematik dan komprehensif. Pelbagai ilustrasi konkret membuat konteks pembicaraan terasa aktual. Alur penjelasannya yang bernas tangkas memudahkan pembaca mencerna semua konsep yang ditawarkan, selain juga mengasyikkan. —
01. Pengantar
Bagian Pertama: Anatomi Kebudayaan
02. Pendahuluan
03. Filsafat Kebudayaan Sebagai Kritik Kebudayaan
04. Proses Definisi Kebudayaan
05. Karakteristik Kebudayaan
06. Segitiga Manusia-Alam-Kebudayaan
Bagian Kedua: Struktur dan Realitas Kebudayaan
07. Masyarakat dan Kebudayaan
08. Individu dan Kebudayaan
09. Struktur, Unsur dan Poros Kebudayaan
Bagian Ketiga: Nilai dan Perubahan
10. Nilai, Norma dan Kebudayaan
11. Relativitas dalam Kebudayaan
12. Perubahan Kebudayaan
13. Kebudayaan dan Peradaban
Bagian Keempat: Ujung Terowongan Kebudayaan
14. Kebudayaan dan Religi
15. Kebudayaan dan Sejarah
Harga Rp 60.200
Penulis: Budiono Kusumohamidjojo
Cetakan: Pertama, Desember 2009; Kedua, April 2010
Divisi: Jalasutra
Halaman: 256
Ukuran: 15 x 21
ISBN: 987-602-8252-21-8
Kondisi : Baru
Deskripsi:
Buku ini menegaskan bahwa Filsafat Kebudayaan adalah kritik kebudayaan. Buku ini mencoba berkelindan di antara kedua kutub ekstrem dilematis di atas sambil cenderung berat pada keinginan memetakan substansi yang bernama kebudayaan dalam konstelasi dunia-manusia mutakhir. Dalam buku ini, penulis memetakan awal permasalahan mendasar kebudayaan dalam refleksi filosofis secara sistematik dan komprehensif. Pelbagai ilustrasi konkret membuat konteks pembicaraan terasa aktual. Alur penjelasannya yang bernas tangkas memudahkan pembaca mencerna semua konsep yang ditawarkan, selain juga mengasyikkan. —
01. Pengantar
Bagian Pertama: Anatomi Kebudayaan
02. Pendahuluan
03. Filsafat Kebudayaan Sebagai Kritik Kebudayaan
04. Proses Definisi Kebudayaan
05. Karakteristik Kebudayaan
06. Segitiga Manusia-Alam-Kebudayaan
Bagian Kedua: Struktur dan Realitas Kebudayaan
07. Masyarakat dan Kebudayaan
08. Individu dan Kebudayaan
09. Struktur, Unsur dan Poros Kebudayaan
Bagian Ketiga: Nilai dan Perubahan
10. Nilai, Norma dan Kebudayaan
11. Relativitas dalam Kebudayaan
12. Perubahan Kebudayaan
13. Kebudayaan dan Peradaban
Bagian Keempat: Ujung Terowongan Kebudayaan
14. Kebudayaan dan Religi
15. Kebudayaan dan Sejarah
Kamis, 10 April 2014
Jual Buku Sejarah Filsafat Tiongkok / Budiono Kusumohamidjojo

Judul: Sejarah Filsafat Tiongkok, Sebuah Pengantar
Komprehensif
Harga Rp 60.000
Penulis: Budiono Kusumohamiodjojo, (penulis Filsafat Kebudayaan)
Penerbit Jalasutra
Cetakan: Pertama, Agustus 2010
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: xxxvi + 276 hlm
ISBN: 978-602-8252-51-5
Kondisi Baru, 1 buah
Minat ? sms.wa. 0896-6116-2026 BBM 3300A029
Deskripsi:
Rasanya tidak berlebihan jika pelajaran berharga yang bisa kita tarik dari sejarah filsafat Tiongkok adalah seni ketangguhan, bagaimana mereka jatuh-bangun mengatasi pelbagai kemelut politik dalam negeri (yang acap terjadi di sekujur tiga milenium sejarah Tiongkok) maupun kemelut internasional (terutama dengan Jepang 1932-1945), bencana alam, juga kelaparan hebat dan pelbagai krisis lainnya sedemikian rupa sehingga Tiongkok menampilkan suatu peradaban yang sinambung sampai masuk ke zaman postmodern dan seterusnya.
Menarik pelajaran dari filsafat Tiongkok pastilah akan berguna bagi kita sendiri. Seperti tulis Jonathan Fenby: kita berkepentingan untuk mengetahui, dari mana datangnya RRT, sehingga mereka menjadi seperti sekarang ini. Disposisi itu juga sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Konfusius dalam Lùn-yu XV.11: “Barang siapa hendak memahami masa depan, dia harus tahu masa lalu”. Itu pasti bukan narasi gampang, tetapi justru karena tidak gampang, penulis amat bernafsu untuk membongkarnya: mulai kosmologi dan ideosinkretisme, Yì-Jing, Konfusianisme, Mohisme, Daoisme, Kaum Dialektik, Ajaran Yin-Yáng, Kaum Legalis, Buddhisme Tiongkok, hingga Kang Youwéi.
Buku ini berisi
Glosarium
BAB 1
Pendahuluan
A. Istilah dan Relevansi Tiongkok
B. Legenda
BAB 2
Filsafat Tiongkok di Tengah Filsafat Dunia
A. Sinologi dan Filsafat Tiongkok
B. Perbandingan Filsafat (comparative philosophy)
C. Polilogi Filsafat
BAB 3
Keragaman Geografi dan Keunikan Bahasa
BAB 4
Pembabakan Sejarah Tiongkok dan Filsafatnya
A. Periode Arkeologis
B. Periode Kuasi Sejarah
C. Periode Prasejarah
Dinasti Xià (Xià Cháo, 2205-1766 SM)
D. Periode Sejarah
1. Dinasti Shang (Shang Cháo, ca.1766- ca.1123 SM)
2. Dinasti Zhou (Zhou Cháo, ca. 1122- ca. 256 SM)
3. Dinasti Qín (Qín Cháo, 221-206 SM)
4. Dinasti Hàn (Hàn Cháo, 206 SM-220 TM)
5. Dinasti Táng (Táng Cháo, 618-907)
6. Dinasti Sòng (Sòng Cháo 960-1279)
7. Dinasti Yuán (Yuán Cháo, 1279-1368)
8. Dinasti Míng (Míng Cháo, 1368-1644)
9. Dinasti Qíng/Ch’ing (Qing Cháo, 1644-1912)
10. Republik Tiongkok (Zhonghuá Mínguó, 1912)
11. Republik Rakyat Tiongkok (Zhonghuá Rénmín Gònghéguó, 1949)
BAB 5
Kosmologi dan Ideosinkretisme
A. Alam Semesta Sebagai Kesatuan
B. Tiga Dasar Ideosinkretisme Tiongkok
C. Sima Tán (ca.165–110 SM) dan Enam Ajaran
BAB 6
Yì-Jing: Buku Tentang Perubahan
A. Kaisar Fú-xi dan Bagùa
B. Raja Wén dan Lìushí¬sì gùa
C. Konfusius dan ‘Sepuluh Appendix’
D. Yì-Jing dan Pernujuman
E. Filosofi dalam Yì-Jing
F. Pengaruh Doktrin Yì-Jing
BAB 7
Konfusianisme (Rú-Jia)
A. Konfusius: Sang Guru
B. Naskah-naskah dan Ajarannya
C. Etika Konfusian
D. Politik
E. Warisan dan Murid-muridnya
F. Mèngzi
G. Xúnzi
H. Zhu Xi: Sang Synthesizer
BAB 8
Mohisme (Mò-Jia)
A. Latar Belakang
B. Naskah-naskah Sumber Mohisme
C. Sains, Epistemologi, dan Logika
D. Etika dan Politik
E. Religi
F. Warisan Mòzi
BAB 9
Daoisme (Dào-Jia)
A. Laozi
B. Daoisme: Genealogi dan Sumber-sumber Tekstual
C. Dào-Jia dan Dào-Jiào
D. Konsep ‘Dào’ ?
E. Etika dan Prinsip-prinsip Daoisme
F. Zhuangzi
G. Buku Zhuangzi
H. Neo-Daoisme
I. Daoisme dan Buddhisme
BAB 10
Kaum Dialektik (Míng-Jia)
A. Topik Utama
B. Dèng Xi
C. Yin Wén
D. Huì Shi
E. Gongsun Lóng
F. Refleksi
BAB 11
Ajaran Yin-Yáng (Yin-Yáng-Jia)
A. Asal-Usul
B. Zou Yan
C. Dong Zhòngshu (ca. 179-104 SM)
D. Fengshui
E. Shào Yong (1011-1077) dan Zhou Dunyí (1017-1073)
BAB 12
Kaum Legalis (Fa-Jia)
A. Para Perintis Fa-Jia
B. Hán Feizi dan Li Si
C. Naskah Hán Feizi
D. Kaum Legalis, Kaum Konfusian dan Kaum Daois
BAB 13
Buddhisme Tiongkok (Hàn-zhùan Fó-Jia)
A. Sidharta Gautama
B. Prinsip-Prinsip Buddhisme
C. Buddhisme di Tiongkok
D. Aliran-Aliran Buddhisme Tiongkok
E. Menyusutnya Buddhisme di Tiongkok
BAB 14
Utopia dari Kang Youwéi
BAB 15
Refleksi Penutup
Daftar Naskah Klasik Tiongkok Terpenting
Daftar Pustaka
Indeks
Langganan:
Postingan (Atom)

