
Judul Title : Bujang Tan Domang Sastra Lisan Orang Petalangan
Penulis: Tenas Effendy
Harga Rp 150.000
Penerbit: Bentang Budaya,
Tahun 1997
Dimensi :16x24cm
Sampul :Hardcover
Kertas Isi : Hvs
Tebal: 820 hlm
Kondisi: bukan bekas, Lawas, sampul lusuh ada kelupas di pojok, isi utuh bersih tanpa coretan,, segel lepas.

Sinopsis :Bagi orang Petalangan, yang menciptakan cerita Bujang Tan Domang di rimba pedalaman Riau, kisahnya juga merupakan hiburan, yang dibawakan pada kesempatan pesta dan upacara. Namun kisah ini mempunyai arti yang sangat penting pula buat masyarakatnya, karena mengandung dasar sejarahnya. Lagipula merekam hak mereka atas tanah yang digarapnya. Dibaca sebagai karya sastra, atau dikaji sebagai contoh tradisi lisan Melayu, Bujang Tan Domang patut diamati dan dipelihara sebagai salah satu mutiara dari khazanah kebudayaan Nusantara. Ceritanya direkam, ditranskripsi, dan diterjemahkan dalam buku ini oleh Tenas Effendy, yang sudah berpuluh tahun meneliti kebudayaan Melayu, dan memperjuangkan hak dan kelangsungan adat orang Petalangan.
Resensi: Ketika buku ini diluncurkan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Jakarta, beberapa waktu lalu, Tenas Effendy, penyusun buku ini, menjerit
dengan penuh kecewa. Yang membuatnya kecewa adalah soal habitat atau
tempat hidup cerita tersebut yang kini telah terguncang hebat. Disadari
atau tidak, habitat itu rusak akibat digilas alat-alat besar pembabat
hutan dan penebang kayu demi pengembangan lahan pertanian dan perkebunan
besar, juga untuk permukiman baru. Gemuruh roda pembangunan dalam upaya
peningkatan kehidupan rakyat telah menghalau sebagian masyarakat dan
satwa setempat ke lahan-lahan yang lebih aman sebagai habitat baru.
Walaupun ada tombo atau terombo, yang dipegang orang Petalangan sebagai
peraturan peruntukan dan pemakaian tanah warisan nenek moyang yang
disebut dengan "tanah wilayat", mereka tak dapat berbuat apa-apa. Negara
telah membuat peraturan baru yang banyak bertentangan dengan ketentuan
tanah wilayat, sebagaimana disebutkan dalam tombo. Negara tak mengakui
lagi hak penguasaan tanah secara adat tersebut. Itulah sebabnya, banyak
orang tak tertarik lagi dengan tombo karena tak dipakai lagi sebagai
bukti pemilikan tanah.
Situasi ini amat berpengaruh pada kelangsungan hidup tombo, yang dalam
sastra lisan orang Petalangan diungkapkan secara lisan dengan nyanyian
panjang berjenis puisi, antara lain dengan bentuk pantun dan bahasa
berirama. "Akan lenyapkah karya sastra ini?" tanya Tenas Effendy. Ia
akhirnya menjawab sendiri, bagaimana situasi yang bermula dari sebuah
surat keputusan menteri yang memberikan izin hak pengusahaan hutan untuk
sekian ribu hektare, yang dalam ketentuannya harus memperhatikan lahan
perumahan dan pertanian rakyat yang tidak boleh diganggu. Bagaimana
kenyataannya? Para usahawan yang sebagian juga "serakawan" tidak peduli,
karena mereka mendapatkan bantuan dari apa yang disebut sebagai
"oknum".
Lahan yang boleh digarap para usahawan itu haruslah lahan yang sudah
ditetapkan dengan surat keputusan menteri dikurangi lahan untuk rakyat.
Maka terjadilah permainan angka jumlah hektare yang sangat merugikan
rakyat, karena tak sesuai dengan apa yang ditetapkan negara mengenai
"hutan tanah wilayat" tersebut.
Menurut Tenas Effendy, tombo bukan sekadar menjadi rujukan untuk
mengetahui asal-usul pedusunan dan hutan tanah wilayat, melainkan juga
menjadi rujukan hukum adat, falsafah, dan norma- norma sosial yang
mereka warisi turun-temurun, yang lazim disebut dengan tunjuk ajar.
Pesan-pesan dalam Nyanyi Panjang Tombo, selain dilengkapi dengan amanat
dan petuah, juga mengandung pesan-pesan moral yang berisi nilai-nilai
luhur budaya dan sosial masyarakat. Kelengkapan isi tombo dapat
dikatakan sebagai sebuah ensiklopedi -yang kecil atau khusus- tentang
orang Petalangan, seperti diucapkan Ignas Kleden pada peluncurannya.
Bahasa (dialek) Petalangan merupakan suatu dialek bahasa Melayu yang
dicampur dengan bahasa atau dialek Minangkabau, khususnya dialek
Payakumbuh.
Perhatikanlah kutipan ini:
Eeii ... Aaii ..../ Iyolah budak Bujang Tan Domang/ Copat belai di
tongah umah/ Sodang engan to topian/ Sodang oat inyo menyusu/ Pemainan
di umah bose/ Kalimpape di laman luwe/ Codiknyo bagai diaje-aje/ Bosenyo
bagai ditiup-tiup
Indonesianya:
Eeii ... Aaii ..../ Ialah budak Bujang Tan Domang/ Cepat berlari di
tengah rumah/ Sedang ringan ke tepian/ Sedang erat ia menyusu/ Permainan
di rumah besar/ Limpapas di halaman luas/ Cerdiknya bagai diajar-ajar/
Besarnya bagai ditiup-tiup
Teks cerita dalam bahasa Petalangan yang disusun Tenas Effendy ini
terdiri dari 716 halaman. Sebuah kerja yang tidak kecil. Dengan
terbitnya buku ini bertambah pulalah kepustakaan sastra lisan Indonesia,
di samping yang sudah pernah dikerjakan para ahli, seperti Tanggomo,
Sastra Lisan Gorontalo (1991) oleh Nani Tuloli dan Cerita Kentrung
Sarahwaelan di Tuban (1993) oleh Suripan Sadi Hutomo. Kedua buku ini
diterbitkan Indonesian Linguistics Development Project (Ildep).
Sedangkan Bujang Tan Domang diterbitkan Ecole Francaise
d'Extreme-Orient, The Toyota Foundation, Yayasan Bentang Budaya, 1997.
Sepuluh tahun terakhir ini, Prancis memang banyak menerbitkan
naskah-naskah Nusantara dalam rangka kerja sama budaya antara Indonesia
dan Prancis.
Dan Bujang Tan Domang pun menjadi sumbangan amat berharga bagi ilmu pengetahuan sosial budaya di Indonesia.
(Lukman Ali
Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan mantan Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa)