
Judul Buku : Revolusi Sandinista; Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme
Harga Rp 40.000
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 200 halaman
Kondisi Baru , 1buah
Wajah dunia kini terbelenggu oleh
Neo-liberalisme dan kapitalisme. Kedua paham itu merubah tatanan
kehidupan yang sistematik. Lebih-lebih bagi kaum bawah, kaum marginal.
Ia menghedonisme dan menginjak-injak kaum pinggiran dengan pasar modal
kapitalisnya. Tidak hanya itu, ia juga meluluh lantahkan kehidupan masa
depan mereka. Cita-cita untuk hidup makmur, harmonis terpatahkan oleh
pedang-pedang kapitalis. Neo-liberalisme dan kapitalisme memang
benar-benar menghanguskan sendi-sendi kehidupan kaum bawah. Sudah barang
tentu, neo-Liberalisme dan kapitalisme harus ditumbangkan dari
kehidupan dunia ini..
Fakta membuktikan, kawasan Asia-Afrika telah menjadi ladang subur
hidupnya kapitalisme dan neoliberalisme. Kemudian pada titik akhir,
Asia-afrika tergopoh-gopoh menjalankan roda kehidupan bangsa. Tak salah,
berbagai sistem, berbagai gerakan penentang kapitalisme dan
neoliberalisme bermunculan. Tak jauh berbeda yang dilakukan Hugo Chavez
yang turun ke jalan dengan gerakan anti-neoliberalnya, bersama
sosialismenya. Akhirnya, Neo-liberalisme meratapi hembusan nafas
terakhir. Namun, setelah itu lahirlah kapitalisme. Kapitalisme
membelenggu metodologi rentetan sistem kehidupan negara di dunia yang
tak seimbang. Ia menumbuhkan sebuah modal pasar sebagai defferensasi
sekaligus sebagai penguasa segala-galanya.
Ya, Dengan di susulnya kemenangan Evo Morales di Bolivia dalam
menyatukan kaum anti neo-liberalisme dalam ALBA (Alternativa Bolivariana
para Las Americas) implikasi kapitalisme tidak terlalu tampak. Malahan
menjadikan doa kematian Neo-liberalisme dan kapitalisme lebih nyata dan
sempurna. Dari sinilah gerakan revolusi mendapatkan tempat yang
signifikan dalam mengawali perubahan sistem dan merevolusi segala
ketentuan yang menyimpang.
Dari gerakan Revolusi Bolivirian yang di dengungkan Chevez hingga Evo
Moralisme dalam menentang imperialisme dan Neo-liberalisme, revolusi
beranjak mendekati kemandiriannya. Dan kini, Daniel Ortega di Nirakagua
juga melakukan hal yang sama dengan melakukan perlawanan Sandinista
terhadap segala intervensi AS yang hegemonik dan imperialis. Dus, memang
total perfec kematian menyambut Neo-liberalisme, imperialisme.
Dalam buku berjudul Revolusi Sandinista; Perjuangan Tanpa Akhir Melawan
Neo-liberalisme ini Nurani Soyomukti mencoba menemalisir gerakan
Revolusi Sandinista yang di tapaki Daniel Ortega. Gerakan Revolusi
Sandinata merupakan gerakan pembantai kapitalisme dan neo-lineralisme.
Ia mengiringi sejarah yang panjang bersama dinamika rakyat berhadapan
dengan imperialisme dan kapitalisme global.
Menurut Soyomukti, daya sokong perlawanan di kawasan dan di
negara-negara tetangga Nikaragua terhadap neoliberalisme dan kapitalisme
global sangat kuat. Bangkitnya politik kiri adalah ancaman bagi
kelangsungan kekuasaan liberal rezim-rezim yang ada, dan menjadi sebuah
sinyal kuat untuk merontokkannya.
Keberadaan gerakan Sandinista merupakan warning bagi negara Imperialis
(Amerika Serikat). Sebab, revolusi Sandinista ogah-ogahan dan muak
dengan penjajahan dan ketidakadialan (Imperialisme). Ia memprioritaskan
kebersamaan dan membangun kerjasama.. Gerakan Sandinista lebih
berkeinginan menapaki relasi aktif menuju kekuatan integratif dalam
melawan pemaksaan pasar bebas (kapitalisme) oleh AS di kawasan
negara-negara di dunia.
Kesengsaraan akibat neoliberalisme di Ameriaka Latin memang sungguh
nyata. Amerika latin yang mulanya sama sekali tidak mengalami defisit,
kini tercatat mempunyai hutang sebesar 1 triliun dolar. Ini menjadikan
gambaran bagi bangsa lain untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi
perkembangn zaman. Neo-liberalisme dan kapitalisme menjadi ukuran negara
berkuasa dengan kebebesan yang tak saling menguntungkan. Tak sedikit
bangsa yang tergerus oleh putaran kediktatoran. Wa Al-akhir, mati kutu
dengan sendirinya.
Meskipun adanya kekurangan dan kesempurnaan sumber yang ada, namun
hadirnya buku ini mencoba memasuki sebuah literatur yang sedikit banyak
dalam kajian internasional atau kawasan dan kepolitikan global. Terutama
bagi gerakan anti globalisasi. Sebenarnya karya ini adalah karya dari
beberapa karya penulis. Dalam buku gerakan yang lain, penulis lebih
menspesifikkan gerakan dalam satu-persatu gerakan itu di ulas. Misal,
”Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez” dan ”Politik Radikal”(2007) yang
masing-masing karya itu memiliki sebuah contents berkualitas sama yakni,
revolusi. Namun, di kemas dalam literatur berbeda.
Gerakan Sandinista adalah sebuah organisasi politik yang dalam
sejarahnya sangat berperan dalam memimpin perjuangan rakyat. Kebangkitan
rakyat menandai babak baru dalam politik global. Amerika Latin, adalah
kawasan yang paling berlawan dengan hasil memuaskan setelah jangka
waktu yang lama. Kawasan ini digandangi dan tertidur pulas oleh
pemerintahan militeristik yang diktator. Tak jauh berbeda masa Orba
dengan kediktatoran militernya. Ia membawa kemiskinan pada masyarakat
Indonesia (krisis moneter). (hal: 19)
Merebaknya neoliberalisme, kapitalisme menjadi pembangkit gerakan
Sandinista untuk melakukan manuvernya. Ia membangun sosialisme, menebas
imperialisme dan neo-liberalisme. Kemudian, berbagai komunitas akar
rumput lainnya seperti kaum perempuan dan masyarakat adat yang
memperjuangkan imajinasi politik baru dengan tawaran alternatif tatanan
siosial yang lebih humanis. Gerakan kelas petani dan pekerja di Brazil
dan Bolivia memperjuangkan reformasi agraris dan membentuk fair trade
sebagai lawan free trade.
Sehubungan dengan keberhasilan kaum kiri dalam arena politik di Amerika
Latin periode awal abad ke-21 dalam memperjuangkan kedaulatan politik
rakyat, Ada beberapa yang dapat kita jadikan bahan renungan untuk
membenahi lingkungan realitas politik di Indonesia.
Pertama, kemenangan demokrasi populer di Amerika Latin merupakan simbol
kemenangan politik yang memperjuangkan kemandirian dan politik
otensitas. Sebab, dari pardigma neo-liberalisme adalah langkah kongrit
untuk menegaskan politik kemandirian. Kedua, arus gelombang demokrasi
populer Amerika berhasil membesar dan dapat menyatukan elemen –elemen
gerakan akar rumput dengan para revolusionernya. Ketiga, praktik-praktik
demokrasi populer di Amerika Latin memberikan kesempatan masyarakat
tidak hanya dalam untuk melibatkan diri dalam proses politik keseharian
bagi kepentingan mereka. Namun, lebih dari itu. (hal:21)
Melalui buku ini praktik demokrasi populer di Amerika Latin semestinya
mendorong kita dan para aktivis pejuang demokrasi, keadilan di Indonesia
untuk merumuskan kerja–kerja politik lebih matang dan autentik. Juga
bagi pemulihan kedaulatan rakyat atau publik. Ketika kita mengkaji dari
suksesnya demokrasi populer Amerika latin maka proses trasformasi
karakter elit politik perlu adanya perubahan kepercayaan yang kuat
kepada masyarakat. Intensitas perjuangan masyarakat sipil sangatlah di
butuhkan agar kemandirian politik dapat tercipta untuk merealisasikan
justice dalam bangsa ini.***
*) Peresensi adalah Pengelola Cabeyan Scriptorium, Yogyakarta.