Kamis, 30 Juli 2015

Jual Buku In Memoriam Prof, Khaidir Anwar Penulis: Zaiyardam Zubir

In Memoriam Prof, Khaidir Anwar
Penulis: Zaiyardam Zubir
Harga: Rp. 150.000
ISBN: 9789791587648
Stock buku: Persediaan terbatas
Jumlah halaman: 775
ukuran: 15 x 20.5
Bahasa: Indonesia
Terbit : April 2009 by Minangkabau Press


Sinopsis: Dalam beberapa dekade terakhir, kebudayaan kita telah melakukan perantauan yg jauh kenegeri asing & sekali-kali pulang kampung dengan wajah malu-malu. tetapi ada juga yg `merantau ke china`, karena tak pernah kembali lagi kekampung halamannya. Dia menjadi si `Anak hilang` yg terlupakan.

PRAKATA viii Editor KATA SAMBUTAN xiii Dekan Fakultas Sastra Unand PENGANTAR xviii Edi Utama DAFTAR ISI Bagian Pertama : Ditengah Keluarga 1 Mengenai Papa 3 Dewi fortuna Anwar 2 Papa di Tengah Keluarga 13 Sri Danti 3 Mengenal Prof Khaidir Anwar 17 Desi Anwar BAGIAN KEDUA: TENGAH MAHASISWA DAN HANDAI TOULAN 27 1 Memories of Pak Khaidir 29 Nigel Phillips 2 Khaidir Anwar: Potret Guru & Cendekiawan Sejati 33 Yusmami Djalius 3 Obituary Khaidir Anwar (1932-95): a Personal Memoir 45 C W Watson

“Inti sari budaya itu ialah penghargaan terhadap DEN sebagai individu dan kami yang terdiri dari pada DEN yang merdeka” Khaidir Anwar.
One evening about sunset I was talking to Pak Khaidir in front of the house. He was dressed in songkok and shirt and kain, looking no different from millions of other Indonesian men in the villages. The though struck me: This “typical Indonesian villager” is Dr. Khaidir Anwar, the scholar you were used to seeing sitting in the Senior Common Room in SOAS, as often as not reading Le Monde or Die Zeit, an intellectual cosmopolitan completely at home in European culture. (C.W. Watson).

Perhatian beliau kepada ilmu dan esensi tugas pejabat dan dosen di perguruan tinggi juga terungkap dalam komentar beliau ketika upacara sumpah rektor usai, “Tidak ada di antara isi sumpah itu yang berupa janji untuk meningkatkan ilmu pengetahuan”. (Prof. Bustanudin Agus)
Papa paling jengkel jika saya menanyakan arti kata-kata setiap kali saya membaca dan menemukan kata-kata yang baru. Papa selalu mengatakan saya harus melihat kamus dan mencatat setiap kata baru yang saya temukan dalam buku catatan. Katanya jika saya hanya menanyakan saja arti kata-kata tersebut, tanpa upaya untuk menemukannya sendiri dari kamus, saya akan cepat lupa lagi. Papa membelikan saya bermacam-macam kamus. Sepertinya, setiap saya menanyakan sesuatu Papa akan pergi ke luar dan membeli kamus baru. Saya sempat meragukan keahlian Papa dalam urusan berbahasa Inggris. Pernah saya meminta bantuan Papa dalam mengerjakan PR sastra Inggris, tetapi nilainya tidak begitu bagus. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi meminta bantuan Papa dalam menyelesaikan PR. (Dewi Fortuna Anwar)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar