Tampilkan postingan dengan label Neoliberal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Neoliberal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2015

Jual Buku Ekonomi Revolusi Che Guevara Penulis Helen Yaffe

Jual Buku Ekonomi Revolusi Che Guevara Penulis Helen Yaffe
Judul Buku Ekonomi Revolusi Che Guevara
Penulis Helen Yaffe
Harga Rp 100.000
Penerbit Marjin Kiri
Tahun : Jun 2015
tebal xii + 523 hlm
Ukuran 14 x21
Berat 600grm
Kondisi Baru

Ernesto ‘Che’ Guevara lebih banyak di­kenang sebagai gerilya­wan revolusioner, padahal perannya dalam Revolusi Kuba tidak sebatas saat bergerilya, tapi juga di belakang meja saat ia ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Saat itulah –di tengah embargo Amerika Serikat dan pelarian kaum
profesional—eksperimen sosialis Kuba diuji pada tataran riil: Bisakah Revolusi terkonsolidasi agar tahan guncangan? Bisakah problem mendesak keterbelakangan dan pengangguran diatasi? Bisakah Revolusi dan ide-ide kiri memenuhi janji-janji pembebasannya melalui langkah-langkah ekonomi yang konkret?
Menjawab tantangan tersebut, Che bereksperimen mengembangkan sistem manajemen perekonomian sosialis yang menolak pola-pola produksi kapitalis sekaligus menghindari jebakan ortodoksi Soviet. Buku ini membahas sumbangan Che Guevara pada manajemen perekonomian sosialis tersebut, sebuah pergulatan nyata mengupayakan kemandirian ekonomi dan industri yang layak dijadikan pelajaran bagi kita sekarang!

Selasa, 06 Januari 2015

Jual Buku Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya bagi Demokratisasi Indonesia / M. Faishal Aminuddin, dkk

Jual Buku Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya bagi Demokratisasi Indonesia, Penulis: M. Faishal Aminuddin, dkk, Penerbit: Logung PustakaJudul: Buku Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya bagi Demokratisasi Indonesia  
.Harga Buku: Rp. 45.000
Penulis: M. Faishal Aminuddin, dkk.
Penerbit: Logung Pustaka
Tahun : 2009
Tebal: 348 halaman
Kondisi: Stok lama ,segel
Tersedia 1 buah

Buku ini merupakan kumpulan esai dengan berbagai macam perspektif dan ditulis oleh segenap ketekunan ilmu yang berbeda-beda. Tujuannya untuk memotret perjalanan transisi dan konsolidasi demokrasi Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir. Tentu saja tidak bermaksud untuk menarik interpretasi tunggal atas demokratisasi. Sekalipun dari berbagai uraian yang dikemukakan, bias ditampilkan dua hal mendasar yaitu hubungan antara demokratisasi dengan globalisasi dan pengaruh neoliberalisme dalam agenda transisi demokrasi.

Jumat, 02 Januari 2015

Jual Buku Ekonomi kerakyatan versus (vs) Neoliberalisme / Revrisond Baswir

Jual Buku Ekonomi kerakyatan versus (vs) Neoliberalisme, Penulis : Revrisond Baswir
Buku Ekonomi kerakyatan versus (vs) Neoliberalisme
Penulis : Revrisond Baswir TERJUAL.Harga Rp 50.000 
Penerbit Delokomotif
ISBN 978-979-18651-6-6
Tebal :xvi,330hlm
Ukuran : 11 x 17
Kondisi Baru
Tersedia 1 buah


Tema ekonomi kerakyatan versus (vs) ekonomi liberal (neoliberalisme) sempat menjadi salah satu isu sentral dalam kampanye Pemilihan Presiden 2009. Tapi kemudian meredup, ditimpa isu lain. Kurangnya perhatian khlayak akibat ketidakpahaman akan konsep dan praktik ekonomi kerakyatan di satu pihak dan ekonomi neoliberal di pihak lain, menjadikan isu penting tersebut tidak berkembang menjadi perdebatan dan kajian dalam wacana publik maupun akademik.

Buku ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran akademis tentang pembelajaran akademis tentang pemikiran perekonomian Indonesia, sekaligus dapat membuka wawasan tentang ekonomi kerakyatan di satu pihak dan ekonomi neoliberal di pihak lain. Bagi kita semua, terutama bagi kalangan intelektual (dosen dan mahasiswa), pejabat pemerintah dan para anggota legislatif, para aktivis sosial dan pelaku lembaga swadaya masyarakat serta generasi muda.

Melalui buku ini, penulis, Revrisond Baswir merunut riwayat praktik kebijakan perekonomian Indonesia guna mengingatkan kembali bahwa ekonomi kerakyatan tidak sama dengan ekonomi rakyat. Berbeda pula dengan ekonomi pro-rakyat yang sempat menjadi jargon atau tema kampanye salah satu calon presiden. Ia menghadapkan ekonomi kerakyatan dengan neoliberalisme, untuk lebih tegas lagi mengingatkan kita akan bahaya neoliberalisme beserta empat agenda utamanya yang disebut Paket Kebijakan Konsensus Washington.

Empat agenda tersebut adalah (1) Kebijakan anggaran ketat - termasuk penghapusan subsidi; (2) Liberalisme sektor keuangan; (3) Liberalisme sektor perdagangan; dan (4) Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Empat agenda neoliberalisme tersebut menjadi menu dasar program penyesuaian struktural Dana Moneter Internasional (IMF) yang dipaksakan
==============================
EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME
Oleh: Drs. Revrisond Baswir, MBA -- Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Pengajar FE-UGM Yogyakarta,

Ekonomi kerakyatan sangat berbeda dari neoliberalisme. Neoliberalisme, sebagaimana dikemas oleh ordoliberalisme, adalah sebuah sistem perekonomian yang dibangun di atas tiga prinsip sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui; dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961).

Berdasarkan ketiga prinsip tersebut maka peranan negara dalam neoliberalisme dibatasi hanya sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar. Dalam perkembangannya, sebagaimana dikemas dalam paket Konsensus Washington,  peran negara dalam neoliberalisme ditekankan untuk melakukan empat hal sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN (Stiglitz, 2002).

Sedangkan ekonomi kerakyatan, sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 33 UUD 1945, adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan adalah sebagai berikut: (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; dan (3) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan ketiga prinsip tersebut dapat disaksikan betapa sangat besarnya peran negara dalam sistem ekonomi kerakyatan. Sebagaimana dilengkapi oleh Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34,  peran negara dalam sistem ekonomi kerakyatan antara lain meliputi lima hal sebagai berikut: (1) mengembangkan koperasi (2) mengembangkan BUMN; (3) memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; (4) memenuhi hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak; (5) memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

Mencermati perbedaan mencolok antara ekonomi kerakyatan dengan neoliberalisme tersebut, tidak terlalu berlebihan bila disimpulkan bahwa ekonomi kerakyatan pada dasarnya adalah antitesis dari neoliberalisme. Sebab itu, sebagai saudara kandung neoliberalisme, ekonomi negara kesejahteraan (keynesianisme), juga tidak dapat disamakan dengan ekonomi kerakyatan. Keynesianisme memang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penciptaan kesempatan kerja penuh, namun demikian ia tetap dibangun berdasarkan prinsip persaingan bebas dan pemilikan alat-alat produksi secara pribadi (selengkapnya lihat tabel). Perlu saya tambahkan, ekonomi kerakyatan tidak dapat pula disamakan dengan ekonomi pasar sosial. Sebagaimana dikemukakan Giersch (1961), ekonomi pasar sosial adalah salah satu varian awal dari neoliberalisme yang digagas oleh Alfred Muller-Armack.

Kamis, 04 September 2014

Jual Buku Ekonomi Insani,kritik Karl Polanyi terhadap ekonomi Pasar Bebas / Justinus

Jual Buku Ekonomi Insani,kritik Karl Polanyi terhadap ekonomi Pasar Bebas, Justinus, Marjin Kiri, 2014. Harga RP 45.000
Judul Ekonomi Insani: Kritik Karl Polanyi terhadap Sistem Pasar Bebas" karya Justinus Prastowo 
Pengantar B. Herry-Priyono
Harga RP 45.000 
Marjin Kiri 
Terbit 2014.
Kondisi Baru

Selasa, 15 Juli 2014

Jual Buku Memotret Kanan Baru, tanggapan atas The End Of History FUKUYAMA / Irving Kristol

Jual Buku Memotret Kanan Baru, tanggapan atas The End Of History FUKUYAMA,  Penulis Irving Kristol  Penerbit Kreasi Wacana Judul Memotret Kanan Baru, tanggapan atas The End Of History FUKUYAMA,
Penulis Irving Kristol
Penerbit Kreasi Wacana
Tebal  : xiv + 130 halaman
Ukuran : 12 x 19,5 cm
Kondisi Stok lama, Bagus,
Tersedia 1 buah

Harga Rp 26.000

 Ancaman fasisme dan komunisme tidak mampu menggoyahkan liberalisme sebagai akhir dari sejarah. Fasisme hancur bukan karena revolusi moral universal yang menentangnya, namun karena kekalahan idenya dalam menggambarkan gelombang masa depan. Demikian pula yang terjadi pada komunisme. Gagasan Fukuyama tentang akhir dari sejarah, bukanlah ide orisinilnya. Penganjurnya yang paling tersohor adalah Karl Marx. Tapi sebenarnya konsep sejarah sebagai proses dialektika yang mengandung awal, tengah dan akhir ini dipinjam Karl Marx dari pendahulunya, yaitu Hegel. Tulisan dalam buku ini mencoba menguak dialektika Hegel dalam wacana Fukuyama melalui tanggapan ilmuwan dari tiga negara. Suatu yang menarik adalah, kenapa Fukuyama menjadikan Hegel sebagai landasan filsafatnya jika ia menyimpulkan abad ke-20 sebagai kemenangan demokrasi liberal dan masyarakat konsumtif. Yang karena kesimpulannya itu, “musuh-musuhnya” menempatkan gagasannya itu sejajar dengan keyakinan para penganut Kanan Baru. Ditambah karya awal Fukuyama yang dilampirkan, buku ini menjadi tidak sekadar bahasan biasa. Pembaca diajak merasakan polemik awal ketika gagasan The End of History Fukuyama diluncurkan.

Sejarah berakhir ketika kaset video disetel?
(Stephen Sestanovich)

Saya tidak percaya pada omongan mengenai “gelombang masa depan”. Itu saya anggap hanya sebuah fatamorgana yang dipicu oleh demam imajinasi politik para penganut neo-Hegel.
(Irving Kristol)

Ia memilih bukti-bukti politik dari kenyataan abad ke-20 namun mengambil perspektif filsafat abad ke-19. Padahal, pengalaman Auschwitz dan Totaliterisme serta gambaran masa depan tentang teknologi yang bisa menghancurkan umat manusia telah mendorong banyak orang mempertanyakan keabsahan filsafat sejarah abad ke-19.
(Pierre Hassner)

Sayang hanya sedikit dari kita yang akrab dengan karya-karya Hegel melalui studi langsung. Kebanyakan karya itu telah melewati saringan dengan kacamata Marxisme yang sudah diputarbalikkan.
(Francis Fukuyama)

Rabu, 25 Juni 2014

Jual Buku Perusahaan Rokok Untung Besar

Jual Buku Perusahaan Rokok Untung Besar : Jangan Tanya Mengapa, Penerbit : Resist Book, Penulis : Eko Prasetyo
Judul Buku Perusahaan Rokok Untung Besar : Jangan Tanya Mengapa
Penerbit : Resist Book
Penulis : Eko Prasetyo, Terra Bajraghosa
Tahun Terbit : Cet 1: 2007
Kertas & Halaman: 110 Halaman
Ukuran Buku : 979-109-747-5
Tersedia : 1 buah
Harga     : Rp 25,000
 Komik ini membeberkan data dan gambaran tentang bagaimana rokok telah menipu sekaligus merampok pendapatan anda. Sumbangan anda untuk rokok adalah setoran yang terbukti mampu meroketkan kue kekayaan para pemiliknya. Kini para pemilik perusahaan rokok tercatat sebagai orang terkaya di dunia, tetapi nasib anda: para perokok, mustahil bisa seperti mereka! 

Jumat, 13 Juni 2014

Jual Buku MEMBUNUH INDONESIA; Konspirasi Global Penghancuran Kretek.
















Buku : MEMBUNUH INDONESIA; Konspirasi Global Penghancuran Kretek.
Penulis : Miranda Harlan,
Abhisan DM, Hasriadi ary dkk.
Penerbit: Katakata
Terbit: Desember, 2011
Halaman: 157 Halaman
Kondisi Baru
Harga Rp 45.000
Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu.

Awalnya komoditi-komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.

Salah satu contoh yang disampaikan lewat buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan.

Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan merokok (hal. 109).

Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.

Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.

Lebih jauh, kelompok-kelompok yang didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau. Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan industri tembakau.

Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya.***

Kamis, 05 Juni 2014

Sell Books > Jual Buku Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia

Sell Books Jual Buku Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia RevrisondJudul Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia
Pengarang  Revrisond Baswir. Harga 45.000
Penerbit  PUSTAKA PELAJAR
Terbit I 2006 /CU 2014
Kertas Hvs
Ukuran 14x21
Tebal 280 hlm
Kondisi Baru

Resensi : pencangkul.blogspot.com
MASIH ingat Mafia Berkeley? Ini adalah kalimat pertama yang sangat “menggelitik” dalam salah satu topik yang ditulis Revrisond Baswir dalam buku ini. Mafia Berkeley didefinisikan sebagai sekelompok ekonom yang dibina pemerintah Amerika untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal. Padahal menurutnya, mempercayakan pemulihan ekonomi kepada para ekonom Berkeley akan sia-sia saja bahkan akan mengundang bahaya. Karena sebenarnya mereka tak mempunyai kesaktian mumpuni kecuali keadaan yang memungkinkan mereka untuk “berprestasi”.

Sewindu sudah bangsa ini diterpa badai krisis dan meskipun telah berganti-ganti presiden, tetap saja terpuruk dalam jurang krisis. Boleh jadi krisis ekonomi yang tak kunjung usai ini akibat ulah mafia-mafia tersebut sejak orde sebelumnya. Satu dekade lalu kita masih menepuk dada ketika tingkat pertumbuhan Indonesia dianggap keajaiban. Namun sekarang, jangankan menepuk dada mengucapkan kata “tidak” terhadap pihak asing pun lidah terasa kelu.

Indonesia, sebuah negeri yang penuh ironi. Mempunyai undang-undang dasar yang “dahsyat” untuk kesejahteraan rakyatnya, tapi justru bingung menerjemahkannya. Negeri yang mempunyai aset luar biasa melimpah, tapi tidak sedikit rakyatnya yang pingsan dan mati terinjak gara-gara berebut dana 300 ribu rupiah. Pun demikian di penjuru nusantara banyak bayi-bayi yang mati kelaparan dan kurang gizi. Sementara banyak pejabat pembuat kebijakan dan pemodal yang dekat kekuasaan terus menggelumbungkan pundi-pundinya, membuat agenda-agenda tersendiri untuk mengeruk keuntungan dengan menggadaikan aset bangsa, dengan dalih privatisasi maupun ketidakmampuan anak bangsa dalam mengelola aset bangsa.

Buku Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia yang merupakan kumpulan artikel di berbagai surat kabar yang ditulis Revrisond Baswir ini mencoba mengkritisi keterpurukan bangunan ekonomi bangsa akibat kebijakan yang tidak tepat. Di awal-awal tulisannya, penulis menguraikan tentang kegagalan pembangunan yang diawali dengan pengadopsian konsep-konsep pembangunan, dimana konsep tersebut diterapkan secara mentah-mentah. Orientasi dari konsep tersebut adalah pertumbuhan ekonomi tanpa mewaspadai ancaman rezim modal internasional semacam IMF dan Bank Dunia. Akibatnya Indonesia berada pada posisi yang terdikte. Kondisi ini juga didukung dengan keterlenaan para pembuat dan pemikir kebijakan yang berkiblat pada “madzab” Berkeley yang cenderung meliberalkan perekonomian.
Kerja sama Indonesia-IMF menjadi salah satu catatan menarik dalam buku ini. Salah satu yang patut diperhatikan adalah kebijakan dalam melakukan privatisasi BUMN. Privatisasi sengaja dipaksakan IMF seolah sebagai jalan lurus menuju neoliberalisme dan neokolonialisme. Pelaksanaan privatisasi di Indonesia tampak dilakukan secara manipulatif dan menyederhanakan pengertiannya sehingga berdampak pada peranan negara yang terbatas sebagai penyelenggara perekonomian. Mengaburkan kaitannya dengan agenda-agenda ekonomi neoliberal yang lain dan transformasi besar perekonomian Indonesia menuju sistem ekonomi neoliberal (hal. 151). Tak dapat disangkal, kebijakan ini hanya akan dimanfaatkan oleh pemodal asing serta para konglomerat yang telah berhasil mengamankan kekayaan pribadinya, meskipun perusahaan yang go pubic telah dinyatakan kolaps.

Nah, poin yang dapat dipetik dari buku ini adalah bahwa pemerintah harus segera “putus hubungan” dengan IMF. Kenapa? Karena jeratan IMF telah menurunkan kedaulatan ekonomi, berjalan lamban dengan hasil minimal, menelan biaya sosial-ekonomi yang mahal. Sementara Korea Selatan dan Thailand, tidak sampai dua tahun telah melepaskan diri dari IMF. Bahkan, Malaysia pada awal krisis secara tegas menolak untuk dibantu IMF. Mereka tidak ingin di bawah cengkeraman “tangan” IMF, karena tak ingin kedaulatan ekonominya dikendalikan lembaga internasional tersebut. Mereka tak ingin menggadaikan nasionalisme ekonominya. Namun Indonesia, yang –katanya– punya sistem ekonomi Pancasila, justru terjebak dalam jaring-jaring IMF, dan ternyata gagal memulihkan kondisi perekonomian.

Sampai kini peran IMF dengan filosofi yang dipegangnya tak selalu cocok untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kebijakan-kebijakan IMF yang meliberalkan perekonomian dengan membuka pasar barang dan modal seluas-luasnya, sistem kurs bebas, mengetatkan APBN, menjual BUMN, dan membatasi intervensi pemerintah, tidak jarang justru bersifat kontra produktif bagi perbaikan ekonomi. Kita lihat saja sekarang bagaimana penghapusan subsidi listrik dan BBM yang merupakan kebutuhan vital, menyebabkan harga-harga barang lain ikut naik, rakyat pun semakin tercekik.

Tak kurang, peraih Nobel Ekonomi 2001, Stiglitz, dan penulis buku Globalization and Its Discontent, yang juga pernah menjadi Wakil Presiden Bank Dunia memberikan kritik bahwa kebijakan IMF dengan model ekonominya yang diterapkan di negara-negara miskin, dibuat tanpa memperhatikan kesiapan sosial, politik, dan kelembagaan sebuah negara. Deretan kejadian yang kita rasakan sehari-hari, mulai dari maraknya gula impor hingga mahalnya BBM, adalah sebagian hasil kebijakan pasar bebas ala IMF.

Dalam konteks model ekonomi pun Leontief (1972) yang juga pernah memperoleh hadiah Nobel Ekonomi, mengatakan bahwa banyak model ekonomi yang tidak mampu menyajikan pengertian yang sistematik tentang struktur dan operasi dari realitas sistem ekonomi, melainkan hanya berdasar pada seperangkat asumsi yang akhirnya menghasilkan kesimpulan yang precisely stated namun tak relevan. Nah!

Sepertinya hal ini sejalan dengan pemikiran Bung Hatta yang diangkat kembali oleh penulis buku ini bahwa penjelasan teori ekonomi hanya mengandung kebenaran sejauh diterapkan berdasar pada asumsinya. Namun karena asumsi teori ekonomi tidak ditemukan dalam realitas ekonomi, penjelasan teori ekonomi itu harus dilihat sebagai tools dalam memahami realitas ekonomi (hal. 249). Dari sinilah maka diperlukan juga politik ekonomi dan politik perekonomian.

Masih banyak “sentilan-sentilan” Revrisond yang terkandung dalam buku ini. Bagaimana dia memotret masalah pendidikan nasional yang di-“privatisasi” dengan BHMN-nya, pemerintah sepertinya tertekan agar menukar sistem pendidikan nasional dengan pertumbuhan ekonomi. Hak-hak anak-anak negeripun terbengkelai, sebab biaya pendidikan terlalu mahal dan tak terjangkau. Padahal satu dari sedikit harapan kita untuk memperbaiki ekonomi adalah dengan memperbaiki sistem pendidikannya. Juga potret korupsi dimana tingkat perkembangannya sangat luar biasa dan dalam melakukan korupsi para penguasa dan pengusaha cenderung bersaudara (hal 223). Di akhir-akhir buku ini, Revrisond memotret pemikiran Bung Hatta yang salah satunya tentang koperasi dimana cita koperasi jauh panggang dari api dengan realitas penyelenggaraannya saat ini.

Membaca buku ini, secara tak langsung kita juga belajar sejarah pemikiran ekonomi di satu sisi (baca: madzab). Meskipun tak ada pemikiran yang memiliki kebenaran mutlak dalam menjelaskan fenomena ekonomi. Pinjam istilah Krisnamurthi (2003) jika terjadi suatu fenomena ekonomi dalam masyarakat dan fenomena itu “tidak atau belum” tercakup dalam buku teks ekonomi, maka bukan berarti fenomena ekonomi itu yang “salah” tetapi mungkin karena buku teks itu belum lengkap dan kurang ‘up-to-date’ makanya selalu ada buku ekonomi baru dan buku teks ekonomi edisi baru. Namun yang terpenting adalah mampu memberi kesejahteraan yang bermartabat bagi manusia dan kemanusiaan.

Buku ini enak dibaca tanpa mengerutkan dahi, sarat dengan kritikan-kritikan namun tetap elegan, realistis, analitis, juga memberikan banyak resep alternatif penyembuhan sekaligus sebagai jalan lain menuju kedaulatan ekonomi, tanpa harus merengek-rengek pada bangsa lain. Pun demikian, tanpa tedeng aling-aling berani “nembak” orang per orang termasuk para “gang” Berkeley. Anda ingin tahu siapa-siapa saja yang termasuk dalam gang Berkeley? Baca saja karya Revrisond ini!

[Bogor, April 2006]


Minggu, 01 Juni 2014

Kamis, 22 Mei 2014

Sell Books > Jual Buku Ekonomi Pancasila MUBYARTO

Ekonomi Pancasila: Gagasan dan Kemungkinan
Mubyarto,
LP3ES,
1987
Kondisi :Stok lama, bukan bekas
Harga Rp 45.000
stok 1 buah

Sell Books > Jual Buku Dibawah ancaman IMF /Revrisond Baswir

Jual Buku Dibawah Ancaman IMF Revrisond Baswir ,Pustaka Pelajar Judul Dibawah Ancaman IMF
Revrisond Baswir
Harga Rp 40.000Pustaka Pelajar
Kondisi Baru, Stok lama

Jual Buku Drama Ekonomi Indonesia, Penulis Revrisond Baswir

Jual Buku Drama Ekonomi Indonesia, Penulis Revrisond BaswirJudul Drama Ekonomi Indonesia, belajar dari kegagalan Ekonomi  ORBA
Harga Rp 50.000Penulis Revrisond Baswir
Kreasi Wacana
Kondisi Baru, Stok Lama

Jual Buku Revolusi Ekonomi /Hoogendijk


Judul : Revolusi Ekonomi ,menuju masa depan berkelanjutandengan membebaskan perekonomian dari pengejaran uang semata

Penulis : Willem Hoogendijk
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
HVS, 14x21cm
Kondisi Baru, stok lama
Harga Rp 38.000

Jual Buku Mengukur Kesejahteraan / Joseph Stiglitz

Jual Buku Mengukur Kesejahteraan Joseph Stiglitz Judul : Mengukur Kesejahteraan:
Mengapa Produk Domestik Bruto Bukan
Tolok Ukur yang Tepat
untuk Menilai Kemajuan?
Harga Rp 49.000,-
sms.wa.line 0896-6116-2026 bbm 3300a029
Penulis :Joseph E. Stiglitz,
Amartya Sen,
Jean-Paul Fitoussi
Alih Bahasa: Mutiara Arumsari &
Fitri Bintang Timur
ISBN 978-979-1260-09-1
183 + xxviii hlm.; 14 x 20,3 cm.
Kondisi Baru

“PDB didasarkan pada sebuah paradigma yang
meyakini bahwa lebih banyak itu lebih baik. PDB
 naik seiring dengan naiknya pembelanjaan untuk
 kriminalitas, misalnya, dan tidak memperhitungkan
aktivitas-aktivitas yang menguras sumber daya alam dan kualitas hidup [...] Proyek ini
menantang gambaran kesejahteraan yang tak masuk akal tersebut.” — Brisbane Times
Di tengah krisis ekonomi global 2008, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy berinisiatif menunjuk tiga ekonom kenamaan Joseph Stiglitz, Amartya Sen, serta Jean-Paul Fitoussi untuk membentuk sebuah komisi pakar yang bertugas meneliti apakah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) –yang selama ini dijadikan indikator kemajuan ekonomi suatu negara—benar-benar sahih untuk melihat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat negara tersebut? Melibatkan belasan ekonom dan ilmuwan sosial progresif lain dari pelbagai negara, Komisi Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial (Commission sur la Mesure de la Performance Économique et du Progrès Social) menelurkan laporan kerjanya yang monumental.
Memakai PDB sebagai tolok ukur telah memberi gambaran yang melenceng tentang masyarakat, dan karenanya memberi masukan yang melenceng pula dalam mengambil kebijakan sosial-ekonomi. Laporan ini memberi kritik tajam pada cara pandang konvensional dan menyuguhkan alternatif-alternatif yang penting untuk memperbaiki proses pembangunan. Wajib dibaca oleh para pengambil kebijakan, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Kajian yang provokatif ... mengenai tidak memadainya pertumbuhan PDB dipakai sebagai indikasi kesehatan ekonomi secara umum.”
— The New York Times

Rabu, 21 Mei 2014

Jual Buku Transformasi Besar / Karl Polanyi

Jual Buku Transformasi Besar, asal usul politik dan ekonomi Zaman Sekarang.  Penulis : Karl Polanyi
Judul Buku Transformasi Besar, asal usul politik dan ekonomi Zaman Sekarang.
Penulis : Karl Polanyi
Harga  : Rp 60.000
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahuin Cetak : I, 2009
Kertas isi HVS, Soft Cover
Dimensi 16x23cm.
Halaman : xii+363
SMS / Wa. ke 0896-6116-2026 BBM 3300a029

Karl Polanyi adalah sejarawan ekonomi modern terkemuka abad ke-20. Beberapa karyanya menyoroti mata rantai perkembangan pemikiran ekonomi modern yang berkembang di Eropa Barat.
Buku Transformasi Besar: Asal Usul Politik Ekonomi Zaman Sekarang (Origins of Our Time: Th e Great Transformation) merupakan adikarya pertama dari Karl Polanyi, dosen sejarah ekonomi di Bennigton College dan University of Columbia, Amerika Serikat.
Buku ini memotret sejarah periode awal transformasi ekonomi di Inggris yang pada akhirnya memengaruhi belahan dunia lain, Eropa Barat, bahkan Asia, yang belakangan juga ikut terseret arus besar ini.
Tesis utama dari buku ini adalah kritik terhadap kapitalisme modern yang menurutnya adalah anomali sejarah.
Polanyi mengkritik ekonomi modern yang menurutnya telah mengubah relasi-relasi sosial dengan mendefi nisikan sistem relasi sosial dengan relasi-relasi yang bersifat ekonomi.
Menurut Polanyi, pada masa sebelum lahirnya kapitalisme, pengaturan-pengaturan ekonomi justru sebaliknya, tertanam dalam hubungan sosial.
Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Polanyi melakukan tinjauan terhadap realitas perubahan relasirelasi sosial yang terjadi di Inggris dan Eropa Barat.
Kemunculan ide tentang self regulating market (pasar swatata) telah mengubah relasi sosial, pola industri, dan paradigma sosial di kawasan tersebut.
Lewat pemotretan yang cermat, Polanyi mengambil suatu kesimpulan bahwa self regulating market merupakan sebuah utopia. Dalam bagian ini, Polanyi juga menyinggung tentang perimbangan kekuatan antarnegara.
Kedua, Polanyi dengan lugas mengkritik ekonomi pasar dan kegagalan fi lsafat liberal dalam memahami permasalahan perubahan di era itu.
Dengan tegas Polanyi menyatakan liberalisme telah salah dalam membaca sejarah revolusi industri. Basis kegagalan liberalisme adalah sikap bersikukuh untuk menempatkan dan menilai peristiwa-peristiwa serta relasi-relasi sosial melulu dari cara pandang ekonomi.
Di bagian ini, Polanyi memotret sejarah dampak revolusi industri serta dominasi paham utilitarian ortodoks dan pengaruhnya terhadap relasirelasi sosial di Inggris dan Eropa Barat pada saat itu.
Polanyi berpendapat dalam masyarakat kapitalistik (di bawah dominasi paham utilitarian ortodoks), pemerintah tidak lebih sebagai pelayan kapitalisme dan membantu memajukannya lewat produk undang-undang, regulasi, bahkan kekuatan militer.
Pada bagian akhir buku ini, Polanyi membicarakan tentang mekanisme yang mengatur perubahan sosial dan perubahan di tingkat negara pada masa itu (pascaperang dunia I). Polanyi juga mengemukakan munculnya permasalahan masyarakat pasar, yaitu intervensionisme dan mata uang.
Peresensi adalah Fahmi Alatas, Koordinator Komunitas Saung Buku

Senin, 19 Mei 2014

Jual Buku Konspirasi SBY - Bakrie, oleh Ali Akbar Azhar,

Jual Buku KONSPIRASI SBY-BAKRIE; Dilengkapi Transkrip rekaman eksklusif di Istana Cikeas (Lumpur Lapindo File) Penulis Ali Akbar Azhar,Judul KONSPIRASI SBY-BAKRIE; Dilengkapi Transkrip rekaman eksklusif di Istana Cikeas (Lumpur Lapindo File)
Penulis Ali Akbar Azhar,

Harga Rp 85.000
Prolog : Dr H Tjuk K Sukiadi
Epilog KH Sholahuddin Wahid
Penerbit Indopetro
Kondisi Baru