Tampilkan postingan dengan label Kajian Kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Kolonial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950an Jafar Suryomenggolo


Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950an Jafar Suryomenggolo

Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950an
Jafar Suryomenggolo
ISBN 978-979-1260-52-7
178 + x hlm.; 14 x 20,3 cm.
Rp 50.000,-


Diterbitkan dengan kerjasama Pusat Studi dan Dokumentasi Sejarah Indonesia (PSDSI) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Dekade 1950an adalah masa penting dalam proses dekolonisasi Indonesia yang sayangnya masih kurang banyak dibahas dalam historiografi. Negara mulai giat menyusun wadah negara pasca kemerdekaan dengan membangun lembaga-lembaga penyokong dan mengatur perikehidupan masyarakat umum dalam koridor demokrasi liberal. Secara umum muncul harapan bahwa negara yang baru merdeka ini akan berbeda dan menjadi lebih baik daripada negara kolonial sebelumnya. Termasuk di bidang perburuhan.

Saat itulah, serikat-serikat buruh banyak menggelar pemogokan untuk menuntut pelaksanaan hak-hak yang sebagiannya terus kita nikmati sampai saat ini, misalnya: tuntutan untuk tidak membedakan gaji pekerja perempuan dan laki-laki, tuntutan hak cuti haid dan hamil untuk pekerja perempuan, serta kewajiban pengusaha memberikan Tunjangan Hari Raya (THR). Namun masa-masa itu juga ditandai dengan dimulainya campur tangan militer dalam penyelesaian perselisihan perburuhan--sesuatu yang juga masih terwariskan hingga kini.

Buku menarik ini juga membahas bagaimana serikat buruh saat itu ikut terpolarisasi dalam arus Perang Dingin, sebagaimana tercontohkan dalam sosok Koesna Poeradiredja, pemimpin Persatuan Buruh Kereta Api (PBKA) yang menerima Hadiah Ramon Magsaysay 1962.

Minggu, 08 November 2015

Sabtu, 17 Oktober 2015

Ekonomi Politik Kolonialisme: Perspektif Kebijakan Ekonomi Politik Pemerintah Hindia Belanda dalam Mengelola Industri Gula Mangkunegaran pada Periode 1870-1930

Jual Buku Ekonomi Politik Kolonialisme: Perspektif Kebijakan Ekonomi Politik Pemerintah Hindia Belanda dalam Mengelola Industri Gula Mangkunegaran pada Periode 1870-1930Ekonomi Politik Kolonialisme: Perspektif Kebijakan Ekonomi Politik Pemerintah Hindia Belanda dalam Mengelola
Industri Gula Mangkunegaran pada Periode 1870-1930
Penulis: Mahesti Hasanah
Pengantar: Dr. Sri Margana
Cetakan I, Agustus 2015, 176+xiv halaman
ISBN 978-602-14532-9-2
Harga: Rp 45.000
Kondisi Baru


Buku yang hadir di tangan para pembaca ini adalah sebuah kajian terbaru tentang sejarah pengelolaan perusahaan-perusahaan Mangkunegaran, dengan memfokuskan kajian pada industri gula di Mangkunegaran selama periode kebangkitannya kembali pada masa Mangkunegara VII. Hal menarik dari buku karya Mahesti Hasanah ini adalah latar belakang penulisnya yang bukan seorang sejarawan tetapi seorang peneliti dari ranah ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa buku ini lebih memfokuskan pada faktor politik ekonomi pemerintah kolonial. Karena latar belakang keilmuan penulisnya, kajiannya tentu lebih analitis dari pada processual kronologis seperti biasa dilakukan oleh para sejarawan. Tentu saja ini menjadi kelebihan dari buku ini, karena pengetahuan penulis tentang teori-teori sosial membuat kajian historis terhadap kebijakan ekonomi kolonial pada paruh kedua abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20 ini menjadi sangat menarik. Sekalipun data-data kuantitatif yang dihadirkan adalah data-data sekunder dari para peneliti sebelumnya, data-data itu dianalisis secara mendalam, konseptual, dan teoretis. Penulis mengaplikasikan teori Keynesian untuk menganalisis kebijakan negara dalam kasus industri Mangkunegaran. Buku ini akan menjadi pembanding yang beharga dari karya Wasino tentang Kapitalisme Bumiputra, yang juga membahas subjek serupa.
Dr. S Margana, Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM

Selasa, 04 Agustus 2015

Jual Buku Bangsa Inlander : Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara, Penulis HM. Nasruddin Anshoriy,Ch

Jual Buku  Bangsa Inlander : Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara, Penulis HM. Nasruddin Anshoriy,Ch Judul Bangsa Inlander : Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara
Harga Rp 48.000 dari 59.000
Penulis HM. Nasruddin Anshoriy,Ch
Penerbit Lkis
ISBN 9791283605
Tanggal terbit 2008
Jumlah Halaman 198
Kondisi Stok lama, baru, bagus, segel lepas, LANGKA

Senin, 03 Agustus 2015

Jual Buku Dibawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial. Penulis Ben ROG Anderson

Jual Buku Dibawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.  Penulis Ben ROG Anderson
Jual Buku Dibawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.  Penulis Ben ROG Anderson|| TERBIT BACAAN POSKOLONIAL PALING DITUNGGU |
Dibawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.
Harga Rp 93.000
Penulis Ben ROG Anderson
Terbit 2015
Tebal ix,378hlm
Ukuran 14x21cm
Minat ? sms.wa 0896 6116 2026 bbm 570BD803

Kamis, 28 Mei 2015

Jual Buku Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural Editor: Kees Grijns - Peter J. M. Nas

Jual Buku Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural, Editor: Kees Grijns - Peter J. M. NasJudul: Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural
Editor: Kees Grijns - Peter J. M. Nas
Harga Rp 100,000 OFF
Penerbit: Banana, Depok
Tahun : 2007
Tebal: 378 hlmn
Ukuran : 16 x 23cm
Kondisi: Stok lama, bagus

Tahukah Anda kalau Jalan Flamboyan dipakai di 200 tempat di Jabotabek; kalau Jakarta memang sudah ruwet sejak awal didirikan Kompeni; kalau nyamuk menewaskan warga kota pesisir ini bukan tahun-tahun terakhir ini saja; kalau ada persaingan sengit sesama etnis Arab di Jakarta pada masa lalu; kalau komik setrip Put On bukan sekadar lucu melainkan juga menggambarkan situasi batin warga peranakan Tionghoa dari masa ke masa? Tahukah Anda betapa banyaknya hal memikat tentang Jakarta ?

Buku Jakarta Batavia memuat esai-esai dari dua puluh satu penulis Timur dan Barat. Beberapa di antara mereka telah menetap lama di Jakarta. Keseluruhan penulis ini mempunyai satu persamaan, mereka semuanya tertarik pada karakteristik kehidupan Jakarta yang mempunyai banyak segi. Masalah yang dibahas berkisar dari kondisi pada masa Batavia VOC sampai ke masalah komunitas etnik dan bangsa, dan juga masalah perkembangan pemerintahan administratif.

Esai-esai tentang Batavia pada masa awal kolonial memberikan pandangan baru mengenai situasi demografi yang didasarkan pada penelitian arsip, dan esai-esai yang berkaitan dengan topik lebih modern menggunakan sumber-sumber khusus, termasuk peta-peta yang ternyata tidak selalu mudah diperoleh di perpustakaan-perpustakaan.

Dengan membaca buku ini, orang dihadapkan pada adanya kesejajaran yang mencolok antara masa lampau dan masa kini karena berbagai aspek di Jakarta pada masa kini sebenarnya sudah berakar mendalam dalam sejarah kota itu: baik mengenai demografi dan morfologi perkotaan, absurditas lingkungan hidup, lalu lintas, dan banjir, maupun mengenai upacara ritual dan simbolisme. Para sejarawan, pakar antropologi, sosiologi, pegawai pemerintahan dan para perencana tata kota dapat memanfaatkan inspirasi-inspirasi dari gambaran kaleidoskopis ibu kota Indonesia ini.

Kees Grijns (1924-1999), dahulu adalah dosen senior di Universitas Leiden. Pada tahun 1991 ia menerbitkan Jakarta Malay: A Multidimensional Approach to Spatial Variation (Leiden, KITLV Press). Peter J.M. Nas adalah guru besar di Universitas Leiden, dan bekerja di Fakultas Sastra dan di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial universitas tersebut. Dia telah banyak menerbitkan tulisan dalam bidang sosiologi dan antropologi perkotaan dan terapan.

Jumat, 08 Mei 2015

Jual Buku HANTU DIGOEL, Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, Takashi Shiraishi

Jual Buku HANTU DIGOEL, Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, Takashi Shiraishi
Jual Buku HANTU DIGOEL, Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial  Penulis: Takashi Shiraishi
Judul  : HANTU DIGOEL, Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial
Penulis: Takashi Shiraishi
Harga: Rp. 70.000 
Penerbit: LKiS,Cet I 2001
ISBN :979-8966-78-3
Ukuran : 14,5 x 21 cm
Tebal : 218 halaman
Kondisi: Stok lama, segel
sms wa 0896 6116 2026
bbm 3300a029

Sinopsis
Buku ini berusaha mengungkapkan keberadaan Pulau Digoel sebagai kamp tahanan. Keadaan Digoel yang 100% terisolasi, belantara rawa penuh nyamuk malaria, dan berada sekitar 450 km ke hulu sungai yang penuh buaya adalah siksaan tersendiri. Dengan daerah hunian yang tak layak huni ini, rasa sepi yang mencekam dan rindu kampung halaman yang kuat, maka ada di antara para tahanan ini yang kemudian menjadi gila, mati, mencoba melarikan diri namun kemudian lenyap tak tahu rimbanya, atau tunduk dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah.

Berbeda dengan kamp tahanan terkenal seperti kamp tahanan milik tentara Nazi, di kamp ini tidak ada penyiksaan fisik. Tetapi keadaan Digoel yang 100% terisolasi, belantara rawa penuh nyamuk malaria, dan berada sekitar 450 km ke hulu sungai yang penuh buaya adalah siksaan tersendiri. Dengan daerah hunian yang tak layak huni ini, rasa sepi yang mencekam dan rindu kampung halaman yang kuat, maka ada di antara para tahanan ini yang kemudian menjadi gila, mati, mencoba melarikan diri namun kemudian lenyap tak tahu rimbanya, atau tunduk dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah. Kendati demikian, ada yang tetap teguh, terus mencoba menyusun perlawanan.

Rabu, 15 April 2015

Jual Buku Ketegangan antara Imperialisme dan Kolonialisme Barat dan Zending

Jual Buku Ketegangan antara Imperialisme dan Kolonialisme Barat dan Zending pada masa Politik Kolonial Etis, Penulis  J Verkuyl Dr,Jual Buku Ketegangan antara Imperialisme dan Kolonialisme Barat dan Zending pada masa Politik Kolonial Etis,
Penulis  J Verkuyl Dr,
Harga  62.000 TERJUAL MLG
Penerbit BPK
Kondisi Bekas, Bagus
Tersedia 0 Buah

Sabtu, 28 Februari 2015

Selasa, 30 Desember 2014

Jual Buku Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon / Des Alwi

Jual Buku Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon, Des Alwi
Buku Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon
oleh Des Alwi  .Harga : Rp. 85.000 ,-
Penerbit : Dian Rakyat
Tahun 2007 
ISBN : 9789795237013
Ukuran : 14,5X2,5 cm
Tebal : 624(BW), 0 (FC)
Isi : Hvs   
Cover  : Soft   
Kondisi : Baru, segel


Dalam sejarah dunia, kepulauan Banda, Ternate, Tidore dan Ambon telah menjadi "magnit" yang sangat menarik perhatian dan "keserakahan" bangsa Eropa. Karena kekayaan alam yang melimpah, khususnya pala dan cengkih, merupakan harta tak terkira dan sekaligus petaka yang membawa derita panjang bangsa. Tak pelak, bangsa-bangsa Eropa- Portugis, Inggris dan Belanda, saling bergantian menguasai dan mencurangi penduduk disana selama hampir empat abad. Saat itu rempah-rempah sungguh menjadi ratu dunia.

Melalui buku ini, Des Alwi, seorang pejuang, pelaku sejarah bangsa, penyelam laut Banda, sinematografer dan pecinta kebun pala dan lingkungan (sehingga UNESCO menamakan karang baru yang diketemukan di Banda Naira sebagai "Akrapora Des Alwii" tahun `94), menuturkan sejarah Banda dan sekitarnya termasuk Ternate, Tidore dan Ambon, untuk menjadi cermin bagi semua anak negri Indonesia.

Senin, 17 November 2014

Jual Buku Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa / Kuntowijoyo

Jual Buku Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa, Kuntowijoyo, Ombak,Buku Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa
Harga: Rp. 49.000
Penulis: Kuntowijoyo
Penerbit: Ombak,
Tahun : cet II, 2012
Ukuran 14 x21, Kertas Bookpaper
Tebal: 271 halaman
Kondisi: baru ,Bagus

Buku ini secara garis besar berisi peran borjuasi dalam perubahan masyarakat dan kebudayaan Eropa abad ke-17 dan ke-18. Kedua abad itu penting karena merupakan masa awal kaum borjuis memberi pengaruh besar atas perkembangan masyarakat Eropa modern.

Embrio kaum borjuis sudah terbentuk pada masa Renaisans di abad ke-15 dan ke-16. Namun baru di awal abad ke-17 kaum borjuis keluar dari embrionya. Di sini, Kunto meneliti sejauh mana pemikiran dan interaksi antar-penduduk didasarkan pada cita-cita borjuasi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apa saja sumbangan kaum borjuis. Pada sisi lain, ditelaah juga kejahatan yang dibuat kaum borjuis sehingga dikutuk kaum marxis.

Kunto menitikberatkan pada borjuasi di Prancis dan Inggris, tempat kaum borjuis matang dan tempat terjadinya revolusi industri dan politik. Memang ada negara lain, seperti Italia dan Jerman, tapi di sana borjuis tak berkembang penuh. Italia waktu itu dijajah Spanyol dan mengalami kemunduran setelah memainkan peran besar di abad ke-14 dan ke-15. Hal serupa terjadi pada ekonomi dan kebudayaan Jerman.

Kunto membagi telaahnya dalam beberapa bab, seperti "Borjuasi dan Perkembangan Masyarakat", "Borjuasi dan Perkembangan Ekonomi", "Borjuasi dan Perkembangan Pemikiran", serta "Borjuasi dalam Krisis dan Kritik". Skripsi Kunto tahun 1969 di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini adalah bukti keseriusannya atas sejarah. Di sana terlihat pola dasar analisis dan pemikirannya.

Sawariyanto

Jual Buku Dutch Culture Overseas / Frances Gouda

Jual Buku Dutch Culture Overseas, Frances Gouda,Judul : Dutch Culture Overseas
Harga : 130.000
ISBN : 978-979-1112-41-3
Author : Frances Gouda
Terbit : Februari 2007
Halaman : 524 hal.
Kertas : HVS
Ukuran : 15 x 23 cm

Praktik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942
Ekspansi kolonial bangsa Eropa mengarah pada gagasan-gagasan Belanda tentang masyarakat berkeadaban, atau sikap-sikap fleksibel dan relatif dermawan komunitas Belanda terhadap "pihak lain" yang tengah ditaburkan (dalam kata Yunani, "diaspeirein") di empat penjuru dunia. Dalam beberapa hal, ekspor nilai-nilai kebudayaan Belanda ke seberang lautan seperti Amerika Utara tak banyak memberi makna baru "kebelandaan". Namun, di Indonesia kolonial, adat dan tradisi politik Belanda tertransformasi dalam proses migrasi menuju tempat-tempat eksotik.

Dalam buku ini, Frances Gouda mengkaji cara-cara Belanda membawakan gaya kolonialnya ke dunia luar. Mengapa para warga sebuah banga Eropa yang kecil dan tak signifikan secara politik mampu tampil senatural dan senormal peradaban dan pulau jajahannya yang lebih tua seperti Jawa dan Bali? Bagaimana para penduduk kolonial Belanda menerangkan perbedaan-perbedaan budaya antara diri mereka sendiri dengan orang-orang yang dianggap "primitif" di kepulauan Indonesia?

Dalam upaya memahami praktik-praktik "berjender" pemerintahan kolonial di Hindia Timur Belanda, Gouda juga mengeksplorasi interaksi para wanita Belanda dan Indonesia dengan pria-pria Eropa.

Kamis, 04 September 2014

Jual Buku Koto Gadang Masa Kolonial / Azizah Etek

Jual Buku Koto Gadang Masa Kolonial, Penulis : Azizah Etek, Mursjid A.M., Arfan B.R.
Judul : Koto Gadang Masa Kolonial
Penulis : Azizah Etek, Mursjid A.M., Arfan B.R.
Harga : Rp 77.000Tebal : 322 halaman
Ukuran : 15,5 x 23 cm
ISBN : 979-1283-29-x,
ISBN 13 : 978-979-1283-29-8
Terbit : Cet I, November 2007
Sinopsis
Kota Gadang, nagari di barat Bukittinggi, di seberang ngarai Sianok, sangat kuat mempertahankan adat. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan Koto Gadang meupakan daerah pertama yang membuka diri terhadap pengaruh luar, khususnya pengaruh barat memaluai sekolah berbahasa Belanda. Inilah satu satunya fenomena pembaruan sosio-kultural di Nusantara yang terjadi pada masa kolonial abad 19 dan 20.

Jumat, 18 Juli 2014

Jual Buku Persekutuan Aneh Pemukim Cina ,wanita peranakan dan Belanda di Batavia VOC /Leonard Blusse

Jual Buku Persekutuan Aneh Pemukim Cina ,wanita peranakan dan Belanda di Batavia VOC, Penulis : Leonard Blusse, LKIS,
Judul Buku Persekutuan Aneh Pemukim Cina ,wanita peranakan dan Belanda di Batavia VOC
Harga 95.000 dari Rp 110.000
Penulis : Leonard Blusse
Tebal : xx + 532 halaman
Ukuran : 14,5 x 21 cm
ISBN : 979-3381-72-8
Penerbit LKiS
Terbit : Cet I, Agustus 2004
Kondisi Stok lama, bagus, 1 buah

Sinopsis
Penulis ini buku ini, Leonard Blusse, mengajak kita untuk menelusuri misteri peristiwa lama di masa awal dan era keruntuhan Batavia. Peristiwa-peristiwa yang penting sekaligus aneh menyangkut apa yang di masa itu disebut 'hubungan-persetubuhan  antara orang-orang Belanda dan Cina di Batavia, proses interaksi antara VOC dengan Hindia Belanda, baik yang bersifat pribadi maupun golongan; peristiwa-perstiwa yaang memberikan entitas dan jejak tersendiri terhadap konstruksi atas kenyataan kekinian, baik menyangkut relasi etnisitas, perdagangan/kapitalisasi,gender, perang, maupun hancurnya imperium atau monarki bisnis dan politik.'

Senin, 14 Juli 2014

Jual Buku Masyarakat Jawa & Budaya Barat: Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial /Pardi Suratno

Jual Buku Masyarakat Jawa & Budaya Barat:  Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial, Penulis Pardi Suratno, Penerbit Tiara Wacana
Judul : Buku Masyarakat Jawa & Budaya Barat:
Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial
Harga: Rp.55.000
Penulis Pardi Suratno
Penerbit Tiara Wacana
xviii + 234 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-979-1392-21-1
Kolonialisme tidak jarang menampakkan diri sebagai kekuatan yang mengubah mainstream kebudayaan. Penaklukan wilayah Nusantara oleh Belanda, misalnya, bukan saja menggoncangkan masyarakat Indonesia, tetapi juga mengikis sendi-sendi budayanya. Gejala kultural seperti ini tampak menonjol sejak awal abad ke-20, khususnya setelah diberlakukannya Politik Etis (etische politiek) oleh Belanda. Melalui strategi kebudayaan yang bersifat asosiatif, Belanda berusaha menghilangkan jurang pemisah antara bangsa penjajah dan bangsa yang dijajah dengan cara melenyapkan kebudayaan bangsa yang terjajah dan menggantinya dengan kebudayaan bangsa penjajah.

Naskah-naskah sastra masa kolonial, khususnya naskah sastra Jawa, memotret dengan sangat jelas pergulatan kultural tersebut. Sebagaimana dijelaskan di dalam buku ini, karya-karya novel Jawa era 1920-an terbitan Balai Pustaka seperti Katresnan, Saking Papa Dumugi Mulya, Gawaning Wewatekan, Gambar Mbabar Wewados secara kuat merefleksikan sikap kultural masyarakat Jawa atas benturan budaya yang terjadi pada waktu itu: bahwa terhadap budaya kolonial, sebagian masyarakat Jawa lebih banyak bersikap meniru (mimikri). Terlebih dengan dilandasi oleh sikap permisif, proses akulturasi itu tidak berjalan di atas strategi sinkretisme yang merupakan benteng kultural masyarakat Jawa, melainkan justru cenderung menguatkan dominasi budaya Barat. Proses yang sering dikenal sebagai westernisasi ini begitu mudahnya menyelimuti kehidupan masyarakat Jawa, sementara di sisi lain, budaya Jawa mulai kehilangan eksistensinya sebagai perekat sistem sosial dan pralambang status sosial.

Sebagai kajian sastra, bahasan buku ini memberikan temuan-temuan penelitian yang amat bernilai bagi telaah lanjutan perihal reaksi kultural masyarakat pribumi (Jawa) atas benturan budaya di masa kolonial. Telaah seperti ini, di samping memperkaya khasanah kesastraan dan kajian keilmuan, juga memberikan manfaat strategis bagi penyusunan strategi kebudayaan yang mampu meneguhkan ketahanan budaya bangsa Indonesia di masa kini dan masa mendatang.***
Daftar Isi

    Dampak Kultural Masa Penjajahan
    Kondisi Sosial Budaya Tahun 1920 - Kemerdekaan
        Sastra dan Kebijakan Kolonial
        Sastra dan Peran Balai Pustaka
    Sastra, Sikap Hidup, dan Budaya Barat
        Media Pendorong Orientasi
        Orientasi Pribumi pada Budaya Barat
            Sikap terhadap Sistem Pergaulan
            Sikap terhadap Cara Berpikir
            Sikap terhadap Bahasa
            Sikap terhadap Kesenian
            Sikap terhadap Sistem Perekonomian
            Sikap terhadap Sistem Teknologi
    Corak Orientasi pada Budaya Barat
        Orientasi sebagai Keharusan
        Orientasi secara Ambivalen
    Ambivalensi Peniruan Budaya Barat

Selasa, 01 Juli 2014

Jual Buku Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, oleh Tinneke Helwig

Jual Buku Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, Penulis: Tineke Hellwig
Buku Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda
Penulis: Tineke Hellwig
Harga Rp 35.000
Penerbit: YOI, Tahun 2007
Tebal: 134 halaman
Kondisi: Stok lama, segel

Secara keseluruhan, buku ini menganalisis citra kaum perempuan pada zaman Hindia Belanda melalui novel sebagai karya sastra.

Tineke mengawali bukunya dengan menceritakan sejarah Hindia Belanda. Penemuan Asia Tenggara pertama kali oleh seorang Portugis, Affonso de Albuquerque. Kedatangan bangsa Belanda pertama, dipimpin Cornelis de Houtman, pada 1596. Pendirian Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tindakan Jan Pieterszoon Coen mendirikan markas besar VOC di Pulau Jawa, tepatnya di Jacatra (yang kemudian diubah menjadi Batavia). Serta, perkembangan VOC selanjutnya.

Menjelang akhir abad ke-18, VOC bangkrut. Tetapi, penjajahan terus berlanjut. Tineke menceritakan kehidupan sosial di Hindia Belanda yang terbagi atas golongan-golongan. Golongan atas adalah orang Belanda atau Eropa. Golongan menengah terdiri atas orang Indo dan Tionghoa. Lalu, penduduk pribumi sebagai golongan bawah.

Tineke kemudian menceritakan mengenai perempuan yang berada di Hindia Belanda. Dengan tujuan akhir untuk menciptakan komunitas yang stabil dan permanen di kepulauan nusantara, kompeni membatasi imigrasi perempuan dari negeri Belanda. “Selama 250 tahun pertama, hanya sedikit perempuan Eropa menetap di tanah jajahan ini,” tulis Tineke.

Begitupun dengan perempuan Tionghoa. ”Sampai bagian akhir abad ke-19, jarang sekali perempuan Tionghoa bermigrasi ke Hindia Belanda,” lanjut Tineke.

Akibatnya, dalam pola yang mirip, lelaki Belanda (dan Eropa) serta lelaki Tionghoa menikahi perempuan lokal.

Masalah yang timbul selanjutnya, bagi lelaki Belanda (dan Eropa), adalah masalah agama. Lelaki kristen dilarang menikahi perempuan nonkristen.

”Dalam era VOC, orang Eropa selalu memerlukan izin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini ialah agama, bukan ras,” cerita Tineke, ”Karena keadaan itu, banyak laki-laki yang tak pernah mengawini perempuan Asia, melainkan hidup dengannya sebagai gundik atau nyai.”

Setelah VOC tidak ada lagi, larangan bagi orang kristen mengawini perempuan yang bukan kristen tetap berlaku. Sehingga, pergundikan tetap berlanjut. Selain pergundikan, pelacuran pun merajalela.

Memasuki Bab Empat, Tineke menguraikan bahasa teks dan para pengarang karya sastra yang akan ia analisis. Bahasa teks terdiri atas bahasa Belanda dan bahasa Melayu. ”Jelas bahwa karena perbedaan dalam bahasa, isi buku ditujukan kepada khalayak pembaca yang sama sekali berbeda,” tutur Tineke.

Ada sebelas pengarang yang dianalisis karya sastranya oleh Tineke. Lima orang menulis karyanya dalam bahasa Belanda yaitu Louis Couperus (1863-1928), P.A. Daum (1850-1898), Annie Foore (1847-1890, nama aslinya Francoise Ijzerman-Junius), Melati Van Java (1853-1927, nama aslinya Nicoline Maria Christine Sloot), dan Therese Hoven (1860-1941).

Sisanya, menulis dalam bahasa Melayu. Empat orang diantara pengarang berbahasa Melayu ini merupakan pengarang Tionghoa yaitu Gouw Peng Liang (1869-1928), Th. M. Phoa Sr. (1883-1928, Phoa Tjoen Huat), Thio Tjin Boen (1885-1940), dan Njoo Cheong Seng (1902-1962).

Dua pengarang terakhir adalah Herman Kommer (1873-......) dan G. Francis (1860-.....)

Tineke kemudian meringkas karya sastra dari sebelas pengarang yang telah disebutkan di atas. De Stille Kracht (Kekuatan Gaib) milik Louis Couperus, De Familie van de Resident (Keluarga Sang Residen) milik Melati Van Java, Indische Toestanden (Keadaan di Hindia) dan De Ware Schuldige (Yang Sesungguhnya Bersalah) milik Therese Hoven, Willie’s Mama dan Geketend (Terbelenggu) milik Annie Foore, Nummer Elf (Nomor Sebelas) milik P.A. Daum, Tjerita Njai Dasima milik G. Francis, Tjerita Njai Paina milik H. Kommer, Tjerita Controleur Malheure milik Th. H. Phoa, Njai Warsih milik Thio Tjin Boen, Tjerita Nona Diana milik Gouw Peng Liang, dan terakhir Nona Olanda Sebagi Istri Tionghoa milik Njoo Cheong Seng.

Ada 21 tokoh perempuan dari 13 karya sastra di atas. Tineke memberikan pandangannya terhadap 21 tokoh perempuan tersebut. Pada paragraf terakhir, pada bab terakhir, Tineke menulis, ”Jelas bahwa hubungan kolonial dalam masyarakat Hindia menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan sangat banyak usaha penyesuaian. Karena kekuasaan kolonial dapat diidentifikasikan dengan lelaki kulit putih, maka perempuan menduduki tempat yang lebih rendah. Ini benar bagi perempuan Eropa, dan lebih-lebih bagi perempuan pribumi dan Indo. Kita sudah sangat terbiasa dengan pandangan lelaki kulit putih, berkat studi-studi sejarah dan studi-studi sastra. Mungkin telah tiba waktunya untuk menduduki titik pandang kritikus dan berpaling pada perspektif-perspektif lain, yaitu perspektif kaum perempuan, apakah yang berkebangsaan Eropa, Indo ataupun Indonesia.