Tampilkan postingan dengan label Insist Press. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insist Press. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2015

Sabtu, 22 Agustus 2015

Jual Buku Melawan Ketergantungan Pada Minyak Bumi,Penulis: Effendi Syarief

Jual Buku  Melawan Ketergantungan Pada Minyak Bumi: Bahan Bakar Nabati dan Biodiesel  Sebagai Alternatif dan Gerakan,Penulis: Effendi Syarief
Judul: Melawan Ketergantungan Pada Minyak Bumi: Bahan Bakar Nabati dan Biodiesel  Sebagai Alternatif dan Gerakan
Harga: Rp. 40.000
Penulis: Effendi Syarief
Penerbit: InsistPress
Tahun : 2004
Tebal: 225hlmn
Berat 500grm
Kondisi: Stok lama, lumayan bagus


Sebagai negara yang memiliki cadangan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam ketersediaan dan kecukupan sumber daya energi, khususnya BBM. Ini terkait dengan ketergantungan pemerintah pada impor BBM yang memberatkan anggaran belanja negara. Kebangkrutan ekonomi dan fluktuasi harga minyak internasional akibat makin menipisnya cadangan minyak dunia membuat pemerintah terpaksa memangkas subsidi BBM. Di samping itu, banyak kajian membuktikan bahwa penggunaan bahan bakar fosil secara ekologis berdampak pada pemanasan global, naiknya suhu permukaan bumi, melelehnya es di kutub, dan koyaknya lapisan ozon.

Suhu permukaan bumi menjadi bertam-bah panas. Lapisan es tebal di kutub utara dan kutub selatan (benua Antartika)—yang tadinya sudah enak-enak tidur di sana selama jutaan tahun tanpa ada yang mengganggunya—sekarang mulai mencair. Akibatnya, permukaan air laut pun mulai naik, sehingga kota-kota metropolitan yang umumnya berlokasi di pantai-pantai terancam tenggelam.

Coca-cola atau minuman dingin sejenisnya, enak diminum saat dingin, karena adanya kandungan CO2 yang memang sengaja dimasukkan oleh pabrik pembuatnya. Tapi, apabila minuman ini dipanasi, maka CO2 nya pun terbang (menguap) semua, rasanya jadi hambar, cuma air manis biasa saja.

Ibarat Sysiphus dalam mitos Yunani Kuno, yang tak pernah dapat menyelesaikan tugasnya mengangkut batu ke puncak bukit —karena setiap dia selesai meletakkannya di puncak, batu itu menggelinding kembali ke kaki bukit— sejarah penemuan baru ilmu dan teknologi modern juga penuh dengan riwa-yat tragis semacam itu. Pada saat ilmu dan teknologi mulai menemukan jawabannya, telah muncul pula persoalan baru yang jauh lebih ruwet lagi, seringkali justru oleh dampak-samping dari penemuan baru ilmu dan teknologi itu sendiri.

Isu bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia telah menjadi sesuatu yang sama mudah terbakarnya seperti BBM itu sendiri. Mengapa?

Sudah sangat gamblang: puluhan juta rakyat jelata negeri ini sangat tergantung dan ditentukan peruntungan hidupnya oleh BBM. Sumber energi utama untuk menyalakan api di dapur-dapur rumah mereka adalah minyak-tanah. Kenaikan harga salah satu jenis BBM tersebut dapat berakibat fatal mematikan penyulut api dapur di rumah-rumah penduduk, terutama mayoritas kelas menengah ke bawah. Maka minyak-tanah pun telah menjadi salah satu kebutuhan pokok seperti bahan pangan beras, garam, gula, dan minyak goreng.

Dalam kenyataannya selama ini, kenaikan harga BBM jenis apapun—bukan hanya minyak-tanah—menjadi penyulut kenaikan harga bahan-bahan pokok lainnya. Bahkan, baru sekedar ‘berita desas-desus’ saja (bahwa akan ada keputusan pemerintah menaikkan harga BBM) sudah cukup untuk menyulut lonjakan harga-harga bahan pokok, ongkos angkutan umum, rekening-rekening air minum, listrik, dan telepon, biaya-biaya sekolah dan jajan anak-anak, harga obat-obatan generik dan biaya-biaya perawatan kesehatan dasar, dan seterusnya. Spekulasi harga menjadi suatu gejala umum menyertai setiap kejadian kenaikan harga BBM. Bahkan kalangan industri dan pabrikan besar pun menjadikan kenaikan harga BBM sebagai ‘alasan pembenar’ untuk ikut menaikkan harga barang-barang jualan mereka. Dengan kata lain, kenaikan harga BBM akan semakin memberatkan beban biaya hidup sehari-hari puluhan juta rakyat negeri ini.

Sabtu, 18 Juli 2015

Jual Buku Petani dan Penguasa, oleh Noer Fauzi

Judul Petani dan Penguasa
Noer Fauzi
Harga Rp 79.000 TERJUAL
Harga Hardcopy Rp 59.000
ISBN/ISSN 9799289041
Bahasa Indonesia
Penerbit Pustaka Pelajar
Tahun Terbit1999
Tebal xiv, 316 hlm.; 21 cm.

Gagasan penulisan buku ini bermula dari minimnya bacaan/referensi tentang politik agraria, yang menentukan pasang-surut nasib kaum petani dari zaman ke zaman. Sementara itu, ada kebutuhan kuat untuk memperoleh penjelasan tentang dinamika yang menentukan nasib kaum petani. Sepanjang tahun 1993 - 1998, penulis melakukan studi terhadap sejumlah bacaan --sebagian besar yang tercantum dalam Daftar Pustaka. Di antara pelbagai bahan bacaan tersebut, satu buku yang banyak memberi inspirasi dan isi penulisn adalah buku Mochammad Tauchid, Masalah Agraria Segabai Masalah Penghidupan dan Kemakkmuran Rakyat Indonesia jilid I dan II (penerbit Tjakrawala, 1952a dan 1952b). Selain itu, penulis mendiskusikan tema-tema penulisan dengan sejumlah kerabat. Berkaitan dengan permintaan dari beberapa organisasi non pemerintah (ornop) untuk menjadi narasumber tentang hal-hal yang berhubungan dengan politik agraria, bagian-bagian tertentu dari buku ini telah dituliskan dalam makalah yang dipresentasikan dan didiskusikan dalam sejumlah forum seminar/lokakarya/diskusi.
Dalam sejarah Indoensia, studi politik agraria tidak bisa dilepaskan dari satu hari yang bersejarah. Dipercayai oleh kalangan ahli hukum, 24 September 1960 merupakan hari bersejarah bagi rakyat petani Indoensia. Pada tanggal itu, disahkan Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria, yang lebih dikenal sebagai Undnag-undang Pokok Agraria, disingkat UUPA. Kelahiran UUPA merupakan tonggak sejarah agraria (Wiradi, 1986, 20). Penulis menempatkan UUPA sebagai rujukan atau referansi dari uraian-uraian masa sebelum maupun sesudah diberlakukannya UUPA.

Rabu, 24 Juni 2015

Jual Buku Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis


Judul Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis 
Penulis: Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Raharjo
Rp 68.000, BOOKED
Penerbit: INSISTPress, 2010
Tebal: 296 halaman 
Kondisi: Baru

Saat ini banyak berkembang pelbagai alternatif pendidikan untuk masyarakat. Mulai dari privat, homeschooling (sekolah rumah –red), sekolah alternatif, les, dsb. Intinya, pendiikan alternatif merupakan simbol dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan formal (baca: sekolah) pada umumnya.

Pendidikan formal atau sekolah saat ini masih memiliki kesan tradisional dan membosankan, karena pusat pengetahuan hanya diperankan oleh guru. Guru dianggap segala-galanya. Dalam konteks ini, akhirnya pendiikan bersifat negatif, di mana guru  memberikan informasi yang harus ditelan oleh murid wajib diingat dan dihafalkan.

Untuk merubah kesan tradisional dan sangat indoktrinasi di dalam pendiikan formal, maka tak jemu pakar pendidikan mendengungkan model pendiikan partisipatif. Model inilah yang menekankan guru sebagai fasilitator. Seluruh eserta didik menjadi subjek pengetahuan dan aktif meningkatkan keterampilan. Guru adalah murid dan murid adalah guru. Usaha ini ditujukan kepada seluruh institusi pendiikan agar sistem pendiikan menjadi lebih baik.

Namun tak dapat dipungkiri, dari sekian banyak pendidikan alternatif yang ditawarkan, pada umumnya belum memenuhikriteria ‘pembebasan’ terhadap permasalahan masyarakat. Walaupun sudah menggunakan model partisipatif, tidak sedikit yang mengolah pendidikan alternatif menjadi komoditas dagang. Mengutamakan modernisasi peralatan belajar, fasilitas baru, menggunakan prestasi sebagai proses persaingan peserta didik, dan pendidikan dianggap tidak memiliki pengaruh terhadap politik dan ekonomi masyarakat. Sedangkan pendekatannya masih sangat didominasi dengan aliran positivisme: yakni penggunaan pengetahuan untuk mengontrol, memprediksikan, memanipulasi, dan eksploitasi terhadap objeknya.

Implikasi dari metode pendekatan pendidikan positivisme adalah kesadaran magis dan naif. Kesadaran magis, yakni suatu keadaan masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya, masyarakat miskin tidak tahu kalau kemiskinan yang dimilikinya memiliki benang merah terhadap sistem politik dan budaya. Karena yang dipahami, kemiskinan yang didapatnya adalah suatu hal yang wajar dan merupakan ‘given’ (natural maupun supranatural). Dalam proses pembelajaran, murid secara dogmatik menerima kebenaran guru, tanpa memahami analisa dari tiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.

Sedangkan kesadaran naif adalah implikasi dari pendidikan yang melihat akar permasalahan masyarakat dari ‘aspek manusia’. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, performance, need for achievement (N Ac)’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Dalam menganalisis kenapa masyarakat miskin, karena disebabkan kesalahan mereka sendiri: yakni malas, tidak memiliki jiwa enterpreneur, bodoh dsb. Implikasi pendidikan ini mengarahkan manusia untuk beradaptasi dengan sistem yang sudah ada.

Untuk itu buku ini menawarkan tujuan dan filosofi pendidikan dari salah seorang pendidik dunia asal Brazil, Paulo Freire. Perspektif pendidikan aliran Freire adalah melakukan refleksi kritis terhadap sistem dan ideologi dominan yang tengah berlaku di masyarakat, serta menganalisis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta melatih mengidentifikasi ‘ketidakadilan’. Kemudian merubah sistem tersebut untuk memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju masyarakat yang adil.

Di sini, Mansour Fakih dkk. menuliskan penekanan proses dan teknis berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Membangun kesadaran kritis pendidikan partisipatif bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan peran fasilitator yang harus bisa menciptakan dan menggunakan media sebagai alat komunikasi pembelajaran.

Sekali lagi, buku ini lebih banyak memuat teknis silabus, cerita maupun berita kontroversial, permainan, analisis politik dan budaya di kota maupun di desa, dan lain sebagainya. Teknis-teknis ini diselingi artikel-artikel yang memuat pemahaman pendidikan kritis sebagai alat transformasi sosial. Pendidikan diartikan”tanpa dinding”, artinya penempatan pendidikan tidak melulu di pendidikan formal (sekolah –red), tapi bisa digunakan oleh massa petani, nelayan, dan rakyat kecil untuk melakukan transformasi sosial.

Minggu, 10 Mei 2015

Jual Buku Tolak Bungkam Suara Teolog Pembebasan, oleh Eman J Embu

Jual Buku Tolak Bungkam Suara Teolog Pembebasan,Eman J EmbuJudul Tolak Bungkam Suara Teolog Pembebasan
Harga Rp 45.000
Penulis :Eman J Embu; Amatus Woi;
Penerbit:Insist Press
Tahun :2003
ISBN/ISSN 979-9447-70-4
Bahasa :Indonesia
Fisik :214 hal.; 18 Cm
Kondisi Stok lama, Bagus, LANGKA

Buku ini berisi kisah seorang agamawan di Larantuka dalam perjuangan melawan penguasa yang sewenang-wenang

Minggu, 15 Maret 2015

Jual Buku KRIMINALISASI BERUJUNG MONOPOLI / Salamudin Daeng

Jual Buku KRIMINALISASI BERUJUNG MONOPOLI, Salamudin DaengBuku KRIMINALISASI BERUJUNG MONOPOLI
Penulis  : Salamudin Daeng
Harga :Rp. 45.000
Penerbit : INSIST PRESS
Tanggal Terbit : 2013
ISBN:978-602-99292-0-1
Tebal xviii + 214 hlm
Berat Buku : 250 gr
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 16 x 23 cm

Sinopsis
"Industri tembakau nasional, lebih khusus lagi industri rokok kretek, telah hidup dan berkembang lebih dari seratus tahun, setara dengan usia kegiatan ekploitasi migas di negeri ini. Jumlah penerimaan negara dari industri rokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan negara yang diperoleh dari eksploitasi sumber daya alam tambang yang selama ini menjadi andalan investasi di Indonesia. Namun ironisnya, industri rokok nasional dan sektor-sektor terkait termasuk pertanian dan perkebunan tembakau justru semakin terpinggirkan dan bahkan terancam akan ""punah"" akibat aturan-aturan hukum yang disponsori oleh kepentingan-kepentingan bisnis Internasional.
Inilah buku pertama yang membahas agenda bisnis di balik kampanye regulasi anti rokok, yang bahkan sempat menghebohkan ruang publik dengan dikeluarkannya fatwa ""haram merokok"" dari sebuah ormas keagamaan besar di negeri ini. Dengan kajian ekonomi politik dan hukum yang teliti dan tajam, buku ini wajib dibaca oleh para praktisi politik dan bisnis, pengamat, akademis, mahasiswa, aktivis sosial, intelektual bebas dan khalayak ramai yang concern terhadap persoalan-persoalan aktual yang dapat menggerogoti ketahanan sosial dan ekonomi bangsa ini di masa kini dan masa-masa mendatang. "

Jumat, 06 Maret 2015

Jual Buku: Teologi Pembebasan Asia / Michael Amaladoss

Jual Buku: Teologi Pembebasan Asia , Penulis: Michael AmaladossJudul Buku: Teologi Pembebasan Asia
Harga Rp 65.000 TERJUAL
Penulis: Michael Amaladoss
Penerjemah: A. Widyamartaya dan Cindelaras
Penerbit: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Insist Press & Cindelaras, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Januari 2001
Tebal: xvi + 333 halaman


Teologi Pembebasan selalu identik dengan teologi di wilayah Amerika Latin yang memiliki orientasi pemikiran agama Kristen. Buku karya Michael Amaladoss ini berusaha menunjukkan bahwa dalam perkembangannya semangat Teologi Pembebasan Kristiani itu juga sudah menyebar dalam tradisi teologi agama lain, sesuai dengan fakta pluralitas masyarakat.

Kawasan Asia misalnya adalah wilayah yang memiliki akar keragaman tradisi religius yang cukup kuat. Asia adalah tanah kelahiran agama-agama besar di dunia—Yahudi, Islam, Kristen—dan sejumlah agama lain seperti Hindu, Budha, dan Konghucu. Karena itu, Teologi Pembebasan dalam pemikiran Amaladoss seolah diproklamasikan sebagai teologi orang-orang beriman yang ingin lepas dari ketertindasan struktural yang dialami masyarakat. Memang, setiap agama menurut Amaladoss memiliki segi-segi yang membebaskan dan nabi-nabi yang berusaha menyoroti unsur-unsur pembebasan dalam menafsirkan tradisi agama secara kreatif dan relevan.

Latar belakang Teologi Pembebasan Asia tidak jauh berbeda dengan teologi pembebasan di wilayah lain (Amerika Latin atau Afrika). Meski Asia adalah tempat lahirnya agama-agama, akan tetapi yang tampak adalah bahwa agama di Asia tidak bisa berbuat banyak untuk membebaskan masyarakat dari fenomena ketertindasan, kemelaratan, kemiskinan, dan pertikaian antar-kelompok yang tiada henti.

Malah agama ditunggangi oleh kelompok elit masyarakat tertentu untuk dijadikan basis legitimasi demi kemakmuran mereka sendiri.

Keprihatinan seperti itulah yang melahirkan gerakan-gerakan pembebasan berbasis agama di beberapa kawasan Asia, seperti teologi Minjung di Korea, teologi Perjuangan di Filipina, dan teologi Dalit di India. Demikian juga ketika kelompok-kelompok agama Konghucu di Cina, Hindu di India, Budha di Sri Langka, serta Islam di Pakistan, Iran, atau Indonesia, mencoba berjuang menuntaskan problem-problem ketertindasan itu.

Teologi Minjung di Korea lahir dalam tekanan diktator Park Chong-hee pada awal 1970-an yang menyebabkan masyarakat hidup dalam teror dan kemiskinan. Sementara Teologi Perjuangan di Filipina muncul dalam suasana ketertindasan ekonomi-politik yang dihasilkan dari rezim Ferdinand Marcos.

Refleksi teologis yang dilakukan para teolog di kawasan Asia pada gilirannya mendorong mereka untuk berusaha keras bekerja sama melawan ketidakadilan ekonomi dan politik itu. Kerja sama, dialog, dan kesepakatan yang diambil oleh kaum agamawan ini tidak dihasilkan dari perbincangan teoritik yang abstrak, tapi berasal dari keterlibatan sosial mereka yang konkret untuk membela nilai-nilai agama yang mereka yakini.

Pengalaman hidup masyarakat yang menjadi titik tolak refleksi teologis ini pada akhirnya mengharuskan para teolog pembebasan ini untuk menyelesaikan semua sisi kehidupan masyarakat yang sudah akut itu: ekonomi-politik, pribadi-masyarakat, dan kebudayaan-agama. Bila tidak, usaha pembebasan yang dilakukan hanya mencapai hasil yang setengah-setengah.

Dengan mempertimbangkan keenam matra sosial yang perlu dibenahi itu, Amaladoss dalam buku ini merekomendasikan agar setiap program aksi pembebasan tidak cukup hanya diilhami dan dimotivasi oleh spirit agama, melainkan juga butuh bantuan dari ilmu-ilmu sosial yang dapat memberikan kerangka strategi dan opsi-opsi konkret dalam gerakan pembebasan.

Dengan demikian, tampak bahwa keterbukaan yang dibutuhkan oleh gerakan teologi pembebasan tidak saja keterbukaan terhadap tradisi agama lain, tetapi juga keterbukaan terhadap khazanah intelektual yang dihasilkan dari proses dialektika sejarah.

Dan, pembebasan yang dicita-citakan tentu saja tidak hanya pembebasan dari kekuatan-kekuatan penindas yang membelenggu kebebasan masyarakat, melainkan juga pembebasan dari keterbatasan akibat egoisme dan hasrat keinginan, baik individu maupun kolektif.

Kelebihan buku ini dari buku-buku bertema teologi pembebasan adalah bahwa karena buku ini berusaha menampilkan semangat teologi pembebasan yang dimiliki beragam agama di kawasan Asia. Teologi Pembebasan yang semula lahir dari tradisi kristiani melebar dan membentuk kesadaran teologi pembebasan yang berdasarkan atas fakta kemajemukan masyarakat. Ini berarti teologi pembebasan sudah menjadi semacam teologi universal. Buku ini mengajak kita semua untuk memikirkan kembali semangat persaudaraan kosmis yang dibawa agama-agama untuk ditiupkan dalam kehidupan konkret, merubah masyarakat dalam hidup yang lebih baik, hidup yang merdeka.

Tulisan ini dimuat di Majalah Gamma, 4 April 2001.

Selasa, 06 Januari 2015

Buku Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan / Zaiyardam Zubir


Jual Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau, Penulis: Zaiyardam Zubir
Judul : Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau  .Harga: Rp. 50.000
Penulis: Zaiyardam Zubir
Penerbit: Insist Press,
Tahun :2010
Tebal: 325 halaman
Kondisi: Stok lama,Bagus

Reformasi di negeri ini ternyata tak seluruhnya membawa perubahan yang positif. Serentak dengan embusan reformasi dan demokratisasi, bangsa ini seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga: nilai-nilai kemanusiaan.

Tengok saja. Hanya dalam hitungan bulan setelah reformasi, pecah konflik horizontal di berbagai daerah. Hingga detik ini kekerasan demi kekerasan masih terus bergulir. Di tingkat bawah, rakyat di banyak daerah tetap kerap bakupukul bahkan saling membunuh. Konflik yang melebar menjadi kerusuhan pun jadi tontonan sehari-hari di layar televisi.

Tak hanya di tingkat bawah, elemen masyarakat di tingkat atas pun tampak sudah mencabik-cabik rasa kemanusiaan. Berapa banyak dari mereka yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menjarah uang rakyat. Dalam banyak kasus, tanpa malu-malu pula kalangan atas ini lalu mengadu-domba rakyat kecil atas nama demokrasi.

Buku ini memang tidak bicara budaya konflik dan kekerasan secara umum di Indonesia. Ini merupakan hasil kajian tentang budaya konflik yang pernah tumbuh di Sumatera Barat. Zaiyardam Zubir dalam penelitiannya menemukan kearifan lokal di balik budaya konflik urang awak itu. Ia mendapati, konflik pada masyarakat Minangkabau bukan sekadar melahirkan kekerasan, melainkan justru juga menjadi sumber dinamika kehidupan mereka.

Selama ini diketahui, ada dua nilai yang kuat mempengaruhi cara berpikir, cara pandang, dan tingkah laku masyarakat Minangkabau: adat dan agama Islam. Pada suatu masa, benturan kedua nilai ini menjadi sumber konflik yang keras dan berkepanjangan. Konflik berkepanjangan itu pada akhirnya melahirkan filosofi dasar urang awak: adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Buku ini mengindikasikan, dalam konflik yang bagaimanapun keras dan panjangnya mesti ada jalan tengah. Tentu saja sejauh budaya konflik yang jadi sumber dinamika kehidupan masyarakat tidak ditempatkan dalam jaringan kekerasan. Kenyataannya selama ini, ada pihak ketiga yang menempatkannya dalam jaringan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu.

Erwin Y. Salim

Jual Buku Indonesia Mencari Demokrasi / Mochtar Buchori

Jual Buku Indonesia Mencari Demokrasi, Pengarang : Mochtar Buchori,  Penerbit : Insist, YogyakartaBuku Indonesia Mencari Demokrasi .
Harga : 55.000
 Pengarang : Mochtar Buchori
 Penerbit : Insist, Yogyakarta
 Tebal : xii+357 halaman
 Tahun : 2005
Kondisi : stok lama, segel
 Tersedia 1 buah

 NEGARA ini sangat awam dengan demokrasi. Itu sebabnya, ketika negara-negara maju mensyaratkan demokrasi sebagai salah satu indikator kemajuan suatu negara, secara membabi-buta warga bangsa kita berusaha mewujudkan demokrasi itu.
Namun, pemahaman yang serbaterbatas, ditambah belum ada contoh yang bisa menjadi panutan, demokrasi di negeri ini menggelinding seperti pepatah "gerobak buruk sapi gila". Satu per satu rezim pemerintah jatuh dan terakhir ikon demokrasi seperti Megawati Soekarnoputri, ikut tersingkir.
Sebagai pemilik ideologi demokrasi yang mengejawantah dalam nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), citra Megawati Soekarnoputri luluh manakala ia meladeni konflik dengan Susilo Bambang Yudhoyono di masa akhir pemerintahannya. Konflik yang terbukti mengangkat citra Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ikon baru dalam demokrasi karena demokrasi bagi bangsa kita adalah "menghargai orang-orang yang tertindas".
Definisi demokrasi itu tidak keliru tetapi menyesatkan. Namun, definisi seperti itulah yang membuat Susilo Bambang Yudhoyono mampu memperebutkan kursi Presiden RI, mengalahkan Megawati Soekarnoputri. Definisi yang sangat universal meskipun sangat tak menghargai intelektualitas. Tapi, harus diakui, itulah kenyataan yang sebenarnya, demokrasi di negara kita masih sangat sulit diwujudkan. Soal itulah yang dibicarakan Mochtar Buchori dalam buku ini, kesulitan bangsa ini untuk mewujudkan demokrasi.
Muchtar Buchori termasuk salah satu penulis kolom di negara ini yang pantas untuk dibaca karena tawaran-tawaran gagasannya sangat universal dan tetap aktual sampai sekarang. Begitu juga dengan buku yang diterbitkan Penerbit Insist Yogjakarta ini. Sebagai bunga rampai kolom Mochtar Buchori di berbagai media massa, Penerbit Insist menilai isinya sangat aktual untuk zaman sekarang meskipun sebagian besar ditulis di zaman lalu dan mengupas masalah-masalah lama.
Namun, cara penyajiannya tetap relevan dengan persoalan kehidupan politik kini. Sebut saja persoalan mengenai transformasi, suksesi, dan demokrasi yang dihadapi masyarakat Indonesia yang belum dapat terselesaikan sampai sekarang meskipun masyarakat sudah melaksanakan usaha yang sangat berani untuk mereformasi kehidupan politik.
Dari ragam persoalan yang digarap, kentara sekali orientasi Muchtar Buchori sangat kuat pada dunia politik. Itu sebabnya, judul buku ini sangat bernuansa politis.
Tetapi, karena hampir tidak ada persoalan di negara ini yang tak berkaitan dengan politik, tidak heran jika nuansa pemikiran-pemikiran politik sangat kuat dalam sebagian besar tulisan yang dikumpulkan dalam buku ini.
Pemikiran-pemikiran politik Muchtar Buchori bukanlah pemikiran yang partisan, yang berafiliasi pada ideologi tertentu yang ditawarkan partai politik meskipun ia tak asing dengan pemikiran dalam dunia politis. Kapasitasnya sebagai kader PDI Perjuangan, sebuah partai politik dengan ideologi nasionalisme yang kental, ternyata tidak mengemuka secara khusus. Pemikiran dan gagasannya tentang politik, terutama berkaitan nilai-nilai demokrasi, terkesan sangat universal.
Demokrasi dalam pemikiran Mochtar Buchori bukan hal mudah untuk diwujudkan. Lewat tulisan-tulisannya, upaya mewujudkan demokrasi itu dilakukan dengan cara menelusuri kembali perjalanan kultural yang sangat panjang, dimulai dari budaya feodal-kolonial menuju budaya baru yang mempunyai wajah yang berbeda-beda bagi komponen-komponen yang saling berbeda dalam masyarakat yang bersifat pluralistik dan multikultural ini.
Pada akhirnya, Mochtar Buchori sampai pada kesimpulan bahwa bangsa Indonesia masih terus mencari titik-titik temu kultural antara berbagai golongan, lapisan serta aliran dalam masyarakat kita. Karena mencari demokrasi di Indonesia ini sangat susah, yang membuat Indonesia harus terus memperhitungkan gejolak-gejolak penting yang bersifat global yang terjadi di sekitar diri kita.
Jadi, mencari demokrasi di Indonesia seperti menembak sasaran yang terus-menerus bergerak tanpa pola gerak yang jelas. Melalui kumpulan karangannya ini, Mochtar Buchori menyajikan buku dengan sketsa-sketsa sosial-politik serta sosio-kultural yang tajam, tetapi ringan._ Budi Hutasuhut, Wartawan Lampung Post.
Sumber: http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2006081402133277

Senin, 01 Desember 2014

Jual Buku Gelombang Perlawanan Rakyat: Kasus-kasus Gerakan Sosial di Indonesia: Seri Gerakan Sosial Baru

Buku Gelombang Perlawanan Rakyat: Kasus-kasus Gerakan Sosial di Indonesia: Seri Gerakan Sosial Baru
Harga Rp 73.000,TERJUAL, 
Penulis & Kontributor : Francis Wahono, Hira Jhamtani dan Lutfiah Hanim, Jeffrey Winters, R. Yando Zakaria, dkk.
by Fitria Agustina (Editor), N. Kusuma (Editor)
Paperback, II, Desember 2003,
Tebal 332 pages
Published  by INSIST Press

Sinopsis:
Merupakan himpunan sejumlah tema dan isu yang ditulis oleh para ilmuwan serta pelaku gerakan rakyat. Buku ini memberikan gambaran peta gerakan rakyat, yang sedang dan terus mengalami berbagai persoalan.
Bicara gerakan sosial tak bisa dilepaskan dari struktur dan sistem sosial yang ada di masyarakat, juga yang tak kalah penting, kekuasaan dan perilaku modal. Anggapan bahwa gerakan sosial di Indonesia mengalami kelumpuhan nampaknya perlu dikoreksi kembali. Di bawah sejumlah tekanan, respon dan pergulatan sengit gerakan rakyat menggeliat, dengan tuntutan serta bentuk pengorganisasian yang beragam. Udara perubahan bahkan turut mendukung, memotivasi munculnya pemimpin rakyat yang berkarakter ideologi berbeda-beda.
Buku ini merupakan pengetahuan penting untuk rakyat, terutama aktivis, pengamat, akdemisi, serta pelaku gerakan perlawanan rakyat.

Resensi:
Buku yang diawali dengan tulisan sajak dari Wiji Thukul ini merupakan kumpulan tulisan praksis dari intelektual sosial seperti Francis Wahono, Jeffrey Winters dan Mansour Fakih hingga aktivis gerakan pro-dem seperti : Eko Prasetyo, Yando Zakaria, Zukri Saat Majo Basa serta masih banyak lagi. Tulisan-tulisan didalamnya menceritakan tentang arti penting sebuah perjuangan dalam menegakkan keadilan dan disertai dengan studi kasus para praktisi yang turut melebur langsung dalam wadah perjuangan rakyat setempat.

Buku ini terdiri dari lima bab dengan terdapat sub-sub bab didalamnya. Kelima bab tersebut menggambarkan bagaimana perlawanan rakyat menghadapi hegemoni kekuasaan yang otoriter dan bersatu dengan kekuatan kejahatan global. Sedangkan studi kasus yang diangkat meliputi contoh pergerakan rakyat di Wonosari-Gunung Kidul-Yogyakarta yang mencoba mengangkat isu tanah untuk rakyat (land reform), atau sketsa perlawanan nelayan Cilacap menghadapi diskriminasi dan regulasi Pemerintah atau bisa juga melihat kronologi dan tujuan perjuangan rakyat Toba-Samosir-Sumatera Utara dalam melawan PT. Indorayon yang telah mencemari lingkungan dan merusak keberagaman hayati di daerah tersebut. Bahkan bagi yang tertarik pada perjuangan kaum feminis juga digambarkan pada sub-bab tentang strategi perlawanan buruh perempuan Indonesia yang mencoba mendobrak hegemoni patriarki dan diskriminasi gender.

Buku ini mengungkapkan bahwa seri “Gerakan Perlawanan Rakyat” ini hendak mengupas secara lebih tuntas beban persoalan yang bersangkut-paut dengan globalisasi modal dan kebijakan neo-liberalisme. Buku ini juga lebih memberi perhatian pada kecekatan sebuah gerakan sosial untuk memberi respon sekaligus mendorong mekarnya kesadaran kritis.

Harapannya buku ini dapat memberikan bekal bagi gerakan sosial dalam melihat silang sengketa antara negara, modal, dan kuasa militer. Buku ini juga dirujukkan kepada Anda yang bergerak sebagai aktivis pro-dem, pengamat sosial serta pelaku gerakan perlawanan rakyat. (whs).

(Penulis : Wawan Heru Suyatmiko)

Senin, 24 November 2014

Jual Buku Kapitalisme Perkebunan dan Konsep Pemilikan Tanah oleh Negara / Rikardo Simarmata

Jual Buku Kapitalisme Perkebunan dan Konsep Pemilikan Tanah oleh Negara, Penulis: Rikardo Simarmata Judul Buku Kapitalisme Perkebunan dan Konsep Pemilikan Tanah oleh Negara
Harga Rp 65.000 TERJUAL
Penulis: Rikardo Simarmata
Pengantar: Gunawan Wiradi
Penerbit: INSISTPress
Edisi: I, 2002
Tebal: 15x21cm; lxii + 235hlm.

Minggu, 23 November 2014

Jual Buku Asal-Usul dan Perkembangan Islam: Analisis Pertumbuhan Sosio-Ekonomi /Asghar Ali Engineer

Jual Buku: Asal-Usul dan Perkembangan Islam: Analisis Pertumbuhan Sosio-Ekonomi,  Penulis: Asghar Ali Engineer, Penerbit: Insist
Buku: Asal-Usul dan Perkembangan Islam: Analisis Pertumbuhan Sosio-Ekonomi
TERJUAL NTB. (Mungkin masih bisa restock)
Penulis: Asghar Ali Engineer
Penerbit: Insist bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, November 1999
Tebal: viii + 342 halaman

RESENSI: rindupulang.blogspot.com
Setiap agama dalam perkembangannya dapat dilihat sebagai sebuah ideologi atau sebuah pandangan-dunia (weltanschauung) yang memandu jalan pikiran setiap umat pemeluknya. Dalam perspektif Marxian, ideologi dapat dimaknai secara kurang simpatik: ia bersifat menipu, karena sebuah ideologi pada akhirnya seringkali berusaha memahami realitas secara terbalik, lepas dari konteks sosio-historis, sehingga ia sama sekali tidak mampu merepresentasikan realitas historis seperti ketika ia lahir. Ideologi semata-mata menjadi palsu, menipu, dan hanya melayani kepentingan tertentu.
Merasa terancam dengan pembacaan ideologis terhadap agama, dalam hal ini agama Islam, Asghar Ali Engineer—seorang cendekiawan muslim terkemuka dari India—merasa terpanggil untuk meletakkan Islam sesuai dengan konteks historis ketika ia lahir dan mengalami perkembangannya. Jalan yang ditempuh Asghar dalam hal ini adalah jalan sejarah, yakni dengan melacak realitas historis asal-usul dan perkembangan Islam. Secara metodologis, Asghar bertolak dari tradisi Marxian, yakni dengan menggunakan metode materialisme-historis. Dengan materialisme-historis dimaksudkan bahwa asal-usul dan perkembangan Islam dijelaskan dengan mencoba menangkap faktor-faktor sosial-ekonomi yang terlibat di dalamnya. Materialisme-historis itu sendiri mengandaikan bahwa perkembangan sejarah ditentukan oleh cara-cara produksi suatu masyarakat. Dengan demikian, Asghar melihat Islam bukan semata-mata gerakan keagamaan belaka, melainkan juga sebagai sebuah gerakan transformasi di bidang sosial dan ekonomi.
Kelahiran Islam di kawasan Arab menurut Asghar ternyata memang tak bisa dilepaskan dari konteks historis yang begitu kental. Situasi kawasan Arab ketika itu sedang dilanda krisis multidimensional; sosial, ekonomi, moral, dan spiritual. Menyusul setelah hancurnya bendungan Ma'rib di wilayah selatan Arab, arus migrasi kaum badui (suku nomad) ke kota Mekah menjadi tak terbendung, sehingga menjadikan Mekah sebagai pusat perdagangan di kawasan Arab. Dengan dijadikannya Mekah sebagai kota dagang, terjadilah perubahan struktur sosial yang cukup menentukan di kota itu. Aktivitas perdagangan yang berlangsung secara intens perlahan-lahan mengubah corak humanisme suku masyarakat Arab kepada suatu sikap individualisme. Solidaritas suku yang semula dominan dalam masyarakat kota Mekah lambat-laum bergeser menjadi solidaritas kelas.
Posisi kota Mekah sendiri secara geografis berada di antara kepungan dua kerajaan besar, yakni Bizantium dan Romawi. Dua kerajaan besar ini juga merupakan raksasa ekonomi yang cukup menentukan di wilayah Arab, karena kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. Masyarakat pedagang kota Mekah berada dalam suatu usaha mempertahankan kemandirian bisnis mereka di antara percaturan bisnis kawasan Arab. Mereka juga segan untuk menerima ajaran agama (kepercayaan) dari luar sistem masyarakat mereka sendiri, seperti agama Yahudi yang dianut kerajaan Bizantium atau agama Kristen yang dianut kerajaan Romawi.
Di tengah-tengah situasi yang demikian, Islam hadir ke tengah-tengah masyarakat pedagang Mekah. Muhammad, Sang Utusan Tuhan, hadir tidak sekedar dengan visi transendentalnya saja. Muhammad juga adalah seorang pribadi yang cukup responsif terhadap situasi transformasi ekonomi dan sosial yang berlangsung di kota Mekah. Muhammad mengajarkan nilai persatuan dan persamaan derajat di tengah-tengah berkembangnya kecenderungan individualisme dan solidaritas kelas. Dalam konteks inilah bisa dipahami penolakan para elit pedagang Mekah terhadap agama baru ini. Kalau Islam hanya hadir dengan mengajarkan keesaan Tuhan belaka, tanpa adanya kritik sosial-ekonomi yang cukup tajam, niscaya semua masyarakat Arab bisa menerimanya.
Muhammad berusaha mengimbangi ketimpangan sosial-ekonomi yang mulai terbaca dengan ajaran-ajaran yang berbau sosial (persatuan dan persamaan derajat). Hal ini tercermin dalam ayat-ayat Makkiyah (ayat al-Qur'an yang diturunkan di kota Mekah) yang pendek dan tegas, dan penuh dengan peringatan bagi mereka yang menumpuk harta-benda tanpa mau menghiraukan orang-orang di sekitar. Meski demikian, al-Qur'an juga menghargai arus perubahan sosial yang mengarah kepada individualisme, dengan mengajarkan bahwa dalam hal pertanggungjawaban di hadapan Tuhan kelak, semua orang hanya hadir sebagai individu-individu yang bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri.
Cita-cita Muhammad mempersatukan masyarakat pedagang Mekah sebenarnya juga dilandasi dengan suatu kesadaran akan posisi Mekah di antara kerajaan Bizantium dan Romawi. Muhammad ingin membangun suatu kekuatan ekonomi yang tangguh di kalangan masyarakat kota Mekah, dengan dilandasi suatu spirit persatuan dan persamaan derajat dengan dasar agama Islam. Kesadaran ini kiranya cukup dapat dimaklumi, karena Muhammad sendiri pernah menggeluti dunia bisnis bersama Khadijah, seorang pedagang sukses yang kemudian menjadi istrinya.
Kepindahan Muhammad dari kota Mekah ke kota Yatsrib—yang kemudian diubah namanya menjadi Madinat al-Nabi (Kota Nabi)—didasarkan atas posisi Muhammad yang semakin sulit di kota Mekah. Kehadiran Muhammad di kota Madinah sendiri sebenarnya memang cukup strategis dan berada dalam momen yang bagus. Kota Madinah ketika itu merupakan suatu wilayah yang rawan konflik, baik konflik antar-suku maupun dengan kaum Yahudi di sana. Kehadiran Muhammad ternyata cukup mampu untuk menjadi penengah sekaligus peredam konflik di antara mereka. Segera setelah berdiam di kota Madinah, Muhammad menyusun suatu rumusan perjanjian yang dikenal dengan Konstitusi Madinah. Konstitusi ini merupakan suatu revolusi besar-besaran bagi masyarakat Madinah, karena konstitusi yang lahir dalam suasana politis yang begitu dominan ini berusaha mengalihkan kekuasaan dari tangan suku-suku kepada tangan masyarakat luas.
Apa yang dilakukan Muhammad semenjak tinggal di Madinah adalah usaha untuk membangun kekuatan untuk dapat kembali ke kota Mekah. Muhammad menghimpun kekuatan sosial-ekonomi melalui penyerangan terhadap kafilah-kafilah kota Mekah yang dimaksudkan untuk menghancurkan kekuatan ekonomi Mekah, serta dilanjutkan dengan penaklukan beberapa wilayah. Hal ini juga dibarengi dengan perumusan aturan-aturan hukum (syari`ah), karena semenjak di Madinah, posisi Muhammad sebenarnya sudah mirip dengan seorang pemimpin negara yang memiliki otoritas sosial-politik.
Akan tetapi, penaklukan-penaklukan wilayah yang dilanjutkan sepeninggal Muhammad oleh para Khalifah semakin nampak mengisi nuansa feodal dalam ajaran-ajaran Islam. Dengan semakin luasnya kekuasaan Kerajaan Islam, maka bermunculanlah borjuasi-borjuasi baru di kalangan umat Islam sendiri. Ajaran persatuan dan persamaan derajat yang menjadi semangat awal agama Islam diabaikan karena intrik-intrik politik yang tidak sehat. Hal ini semakin menjadi kental mulai masa Khalifah Usman hingga pemerintahan Dinasti Umayyah. Aspek yang semata-mata politik (kekuasaan) menjadi faktor utama dalam mewarnai perkembangan agama Islam. Bahkan, kelahiran sekte-sekte dalam Islam—Syi`ah, Khawarij, dan yang lainnya—amat kental dengan aroma politik.
Di sinilah letak relevansi buku bagus ini terutama dalam memahami kondisi aktual saat ini. Ketika sebuah agama dibaca semata-mata sebagai sebuah ideologi (dogma) yang terlepas dari realitas historis seperti ketika ia lahir, maka agama menjadi sangat mudah untuk dijadikan topeng besar bagi kepentingan suatu kelompok. Tafsir agama yang sama sekali ahistoris akan mudah ditunggangi kelompok tertentu di belakangnya, sehingga agama kehilangan visi transformatif dan toleran dan lebih berbau eksklusif-diskriminatif.
Blokade sejarah yang begitu ketat dalam kesadaran umat beragama selayaknya harus mulai ditembus. Buku ini secara baik cukup mampu memberikan semacam pengantar bagi suatu upaya menyibak tirai sejarah asal-usul dan perkembangan Islam yang sarat dengan muatan politik dan ekonomi. Dengan cerdas, buku ini berusaha memberi penjelasan rasional yang bersifat historis-dialektis antara norma transenden agama dengan kebutuhan sosiologis-kultural masyarakat. Dengan pemahaman sejarah yang demikian, kiranya umat Islam—seperti juga umat agama lain—tidak berlaku gegabah dalam menafsirkan suatu ajaran tertentu, karena pada dasarnya Islam lahir dalam suatu konstruksi historis tertentu. Kesadaran akan sejarah inilah yang seharusnya selalu dirawat dan dipelihara dalam nalar setiap umat agar agama yang diyakininya tidak menjadi hantu, atau bahkan candu, yang bisa melelapkan kesadaran dari tuntutan realitas yang wajar dan bersifat lebih manusiawi.

Selasa, 19 Agustus 2014

Jual Buku Reforma Agraria, Perjalanan Yang Belum Berakhir / Gunawan Wiradi

Jual Buku Reforma Agraria, Perjalanan Yang Belum Berakhir Penulis: Gunawan Wiradi Penerbit: INSISTPress,
Judul: Buku Reforma Agraria, Perjalanan Yang Belum Berakhir
Penulis: Gunawan Wiradi
Harga Rp 40.000
Penerbit: INSISTPress, KPA dan Pustaka Pelajar
ISBN: 979-9289-98-X
Edisi: I, Sep-2000
Tebal: 12x19,5cm; xvii + 247 hlm.
Kondisi Stok lama, Bagus
Tersedia 1 buah

Buku ini merupakan hasil olahan dari 23 (dua puluh tiga) tulisan Gunawan Winardi (GWR) yang disampaikan dalam berbagai seminar, lokakarta atau diskusi yang merentang dari tahun 1992 hingga awal tahun 2000. Buku ini hanyalah sebagian dari karya-karya tulis GWR, karangan GWR tidak hanya menyangkut masalah agrarian, tetapi juga meliputi soal-soal transmigrasi, demokrasi, metodologi penelitian, teori organisasi, revolusi hijau, dan lain-lainnya.

Buku ini hadir untuk mengetuk nurani kita semua betapa besar ongkos sosial yang harus ditanggung karena kebijakan otoriter itu. Sesungguhnya semua pihak kian disadarkan kembali bahwa buat negara berkembang yang agraris makna kemerdekaan buat rakyat adalah hak atas tanah yang digarapnya.
****

Rabu, 13 Agustus 2014

Jual Buku Dusta Industri Pangan, Penelusuran Jejak Monsanto / Delforge.

Jual Buku Dusta Industri Pangan, Penelusuran Jejak Monsanto  Delforge. Judul Buku Dusta Industri Pangan: Penelusuran Jejak Monsanto
Penulis: Isabelle Delforge
Harga RP 55.000 off.

Penyunting/Penerjemah: Hadi Wahono dan Danarti Wulandari
Penerbit: INSISTPress
ISBN: 979-97233-3-7
Edisi : II, Februari 2005
Tebal: 15x21cm, xxvi + 232hlm.

Kondisi bekas, bagus,