Tampilkan postingan dengan label Pierre Bourdieu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pierre Bourdieu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

Jual Buku (Habitus x modal) + Ranah = Praktik Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu Penulis: Richard Harker

Jual Buku Habitus (Habitus x modal) + Ranah = Praktik  Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu  Penulis: Richard Harker
Buku Habitus (Habitus x modal) + Ranah = Praktik
Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Harga Rp 72.000
Penulis: Richard Harker, Cheelen Mahar, Chris Wilkes (ed)
Terbit : Desember 2009
Cetakan Ke : 2
Kategori : Filsafat
Divisi : Jalasutra
Halaman: xl + 320
Ukuran: 15 x 21 cm
ISBN: 979-3684-27-5
Tersedia 1 buah
===
Pierre Felix Bourdieu (1 Agustus 1930-23 Januari 2002) merupakan salah seorang pemikir Prancis paling terkemuka di penghujung abad ke-20. Dikenal sebagai sosiolog, antropolog, juga filsuf dan para masa akhir hidupnya sebagai jawara gerakan anti-globalisasi. Karyanya memiliki cakupan bahasan yang luas, mulai dari etnografi hingga seni, sastra, pendidikan, bahasa, selera kultural, dan televisi. Pada akhir 1980-an, Bourdieu bahkan telah menjadi salah seorang ilmuwan humaniora Prancis yang paling sering dikutip dalam pelbagai tulisan para pemikir di seluruh dunia. Kini, Bouedieo tak ubahnya mahaguru, Bour-dieu (dewa), dan buku ini merupakan pintu masuk yang baik bagi pembaca kajian sosial atau cultural studies.
Buku pengantar ini merupakan hasil kerja kolektif tujuh orang akademisi anggota Friday Morning Group, sebuah kelompok studi di Univeresitas Massey yang rutin mendiskusikan karya-karya Bourdieu, bukan melalui sebuah proses penyederhanaan atau penyajian, melainkan melalui penjelajahan atas kompleksitas (dan konsistensi) pelbagai ide dan motode kerjanya di pelbagai lintas bidang kajian.
Di dalam buku ini, pemikiran Bourdieu dikaji secara komprehensif dengan susunan:
Bab 1 berisi paparan mengenai perangkat dan metode konseptual Bourdieu
Bab 2 berisi pengantar kepada Bourdieu melalui analisis atas karya maupun karirnya yang disusun berdasarkan wawancara dengan Bourdieu
Bab 3 meninjau kembali kontrribusi etnografis Bourdieu dimulai dengan karya pertamanya di Aljazair
Bab 4 menelaah secara detil pandangan Bourdiou tentang pendidikan.
Bab 5 memeriksa hubungan karya Bourdieu tentang kelas dengan tradisi Marxis
Bab 6 menjajaki pemikiran dalam wilayah estetika
Bab 7 menelaah ketertarikan Bourdieu pada bahasa dan kekuasaan
Bab 8 membahas refleksitas proyek sosiologis Bourdieu melalui penyuguhan “komentar Bourdieu atas Bourdieu”
Bab 9 tinjauan ulang atas kritik, karya baru, dan komentar terhadap Bourdieu.
Buku ini merupakan pengantar kepada pemikiran Pierre Bourdieu yang cukup sering dikutip dan dirujuk, dengan kajian komprehensif atas beberapa aspek utama pemikiran Bourdieu, dan menariknya, para penulis dalam kumpulan tulisan ini saling merujuk pada tulisan satu sama lain, tampak bahwa buku ini memang dibuat dengan kerja kolektif yang baik dan solid. []
Catatan Pakar
Teori Bourdieu memberi kerangka yang lebih jelas, praktis, dan komprehensif dalam menjawab pelbagai masalah sosial yang belum terselesaikan oleh pemikir-pemikir sosial pendahulunya, terutama persoalan dikotomis dalam teori sosial. Dengan karya-karyanya, Bourdieu seperti mengajak kita untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kerangka pikir Platonian, Aristotelian, Cartesian, Saussurian dan Strukturalisme, Marxisme, Fenomenologi, serta segala bentuk pendekatan deterministik dan mekanistik dalam ilmu sosial. []
(Bagus Takwin, penulis Filsafat Timur, Akar-Akar Ideologi, Akademos, dan Bermain-main dengan Cinta). 

Kamis, 25 Desember 2014

Jual Buku Kekerasan simbolik di Sekolah / Nanang Martono

Jual Buku Kekerasan simbolik di Sekolah, sebuah ide Sosiologi Pendidikan Pierre BourdieuBuku Kekerasan simbolik di Sekolah, sebuah ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu .
Harga Rp 66.000. 
Penulis : Nanang Martono
Penerbit : Rajawali Rajagrafindo Press
Terbit : 2012
Tebal : xxviii, 240 hlm
Kondisi Baru, segel lepas

Buku Kekerasan Simbolik di Sekolah, Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan adalah buku pertama di Indonesia yang membahas masalah kekerasan simbolik.
Buku Kekerasan Simbolik di Sekolah, Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu ini menjelaskan mengenai apa itu kekerasan simbolik, mengapa kekerasan simbolik dapat dilakukan dengan mudah di sekolah. Selain itu, Buku Kekerasan Simbolik di Sekolah ini juga mengupas strategi kelompok kapitalisme kekerasan ini. Buku Kekerasan Simbolik di Sekolah ini direkomendasikan bagi mamahasiswa, guru, atau pengajar yang lain, serta pemerhati masalah pendidikan.
Buku Kekerasan Simbolik di Sekolah, ini menggambarkan berbagai bentuk kekerasan simbolik yang terjadi di sekolah. Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis meyakini bahwa sekolah merupakan tempat yang paling tepat untuk menyuburkan terjadinya praktik-praktik kekerasan simbolik ini. Kekeran simbolik ini bukanlah kekerasan fisik maupun psikologis. Bila kedua bentuk kekerasan ini wujudnya dapat dikenali, maka kekerasan simbolik sangat sulit dikenali. Namun, kekerasan ini akan terjadi setiap gejala yang sangat wajar,sehingga sebagian besar orang akan menerima begitu saja, mereka seolah-olah bersedia menempatkan diri mereka sebagai korban kekerasan simbolik dengan lapang dada, mereka rela jadi objek dan korban kekerasan.
” Bagi kebanyakan orang, kekerasn simbolik merupakan hal baru. kebanyakan dari kita akrab dengan istilah kekerasan (fisik) . Ketika mendengar kekerasan, yang terbayang adalah penggunaaan paksaan untuk mewujudkan niat seseorang atau sekelompok orang. Misalnya, kekerasan domestik pada Rumah Tangga, kekerasan yang dilakukan dengan dalih membela keyakinan dan berbagai bentuk street vigilante lain. Juga terbayang tawuran warga atau tawuran antar sekolah. Semuannya menggambarkan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Tidak memngherankan ketika mendengarkan “kekerasan simbolik” orang serta merta melakukan penolakan.
Hanneman Samuel ( Universitas Indonesia )

Kamis, 24 April 2014

Jual Buku Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, Penulis: Richard Jenkins

Jual Buku Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, Penulis: Richard Jenkins
Judul  Membaca Pikiran Pierre Bourdieu
Harga : Rp 50.000
Penulis: Richard Jenkins
Penerbit: Kreasi Wacana,
Tahun : 2004
Tebal : 304 hlmn
Berat : 400gram
Kondisi : Stok lama

Sinopsis
Bisa jadi terdapat sedikit keraguan akan arti penting kontribusi Bourdieu dalam sosiologi dan antropologi sosial. Dengan meninggalnya Althusser, Barthes dan Foucault, melebihi figur lain semisal Bodon atau Touraine, dia tampil untuk menunjukkan nilai dan vitalitas yang terus berlanjut dalam tradisi intelektual ilmu sosial Prancis. Dengan membangun ruang politis dan teoretis di luar Marx, Weber dan Durkheim, strukturalisme dan interaksionisme, determinisme pesimistis dan keyakinan selebratoris dalam meningkatkan potensi kreatif praktis kehidupan manusia, dia muncul sebagai sumber heterodoks dan menarik bagi inspirasi teori sosial pada era 1990-an.

Terdapat sejumlah alasan yang lebih spesifik mengapa pengkajian karya Bourdieu begitu penting. Pertama, dia memberikan kontribusi utama dalam debat tentang hubungan antara struktur dan tindakan sebagai satu pertanyaan kunci bagi teori sosial yang muncul lagi pada akhir era 1970-an dan awal 1980-an. Kedua, dibandingkan dengan Anthony Giddens, misalnya, kontribusi tersebut secara konsisten telah dikerangkakan oleh kombinasi antara kerja empiris sistematis –apakah mendasarkan lagi pada etnografi atau pendekatan survei sosial– dengan teorisasi reflektif. Tarik-menarik antara kedua aspek karya Bourdieu inilah yang menjadikannya begitu menarik: ‘teori tanpa penelitian empiris adalah hampa, penelitian empiris tanpa teori adalah buta’. Adapun alasan yang ketiga, mungkin sebagai konsekuensinya dari fakta bahwa Bourdieu telah menjadi seorang peneliti masalah sosial yang begitu aktif. Pertanyaan epistemologinya tentang inti kelayakan ilmu pengetahuan sosial dan syarat memungkinkan hal ini menjadi isu sentral dalam proyeknya. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan yang telah membuat banyak sosiolog dan antropolog –apakah mereka menyebut dirinya sebagai ‘teoretikus’ atau ‘peneliti’ –kehabisan akal.

Rabu, 23 April 2014

Jual Buku INTELEKTUAL KOLEKTIF PIERRE BOURDIEU

Jual Buku Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu: Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi,  Penulis : Arizal MutahirJudul : Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu: Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi .Harga : Rp 35.000
Penulis : Arizal Mutahir
Penerbit: Kreasi Wacana, Yogyakarta
Tahun: I, 2011
Tebal : xx + 222 halaman
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-8784-24-5
Kondisi Baru

Kemajuan sebuah bangsa turut ditentukan oleh kaum intelektualnya. Para cerdik cendekia diharapkan memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Namun, kadang independensi dan otonomi intelektual dipertanyakan ketika bersinggungan dengan kekuasaan. Di manakah posisi intelektual?
Ada tiga pendekatan yang mendedah posisi intelektual. Pertama, merujuk pada pandangan Julien Benda yang melihat intelektual berposisi di atas awan. Intelektual yang bekerja untuk pemerintah atau perusahaan sejatinya mengkhianati kebenaran. Paradigma ini dikenal dengan Bendaisme.
Kedua, pendekatan yang dipopulerkan oleh Antonio Gramsci. Menurutnya, semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual dalam masyarakat. Intelektual yang bergabung dengan penguasa tidak melanggar kebenaran profesinya, namun melanggar kepentingan kelas sosialnya.
Pendekatan ketiga datang dari pemikiran Karl Mannheim dalam karyanya, Ideologi dan Utopia. Ia berpendapat bahwa intelektual bukanlah bagian dari kelas mana pun, namun merupakan orang bebas (free-floating). Intelektual bertugas memberikan saling pengertian di antara kelas-kelas dan menjaga nilai-nilai di masyarakat.
Tiga pendekatan di atas dikritik oleh Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis. Menurutnya, pendekatan-pendekatan tersebut gagal untuk melihat intelektual secara komprehensif. Pandangan Bendaisme menempatkan intelektual di menara gading. Teori Gramsci pun bisa terjebak dalam soal kekuasaan. Sedangkan pendekatan Mannheim terlalu utopis.
Buku karya Arizal Mutahir ini berikhtiar untuk menelaah pemikiran Bourdieu tentang intelektual. Bagi Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal, yakni mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas (hal. 9).
Dunia sosial di mata Bourdieu tidak semata hanya kumpulan perilaku individu maupun tindakan yang ditentukan oleh struktur, namun merupakan praktik sosial. Ia merumuskannya dengan persamaan: (Habitus x Modal) + Arena = Praktik.
Habitus merupakan seperangkat pengetahuan, nilai, atau cara bertindak agen sosial yang umumnya bekerja di bawah aras ketidaksadaran. Modal adalah hubungan sosial atau energi sosial yang menentukan kedudukan sosial. Arena adalah sistem dan relasi di mana pertarungan posisi para agen terjadi di dalamnya.
Agen-agen sosial menjalankan strategi-strategi demi akumulasi modal simbolis. Mereka yang memiliki modal simbolis melimpah—seperti gelar, status bangsawan, atau jabatan—akan mendominasi arena. Inilah yang disebut sebagai kekerasan simbolis.
Bourdieu sangat menekankan agar otonomi intelektual dipertahankan meskipun dalam ‘pertarungan’ tersebut arena kekuasaan begitu mendominasi dan menghegemoni arena produksi budaya.
Menurut Bourdieu, otonomnya sebuah arena tergantung dari kemauan agen yang ada di dalamnya untuk mempertahankan prinsip dan aturan yang berlaku di sana (hal. 121). Integritas intelektual terhadap prinsip keilmuannya pun diuji.

Intelektual Kolektif
Globalisasi dianggap oleh Bourdieu mengancam otonomi intelektual. Menurutnya, globalisasi adalah universalisme palsu (fake universalism) yang melayani kepentingan kaum dominan dan ideologi neoliberal.
Ideologi neoliberal menjadikan dunia semakin komersial. Hal itu disokong oleh ‘hubungan haram’ antara kekuatan media, politik dan ekonomi. Intelektual makin terpinggirkan sedangkan para teknokrat, bankir, dan CEO perusahaan semakin berkuasa.
Untuk itu, Bourdieu menawarkan model gerakan perlawanan yang ia sebut “intelektual kolektif” (collective intellectual), yakni gerakan lintas budaya, bangsa, negara dan multidisipliner. Gerakan ini memiliki struktur bebas, jaringan informal, dan tidak terkonsenterasi di satu pusat. Model ini menekankan kemandirian dan keterlibatan politik kaum intelektual.
Tak sekadar berteori, dalam tataran praksis pun Bourdieu konsisten dengan keberpihakannya kepada kelas yang terdominasi. Pada 12 Desember 1995, ia turun dalam aksi pemogokan umum. Maret 1996, ia menandatangani petisi pembangkangan sipil melawan hukum Perancis yang memperketat legislasi imigrasi. Bahkan, ketika kaum pengangguran menduduki kampusnya pada 1998, ia justru memihak mereka.
Bourdieu juga mendukung intelektual Aljazair, menolak penghapusan subsidi atas nama pasar bebas, membela kaum tuna wisma, buruh, bahkan lesbian dan gay. Sikap politiknya yang cenderung menentang kebijakan pemerintah membuatnya diserang oleh media massa. Namun, ia tak surut karena menurutnya itulah yang harus dilakukan intelektual, yakni menjadi ‘juru bicara’ bagi kaum yang tertindas.(resensi: Eko Budi Nugroho)

Kamis, 03 April 2014

Jual Buku PIERRE BOURDIEU Menyingkap Kuasa Simbol


Jual Buku PIERRE BOURDIEU Menyingkap Kuasa Simbol, Fauzi Fashri Jalasutra
Judul : PIERRE BOURDIEU
Menyingkap Kuasa Simbol
Harga Rp 76.000
Fauzi Fashri
Cetakan I, 2014
Penerbit: Jalasutra
xxiv+216 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-8252-98-0
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029
email: sibukmainbuku@gmail.com

Buku ini ingin menelusuri kemampuan bahasa sebagai salah satu sistem simbol dalam mengonstruksi realitas seperti pada pembacaan yang dilakukan Bourdieu terhadap relasi bahasa dan kekuasaan. Karena dengan bahasa, kita mengkategorikan ataupun memasukkan perbedaan ke dalam kehendak untuk menguasai.
Kajian dalam buku ini berupaya melakukan pembacaan, penafsiran, dan pemahaman tentang tata kuasa simbolik menurut pemikiran Pierre Bourdieu. Topik-topik yang dipaparkan dalam buku ini meliputi:
· Eksplorasi terkait pertautan kekuasaan dan kekerasan dalam tata simbol
· Bahasan lintasan kehidupan Pierre Bourdieu dan aspek-aspek pemikirannya
· Uraian mengenai bahasa, pertarungan kekuasaan dan kekerasan simbolik
· Paparan pandangan kritis Bourdieu terhadap tata wacana neoliberalisme
· Catatan kritis atas pemikiran Bourdieu
DAFTAR ISI
Prakata Penulis v
Kata Pengantar Prof. Achmad Fedyani Saifuddin, Ph.D.
Membaca Teori Pierre Bourdieu ix
Daftar Isi xxi
Pendahuluan
Mengarungi Samudra Berpikir Pierre Bourdieu 1
Bab I
Pertautan Kekuasaan dan Kekerasan dalam Tata Simbol 7
Kuasa Simbol dan Politik Kebenaran 10
Sistem Simbol dalam Tanya 19
Membaca dan Membongkar Simbol 21
• Hermeneutika 22
• Kekuasaan 25
• Kekerasan 30
Memosisikan Wacana dan Analisis 33
• Realisasi Bahasa sebagai Wacana (Wacana-Bahasa) 33
• Perubahan Wacana Tuturan Menjadi Wacana Tulisan 36
• Teks sebagai Inti Hermeneutika (Dunia Teks) 37
Bab II
Pierre Bourdieu: Trajektori Kehidupan dan Proyek Pemikirannya 45
Hikayat Ide-Ide Pierre Bourdieu 47
Karya-karya Bourdieu 54
• Algeria 1960 55
• Distinction 57
• Homo Academicus 60
Program “School Of Thought” Pierre Bourdieu 64
• Mendayung di Antara Dua Karang 64
• Upaya Mengatasi Fenomenologi dan Marxisme 72
Bab III
Bahasa, Pertarungan Kekuasaan, dan Kekerasan Simbolik 89
Perkakas Konseptual Pierre Bourdieu 93
• Habitus 93
• Ranah (Field) sebagai Arena Pertarungan dan Perjuangan 105
Menebar Kata, Menuai Kuasa 116
• Sistem Simbol sebagai Instrumen Dominasi 117
• Bahasa sebagai Ranah Pertarungan 122
• Mendominasi ”Yang Lain” Melalui Kekerasan Simbolik 141
Bab IV
Tata Wacana Neoliberalisme 155
Menguak Mitos Neoliberalisme 158
• Sejarah Singkat Neoliberalisme 158
• Neoliberalisme: Paham yang Menjunjung Kebebasan dan Daulat Individu 161
Neoliberalisme: Program Politik yang Diilmiahkan 175
• Kedaulatan Pasar dan Penghancuran Struktur Kolektif 177
• Siapa yang Kuat, Dia yang Menang 183
Ketika ”Tangan Negara” Didikte Oleh Paham Neoliberal 185
Bab V
Penutup: Sebuah Warta Sederhana 195
Daftar Pustaka 203
Indeks 207
Tentang Penulis 213

KATA PENGANTAR
Memahami dunia seorang pemikir memang bukanlah suatu hal yang mudah. Terlebih lagi memahami mengapa seorang pemikir akhirnya menghasilkan sebuah karya yang menjadi manifestasi kondisi kemanusiaannya kala itu. Seorang pemikir, dalam berproses menghadirkan sebuah karya pastilah tidak bisa terlepas dari proyeksi kehidupan pemikir itu. Meskipun dalam kondisi psikologis yang stabil, materi karya yang ditemukan maupun dimunculkan secara historis adalah hasil dari proyeksi kehidupannya tersebut. Sebuah ide mungkin bisa muncul tiba-tiba. Akan tetapi ketika ia mulai digabungkan dengan pelbagai unsur tambahan lain, maka ia akan menjelma menjadi wujud lain pemikir tersebut. Material sebaru apapun, tidak akan bisa terlepas dari historis pemikirnya.
Buku ini merupakan edisi revisi dari cetakan pertama yang berjudul “Penyingkapan Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu.” Bourdieu merupakan pemikir sekaligus pelaku yang tak sekadar menjahit teks-teks teoretik, tapi juga menautkannya dalam aktivisme kehidupan.Memahami Bourdieu ibarat proses dialog antara penulis dengan diri Bourdieu maupun dengan ‘the Other’ yang dimengerti dalam arti luas baik latar kebudayaan, lintasan sejarah, dan lingkungan yang berada di sekelilingnya. Hal ini karena karya-karya Bourdieu cukup rumit, maka riskan salah tafsir terhadap pemikirannya. Upaya membaca oeuvre ini perlu dibarengi dengan sikap hati-hati—kehati-hatian yang sama dengan yang diterapkan Bourdieu dalam tulisan-tulisannya.
Penerbitan buku ini tidak bisa dilepaskan dari bantuan banyak pihak yang telah ikut memberikan sumbangan berharga baik dalam proses maupun penyelesaiannya. Ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Achmad Fedyani Saifuddin yang telah menyempatkan waktu—di tengah kesibukannya—untuk menggoreskan kata pengantar yang refleksif dan mumpuni.
Ucapan terima kasih juga terarah kepada keluarga besar IMM Cabang AR. Fakhrudin Kota Yogyakarta, rekan-rekan aktivis lintas gerakan pada masa penulis terlibat menjadi aktivis pergerakan. Tak luput ucapan terima kasih penulis kepada sahabat-sahabat di Laskardust Community yang telah menanamkan ornamen persahabatan hingga sekarang: Bapak Husni Amriyanto—sesepuh Laskardust, Agung Gallery Pesta, Iyan Batam, Bowo, Udin, Rizal, Ipoel, Hendra Catsasul, Adinda Andre, David, Fuad, Miko, Patra, Samas, Pakar, dan Fajlurrahman Jurdi. Serta lewat dorongan menggebu-gebu dan bantuan dari Adinda Faisal, karya ini bisa hadir kembali. Penulis turut mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada beberapa lembaga dan forum yang telah berperan dalam merangsang intellectual exercise penulis: Maarif Institute, USC Satu Nama, MIM Indigeneous School, Civil Islamic Institute, Juxtapose, dan Republik Intitute. Kepada penerbit Jalasutra, terima kasih telah berkenan menerbitkan kembali karya ini.
Akhirul kalam, penulis menghaturkan rasa hormat dan ucapan terima kasih terdalam kepada kedua orang tua, Mak dan Bak yang telah mengorbankan separuh nafasnya bagi ananda. Kepada keluarga besar penulis; Kak Agus-Mba’ Ana, Yu’ Yanti-Kak Yusri, Kak Fajri-Teh Ani, Kak Zikri-Teh Dilla, Yu’ Rika-Mas Satria, terima kasih atas kehangatan kasih sayangnya selama ini. Kasih sayang tak terbatas ayah pada Ananda Zaim Arvin Kabir, buah hati yang menyegarkan jiwa penulis. Puncak segala syukur penulis persembahkan kepada Allah SWT yang telah menuntun penulis lewat misteri cinta-Nya.[]
Tentang Penulis
Fauzi Fashri lahir di Pangkal Pinang, 17 September 1982. Menyelesaikan S-1 di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sempat mengenyam pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dan pascasarjana Departemen Antropologi UI. Terkenal aktif berorganisasi dan menulis sejak bangku kuliah. Pernah menjabat Ketua Umum IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta (2004-2005) dan pada 2006 menduduki posisi Sekretaris Umum DPD IMM DIY. Pernah berkecimpung di lembaga Maarif Institute dan Civil Islamic Institute serta menjadi pendiri lahirnya MIM Indigeneous School dan inisiator berdirinya Laskardust Institute. Tercatat sebagai Ketua Badan Pengkajian Strategis PP KAUMY Periode 2012-2015. Sekarang melanjutkan karier dalam bidang bisnis di PT. Bestindo Putra Mandiri—kontraktor di bidang Water and Waste Water Treatment. Untuk aktivitas intelektualnya, penulis terlibat sebagai Direktur Program Republik Institute.[]

Jumat, 28 Maret 2014

Jual Buku Choses Dites Uraian dan Pemikiran, oleh Pierre Bourdieu

Jual Buku CHOSES DITES, Uraian dan Pemikiran Penulis: Pierre BourdieuBuku: CHOSES DITES, Uraian dan Pemikiran
Penulis: Pierre Bourdieu
Harga Rp 60.000
Penerbit: Kreasi Wacana
Terbit 2011
isi HVS, Tebal:  270 hlm.
 Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029
Sinopsis
Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama membicarakan jalur yang harus dilalui dengan sub kajian”Kerja lapangan dalam  Filsafat” dan “Petunjuk”. Bagian kedua berbicara tentang konfrontasi dengan sub kajian adalah : Dari aturan menuju strategi,; kodifikasi; Sosiolog kepercayaan dan kepercayaan sosiolog; Mengobjetifikasi subjek yang  mengobjektivikasi; Runtuhnya Agama; Kepentingan Sang Sosiolog; Bacaan, Pembaca, Budayawan dan kesusastraan. Selajutnya bagian ketiga tentang Arah Baru dalam subjek kajian  Ruang Sosial dan Kuasa Simbolis; Arena Intelektual: Sebuah Dunia yang Tersisihkan; Pemakaian istilah “Rakyat”; Pendelegasian dan Fetisisme Politik; Program untuk Sebuah Sosiologi Olahraga; Jejak Pendapat “Ilmu Pengetahuan” Tanpa Ilmuwan.

Jual Buku Arena Produksi Kultural / Pierre Bourdieu

Jual Buku Arena produksi kultural /Pierre BourdieuJudul Buku Arena produksi kultural : sebuah kajian sosiologi budaya
Penulis : Pierre Bourdieu;
Harga Rp 75.000
Alih Bahasa:Yudi Santosa
Penerbit : Kreasi Wacana
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2010
Fisik : lii+ 396 hlm. : 16x24 cm
Kondisi Baru, 1 buah


 Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029

 Resensi :Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Perancis, mencoba untuk mendamaikan perdebatan adanya pengaruh individu ke dalam masyarakat dan sebaliknya. Sehingga terdapat proses eksternalisasi internal dan internalisasi eksternal individu dalam masyarakat. Dalam menjelaskan struktur masyarakat, Bourdieu mengenalkan istilah agen, habitus, capital, dan arena. Agen diartikan sebagai individu-individu dalam masyarakat yang pada akhirnya akan membentuk struktur. Habitus merupakan cara mempersepsi agen dalam memandang suatu hal yang dihadapinya. Sehingga, habitus merupakan bagaimana agen memandang sesuatu, lalu dipikirkan, dan berlanjut pada tindakan yang akan diambilnya.

Sementara itu, capital dijelaskan sebagai modal utama agen dalam suatu arena. Capital tidak selalu identik dengan modal berupa material. Tapi bisa berbentuk kemampuan tertentu yang dimiliki agen, seperti kemampuan intelektual atau kemampuan menulis. Jika agen memiliki capital yang besar sesuai dengan hukum dan kultural arenanya, maka ia akan dapat lebih unggul dibandingkan lainnya. Dalam pertemuan antara satu agen dengan agen yang lain, terdapat istilah yang disebut arena. arena pun bermacam-macam. Bourdieu menyebutkan beberapa arena dalam penjelasannya yaitu arena ekonomi, pendidikan, politik, dan kultural.


Dalam arena-arena tersebut, terdapat benturan nilai-nilai karena keragaman agen dalam hal kapital. Di sini, Bourdieu terfokus pada pembahasan seni. Sebuah karya seni tidak dipandang hanya sebagai seni. Tapi juga mengandung fungsi sebagai objek simbol dan komoditas. Sehingga, para pembuat karya seni memiliki tugas untuk menyampaikan makna yang ingin disampaikannya pada pengamat. Namun, seringkali kerja produksi seni tersebut berbenturan dengan faktor patron dari sisi eksternal pekerja seni yaitu kolektor seni. Sehingga hal tersebut tentu dapat mengusik kebebasan seniman. Maka seniman sebisa mungkin terlepas dari faktor patron tersebut dalam kerja seninya. Pertentangan antara seni sebagai simbol maupun komoditas sebenarnya merupakan benturan antara arena seni dan arena kekuasaan.

Pada bagian kedua buku ini, Bourdieu menjelaskan kontradiksi kedua arena tersebut dengan mengulas novel berjudul sentimental education karangan Flaubert, seorang Sosiolog. Dalam novel tersebut, diceritakan seorang tokoh bernama Frederic yang terombang-ambing dalam kedua arena tersebut. Di satu sisi, ia jatuh cinta pada nyonya Arnoux, seorang seniman. Sedangkan di sisi lain, ia ingin menjadi seorang seniman dengan bantuan modal seorang bankir, Dembreusse.

Tidak hanya itu, Frederic juga terlibat perasaan cinta pada tiga perempuan lain lagi yaitu Rosannette, perempuan simpanan Tuan Arnoux, Nyonya Dembreusse, dan Louise Roque, gadis yang jatuh cinta padanya. Selain itu, Flaubert juga menampilkan tokoh tiga pemuda lain dengan capital yang berbeda-beda pula. Sehingga Bourdieu mencoba untuk menguraikan karakter-karakter tersebut dalam konsep arena kekuasaan Sentimental Education.

Melalui penguraian novel tersebut, Bourdiue menjelaskan kontradiksi antara arena seni politik dalam dunia seni Arnoux sebagai seniman dengan arena politik dan bisnis dalam dunia Dembreusse sebagai bankir.

Bourdieu menilai, dikarenakan Flaubert seorang sosiolog, ia cenderung untuk mengungkapkan kebenaran. Sedangkan dalam teks sastra, justru yang dilakukan dengan membiarkan sesuatu tetap tak tersirat secara eksplisit. Sementara yang terjadi pada Flaubert dalam karya novelnya, ia seperti membentuk gambaran sosiologi sekaligus menunjukkan kondisi sosiologisnya sendiri.

Sehingga dalam memahami novel karya Flaubert terdapat beberapa manfaat yang dapat diambil pembacanya. Pertama, dapat memahami keterkaitan antara arena sastra dengan arena kekuasaan. Kedua, terdapat pemahaman pula terdapat dominasi arena kekuasaan atas arena seni. Maka, dalam hal ini, Bourdieu membagi tiga posisi arena sastra yang muncul yaitu seni sosial, seni untuk seni, dan seni borjuis. Pendukung seni sosial menginginkan agar sastra berfungsi secara sosial dan politis. Para pendukung seni untuk seni berada dalam struktur yang sentral. Sedangkan seni borjuis terikat pada kelas dominan dikarenakan gaya hidup dan sistem nilai mereka yang cenderung menerima penghargaan dan simbol dari akademi yang telah terinstitusi.

Setelah mengulas konsep dalam struktur sosiologi dan karya sastra yang dijelaskan melalui konsep arena, Bourdieu menjelaskan teknik penguraian terhadap makna seni. Dalam menguraikan makna seni, tidak dapat dilepaskan dari latar belakang seniman dan pengamatnya.

Sehingga, suatu karya seni akan lebih sempurna dan lengkap jika ada keterlibatan kedua subjek tersebut dalam penguraian makna suatu karya seni. Hanya saja, seringkali dalam pemaknaan tersebut, terdapat produksi massal persepsi seni yang dibentuk melalui institusi formal seperti sekolah. Dari uraian Bourdieu dalam buku tersebut, terlihat jelas bagaimana ia menunjukkan pengaruh antara individu dengan masyarakat atau sistem dalam arena. Hal itu tentu sangat relevan untuk menjelaskan struktur sosial dan keadaan masyarakat saat ini dimana setiap agen memang harus memiliki capital dalam arenanya masing-masing.

Namun, dalam menjelaskan keseluruhan pendekatan sosiologinya, Bourdieu menggunakan bahasa yang agak sulit dicerna. Sehingga untuk memahami secara mendalam asumsi-asumsinya perlu pembacaan berulang kali.

Khalisotussurur, mahasiswi semester 7 Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta