Tampilkan postingan dengan label DR Mansour Fakih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DR Mansour Fakih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Jual Buku Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis


Judul Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis 
Penulis: Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Raharjo
Rp 68.000, BOOKED
Penerbit: INSISTPress, 2010
Tebal: 296 halaman 
Kondisi: Baru

Saat ini banyak berkembang pelbagai alternatif pendidikan untuk masyarakat. Mulai dari privat, homeschooling (sekolah rumah –red), sekolah alternatif, les, dsb. Intinya, pendiikan alternatif merupakan simbol dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan formal (baca: sekolah) pada umumnya.

Pendidikan formal atau sekolah saat ini masih memiliki kesan tradisional dan membosankan, karena pusat pengetahuan hanya diperankan oleh guru. Guru dianggap segala-galanya. Dalam konteks ini, akhirnya pendiikan bersifat negatif, di mana guru  memberikan informasi yang harus ditelan oleh murid wajib diingat dan dihafalkan.

Untuk merubah kesan tradisional dan sangat indoktrinasi di dalam pendiikan formal, maka tak jemu pakar pendidikan mendengungkan model pendiikan partisipatif. Model inilah yang menekankan guru sebagai fasilitator. Seluruh eserta didik menjadi subjek pengetahuan dan aktif meningkatkan keterampilan. Guru adalah murid dan murid adalah guru. Usaha ini ditujukan kepada seluruh institusi pendiikan agar sistem pendiikan menjadi lebih baik.

Namun tak dapat dipungkiri, dari sekian banyak pendidikan alternatif yang ditawarkan, pada umumnya belum memenuhikriteria ‘pembebasan’ terhadap permasalahan masyarakat. Walaupun sudah menggunakan model partisipatif, tidak sedikit yang mengolah pendidikan alternatif menjadi komoditas dagang. Mengutamakan modernisasi peralatan belajar, fasilitas baru, menggunakan prestasi sebagai proses persaingan peserta didik, dan pendidikan dianggap tidak memiliki pengaruh terhadap politik dan ekonomi masyarakat. Sedangkan pendekatannya masih sangat didominasi dengan aliran positivisme: yakni penggunaan pengetahuan untuk mengontrol, memprediksikan, memanipulasi, dan eksploitasi terhadap objeknya.

Implikasi dari metode pendekatan pendidikan positivisme adalah kesadaran magis dan naif. Kesadaran magis, yakni suatu keadaan masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya, masyarakat miskin tidak tahu kalau kemiskinan yang dimilikinya memiliki benang merah terhadap sistem politik dan budaya. Karena yang dipahami, kemiskinan yang didapatnya adalah suatu hal yang wajar dan merupakan ‘given’ (natural maupun supranatural). Dalam proses pembelajaran, murid secara dogmatik menerima kebenaran guru, tanpa memahami analisa dari tiap konsepsi atas kehidupan masyarakat.

Sedangkan kesadaran naif adalah implikasi dari pendidikan yang melihat akar permasalahan masyarakat dari ‘aspek manusia’. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, performance, need for achievement (N Ac)’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Dalam menganalisis kenapa masyarakat miskin, karena disebabkan kesalahan mereka sendiri: yakni malas, tidak memiliki jiwa enterpreneur, bodoh dsb. Implikasi pendidikan ini mengarahkan manusia untuk beradaptasi dengan sistem yang sudah ada.

Untuk itu buku ini menawarkan tujuan dan filosofi pendidikan dari salah seorang pendidik dunia asal Brazil, Paulo Freire. Perspektif pendidikan aliran Freire adalah melakukan refleksi kritis terhadap sistem dan ideologi dominan yang tengah berlaku di masyarakat, serta menganalisis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta melatih mengidentifikasi ‘ketidakadilan’. Kemudian merubah sistem tersebut untuk memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju masyarakat yang adil.

Di sini, Mansour Fakih dkk. menuliskan penekanan proses dan teknis berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Membangun kesadaran kritis pendidikan partisipatif bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan peran fasilitator yang harus bisa menciptakan dan menggunakan media sebagai alat komunikasi pembelajaran.

Sekali lagi, buku ini lebih banyak memuat teknis silabus, cerita maupun berita kontroversial, permainan, analisis politik dan budaya di kota maupun di desa, dan lain sebagainya. Teknis-teknis ini diselingi artikel-artikel yang memuat pemahaman pendidikan kritis sebagai alat transformasi sosial. Pendidikan diartikan”tanpa dinding”, artinya penempatan pendidikan tidak melulu di pendidikan formal (sekolah –red), tapi bisa digunakan oleh massa petani, nelayan, dan rakyat kecil untuk melakukan transformasi sosial.

Kamis, 20 November 2014

Judul Buku Pokok Pokok Pikiran Dr Mansour Fakih : Refleksi Kawan Seperjuangan / Lies Marcoes,Dadang Juliantara,Francis Wahono

Jual Buku Pokok Pokok Pikiran Dr Mansour Fakih : Refleksi Kawan Seperjuangan, Pengarang: Lies Marcoes,Dadang Juliantara,Francis WahonoBuku Pokok Pokok Pikiran Dr Mansour Fakih : Refleksi Kawan Seperjuangan
Harga Rp 38.000   TERJUAL
Pengarang: Lies Marcoes,Dadang Juliantara,Francis Wahono
Bahasa    :Indonesia
Penerbit :Sigab dan Oxfam
Tahun Terbit :2004
Tempat Terbit :Yogyakarta
Kolasi    viii + 184 hlm.

Kondisi : POD ,bagus
Catatan    Merupakan kumpulan tulisan mengenai Dr. Mansour Fakih sebagai refleksi kawan seperjuangan. Mengulas pemikiran-pemikiran beliau yang senantias dikenang dan tentunya direalisasikan, dalam rangka seminar peringatan 100 hari wafatnya Dr. Mansour Fakih. Tiap penulis menyampaikan pemikiran dari beliau diantaranya mengulas tentang gerakan HAM di Indonesia dalam perspektif gender, perspektif difabel, pendidikan, santri, aktivis, dan lain-lain.

Rabu, 13 Agustus 2014

Jual Buku Dusta Industri Pangan, Penelusuran Jejak Monsanto / Delforge.

Jual Buku Dusta Industri Pangan, Penelusuran Jejak Monsanto  Delforge. Judul Buku Dusta Industri Pangan: Penelusuran Jejak Monsanto
Penulis: Isabelle Delforge
Harga RP 55.000 off.

Penyunting/Penerjemah: Hadi Wahono dan Danarti Wulandari
Penerbit: INSISTPress
ISBN: 979-97233-3-7
Edisi : II, Februari 2005
Tebal: 15x21cm, xxvi + 232hlm.

Kondisi bekas, bagus,

Jumat, 04 April 2014

Jual Buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial

Jual Buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial,  Penulis DR Mansour FakihBuku Analisis Gender dan Transformasi Sosial
Penulis DR Mansour Fakih Harga Rp 30.000
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Ke-3
Tahun Terbit : 1998
Tebal Buku : 186 Halaman
ISBN13; 9789798581547
Bahasa : Indonesia
Buku ini pertama kali diterbitkan pada April 1996. Di tahun 1998, setelah pembicaraan khusus antara penulisnya dan Pustaka Pelajar disepakati bersama untuk cetakan ketiga dan seterusnya hak kelola terbitan menjadi milik Pustaka Pelajar dan INSISTPress.

Buku yang menguraikan pengertian gender dan kaitannya dengan berbagai konsep tentang perubahan sosial. Buku pegangan bagi anda yang menggeluti isu-isu HAM, gender, dan gerakan sosial.

Resensi:
 Memerangi ketidakadilan sosial sepanjang sejarah manusia, selalu menjdi tema menarik dan tetap akan menjadi tema penting dalam setiap pemikiran dan konsepsi tentang kemasyarakatan dimasa mendatang. Sejarah manusia dalam memerangi ketidak adilan sosial telah melahirkan analisis dan teori sosial yang samapai saat ini masih berpengaruh dalam membentuk sistem kemasyarakatan umat manusia. Dari pelbagai gugatan ketidakadailan tersebut, terdapat satu analisis yang mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek hubungan antar jenis kelamin. Analisis yang dimaksud adalah analisis gender, suatu analisis yang menjadi alat gerakan feminisme. Dalam karya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, DR. Mansour Fakih mencoba menyajikan secara sederhana apa sebenarnya analisis gender. Namun dalam buku ini penulis tidak berambisi mengupas segala macam analisis sosial dari persepektif konsep gender. Penulis lebih berminat memaparkan pengertian kepada pembaca, yang bersifat pengantar, untuk memahami masalah-masalah emansipsipasi kaum perempuan dalam kaitannya dengan masalah ketidakadilan dan perubahan sosial dalam konteks yang luas.
Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, Bagian pertama dibagi dalam dua bab. Bab pertama Analisis Gender dan Ketidakadilan Gender, yang dimulai dari pengertian gender dan perbedaan gender melahirkan ketidakadilan. Uraian dalam bagaian pertama buku ini merupakan upaya pembahasan tentang pengertian gender dan apa kaitannya dengan pelbagai konsep tentang perubahan sosial. Perlu diungkapakan bahwa pemahaman atas pengertian gender dalama bab ini sangat penting bagi pembaca sebelum membahas bagaian selanjutnya. Perbedaan gender sesunguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama bagi kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sisten dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perepuan menjadi korban dari sistem tersebut. Penulis memperlihatkan perbedaan gender melahirkan ketidakadilan melalui pelbagai investasi ketidakadilan yang ada. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan,
yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan streotipe atau melalui pelabelan negati, kekerasan (violance), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi idiologi peran gender. Penulis mengatakan bahwa, manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling berkaiatan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis.Pada bagian pertama bab dua adalah diskursus pembangunan dan nasib kaum perempuan. Dalam bagian ini pembahasan difokuskan terhadap analisis kritis tentang bagaimana ketidakadilan gender dan ketidak pekaan terhadap masalah gender telah mempengaruhi pelbagai ideologi besar seperti teori-teori ilmu sosial tentang pembanggunan. Pada bab ini penulis memusatkan secara kritis terhadap diskursus pembanggunan yang sejak mula dikembangkan tanpa mempertimbangkan masalah gender dan telah menimbulkan akibat dan hasil yang berbeda antara kaum laki-laki dan perempuan. Bab ini hampir semua teori ilmu sosial tentang pembanggunan yang sangat berpengaruh terhadap nasib berjuta-juta umat manusia telah dikembangkan tanpa mempertimbangkan masalah gender. Akibatnya, pembagunan yang
semboyannya untuk mensejahterakan dan menjawab tantangan kemiskinan dan keterbelakangan bangsa-bangsa.
Bagian kedua terbagi dalam dua bab. Bab pertama membahas tentang analisis gender dalam herakan transfomasi. Gender sebagai alat analisis umumnya dipakai oleh penganut aliran ilmu sosial konflik yang justru memusatkan perhatian kepada ketidakadilan struktural dan sistem yang disebabkan oleh gender. Dari studi yang dilakukan menggunakan analisis gender ini ternyata banayak ditemukan pelbagai manifestasi ketidakadilan. Bagaian ini mencoba secara singkat meletakkan sebnarnya peran analisis gender dalam gerakan feminisme. Untuk memperjelas peran analisis gender, kita perlu memahami pradigma di balik gerakan dan teori feminisme. Gerakan feminis pada umumnya mereka mempunyai kesamaan kepedulian, yakni memprjuangkan nasib perempuan. Secara sederhana kita bisa membagi aliran feminisme menjadi dua aliran besar dalam ilmu sosial yakni aliran status quo atau fungsionalisme dan aliran konflik. Bab kedua pada bagian dua ini menjelaskan tentang hegemoni maskulinitas dan arah gerakan feminisme. Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil, menuju
sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki. Dengan demikian strategi perjuangan jangka panjang gerakan feminisme tidak sekedar upaya pemenuhan kebutuhan praktis kondisi kaum perempuaan atau dalam rangka mengakhiri dominasi gender dan manifestasinya. Melainkan perjuangan transformasi sosial ke arah penciptaan strutur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Pada bab ini penulis mengutip dari Harding dan Siva, bahwa feminitas dan maskulinitas mempunyai ideologi yang berbeda dan kontradiktif. Feminitas adalah ideologi yang berciri kedamaian, keselamatan, kasih, dan kebersamaan. Sementara maskulinitas memiliki karakter persaingan, dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Dalam perjalanannya maskulinitas mampu berhasil mendominasi dan hegemonik. Pada bab ini penulis mencoba memperlihatkan gerakan feminis dalam kerangka tersebut untuk mencari bentuk-bentuk perjuangan alternatif di masa mendatang.3
Bagian ketigi terdiri dari tiga bab. Bab yang pertama membahas tentang tinjauan struktural terhadap buruh
perempuan. Bab ini membicarakan hak asasi dan kaum buruh perempuan dapat diletakkan dalam dua kerangka persepektif yakni yang bersifat kondisional dan struktural. Analisis kondisional terhadap buruh perempuan menyangkut analisi terhadap nasib kaum buruh keseluruhan (buruh laki-laki dan perempuan) baik secara fisik bersifat jangka pendek, serta melihat upah minimum, diskriminasi upah antara buruh laki-laki dan perempuan, kondisi kerja yanng menyangkut keselamatan kerja, maupun hak untuk berorganisasi. Analisis struktural lebih menekankan pada posisi buruh perempuan dalam keseluruhan struktur formasi sosial yang ad. Pada dasarnya kedua analisis tersebut tidak bisa dipisahkan-artinya analisis terhadap kondisi buruh perempuan harus diletakkan dalam persepektif struktural dalam kerangka jangka panjang. Pada bab ini penulis mengetengahkan suatu analisis struktural nasib buruh perempuan dalam suatu formasi sosial pembanggunan dewasa ini. Secara sengaja penulis memilih analisis yang berasumsi bahwa suatu aspek tidak berdiri sendiri, melainkan setiap aspek secara dialektika saling berpengaruh dan menentukan. Dengan demikian analisis ini menolak esensialisme dan reduksonialisme, yang percaya ada penyebab tunggal terhadap suatu proses analisis. Pada bab dua bagaian tiga adalah analisis gender dan tafsir agama. Penulis mencoba merekontruksi secara kritis tentang gerakan feminsme dikaitkan dengan perspektif agam, khususnya Islam, tentang perubahan sosial. Pertanyaan yang ingin dijawab pada bab ini adalah apa sumbanagan alternatif gagasan kaum agamawan untuk memberikan jalan dsalam rangka transformasi sosial termasuk merubaha kaum perempuan dalam struktur masyarakat di mas mendatang. Pada bab tiga dalam bagian ini, atau bahasan terakhir buku ini, membhas tentang emansipapsi kaum perempuan : refleksi dan agenda mendesak. Dalam bab-bab terdahulu, kita dapat melakukan refleksi atas latar perdebatan isu perempuan. Pertanyaan apakah dan mengapa ada masalah bagi kaum perempuan yang merupakan akar
perdebatan isu perempuan telah memunculkan tanggapan yang sanggat beragam. Tanggapan pertama memandang bahwa sesunguhnya tidak ada masalah bagi kaum perempuan sehingga sistem hubungan antara laki-laki dan perempuan saat ini adalah yang terbaik dan karena itu kondisi dan posisi kaum perempuan tidak perlu dipersoalkan. Responsi kedua datang dari mereka yang mengangap bahwa saat ini kaum perempuan berada dalam kondisi dan posisi yang ditindas dan dieksploitasi. Setelah kita telaah secara mendalam, perbedaan gender ini ternyata telah mengakibatkan lahirnya sifat dan streotipe yang oleh masyarakat dikanggap sebagai ketentuan kodrati atau bahkan ketentuan Tuhan. Dengan demikian bila kita memikirkan jalan keluar, pemecah masalah gender perlu dilakukan secara serempak. Pertama perlu upaya bersifat jangPertama perlu upaya bersifat jangka pendek yang dapat memecahkan masalah-masalah praktis
ketidakadilan tersebut. Sedangkan langkah berikutnya adalah usaha jangka panjang untuk memikirkan bagaimana menemukan cara strategis dalam rangka memerangi ketidakadilan. Gerakan feminisme sebagai gerakan sosial dalam dua daswarsa terakhir telah menunjukkan damapaknya secara kuantitatif spektakuler. Secara kualitatif mereka belum memberi dampak yang terlalu besar, terutama dalam memberikan peran sebagai penentu kebijakan politik dan ekonomi, karena peran perempuan memang belum banayak berubah dan masih dalam porsi minoritas. Oleh : M. Auritsniyal Firdaus


Minggu, 30 Maret 2014

Jual Buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi

Jual Buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi Penulis: Dr. Mansour Fakih
Judul: Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi
Penulis: Dr. Mansour Fakih
Harga: Rp. 45.000 
Penerbit: Pustaka Pelajar,
Tahun : 2002
Tebal: 262 halaman
Kondisi Baru
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029

Ini buku yang sarat menyajikan teori-teori perubahan sosial alternatif sebagai tandingan dari teori pembangunan, dari mulai yang beraliran kanan, kiri, hingga “jalan ketiga” — kritik dan perdebatan di antara teori-teori tersebut.

Namun, yang lebih esensial, buku “Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi” ini mengupas tuntas persoalan kegagalan pembangunanisme. Di buku ini dipertanyakan, apakah tudingan-tudingan itu benar atau memang pembangunanisme telah gagal sebagai sebuah teori atau paradigma yang akan membawa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil sejahtera.

Dalam kata pengantar buku ini, dikemukakan pula di mana letak kegagalan teori pembangunan, sekaligus kritik-kritik terhadap teori pembangunan, termasuk fenomena terbaru dari pembangunanisme yaitu globalisasi kapitalisme. Konon yang paling dicemaskan dari gagasan pembangunanisme bukanlah kegagalannya, melainkan justru keberhasilannya. Karena keberhasilan pembangunanisme akan mengantarkan dunia pada perspektif tunggal, yang secara budaya dianggap menghancurkan peradaban manusia.

Pembangunan memang disebut-sebut sebagai paradigma dan teori perubahan sosial yang sangat diagung-agungkan oleh banyak pemerintahan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Padahal, dewasa ini pembangunan berada pada masa krisis dan mengalami kegagalan penerapan di berbagai negara Dunia Ketiga. Tudingan menyoal kegagalan itu banyak dialamatkan pada korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjangkiti pemerintah negara Dunia Ketiga.

Sebagaimana dikatakan penulisnya, buku ini ditulis melalui proses yang panjang, dikumpulkan dan dikonstruksi dari catatan-catatan yang tercecer. Buku ini merupakan kesaksian dan refleksi dari perjalanan dan keterlibatan penulis bersama para praktisi lapangan di kalangan aktivis Ornop. Keterlibatan selama perubahan sosial di tingkat akar rumput di Indonesia selama hampir tiga dasawarsa.

Oleh karena itu, kata penulisnya, buku ini bukan bermaksud menjelaskan secara akademis teori-teori perubahan sosial ataupun teori pembangunan. Buku ini bukan pula hasil dari studi empirik mengenai bagaimana teori perubahan sosial dan teori pembangunan diterapkan di lapangan. Sepenuhnya buku ini adalah semacam kesaksian, pengakuan dan refleksi terhadap proses perubahan sosial. Ia juga merupakan narasi perihal teori perubahan sosial dan teori pembangunan termasuk bagaimana penerapan secara implikasinya di masyarakat.

Ketika pertama kali diterbitkan pada 2001, buku ini langsung mendapat sambutan yang luas dan hangat dari pembaca. Selain karena merupakan salah satu buku pertama yang “mempreteli” pembangunanisme di Indonesia, juga karena sang penulis, Mansour Fakih, bersama dengan INSIST-nya merupakan pelopor “transformasi sosial” — sebagai sebuah paradigma dan teori tandingan dari “pembangunan” — untuk mencapai perubahan sosial menuju tatanan masyarakat baru yang adil sejahtera tanpa eksploitasi.

Setidaknya, kehadiran buku ini bisa menyegarkan dahaga para pemerhati, praktisi, maupun siapa saja yang selalu peduli pada perubahan sosial di Indonesia.


Jumat, 28 Maret 2014

Sell Books > Jual Buku Masyarakat Sipil Untuk Transformasi sosial

Title  Judul :MASYARAKAT SIPIL UNTUK TRANSFORMASI SOSIAL,
pergolakan Ideologi LSM di Indonesia.
DR Mansour Fakih,

Penerbit Pustaka Pelajar 2004.
xi+ 200 hlm ; 14x22 cm . 
Harga Rp. 30.000
 Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029.

 Lembaga Swadaya Masyarakat atau LSM atau dahulu lebih dikenal dengan Organisasi Nonpemerintah (Ornop) atau NGO adalah lembaganya masyarakat sipil di luar pemerintah. Di manakah kemudian posisi LSM jika dikaitkan dengan pembangunanisme yang sudah banyak dikritik bahkan dikatakan gagal dalam mencapai perubahan menuju masyarakat yang lebih adil, makmur, sejahtera? Agak ironis kemudian ketika banyak LSM menggunakan cara-cara yang sama dengan pemerintah (baca: pembangunanisme) di dalam program-program kerjanya. Akibatnya sulit untuk mengategorikan LSM sebagai gerakan rakyat dan bahkan sebaliknya, LSM hanya menjadi sebuah organisasi konsultan pembangunan belaka. Penggantian istilah dari Ornop menjadi LSM juga merupakan moderasi istilah yang dilakukan oleh pemerintah agar LSM tidak terkesan sebagai Organisasi Nonpemerintah yang cenderung "anti" pemerintah.

Buku ini menguak pergolakan ideologi dan dinamika pergerakan LSM di Indonesia sejak tahun 1970an hingga tahun 1990an. Bagai memakan buah simalakama, LSM di Indonesia senantiasa berada dalam posisi dilematis untuk bisa 100 % membela kepentingan rakyat tertindas, ketika keberadaan dan kehidupan LSM masih sangat bergantung pada lembaga donor dari luar negeri yang tentunya memiliki suatu ideologi dan kepentingan tertentu.

Bagaimana kemudian LSM harus menempatkan dirinya sebagai organisasi masyarakat sipil untuk transformasi sosial di tengah-tengah tekanan dari lembaga donor, pemerintah, dan rakyat yang difasilitasinya. Menurut Mansour Fakih (Alm), penulis buku ini yang sudah malang melintang di dalam pergerakan LSM di Indonesia sejak akhir era 1970an, sudah saatnya bagi aktivis LSM di Indonesia untuk mulai melakukan reposisi ideologi mereka di dalam masyarakat sipil, yaitu dengan menyebut dan menempatkan dirinya sebagai "intelektual organik" yang merupakan jenis intelektual yang berakar di dalam kelas yang dieksploitasi dan didominasi.

Sejak pertama kali diterbitkan tahun 1996 hingga saat ini, buku ini belum kehilangan konteksnya, dan bahkan semakin menemukan konteksnya seiring dengan semakin menjamurnya LSM-LSM baru yang bermunculan di Indonesia pascareformasi 1998. Buku ini mendesak sangat diperlukan bukan hanya oleh kalangan aktivis LSM, tetapi juga oleh kalangan akademisi, pemerintahan, dan masyarakat sipil yang mendambakan transformasi sosial di Indonesia.