Tampilkan postingan dengan label ResistBook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ResistBook. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

Islam Melawan Kapitalisme oleh Zakiyuddin Baidhawy

Jual Buku Islam Melawan Kapitalisme  oleh Zakiyuddin BaidhawyIslam Melawan Kapitalisme
oleh Zakiyuddin Baidhawy
Harga Rp 47.000 off
ISBN : 9791097399
Terbit : 8 Januari 2007
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Resist Books
Halaman : 262
Dimensi : 140 mm x 210 mm

"Jika hanya sebagai agama, Islam niscaya akan dengan mudah diterima oleh masyarakat Arab...[tetapi] kehadiran Islam adalah revolusioner, sebab ia menolak sistem ekonomi, sosial, dan politik dengan segala implikasi moralnya yang telah membusuk di zamannya(Asghar Ali Engineer) Sebagai sebuah peradaban, kapitalisme adalah peradaban yang pasti akan ambruk dan membusuk. Kegagalannya mulai terlihat nyata: kemiskinan yang kian meruyak, eksploitasi alam yang kian buas, dan konsumerisme yang semakin massif. Karena itu, sebuah alternatif terhadap kapitalisme mesti diajukan. Ditulis oleh seorang intelektual muda Islam, buku ini mengulas konsep-konsep keadilan ekonomi dan sosial. Tak hanya menentang kapitalisme, buku ini juga menantang segenap teori-teori keadilan kontemporer, seperti egalitarianisme radikal, teori prinsip perbedaan (John Rawls), teori sumberdaya (Dworkin), atau libertarianisme (Robert Nozick). Sebuah buku yang layak dibaca, bagi mereka yang percaya bahwa kapitalisme mesti dikubur, dan sebuah sistem alternatif mesti ditegakkan.

Rabu, 09 September 2015

Kapitalisme Teori dan Sejarah Perkembangannya oleh Robert Lekacham dan Baron Van Loon

Jual Buku Kapitalisme Teori dan Sejarah Perkembangannya	oleh Robert Lekacham dan Baron Van LoonKapitalisme Teori dan Sejarah Perkembangannya oleh Robert Lekacham dan Baron Van Loon
Harga Rp 45.000
Format : Soft Cover
Terbit : 8 Januari 2008
Bahasa : Indonesia
Penerbit: Resist Books
Tebal : 177hlm
Dimensi : 140 mm x 210 mm

Sabtu, 22 Agustus 2015

Jual Buku Rantai kapitalisme global: reorganisasi fundamental rantai pasokan global

Jual Buku Rantai kapitalisme global: reorganisasi fundamental rantai pasokan global
Rantai kapitalisme global:
reorganisasi fundamental rantai pasokan global
 Harga Rp 42.000
Author: Bonnie Setiawan
Publisher: Yogyakarta : Resist Book, 2012.

Jual Buku WTO dan Perdagangan Abad 21 Penulis : Bonnie Setiawan.

Jual Buku WTO dan Perdagangan Abad 21 Penulis : Bonnie Setiawan.
Judul : WTO dan Perdagangan Abad 21
Penulis : Bonnie Setiawan.
Harga : Rp 45.000,-
Tahun Terbit: 2013
Penerbit: Resist Book
Tebal: 205 halaman

Buku ini mengantarkan pemahaman atas isu seputar WTO, dampaknya serta munculnya sistem perdagangan baru abad 21. Gerakan sosial nampaknya banyak yang belum menyadari sistem jaringan produksi global saat ini, termasuk implikasinya pada berkembangnya perdagangan global. Mereka masih mengkritik perdagangan abad ke-20 yang sudah ditinggalkan oleh para korporat. Buku ini dapat menjadi panduan awal untuk membaca perubahan-perubahan tersebut yang tak lain adalah tahap mutakhir dari kapitalisme global.

Selasa, 11 Agustus 2015

Jual Buku Kisah-Kisah Pembebasan dalam Qur’an, Penulis: Eko Prasetyo

Jual Buku Kisah-Kisah Pembebasan dalam Qur’anPenulis: Eko PrasetyoJudul Kisah-Kisah Pembebasan dalam Qur’an
Harga Rp 59.000
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: PUSHAM UIII, RESISTBOOK & MPM Muhammadiyah
Tebal: 357hlm

Lewat penceritaan yang puitik, buku ini tidak sekedar menawarkan tafsir, melainkan memperlihatkan kembali kekuatan Qur’an bagi aktivitas gerakan. Qur’an tak lagi ditimbang dari sudut hermeneutik atau tafsir hukumnya; tetapi dari kisah-kisah pergerakanya. Qur’an adalah inspirasi yang tak pernah kering bagi aktivitas pergerakan, yang kini mulai tak terlampau yakin dengan semangat pembebasan dan gairah perlawanan. Buku ini hendak menyalakan lagi kekuatan Qur’an melalui rangkaian kisahnya.

Daftar Isi:

Memoir guru taman kanak-kanak
Kata Pengantar
Namanya: Adam & Hawa
Bahtera Nuh
Ibrahim: Pejuang Militan
Ibrahim dan Ismail
Yusuf 1
Yusuf 2
Ayub: Kesabaran yang Militan
Syua’ib: Penentang Kapitalisme
Musa
Harun: Keimanan Seorang Sahabat
Dawud: Kekuatan Pemimpin
Sulaiman: Keberanian Sang Pemimpin
Yunus: Sabar dalam Dakwah
Yahya: Sang Syuhada
Isa: Sang Penebus
Muhammad: Sang Pembaharu
Muhammad: Tahun Duka Cita
Muhammad: Sang Panglima Perang
Muhammad: Teladan para Pejuang!
Kaum Ad dan Tsamud
Luqman
Maryam: Perempuan Suci
Pemuda Penghuni Gua (Ashabul Kahfi)
Bani Israil: Kisah Para Pembangkang
Bani Israil: Brutalitas Atas Nama Agama
Jiwa Agung Para Pejuang


Sabtu, 01 Agustus 2015

Jual Buku Analisa Ekologi Kritis Degradasi dan Politik Lingkungan Menurut André Gorz, Anthony Giddens, Jürgen Habermas Penulis: David Goldblatt

Jual Buku  Analisa Ekologi Kritis Degradasi dan Politik Lingkungan Menurut André Gorz, Anthony Giddens, Jürgen Habermas Penulis: David GoldblattJudul: Analisa Ekologi Kritis
Degradasi dan Politik Lingkungan Menurut André Gorz, Anthony Giddens, Jürgen Habermas, dan Ulrich Beck
Harga: Rp 80.000
Penulis: David Goldblatt
Jumlah Hal: 464 hal
Berat: 0,5 kg


Sinopsis:
Degradasi lingkungan tidak lagi menjadi isu pinggiran dalam ilmu sosial dan politik kontemporer. Buku ini mengkaji kembali apakah teori sosial kontemporer dapat membantu kita memahami asal-usul degradasi lingkungan dan politik lingkungan.
Buku ini diawali dengan paparan mengenai kontribusi oleh teori sosial klasik terhadap analisa lingkungan. Goldblatt merujuk pada ekonomi politik klasik, khususnya Ricardo dan Malthus, yang keduanya menaruh perhatian pada batasan yang diciptakan oleh sumberdaya alam pada pertumbuhan ekonomi. Goldblatt juga melihat pentingnya interaksi antara ekonomi dan alam dalam karya Durkheim dan Marx. Namun, menurut Goldblatt, teori sosial klasik terlalu berfokus pada bagaimana masyarakat mengubah lingkungannya, tanpa menyoroti pada dampak negatif akibat perubahan tersebut.
Goldblatt mencoba melampaui keterbatasan teori sosial klasik dengan menelaah Anthony Giddens, Andre Gorz, Jurgen Habermas dan Ulrich Beck. Melalui Giddens dan Gorz, penulis mengintegrasikan penjelasan mengenai asal-usul dan dampak kerusakan lingkungan dengan pemahaman yang lebih luas atas perkembangan dan dinamika masyarakat modern. Sedangkan Habermas dan Beck, untuk menganalisa asal-usul gerakan lingkungan dan mobilisasi politik lingkungan.
Buku ini menganalisa peranan kapitalisme, sosialisme negara, dan industrialisme atas kerusakan lingkungan; dampak lingkungan dari urbanisme dan globalisasi; integrasi masalah lingkungan dengan ekonomi politik; dan asal-usul struktur gerakan lingkungan. Goldblatt menunjukkan secara menyakinkan bahwa masalah kerusakan lingkungan merupakan masalah sentral bukan hanya bagi mereka yang tertarik pada isu hijau melainkan semua pemikir ilmu sosial.

Jumat, 31 Juli 2015

Jual Buku Reason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern, by Alan Woods dan Ted Grant

Jual Buku Reason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern, by Alan Woods dan Ted GrantReason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern,
by Alan Woods dan Ted Grant
Harga Rp 135.000 OFF
Penerbit  Wellred Books dan Resist Book.
Tebal 590hlm
Kondisi Baru

Di dalam buku ini dikupas perkembangan sains dalam perspektif Marxis, dari genetika sampai antropologi, dari matematika sampai ilmu perkembangan kanak-kanak. Ditulis oleh Alan Woods dan Ted Grant, untuk mempersenjatai kaum buruh dan muda revolusioner dengan pemahaman dialektika materialis.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketidaktahuan Tidak Pernah Menolong Siapapun: Pengantar Nalar yang Memberontak
Militan Indonesia dengan bangga mempersembahkan buku Nalar Yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern kepada kaum buruh dan kaum muda revolusioner Indonesia. Di dalam buku ini para pembaca akan menemukan hukum-hukum dan metode-metode revolusi yang akan berguna bagi perjuangan pembebasan umat manusia dari rantai kapitalisme. Dapatkan buku ini dari Toko Buku Buruh Membaca (www.facebook.com/tokobuku.buruhmembaca).
***
Mari kita mulai pengantar buku “Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern” yang padat ini dengan sebuah kisah pendek Karl Marx.
Setelah dideportasi dari Prancis karena aktivitas revolusionernya, Marx menemukan dirinya di Brussel, Belgia pada 1845. Kota Brussel pada saat itu adalah sebuah kota yang padat dengan kaum revolusioner dari berbagai negeri, dan banyak dari mereka adalah eksil politik seperti Marx. Pada musim semi 1846, dalam usahanya untuk menghimpun seluruh kaum revolusioner, Marx bertemu dengan Wilhelm Weitling (1808-1871), seorang aktivis sosialis dan seorang buruh jahit. Mereka berdebat sengit mengenai signifikansi teori di dalam gerakan. Weitling menuduh Marx dan Engels terlalu intelektual dan menulis mengenai subjek-subjek yang tidak menarik dan tidak berguna sama sekali untuk buruh. Dia mengecam keras Marx yang menurutnya menulis “analisa kursi-goyang mengenai doktrin-doktrin yang jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita.” Marx, yang biasanya sangat sabar, menjadi geram dan menggebrak meja, begitu kerasnya hingga lampu di atasnya terguncang. Dia langsung berdiri dan dengan suara yang menggelegar mengatakan, “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun.”
Weitling menentang kerja teori dan propaganda yang sabar. Menurutnya, rakyat sudah cukup tertindas dan siap melawan. Yang dibutuhkan bukanlah teori dan propaganda mengenai hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan penderitaan rakyat, tetapi slogan-slogan agitasi yang sederhana, aksi-aksi langsung, dan keberanian tentunya. Sementara Marx memahami bahwa untuk bisa menumbangkan kapitalisme dibutuhkan sebuah batalion massa buruh yang diperlengkapi dengan senjata ideologi yang lengkap, yang tidak bisa tidak harus dibangun dengan kerja propaganda yang sabar. Massa buruh harus dididik dan dilatih untuk memiliki cara pandang dunia yang luas, yang tidak hanya berurusan dengan isi perut mereka saja, tetapi menyentuh semua aspek kehidupan: seni, sastra, sains, kebudayaan, sejarah, filsafat, dsb.
Pertentangan antara “teori” dan “praktek”, antara “para teoretikus intelektual” dan “para aktivis tulen”, antara “tendensi Marx” dan “tendensi Weitling”, masih mewarnai gerakan sampai hari ini. Akan tetapi, bahkan “para aktivis tulen” yang mengumbar bahwa mereka tidak membutuhkan teori, yang mengatakan dengan bangga bahwa mereka cukup bersandar pada “kehendak murni rakyat yang tertindas” sebagai sumber inspirasi dan pemikiran mereka, pada akhirnya meminjam teori-teori politik yang sudah ada, dengan sadar maupun tak sadar. Teori-teori politik yang sudah ada ini, yang dominan di dalam masyarakat, tidak lain adalah teori-teori borjuis. Ini karena kelas yang berkuasa mempertahankan kekuasaannya tidak hanya dengan senjata dan kekerasan, tetapi terutama dengan nilai-nilai, moralitas, gagasan, dan filsafat. Mereka berkuasa tidak hanya dengan polisi dan tentara saja, tetapi juga dengan para nabi-nabi bayaran mereka, yang mereka tempatkan di sekolah-sekolah, kantor-kantor media, tempat-tempat ibadah, dan di setiap sudut dimana rakyat ingin mencari pengetahuan. Di satu pihak, rakyat tertindas dibuat percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah bentuk yang paling alami, yang tanpanya umat manusia akan punah. Di lain pihak, dan ini yang lebih penting, rakyat pekerja yang melawan dalam setiap langkahnya dijauhkan dari kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Gerakan perlawanan mereka dirasuki dengan berbagai macam gagasan asing, yang di permukaan tampaknya radikal tetapi sebenarnya tidak memiliki konten revolusioner sama sekali, dan yang tujuan utamanya adalah mengandaskan usaha rakyat pekerja untuk merebut kekuasaan dan menumbangkan kapitalisme. Inilah mengapa perjuangan ideologi di dalam gerakan menjadi begitu pentingnya, mengapa kerja propaganda yang sabar di antara massa buruh, untuk meluaskan pandangan mereka, adalah prasyarat dasar untuk kemenangan proletariat.
Bukan untuk alasan sembarangan Marx dan Engels – dan juga banyak pemikir dan pejuang Marxis lainnya – memproduksi begitu banyak karya. Karya-karya ini ditulis bukan untuk memenuhi rasa keingintahuan pribadi mereka, tetapi sebagai bagian dari polemik atau perseteruan gagasan di dalam gerakan. Marx dan Engels tidak membatasi diri mereka hanya pada pertanyaan-pertanyaan konkret dan segera yang dihadapi oleh gerakan, tetapi juga mengenai “doktrin-doktrin yang jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita” – yang sebenarnya hanya tampak jauh bagi mereka-mereka yang pikirannya sempit dan rabun jauh. Misalnya, Engels menulis “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi Dan Negara”, sebuah karya antropologi yang mengupas evolusi kehidupan masyarakat primitif. Para kritikus “praktis” kita mungkin akan bertanya dengan nada mengejek: apa gunanya semua ini untuk gerakan buruh dan aksi mogok? Hanya ini: karya Engels tersebut menjadi dasar bagi teori Marxis mengenai Negara, yang dikembangkan lebih jauh oleh Lenin dalam “Negara dan Revolusi” dan menjadi fondasi teori bagi kaum Bolshevik untuk meremukkan Negara Kapitalis dan membangun Negara Buruh pada Revolusi Oktober 1917. Karya Engels yang “jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita” itu menjadi dasar untuk kemenangan Revolusi Oktober, peristiwa terbesar di dalam sejarah dunia yang menjadi pemantik dan inspirasi dari hampir semua revolusi pada seluruh abad ke-20. Inilah mengapa teori bukanlah semacam pilihan tambahan, yang bisa dilakukan kalau ada waktu dan kesempatan saja.
Sering kali sikap “anti teori” ini juga merefleksikan semacam keangkuhan terhadap kaum buruh, bahwa buruh tidak akan sanggup – dan juga tidak mau – membaca dan mengkaji teori. Menurut para Weitling ini, buruh cukup diberitahu mengenai penindasan yang mereka alami, diajari bagaimana mengorganisir demo, diadvokasi, dsb. Tetapi, buruh yang maju sebenarnya haus akan gagasan dan teori. Mereka ingin memahami dunia di sekitar mereka. Mereka tidak perlu diberitahu hal-hal yang sudah mereka ketahui sendiri, bahwa mereka tertindas oleh majikan mereka, bahwa ada pengangguran yang tinggi, bahwa ada kemiskinan, bahwa mereka tinggal di rumah-rumah yang tak layak, dsb. Mereka ingin tahu mengapa dunia ini sedemikian rupa, apa yang terjadi di Rusia pada 1917, apa itu Marxisme, bagaimana kapitalisme lahir dan berkembang, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bersifat teoritik. Marx dan Engels menulis terutama untuk buruh, dan demikian juga buku ini ditujukan untuk buruh.
Akan cukup berguna bagi kita untuk mengupas sedikit mengenai latar belakang buku ini dan penulisnya. Mengapa dan bagaimana sebuah buku ditulis, dan siapa yang menulisnya, adalah sama pentingnya dengan konten buku tersebut. Hanya dengan demikian kita bisa lebih menghargai keseluruhan dari buku ini.
Diterbitkan pertama kali di Inggris pada 1995, buku ini adalah buah kolaborasi antara Ted Grant (1913-2006) dan Alan Woods (1944 - ). Keduanya adalah aktivis Marxis di Inggris dan teoretikus utama dari organisasi International Marxist Tendency (IMT). Sejak umur 14 tahun, Ted Grant telah menapak jalan perjuangan. Ketika dia bergabung dengan gerakan komunis pada akhir 1920an, sebuah gejolak besar sedang terjadi di dalam gerakan komunis internasional antara faksinya Leon Trotsky melawan faksinya Josef Stalin, yakni antara tendensi proletariat melawan tendensi birokratisme. Ted Grant sendiri sejak awal sudah berdiri di sisi faksi Leon Trotsky dan tidak pernah berpaling sampai akhir hayatnya.
Kegagalan revolusi-revolusi di negeri-negeri kapitalis maju di Eropa Barat menyusul Revolusi 1917 di Rusia – yang menurut Lenin tanpanya maka “revolusi Rusia akan menemui kehancuran” – menyebabkan keterisolasian Uni Soviet. Di tengah keterisolasian dan keterbelakangan ekonomi, teknologi dan budaya, revolusi proletariat di Uni Soviet akhirnya tercekik. Birokrasi muncul dan merebut kekuasaan politik dari kaum proletariat Uni Soviet. Stalin menjadi personifikasi dari birokrasi ini, yang lalu melikuidasi secara fisik dan ideologi semua warisan Revolusi Oktober.
Ada sungai darah yang memisahkan rejim Stalin dan Revolusi Oktober, antara Stalinisme dan Bolshevisme (Marxisme). Walau di sini bukan tempatnya untuk menganalisa Stalinisme, kami cukup memberikan fakta “kecil” ini untuk membuktikan pernyataan sebelumnya: dari 30 anggota Komite Pusat Bolshevik saat Revolusi Oktober 1917, yakni kepemimpinan tertinggi Partai Bolshevik yang memenangkan Revolusi, 18 dari mereka dieksekusi oleh rejim Stalin, dan hanya 4 yang selamat (termasuk Stalin sendiri); 8 lainnya “beruntung” meninggal secara alami sebelum 1927, yakni sebelum kaum birokrasi dan Stalin naik ke tampuk kekuasaan. Jadi, 18 dari 22 pemimpin tertinggi Revolusi Oktober, atau 80% dari mereka, entah dengan satu cara atau lainnya ditemukan bersalah oleh rejim Stalin sebagai “pengkhianat revolusi”, “agen imperialis”, “kaki tangan fasis”, dan 1001 tuduhan tak-masuk-akal lainnya. Nasib yang sama juga menimpa hampir semua kader Bolshevik Tua, yakni mereka-mereka yang telah lama berjuang bersama Lenin. Mereka dibuang ke Siberia untuk mati perlahan-lahan atau dieksekusi di gedung Lubyanka. Fakta ini saja sebenarnya sudah cukup untuk membantah pernyataan bahwa Stalin adalah penerus Lenin, sebuah pernyataan yang kerap dibuat oleh para musuh sosialisme yang ingin menyamakan sosialisme dengan karikatur buruk dan kejam dari rejim birokratik Stalinis.
Leon Trotsky, dan murid-muridnya seperti Ted Grant, berjuang dengan keras kepala untuk melawan Stalinisme dan menyelamatkan tradisi Revolusi Oktober. Perjuangan mereka sebagian besar adalah perjuangan ideologi, yakni perjuangan untuk mengklarifikasikan kembali gagasan Marx, Engels, dan Lenin. Semua yang dilakukan oleh Trotsky sampai akhir hayatnya adalah untuk membersihkan panji Marxisme agar bisa digunakan oleh proletariat sebagai senjata ideologi mereka untuk meruntuhkan kapitalisme. Buku ini ditulis oleh Ted Grant dan Alan Woods dengan semangat yang sama, terutama pada periode pasca runtuhnya Uni Soviet.
Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 merupakan pukulan telak bagi gerakan revolusioner. Keruntuhan Uni Soviet disajikan oleh para kapitalis sebagai bukti kegagalan Marxisme. Pada kenyataannya apa yang gagal di Rusia bukanlah Marxisme tetapi karikatur birokratisnya. Kaum kapitalis dan para akademisi bayaran mereka segera meluncurkan ofensif ideologis untuk mengubur Marxisme selama-lamanya. Berbagai buku ditulis untuk merayakan kemenangan kapitalisme atas sosialisme, sementara para “Marxis” didikan rejim Stalinis dan partai-partai “komunis” sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan serangan ideologi borjuis ini, karena Marxisme mereka adalah Marxisme kaku yang formalis. Seperti yang ditulis di buku ini: “Di tangan birokrasi [Stalinis], filsafat Marxisme (yang mereka sebut “diamat” atau singkatan dari dialektika materialisme) diubah menjadi dogma yang mandul, atau sebuah varian dari sofisme yang digunakan untuk membenarkan segala manuver dari para pemimpinnya.” Justru kebanyakan dari mereka dengan tergesa-gesa mencampakkan Marxisme, seperti tikus-tikus yang lari dari kapal yang terbakar.
Buku “Nalar yang Memberontak” ini ditulis dan diterbitkan dengan latar belakang politik demikian. Ketika ideologi revolusioner tengah digempur dan demoralisasi merasuki gerakan sampai ke sumsum-sumsumnya, tugas yang paling mendesak adalah membela gagasan-gagasan dan teori-teori dasar Marxisme. Ini ada kesamaannya dengan yang dilakukan oleh Lenin menyusul kekalahan Revolusi 1905. Kekalahan Revolusi ini membuka gerbang untuk periode reaksi dari 1907-1910, yang digambarkan Lenin seperti berikut: “Tahun-tahun reaksi (1907-1910). Tsarisme menang. Semua partai revolusioner dan oposisi remuk. Depresi, demoralisasi, perpecahan-perpecahan, pertikaian, pengkhianatan dan percabulan menggantikan politik. Ada pergeseran yang semakin besar ke arah filsafat idealisme; mistisisme menjadi kedok dari sentimen-sentimen kontra-revolusioner.” Apa yang Lenin lakukan? Dia menerbitkan sebuah buku filsafat yang tebal dan padat pada 1909, “Materialisme dan Empirio-Kritisme”, untuk kembali mengklarifikasikan filsafat Marxisme. Tentunya buku ini tidak bisa disamakan dengan bukunya Lenin, tetapi semangat yang menjiwainya sama: klarifikasi gagasan Marxisme di tengah badai kebingungan ideologi yang melanda gerakan.
Sudah lebih dari 20 tahun sejak buku ini pertama kali diterbitkan dan tentunya sejak itu sains sudah berkembang lebih jauh. Penemuan-penemuan baru, data-data baru, dan eksperimen-eksperimen baru telah mengklarifikasi sejumlah pertanyaan yang diajukan di buku ini, entah secara positif maupun secara negatif. Tetapi buku ini ditulis bukan sebagai kata akhir untuk sains, bukan sebagai prediksi bola-kristal mengenai sains. Buku ini ditulis sebagian besar sebagai pengamatan umum mengenai perkembangan sains modern, yang kalau dikaji secara cermat akan kita temui garis-garis umum Marxisme di dalamnya. Pada analisa terakhir, buku ini ditulis bukan untuk kepentingan akademis semata, tetapi sebagai bagian penting dari usaha aktif dan sadar manusia untuk membebaskan dirinya dari belenggu kekuatan-kekuatan yang tidak dipahaminya dan tidak dikontrolnya – yang dalam kapitalisme adalah kekuatan pasar bebas dan kapital – dan melompat ke ranah kebebasan.
Ted Sprague. Kamis, 30 Juli 2015.

Senin, 27 April 2015

Jual Buku Sosialisme Abad 21, Michael Newman

g
Jual Buku Sosialisme Abad 21, Michael Newman

 Sosialisme Abad 21, Michael Newman Harga Rp 65.000



Jual Buku Sosialisme dan Revolusi, Andre Gorz

Jual Buku Sosialisme dan Revolusi, Andre Gorz, ResistBook,
Buku Sosialisme dan Revolusi, Andre Gorz, ResistBook
Harga Rp 65.000
Kondisi Segel
Tersedia 1 Buah

Jual Buku Tesis Tesis Pokok Marxisme / Ernest Mandel

Jual Buku Tesis Tesis Pokok Marxisme, Ernest Mandel, Resist Book,Buku Tesis Tesis Pokok Marxisme, Ernest Mandel, Resist Book,
Harga Rp 65.000 BOOKED
Kondisi Segel
Tersedia 1 Buah

Jual Buku Islam Kiri Melawan Kapitalisme Kapitalisme Modal dari wacana menuju Gerakan / Eko Prasetyo

Jual Buku Islam Kiri Melawan Kapitalisme Kapitalisme Modal dari wacana menuju Gerakan, Eko Prasetyo, Insist Press,Judul Buku Islam Kiri Melawan Kapitalisme Kapitalisme Modal dari wacana menuju Gerakan, Eko Prasetyo,
Harga Rp 75.000
Insist Press
Kondisi Segel
Tersedia 1 buah

Jual Buku Kapitalisme Teori dan Sejarah Perkembangannya / Dede Mulyanto

Jual Buku Kapitalisme Teori dan Sejarah Perkembangannya, Dede Mulyanto, ResistBook,Kapitalisme Teori dan Sejarah
Dede Mulyanto
Harga Rp 50.000
Kondisi Seegel
Tersedia 1 buah

Jual Buku Lenin Untuk Pemula / Richard Appignanesi

Jual Buku Lenin Untuk Pemula, Richard Appignanesi, ResistBook,Buku Lenin Untuk Pemula, Richard Appignanesi,
Harga Rp 50.000
ResistBook,
Kondisi Segel
Tersedia 1 buah

Jual Buku Pijar Pijar Pemikiran Gramsci, oleh A Pozzolini

Jual Buku Pijar Pijar Pemikiran Gramsci, A Pozzolini, ResistBook,
Judul  Pijar-Pijar Pemikiran Gramsci
Harga Rp 65.000
Penulis A Pozzolini
Bahasa Indonesia
Penerbit Resist Book
Tahun 2006
Tebal xxv, 209hlmn
Ukuran 14 x 21 cm.
ISBN/ISSN 979 372 378 5

Sinopsis
Buku ini memaparkan dengan lengkap, sistematis, dan gamblang pikiran-pikiran Gramsci yg sering dianggap rumit, meliputi banyak hal, tapi brilian.

Jual Buku DAS KAPITAL untuk Pemula / David Smith

Jual Buku DAS KAPITAL untuk Pemula, David SmithBuku DAS KAPITAL untuk Pemula Rp 50.000

Jual Buku Fasisme, Penulis Hugh Purcell

Jual Buku Fasisme Hugh Purcell
Judul Fasisme
Harga Rp 45.000
oleh Hugh Purcell
Tebal :  142hlm
ISBN13 : 9789793723150
Terbit : Cet 2004
Bahasa : Indonesia
Penerbit: Resist Books

Deskripsi:
Jangan anti-fasisme dulu sebelum membaca buku ini! Karena menolak sebuah ideologi sepatutnya didahului dengan memahaminya. Inilah buku yang mengulas Fasisme, ideologi yang menyebarkan kengerian dan ketakutan abadi dalam sejarah masyarakat Eropa. Bicara Fasisme, tak dapat dilepaskan dari nama Hitler dan Mussolini. Dua tokoh kontroversial ini menghipnotis jutaan pengikut atas nama "keunggulan ras dan bangsa". Di sisi lain, mereka juga menuai korban terbunuhnya jutaan umat manusia. Pembunuhan massal yang mengiringi Fasisme, membuat ideologi ini dijauhi dan dibenci. Namun sesungguhnya, apakah Fasisme? Siapa sajakah yang termasuk pengikutnya? Buku ini mengajukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Dengan bahasa yang lugas serta gambar dan foto yang menarik, Anda akan memahami A sampai Z tentang Fasisme. Sehingga dengannya, lengkaplah modal Anda untuk bersikap: membenci atau mendukung Fasisme.