Tampilkan postingan dengan label Pemikiran dan Kajian Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran dan Kajian Politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

Menerawang Indonesia pada Dasawarsa 2030-an Penulis: Dorodjatun Kuntjoro Jakti, PhD

Jual Buku Menerawang Indonesia pada Dasawarsa 2030-an Penulis: Dorodjatun Kuntjoro Jakti, PhD
Judul: Menerawang Indonesia pada Dasawarsa 2030-an
Harga Asli: Rp.70.000
-BELI BUKU- Penulis: Dorodjatun Kuntjoro Jakti, PhD
Penerbit: Alvabet
Genre: Sosial Politik
Tebal: 270 halaman
Ukuran: 13 x 20 cm
ISBN: 978.602.9193.13.8
Berat: 375 gr


SINOPSIS
Buku Menerawang Indonesia pada Dasawarsa Ketiga Abad ke 21 merupakan upaya melihat dan memprediksi gambaran NKRI pada 2030. Lukisan NKRI 2030 yang muncul diperkirakan merupakan sebuah gambaran Big History, sebagai hasil interaksi bermacam unsur tematis dalam kehidupan Negara-Bangsa Indonesia sejak 1945, bahkan jauh sebelumnya dibidang ideology, politik, sosial budaya, ekonomi, dan militer.

Penerawangan gambaran NKRI 2030 dilakukan dengan cara pendekatan sejarawan dan futurolog, antara lain untuk memungkinkan analisis yang berjangka sangat panjang- berpuluh puluh tahun lamanya, dengan tujuan mengungkapkan keberadaan tema-tema besar dalam perjalanan sejarah NKRI kedepan. Selain itu, sebagai studi masalah strategis nasional yang tak terpisahkan dari pengaruh global, buku ini juga menggunakan analisis perkembangan global yang berkaitan dengan dinamika geostrategik dan ikutannya, geopolitik serta geokonomi.

Mengapa dasawarsa 2030, bukan dasawarsa yang lain? Pada tahun itu, Indonesia berada di tengah-tengah periode 'Demographic Bonus' yang diperkirakan berlangsung sejak 2010 hingga 2040. Periode 'Demographic Bonus' merupakan 'Window of Opportunity' dimana tingkat 'Dependency Ratio' di Indonesia berada pada posisi terendah. Inilah titik penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, yang tak akan berulang kembali di masa depan. Lalu, apa yang akan terjadi pada masa itu? Buku ini menggambarkannya dengan gamblang.

Rabu, 30 Desember 2015

Dari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat Penulis: Sri-Edi Swasono

Jual Buku Dari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat Penulis: Sri-Edi SwasonoDari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat
Penulis: Sri-Edi Swasono
Harga Rp 37.000
Terbit: 1992
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Bekas, sampul lusuh, isi utuh
Halaman: 283
Berat Buku: 350gram
Dimensi(LxP): 19X12,5

Jual buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi Editor: Didik J. Rachbini

Jual buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi Editor: Didik J. RachbiniJudul buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi
Editor: Didik J. Rachbini
Harga Rp 49.000
Pengantar: Sjahrir
Penerbit: LP3ES
Tahun: 1990
Halaman: xiv + 244 hal.
Kondisi: Baik

Catatan halaman belakang:

Isu demokrasi ekonomi rupanya telah menjadi isu yang laten dalam kehidupan ekonomi-politik di negeri ini. Dari waktu ke waktu, isu ini berulang kali muncul dan tenggelam searus dengan dinamika perkembangan masalah perekonomian kita. Pasang naiknya seolah menjadi pertanda dari ketimpangan ekonomi dan isyarat-isyarat kegelisahan para pemikir ekonomi untuk mengaktualisasikan cita-cita keadilan dan pemerataan.

Sejalan dengan munculnya isu konglomerasi nasional, isu demokrasi ekonomi sekarang mencuat lagi, kali ini dengan dimensi baru. Satu hal yang perlu dicatat adalah, bahwa pencarian bentuk penerapan atas demokrasi ekonomi untuk latar Indonesia kontemporer, masih saja terus berlangsung di dalam silang-debat mengenai problematik institusionalnya. Buku ini adalah salah satu rekamannya, menghimpun tulisan-tulisan: Emil Salim, Frans Seda, Nurcholish Madjid, Umar Juoro, Anwar Nasution, Sritua Arief, dan lain-lainnya.

Daftar Isi:
Pengantar
Bagian kesatu: Pendahuluan
Bagian kedua: Politik Pembangunan
Bagian ketiga: Dimensi keadilan sosial dalam proses demokratisasi ekonomi
Bagian keempat: Membangun kelembagaan ekonomi
Sumber-sumber tulisan
Index

Sabtu, 26 Desember 2015

Islam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 by Ahmad Syafi'i Maarif

Islam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 by Ahmad Syafi'i MaarifIslam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965
by Ahmad Syafi'i Maarif
Harga Rp 70.000 LANGKA
Islam and political conditions during the 1959-1965 period in Indonesia.
KERTAS : Paperback, TEBAL 218 pages
TERBIT 1996 by Gema Insani Press
KONDISI STOK LAMA, BAGUS SEPERTI BARU

MENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii Maarif

Jual Buku MENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii MaarifMENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii Maarif
Harga Rp 75.000
Kondisi Bekas, cukup bagus

Buku Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag

Buku Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik  Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.AgJudul Buku : Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik
Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag
Harga 39.000
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I Agustus 2007
Tebal : XVI + 212 Halaman
Peresensi : Sungatno*

Dewasa ini, walaupun pemilihan calon presiden (capres) dan Wakil Presiden (cawapres) masih lama, sekitar bulan Juli 2009, banyak diantara para petinggi-petinggi pengurus partai politik (parpol) yang secara tidak langsung mencuri start untuk berkampanye mensosialisasikan atau memantapkan visi dan misi parpolnya kepada massa pendukung atau calon pendukung suatu parpol.

Bisa dilihat ketika ada berbagai jenis warna maupun wajah label, simbol, pernak-pernik atau bendera suatu parpol dan beberapa ‘obrolan” yang membuntuti gerak langkah berlangsungnya suatu acara atau bencana. Semisal, di hari-hari libur maupun cuti bersama, para petinggi-petinggi atau orang-orang parpol berlomba-lomba mengadakan suatu acara yang beraroma bakti sosial, pengajian, Open House atau sekedar menjadi sponsor terselenggaranya suatu acara atau bantuan secara gratis kepada masyarakat yang tertimpa musibah.

Dalam konteks ini, sosialisasi suatu parpol tidak lagi memperhitungkan situasi dan kondisi. Setiap masyarakat, jikalau bertepatan pada situasi dan kondisi yang dianggap cocok untuk dibidik oleh orang-orang dari parpol, maka saat itulah orang-orang dari parpol untuk melancarkan aksi sosialisasi partainya dengan harapan mampu memberi kesan dan pesan terhadap publik, supaya dikemudian hari mau pemilih parpol yang dielu-elukan. Sehingga tidak menutup kemungkinan aktor-aktor yang berperan dari parpol itu bermunculan dari orang yang akan dinobatkan sebagai capres dan cawapres, tokoh-tokoh politik, masyarakat, kiai bahkan orang-orang yang kita anggap sama sekali tidak memiliki kepandaian maupun kepiawaian dalam ranah percaturan politik.

Kehadiran buku yang berjudul Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik ini, mencoba turut mengisi, mengapresiasi dan berperan dalam gencarnya parpol yang sedang mencari arah dan harapan ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang dililit berbagai krisis, dekadensi moral dan berbagai jenis bencana alam yang saling berurutan. Buku yang ditulis H Achmad Patoni ini, menelaah berbagai kiprah para Kiai pesantren selama ini dalam gelanggang percaturan parpol, motivasi, harapan dan tantangan serta pembelotan langkah-langkah mereka yang menyebabkan predikat ke-Kiai-an mereka luntur bahkan mencoreng keindahan nama baik agama yang dipeluknya.

Dalam lika-liku perjalanan sejarah di Indonesia mulai sebelum era kemerdekaan hingga sekarang, peran para Kiai tidak bisa dinafikan secara cuma-cuma. Ini bisa ditelusuri melalui catatan-catatan arsip sejarah bahwa para kiai pesantren maupun kiai masyarakat ikut berperan aktif dalam mengusir dan mempertahankan kedaulatan republik Indonesia dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik, yang muncul dari dalam (laten) maupun luar negeri. Dengan berbagai cara dan atribut serta simbol-simbol khas ala Islam, mereka juga turut berkecimpung dalam menata, mengolah dan memantapkan visi dan misi kedaulatan republik Indonesia.

Tetapi, dewasa ini para Kiai, khususnya Kiai pesantren, dihadapkan pada keadaan yang sulit dalam mewujudkan rasa cintanya terhadap bangsa (hubbul wathan). Keadaan ini terbentuk ketika para Kiai pesantren yang dianggap 'gagal' dalam mensukseskan peran ganda mereka selama dalam lingkaran parpol yang selalu menuntut jadwal kesibukan. Dilain sisi mereka harus tetap mempertahankan status ke-Kiai-an mereka sebagai pembimbing dan menjadi panutan santri, disisi yang lain pula, mereka harus memperhatikan keluarga dan jadwal kesibukan yang berlipat-lipat serta "tikungan-tikungan syetan" dari dunia perpolitikan.

Sehingga, tidak jarang apabila ada seorang kyai pesantren yang hendak turut berkiprah dalam dunia partai politik, terlebih dahulu dihantui rasa kekhawatiran dari dirinya pribadi dan para santri mereka, walupun akhirnya dienyahkan.
Peran Kiai dalam Parpol

Menurut penulis, yang berangkat dari penelitian didaerah Kediri, Jawa Timur, peran Kiai dalam partai politik diklasifikasikan dalam tiga bagian. pertama, Kiai berperan sebagai aktor. Dalam hal ini, Kiai berperan sebagai anggota tim sukses sekaligus juru kampanye partai tertentu.
Kedua,

Kiai berperan sebagai pendukung. Yakni, Kiai mendukung partai tententu, namun tidak berada pada garis depan dalam memperjuangkan keberhasilan partai yang didukungnya. Ketiga, Kiai berperan sebagi partisipan. Pada peran ini Kiai hanya memberikan restu terhadap calon tertentu, dan tidak terlibat dalam aksi dukungan atau menjadi tim sukses.

Dari ketiga bagian diatas, yang paling rentan terhadap pertaruhan antara 'nama' sekaligus agama Islam adalah bagian yang pertama. Ketika seorang Kiai berperan sebagai aktor, secara tidak langsung mereka memikul beban moral lebih berat dari pada bagian yang lain. Karena sedikit saja diantara mereka salah langkah dalam menentukan keputusan, maka 'bencana' yang timbul tidak hanya pada diri pribadi Kiai yang bersangkutan. Melainkan, semua santri dan pengikut-pengikutnya akan 'tercoreng' dan tidak menutup kemungkinan meluber dan menciderai nama Agama yang dipeluk. Semisal, adanya kasus korupsi (sendiri maupun berjamaah) baik secara terang-terangan (keadaan sadar) maupun tipu daya para lawan politik yang bertujuan merusak reputasi.

Buku yang hadirnya lebih dini didalam mengawal para Kiai pesantren yang berkeinginan berjuang melalui jalur struktural ini, selain mengajak pembaca untuk melakukan refleksi bersama atas 'kegagalan-kegagalan' para Kiai dalam mengemban tugas ganda, juga berusaha menyadarkan anggapan bahwa politik tidak selamanya –dalam bahasa yang ekstrim- menjijikkan, tergantung aktor yang memerankannya. Perlu diingat, adanya agama Islam sampai pada kita ternyata tidak lepas dari sentuhan-sentuhan politik, yang dalam hal ini dekat dengan aspek kepemimpinan. ***

* Peresensi adalah Aktivis pada Scriptorium Lintang Sastra yogyakarta.

Jumat, 11 Desember 2015

Perempuan Pemicu Perang oleh Imas Kurniasih

Perempuan Pemicu Perang	 oleh Imas Kurniasih
Perempuan Pemicu Perang
oleh Imas Kurniasih
Harga Rp 25.000
ISBN : 29
Tanggal Terbit : April 2008
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Pinus Book


Deskripsi:
Perempuan merupakan sosok makhluk yang memiliki daya pikat paling sempurna. Melalui kecantikan, kelembutan, dan kehalusan merupakan kekuatan ampuh untuk menghancurkan lawan. Sementara dari kelemahan terselinap suatu kekuatan untuk mengorbankan peperangan. "perempaun pemicu perang" adalah kisah dari perempuan-perempuan dunia yang tangguh. Dan perempuan yang mampu memanfaatkan dirinya menjadi perempuan pemicu perang . Seperti kisah Helena dan Dewi shinta, hingga menyebabkan para ksatria rela berperang. Kemudian keberanian Aisyah yang berperang demi menegakkan kebenaran. Cut Nyak Dien memimpin perang mewujudkan kemerdekaan bangsanya. Margaret Thatcher yang mampu menunjukkan kekuasaannya kepada dunia dengan mengomando tentaranya untuk berperang hingga memeperoleh kemenangan, Begitu pula dengan Dyah Pitaloka yang rela mempersembahkan nyawanya dalam perang demi mempertahankan kehormatan negerinya yang berdaulat. Buku ini hendak menguak dibalik kisah perempuan-perempuan tangguh pemicu perang. Para perempuan yang mampu memanfaatkan kelebihan dirinya dan memehami kekurangan dirinya menjadi kekuatann dalam peperangan. Selain itu buku ini akan membuka mata kita terhadap kekuatan perempuan yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Selasa, 08 Desember 2015

KAJIAN PEREMPUAN: Kodrat Perempuan, Perempuan dan Politik, Membina Keluarga, Kekerasan terhadap Perempuan (Bundel)

KAJIAN PEREMPUAN: Kodrat Perempuan, Perempuan dan Politik, Membina Keluarga, Kekerasan terhadap Perempuan (Bundel)KAJIAN PEREMPUAN:
-Buku Satu : Kodrat Perempuan, Takdir atau Mitos
-Buku Dua : Perempuan dan Politik dalam ISLAM,
-Buku Tiga : Membina Keluarga SAKINAH,
-Buku Empat : Kekerasan terhadap Perempuan
Harga Rp 60.000 Terdiri 4 buku @20rb
Kondisi Segel penerbit

Jumat, 04 Desember 2015

Meretas Perdamaian dalam konflik pilkada langsungJudul Buku : Meretas Perdamaian dalam Konflik Pilkada Langsung

 Meretas Perdamaian dalam Konflik Pilkada LangsungBuku Meretas Perdamaian dalam konflik pilkada langsungJudul Buku : Meretas Perdamaian dalam Konflik Pilkada Langsung
Penulis : A.A Gde Febri Purnama Putra
Harga Rp 35,000

Tema besar dalam buku ini adalah permasalahan pilkada yang tengah hangat hangatnya berkembang yang mengambil kasus Pilkada Langsung Bupati di Gianyardan Buleleng. Disebutkan bahwa pilkada yang seharusnya menjadi langkah pembaharuan politik daerah, ternyata malah menimbulkan permasalahan baru dengan munculnya konflik konflik didalamnya. Kekacauan di Gianyar timbul disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap hasil perhitungan yang ditetapkan oleh KPUD Gianyar, dimana hal tersebut menuai protes karena dinilai terdapat berbagai kecurangan bahkan sempat diajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Denpasar (hal 5-6), bahkan sempat terdapat riak riak massa untuk berbuat anarkis. Sedangkan di Kabupaten Buleleng tidak berbeda jauh dengan di gianyar, disini konflik sudah terjadi sejak penetapan calon terpilih akan tetapi pada saat verifikasi bakal calon Bupati, yang kemudian konflik berlanjut kekeputusan yang dikeluarkan oleh KPUD buleleng, massa menuntut KPUD membatalkan hasil PIilkada langsung yang sebelumnya telah dilaksanakan. Perbuatan anarkis justru terjadi secara besar besaran pada Pilkada Langsung Bupati di Buleleng, dimana terjadi aksi pembakaran meskipun tidak separah kerusuhan pada mei 1998

Minggu, 15 November 2015

Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia Penulis: Bahtiar Effendy

Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia  Penulis: Bahtiar Effendy
Judul: Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia
Harga Rp 58.000 OFF
Penulis: Bahtiar Effendy
Penerbit: Paramadina
Tebal: 512 halaman
Kondisi: Stok lama ,isi dan sampul utuh lengkap,BERSIH


Buku ini membahas hubungan politik antara Islam dan negara di Indonesia. Penulisannya terutama oleh fenomena yang mengejutkan bahwa sejak berakhirnya kolonialisme barat pertengahan abad ke-20, negara-negara muslim seperti Turki, Mesir, Sudan, Maroko, Pakistan, Malaysia dan Alzajair mengalami kesulitan dalam upaya mereka mengembangkan sintesis yang memungkinkan (viable) antara praktik dan pemikiran politik islam dan negara, yang ditandai oleh ketegangan yang tajam, jika bukan permusuhan. Sehubungan dengan posisi Islam yang menonjol di wilayah-wilayah tersebut, yakni kedudukannya sebagai agama yang dianut sebagian besar penduduk, hal ini tentu saja merupakan kenyataan yang menimbulkan tanda tanya.

Dislokasi Wacana Kewarganegaraan Penulis: Ignasius Jaques Suru

Dislokasi Wacana Kewarganegaraan  Penulis: Ignasius Jaques Suru
Dislokasi Wacana Kewarganegaraan
Harga Rp 50.000
Penulis: Ignasius Jaques Suru
Editor: Ali Minanto
Terbitan: Cetakan pertama, April 2013
Jumlah halaman: 147 + xii halaman

 Ada seorang opsir Jerman yang sering mengunjungi Picasso di studionya di Paris selama Perang Dunia II. Dia melihat Guernica dan kaget pada lukisan “modernis Chaos” itu. Sang perwira bertanya kepada Picasso, “Apakah kamu yang melakukan ini?” dengan tenang Picasso menjawab, “Tidak, kamulah yang melakukan ini!” Jawaban yang mengusik kesadaran reflektif terhadap realitas itu menjadi ilustrasi sederhana dari isi buku ini.

Buku ini dipahami sebagai langkah “menuju dua arah”: pertama, mendekonstruksi wacana Kewarganegaraan Liberal; dan kedua, mengkonstruksi identitas baru kewarganegaraan. Mendekonstruksi tapi sekaligus mengkonstruksi adalah wujud dislokasi dari wacana kewarganegaraan. Identifikasi berbagai elemen demokratis yang tersimbolisasi dalam wacana Kewarganegaraan Liberal melahirkan suversi terhadap tatanan simbolik tersebut. Subversi terhadap Liberalisme secara positif mendorong terjalinnya artikulasi elemen-elemen demokratis dalam wacana kewarganegaraan agonistik.

Merebut Kewarganegaraan Inklusif Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful

Jual Buku Merebut Kewarganegaraan Inklusif  Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful
Merebut Kewarganegaraan Inklusif
Harga Rp 50.000
Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful
Editor: Wigke Capri Arti & Rangga Herdi Seno Prakoso
Terbitan: Cetakan pertama, April 2013
Jumlah halaman: 145 + xv halaman



Dominasi bahasan mengenai kewarganegaraan dewasa ini telah melangkah lebih jauh dari sekadar relasi antara hak dan kewajiban. Konsep kewarganegaraan kini harus menghadapi berbagai kritik yang muncul seiring dinamika sosial, kultural, dan ekonomi di era global posmodern. Konsepsi kewarganegaraan modern yang semata-mata dinilai sebagai status hukum di bawah otoritas negara telah berkembang dan melibatkan berbagai tuntutan akan pengakuan sosial dan politik serta redistribusi ekonomi. Di Indonesia, pemenuhan hak warga negara selama ini selalu dimaknai dalam koridor redistribusi ekonomi, sehingga bentuk tuntutan yang seringkali muncul adalah mengenai redistribusi yang tidak adil dan munculnya kelas-kelas sosial. Perlunya redefinisi warga negara di Indonesia terjadi akibat pergeseran paradigma dari isu ketidakadilan ekonomi menjadi isu ketidakadilan berbasis identitas warga negara.

Sabtu, 14 November 2015

Quo Vadis Demokrasi Indonesia Penulis : Riswandha Imawan

Quo Vadis Demokrasi Indonesia Penulis : Riswandha Imawan
Quo Vadis Demokrasi Indonesia
Penulis : Riswandha Imawan
Harga Rp 65.000
Penerbit : POLGOV UGM
Kondisi : Baru
Berat : 500gram
Tahun : 2015

Dalam politik, konflik hanya sebatas perbedaan visi, bukan pribadi. BOleh : saja kita berbeda pendapat, pandangan. Namun tidak berarti menghapus sama sekali persamaan yang ada diantara kita. Apalagi kita menganut konsep kekeluargaan dalam bernegara. Kita dibentuk Oleh : penderitaan yang sama, menghadapi tantangan yang sama, menghirup udara dan meminum air yang sama. Maka seharusnya tingkat toleransi manusia Indonesia menempati rangking tertinggi diantara bangsa-bangsa di muka bumi ini. Bagi Ilmuwan politik, ketidakmampuan ini bisa dimaklumi. Mayoritas aktor politik kita adalah politisi karbitan. Mereka hadir dan dibesarkan dibawah payung popularitas orang lain. Liat saja penggunaan vote getter ataupun para artis untuk menarik massa. Itu artinya aktor yang henak mewakili rakyat, tidak memiliki kemampuan minimal sama dengan para vote getter atau bahkan artis. Politik praktis itu berurusan dengan konflik kepentingan dan pengerahan massa. Untuk mengolahnya dibutuhkan ilmu dan seni. Itu sebabnya hanya mereka yang laihr dan terlibat langsung dalam dinamika sosial yang memiliki kemampuang memadai untuk mengendalikan konflik sosial.

Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar

 Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar
Buku: Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar
Penerbit    :    Desantara
Tahun Terbit    :    2012
ISBN    :    978-979-19646-5-4
Jumlah Halaman    :    260
Harga    :    Rp 69,000
Editor    :    M. Nurkhoiron dan Ruth Indiah Rahayu

Buku yang berjudul Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar ini merupakan hasil proses panjang pelatihan riset sekaligus menulis etnografi dan historiografi yang dilakukan Yayasan Desantara bekerjasama dengan LAPAR Makassar pada akhir 2010 sampai awal 2011 di Makassar.

Yang menarik dari buku ini adalah, kita diajak berkeliling kota Makassar menjumai orang-orang yang selama ini tak tercatat dalam buku-buku kebijakan perkotaan. Buku ini menawarkan perspektif baru, melihat sudut-sudut kota, baik dari bangunan-bangunan fisik maupun para penduduk yang jarang didiskusikan dan dijadikan oleh para pengambil kebijakan kota sebagai referensi kebijakan.

Menjahit Idealisme Yang Terkoyak, reaktualisasi Peran dan Posisi Mahasiswa Pasca Reformasi oleh Misbah Ibrahim

Jual Buku Menjahit Idealisme Yang Terkoyak, reaktualisasi Peran dan Posisi Mahasiswa Pasca Reformasi  oleh Misbah Ibrahim
 Menjahit Idealisme Yang Terkoyak, reaktualisasi Peran dan Posisi Mahasiswa Pasca Reformasi
oleh Misbah Ibrahim Harga Rp 35.000
baru, tanpa segel dari penerbit


Senin, 09 November 2015

islam dan etnisitas perspektif politik melayu oleh Hussin Mutalib

islam dan etnisitas perspektif politik melayu oleh Hussin Mutalibislam dan etnisitas perspektif politik melayu oleh Hussein Mutalib
Rp 65.000
Kondisi Baru, stok lama, LANGKA

NKRI Budaya Politik dan Pendidikan Pengarang H Musa Asy Arie

Jual Buku NKRI Budaya Politik dan Pendidikan Pengarang H Musa Asy ArieJudul NKRI Budaya Politik dan Pendidikan
Pengarang H Musa Asy Arie
Harga Rp 40.000 OFF
Edisi Cet.1
ISBN/ISSN 979-567-033-6
Penerbit Lesfi
Tahun Terbit 2005
Tebal xiii + 304 hlm.; 14.5 x 21.5 Cm

Minggu, 08 November 2015

Nahdlatul Ulama Dinamika Ideologi dan Politik KenegaraanKumpulan Opini Kompas

Jual Buku Nahdlatul Ulama Dinamika Ideologi dan Politik KenegaraanKumpulan Opini Kompas
Nahdlatul Ulama Dinamika Ideologi dan Politik KenegaraanKumpulan Opini Kompas
Harga Rp 50.000
Penerbit Kompas
Tanggal terbit Maret - 2010
Jumlah Halaman 272
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) 140x210mm
Kondisi Baru, stok lama, segel

NU telah mengalami dinamika yang begitu besar sejak berdirinya tahun 1926. Namun, dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tetap konsisten mempertahankan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. NU berhasil mendefinisikan Islam dalam konteks kebangsaan sesuai dengan faham Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Namun, NU sedang menghadapi persoalan serius dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan politik. Godaan politik praktis membayangi para elitnya. apakah benar peran politik NU dapat membahayakan organisasi itu beberapa dekade ke depan?