Judul : PIERRE BOURDIEU
Menyingkap Kuasa Simbol
Harga Rp 76.000
Fauzi Fashri
Cetakan I, 2014
Penerbit: Jalasutra
xxiv+216 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-8252-98-0
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026 BBM 3300A029
email: sibukmainbuku@gmail.com
Buku ini ingin menelusuri kemampuan bahasa sebagai salah satu sistem
simbol dalam mengonstruksi realitas seperti pada pembacaan yang
dilakukan Bourdieu terhadap relasi bahasa dan kekuasaan. Karena dengan
bahasa, kita mengkategorikan ataupun memasukkan perbedaan ke dalam
kehendak untuk menguasai.
Kajian dalam buku ini berupaya
melakukan pembacaan, penafsiran, dan pemahaman tentang tata kuasa
simbolik menurut pemikiran Pierre Bourdieu. Topik-topik yang dipaparkan
dalam buku ini meliputi:
· Eksplorasi terkait pertautan kekuasaan dan kekerasan dalam tata simbol
· Bahasan lintasan kehidupan Pierre Bourdieu dan aspek-aspek pemikirannya
· Uraian mengenai bahasa, pertarungan kekuasaan dan kekerasan simbolik
· Paparan pandangan kritis Bourdieu terhadap tata wacana neoliberalisme
· Catatan kritis atas pemikiran Bourdieu
DAFTAR ISI
Prakata Penulis v
Kata Pengantar Prof. Achmad Fedyani Saifuddin, Ph.D.
Membaca Teori Pierre Bourdieu ix
Daftar Isi xxi
Pendahuluan
Mengarungi Samudra Berpikir Pierre Bourdieu 1
Bab I
Pertautan Kekuasaan dan Kekerasan dalam Tata Simbol 7
Kuasa Simbol dan Politik Kebenaran 10
Sistem Simbol dalam Tanya 19
Membaca dan Membongkar Simbol 21
• Hermeneutika 22
• Kekuasaan 25
• Kekerasan 30
Memosisikan Wacana dan Analisis 33
• Realisasi Bahasa sebagai Wacana (Wacana-Bahasa) 33
• Perubahan Wacana Tuturan Menjadi Wacana Tulisan 36
• Teks sebagai Inti Hermeneutika (Dunia Teks) 37
Bab II
Pierre Bourdieu: Trajektori Kehidupan dan Proyek Pemikirannya 45
Hikayat Ide-Ide Pierre Bourdieu 47
Karya-karya Bourdieu 54
• Algeria 1960 55
• Distinction 57
• Homo Academicus 60
Program “School Of Thought” Pierre Bourdieu 64
• Mendayung di Antara Dua Karang 64
• Upaya Mengatasi Fenomenologi dan Marxisme 72
Bab III
Bahasa, Pertarungan Kekuasaan, dan Kekerasan Simbolik 89
Perkakas Konseptual Pierre Bourdieu 93
• Habitus 93
• Ranah (Field) sebagai Arena Pertarungan dan Perjuangan 105
Menebar Kata, Menuai Kuasa 116
• Sistem Simbol sebagai Instrumen Dominasi 117
• Bahasa sebagai Ranah Pertarungan 122
• Mendominasi ”Yang Lain” Melalui Kekerasan Simbolik 141
Bab IV
Tata Wacana Neoliberalisme 155
Menguak Mitos Neoliberalisme 158
• Sejarah Singkat Neoliberalisme 158
• Neoliberalisme: Paham yang Menjunjung Kebebasan dan Daulat Individu 161
Neoliberalisme: Program Politik yang Diilmiahkan 175
• Kedaulatan Pasar dan Penghancuran Struktur Kolektif 177
• Siapa yang Kuat, Dia yang Menang 183
Ketika ”Tangan Negara” Didikte Oleh Paham Neoliberal 185
Bab V
Penutup: Sebuah Warta Sederhana 195
Daftar Pustaka 203
Indeks 207
Tentang Penulis 213
KATA PENGANTAR
Memahami dunia seorang pemikir memang bukanlah suatu hal yang mudah.
Terlebih lagi memahami mengapa seorang pemikir akhirnya menghasilkan
sebuah karya yang menjadi manifestasi kondisi kemanusiaannya kala itu.
Seorang pemikir, dalam berproses menghadirkan sebuah karya pastilah
tidak bisa terlepas dari proyeksi kehidupan pemikir itu. Meskipun dalam
kondisi psikologis yang stabil, materi karya yang ditemukan maupun
dimunculkan secara historis adalah hasil dari proyeksi kehidupannya
tersebut. Sebuah ide mungkin bisa muncul tiba-tiba. Akan tetapi ketika
ia mulai digabungkan dengan pelbagai unsur tambahan lain, maka ia akan
menjelma menjadi wujud lain pemikir tersebut. Material sebaru apapun,
tidak akan bisa terlepas dari historis pemikirnya.
Buku ini
merupakan edisi revisi dari cetakan pertama yang berjudul “Penyingkapan
Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu.” Bourdieu
merupakan pemikir sekaligus pelaku yang tak sekadar menjahit teks-teks
teoretik, tapi juga menautkannya dalam aktivisme kehidupan.Memahami
Bourdieu ibarat proses dialog antara penulis dengan diri Bourdieu maupun
dengan ‘the Other’ yang dimengerti dalam arti luas baik latar
kebudayaan, lintasan sejarah, dan lingkungan yang berada di
sekelilingnya. Hal ini karena karya-karya Bourdieu cukup rumit, maka
riskan salah tafsir terhadap pemikirannya. Upaya membaca oeuvre ini
perlu dibarengi dengan sikap hati-hati—kehati-hatian yang sama dengan
yang diterapkan Bourdieu dalam tulisan-tulisannya.
Penerbitan
buku ini tidak bisa dilepaskan dari bantuan banyak pihak yang telah ikut
memberikan sumbangan berharga baik dalam proses maupun penyelesaiannya.
Ucapan terima kasih yang tulus kepada Bapak Achmad Fedyani Saifuddin
yang telah menyempatkan waktu—di tengah kesibukannya—untuk menggoreskan
kata pengantar yang refleksif dan mumpuni.
Ucapan terima kasih
juga terarah kepada keluarga besar IMM Cabang AR. Fakhrudin Kota
Yogyakarta, rekan-rekan aktivis lintas gerakan pada masa penulis
terlibat menjadi aktivis pergerakan. Tak luput ucapan terima kasih
penulis kepada sahabat-sahabat di Laskardust Community yang telah
menanamkan ornamen persahabatan hingga sekarang: Bapak Husni
Amriyanto—sesepuh Laskardust, Agung Gallery Pesta, Iyan Batam, Bowo,
Udin, Rizal, Ipoel, Hendra Catsasul, Adinda Andre, David, Fuad, Miko,
Patra, Samas, Pakar, dan Fajlurrahman Jurdi. Serta lewat dorongan
menggebu-gebu dan bantuan dari Adinda Faisal, karya ini bisa hadir
kembali. Penulis turut mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam
kepada beberapa lembaga dan forum yang telah berperan dalam merangsang
intellectual exercise penulis: Maarif Institute, USC Satu Nama, MIM
Indigeneous School, Civil Islamic Institute, Juxtapose, dan Republik
Intitute. Kepada penerbit Jalasutra, terima kasih telah berkenan
menerbitkan kembali karya ini.
Akhirul kalam, penulis
menghaturkan rasa hormat dan ucapan terima kasih terdalam kepada kedua
orang tua, Mak dan Bak yang telah mengorbankan separuh nafasnya bagi
ananda. Kepada keluarga besar penulis; Kak Agus-Mba’ Ana, Yu’ Yanti-Kak
Yusri, Kak Fajri-Teh Ani, Kak Zikri-Teh Dilla, Yu’ Rika-Mas Satria,
terima kasih atas kehangatan kasih sayangnya selama ini. Kasih sayang
tak terbatas ayah pada Ananda Zaim Arvin Kabir, buah hati yang
menyegarkan jiwa penulis. Puncak segala syukur penulis persembahkan
kepada Allah SWT yang telah menuntun penulis lewat misteri cinta-Nya.[]
Tentang Penulis
Fauzi Fashri lahir di Pangkal Pinang, 17 September 1982. Menyelesaikan
S-1 di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Sempat mengenyam pendidikan di UIN Sunan Kalijaga dan pascasarjana
Departemen Antropologi UI. Terkenal aktif berorganisasi dan menulis
sejak bangku kuliah. Pernah menjabat Ketua Umum IMM Cabang AR.
Fakhruddin Kota Yogyakarta (2004-2005) dan pada 2006 menduduki posisi
Sekretaris Umum DPD IMM DIY. Pernah berkecimpung di lembaga Maarif
Institute dan Civil Islamic Institute serta menjadi pendiri lahirnya MIM
Indigeneous School dan inisiator berdirinya Laskardust Institute.
Tercatat sebagai Ketua Badan Pengkajian Strategis PP KAUMY Periode
2012-2015. Sekarang melanjutkan karier dalam bidang bisnis di PT.
Bestindo Putra Mandiri—kontraktor di bidang Water and Waste Water
Treatment. Untuk aktivitas intelektualnya, penulis terlibat sebagai
Direktur Program Republik Institute.[]