HURU HARA Rengas Dengklok
Harga Rp 47.000-BELI BUKU-
sampul lusuhh, isi utuh lengkap, ada bekas stempel
Sedia dan Jual Buku Referensi Skripsi.:Thesis dan Research Bidang: Filsafat.Sosiologi.Antropologi.Pemerintahan.Hubungan Internasional. Politik.Komunikasi.Psikologi.Sejarah.Hukum.Pendidikan.Sastra Budaya dan Bahasa.
Tampilkan postingan dengan label ISAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISAI. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 November 2015
Sabtu, 31 Oktober 2015
BREDEL di udara, Rekaman Radio BBC, ABC, DW, Nederland, VoA
BREDEL di udara, Rekaman Radio BBC, ABC, DW, Nederland, VoA
Harga Rp 59.000
Kondisi Bekas, agaklusuh, isi utuh, ada bekas stempel, LANGKA
Harga Rp 59.000
Kondisi Bekas, agaklusuh, isi utuh, ada bekas stempel, LANGKA
Rabu, 14 Oktober 2015
Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca, oleh Philip Kitley
Kamis, 24 September 2015
Jual Buku BAYANG BAYANG PKI, Terbitan ISAI 1995
kontributor : Manai Sopian, Kemal Idris,Onghhokham, Cosmas Batubara
Oleh Tim ISAI
Penerbit ISAI (Institut Studi Arus Informasi)
Cetakan Pertama, I995
harga Rp 240.000Penerbit ISAI (Institut Studi Arus Informasi)
Cetakan Pertama, I995
Tebal 238hlm
Kondisi SEKEN, sampul bersih, isi ada bekas lembab seperti peta 27hlm. lainnya bersih utuh, KOLEKSI PRIBADI,||LANGKA|
Dihiasi foto-foto hitam putih
Daftar isi al:
I. Pendahuluan
II. Mencari Dalang G30S
Cosmas Batu Bara : Pater Beek Bukan Agen CIA
III. Operasi Klandestin CIA :
Pra dan Paska G30S
Letjen (Purn) Soebijakto : G30S Adalah Avonturisme Politik PKI
IV. Perpecahan PKI : Dua Partai Komunis
Menjelang G30S
Letjen (Purn) Kemal Idris: Saya Ikut Melahirkan Supersemar
V. Mereka Tak Gendong Trauma
Buku ini bukan sekedar buku sejarah, tetapi juga merupakan buku kajian ilmiah, dimana buku ini dilengkapi dengan data survey.
Dihiasi foto-foto hitam putih
Daftar isi al:
I. Pendahuluan
II. Mencari Dalang G30S
Cosmas Batu Bara : Pater Beek Bukan Agen CIA
III. Operasi Klandestin CIA :
Pra dan Paska G30S
Letjen (Purn) Soebijakto : G30S Adalah Avonturisme Politik PKI
IV. Perpecahan PKI : Dua Partai Komunis
Menjelang G30S
Letjen (Purn) Kemal Idris: Saya Ikut Melahirkan Supersemar
V. Mereka Tak Gendong Trauma
Buku ini bukan sekedar buku sejarah, tetapi juga merupakan buku kajian ilmiah, dimana buku ini dilengkapi dengan data survey.
Minggu, 10 Mei 2015
Jual Buku Pledoi Kol. A. Latief (Soeharto Terlibat G 30 S), Penulis: Kol. A. Latief
Judul: Pledoi Kol. A. Latief (Soeharto Terlibat G 30 S)Penulis: Kol. A. Latief
Harga: Rp. 150.000
Penerbit: ISAI Institut Studi Arus Informasi
Tahun: Cetakan III, Juli 2000
Bahasa: Indonesia
ISBN :9798933273
Sampul: Soft Cover
Tebal: 282 Halaman
Berat Buku: 400 g
Kondisi: Stok Lama, Bagus
Sinopsis
"Aneh sekali: kalau semua itu terjadi di suatu cerita detektif, segala tanda akan menuju kepada dia -Soeharto, paling sedikit sebagai orang yang sebelumnya pernah punya informasi. Misalnya setahun sebelum Peristiwa 65, Soeharto turut menghadiri pernikahan Obrus Untung yang diadakan di Kebumen. Untung dahulu menjadi orang bawahan Soeharto di tentara. Lalu, dalam bulan Agustus 1965, Soeharto juga bertemu dengan Jendral Supardjo di Kalimantan. Dan mereka -Untung dan Supardjo- telah main peranan yang utama dalam komplotan. Aneh lagi, bahwa Soeharto tidak ditangkap dalam kup, dan malahan Kostrad tidak diduduki dan dijaga pasukan yang memberontak, walaupun letaknya di jalan Medan Merdeka dimana banyak gedung diduduki atau dijaga. Semua militer mengetahui bahwa kalau Ahmad Yani tidak di Jakarta atau sakit, Soeharto lah sebagai jendral senior yang menggantinya. Aneh juga bahwa Soeharto bertindak sangat efisien untuk menginjak pemberontakan, sedangkan grup Untung dan kawannya semua bingung."
Wawancara itu saya akhiri dengan mengatakan: "Tetapi sejarah pun lebih ruwet dan sukar daripada cerita detektif."
Prof. Dr. W. F. Wertheim, Sejarah Tahun 65 yang Tersembunyi
Sabtu, 28 Juni 2014
Jual Buku Mencari Demokrasi / Benedict Anderson
Judul: Mencari DemokrasiHarga Rp. 80.000
Penulis: Benedict Anderson, Clifford Geertz, Daniel s. Lev, George McT. Kahin, Goenawan Mohamad, Takashi Shiraishi, William Liddle
Penerbit : Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
Tahun : 1999
Tebal: 289 halaman
Kondisi: Seken,Bagus
Review:
Dari lintas pendekatan politik, antropologi, hukum, budaya, dan sejarah, kita berharap bisa mendapatkan inspirasi untuk mencoba menjelaskan absurditas demokrasi ala Indonesia.
Label:
Ben Anderson,
BLP,
Clifford geertz,
Daniel S Lev,
George Mc T Kahin,
Goenawan Mohammad,
ISAI,
Kajian Demokrasi,
Kondisi Bekas,
Langka,
Pemikiran dan Kajian Politik,
William Liddle
Kamis, 26 Juni 2014
Selasa, 24 Juni 2014
Jual Buku Televisi dan Prasangka Budaya Massa/ Veven S Wardhana
Senin, 31 Maret 2014
Jual Buku Civil Islam ,Islam dan Demokratisasi di Indonesia./ Robert W Hefner

Judul: Civil Islam: Islam dan Demokratisasi di Indonesia
Penulis: Robert W. Hefner
Harga Rp 95.000 TERJUAL
Penerbit: Institut Studi Arus Informasi, 2001
Tebal: 387 halaman
Kondisi: Bekas ,Bagus
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026 BBM 3300A029
Demokratisasi muslim Indonesia tidak eksklusif. Sejak awal fleksibel terhadap hal-hal berbeda yang datangnya dari luar Islam. Di kalangan masyarakat Barat, sudah lama tertanam keyakinan bahwa demokratisasi tak bakal ada di dunia Islam. Ketidakpercayaan ini makin terlihat setelah berakhirnya Perang Dingin, sehingga Barat tak lagi punya pesaing, dan karena itu sedang memperhitungkan pesaing baru. Dan Huntington datang dengan tesis yang sangat merendahkan penganut Islam, Konfusionisme, kepercayaan Jepang, Hindu, Budha, serta budaya tua lainnya.
Menurut dia, prinsip-prinsip demokrasi -seperti individualisme, liberalisme, konstitusionalisme, hak asasi manusia, kesetaraan, kebebasan, pasar bebas, dan penegakan hukum- tak bakal bisa diterima oleh selain Barat. Lewat buku Civil Islam ini, Hefner ingin membuktikan hal sebaliknya dari yang diasumsikan Huntington.
Hefner mengajukan hasil penelitiannya selama kurang lebih 10 tahun di lingkungan masyarakat muslim Indonesia. Demokratisasi di Indonesia menjadi penting karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia saat ini, dengan penduduk sekitar 210 juta dan memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.
Bagi Hefner, krisis ekonomi yang mengakibatkan kerusakan pada semua sistem kehidupan masyarakat belum menjadi pertanda kekabutan akan optimisme demokratisasi di Indonesia, sebagaimana yang dilansir beberapa pengamat politik tentang Indonesia. Menurut Hefner, Indonesia sudah berperadaban sebagaimana juga yang dimiliki oleh negara-negara besar lainnya untuk proses demokratisasi dan pluralisme.
Hal ini ditunjukkan oleh upaya yang sungguh-sungguh dari pelbagai kalangan intelektual muslim Indonesia, terutama untuk mengidentikkan diri kepada ideal-ideal demokrasi. Pengalaman ini dirasakan Hefner melalui perbincangan-perbincangan informal dengan kalangan intelektual muslim di Indonesia. Mereka meyakini proses yang sungguh-sungguh untuk memperjuangkan demokratisasi di Indonesia.
Kegairahan kalangan intelektual muslim mengadopsi demokratisasi di Indonesia itu sekaligus menyakinkan Hefner bahwa demokratisasi tidak terbatas di kalangan Barat saja. Bagi Hefner, pandangan muslim Indonesia, yang menganggap prinsip-prinsip demokratisasi Barat tidak selalu berkompromi dengan kepercayaan mereka, merupakan cara pandang dialogis dan transkulturalis yang akan menjadi titik masuk ke dalam makna demokrasi modern.
Hefner memaparkan jalan panjang demokratisasi di masyarakat muslim Indonesia, yang tidak hanya dimulai dari masa Indonesia kontemporer. Melainkan jauh ke belakang menelusuri peradaban demokrasi yang sudah berkembang sejak wilayah ini diakui menjadi bagian dari carrefour (persimpangan) peradaban -meminjam istilah Denys Lombard.
Artinya, demokratisasi muslim Indonesia sesungguhnya bukan locus eksklusif hanya bagi muslim di Indonesia, melainkan juga menyangkut wilayah-wilayah lainnya yang terhimpun dalam wilayah Asia Tenggara. Sejak awal, wilayah ini memang dikenal sangat fleksibel terhadap penyatuan hal-hal yang berbeda yang datang dari luar, seperti Hinduisme, Budhisme, ajaran Cina, dan mistisisme Islam.
Kondisi demikian juga berlanjut sampai era modern, ketika kapitalisme kolonial, birokrasi negara, budaya cetak, reformasi Islam, dan gerakan kemerdekaan ditransformasikan ke dalam diri mereka. Yang menjadi pertanyaan, apakah keyakinan demokratisasi muslim di Indonesia yang dikemukakan Hefner itu menjadi kenyataan yang terus berlangsung setelah buku ini selesai? Sebab, demokratisasi di Indonesia justru dimatikan oleh pelaku-pelaku yang mengaku sebagai orang yang duduk pada beacon of democracy, seperti badan eksekutif, legislatif, dan juga yudikatif.
Langganan:
Postingan (Atom)





