Tampilkan postingan dengan label Konsumerisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsumerisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2015

Jual Buku MASYARAKAT KONSUMSI. Penulis JEAN BAUDRILLARD.


















Judul MASYARAKAT KONSUMSI. Harga Rp 65.000
( Judul Asli:The Consumer Society: Myths and Structures by Jean Baudrillard, Chris Turner (Translator), George Ritzer, Sage Publication CA, 1998)
Penulis JEAN BAUDRILLARD.
Ukuran 16x23cm; 
Tebal 284hlm; 
Bahasa Indonesia 

Review by Lathifatuz zahra
Orang membeli baanrg bukan untuk di ambil manfaatnya melainkan untuk mode, gengsi, termakna iklan! Iklan di tv juga hanya menunjukkan citra dan gaya bagi pemakainya bukan guna suatu barang. Masyarakat membohongi diri sendri, seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan. Kenyataannya kita hidup pada negara berkembang bukan negara berkecukupan.
Buku ini adalah satu karya modern, buku ini memaparkan berbagai hal tentang konsumsi masyarakat, seperti :
status kajaiban konsumsi, dampak negativ,logika sosial,teori konsumsi dan memaparkan kehdupan konsumsi masyarakat luar ngeri. Dalam buku ini juga menjelaskan bahwa kebutuhan adalah buah dari produk dari sistem produksi.
Buku ini sangat tepat menjadi bacaan orang-orang dengan pemikiran kritis tentang ekonomi dan menambah pengetahuan pembaca mengenai konsumsi di negara berkembang dan negara maju
(2)Review by Che dl.

Sebuah buku karya Jean P Baudrillard, seorang pemikir berkebangsaan Perancis yang dipandang sebagai teoretisi sosial postmodern terkemuka. Seperti yang tertulis di cover belakang, Baudrillard membicarakan tentang budaya konsumsi masyarakat postmodern yang dipengaruhi oleh media kemudian menghubungkannya dengan kapitalisme global. Dalam buku ini, pemikiran Baudrillard yang radikal dikemas dengan bahasa yang provokatif & destruktif, karena memang itulah ciri dari Baudrillard. Pada bagian awal, buku ini cukup menarik. Tapi pada beberapa bagian akhir pemikiran-pemikiran Baudrillard terasa sedikit berlebihan & semakin pelik. Ditambah lagi terjemahan yang masih buruk membuat pembaca harus menebak-nebak & semakin sulit untuk menyelami pemikiran-pemikiran Baudrillard yang memang rumit. Mungkin membaca versi asli (Perancis) atau Inggrisnya akan lebih baik.

















Senin, 15 Juni 2015

Jual Buku Sosiologi Ekonomi Pengarang : Dr. Bagong Suyanto

Jual Buku Sosiologi Ekonomi, Pengarang : Dr. Bagong Suyanto
Judul Buku Sosiologi Ekonomi
Pengarang : Dr. Bagong Suyanto
Harga Rp 63.000
Penerbit : Prenada Media
Halaman : 304
Cetakan : I
Ukuran : 13,5X20,5 cm
Kondisi Baru

Deskripsi
Berbeda dengan sosiologi ekonomi klasik yang fokus pada studi aspek produksi dan relasi budaya dengan perilaku ekonomi masyarakat, sosiologi ekonomi kontemporer lebih meletakkan titik tekan perhatiannya pada kekuatan industri budaya dalam memengaruhi konsumerisme. Karena itu, sosiologi ekonomi kontemporer juga mempelajari perubahan sosial-budaya yang terjadi di era masyarakat pasca-industri


Daftar Isi
Bab I Sosiologi Ekonomi Kontemporer di Era Masyarakat Post-Modernisme
Bab II Teori Kritis: Pijakan Kajian Sosiologi Ekonomi di Era Post-Modernisme
Bab III Kapitalisme, Neoliberalisme dan Globalisasi
Bab IV Masyarakat Konsumen
Bab V Gaya Hidup (Life Style) dan Budaya Konsumen
Bab VI Globalisasi, Mcdonalisasi, dan Glokalisasi
Bab VII Komoditas dan Komodifikasi
Bab VIII Hiper-Realitas, Simulakra, dan Konsumsi dan Masyarakat Post-Modern
Bab IX Iklan, Gaya Hidup dan Perilaku Konsumsi
Bab X Waktu Senggang dan Konsumsi Berlebih
Bab XI Memahami Perubahan Perilaku Ekonomi Masyarakat Post-Indistrial: Catatn Penutup

Sabtu, 29 November 2014

Jual Buku McDONALDISASI MASYARAKAT Edisi ulang tahun ke-20 / George Ritzer

Jual Buku McDONALDISASI MASYARAKAT, Penulis : George Ritzer Edisi ulang tahun ke-20, Penerbit : Pustaka PelajarBuku McDONALDISASI MASYARAKAT
Penulis : George Ritzer .Harga : Rp. 75.000
Edisi ulang tahun ke-20
Penerbit : Pustaka Pelajar

Sinopsis :
Buku McDonaldisasi Masyarakat karya George Ritzer edisi ulang tahun ke-20 ini menjadi salah satu pilar pemikiran sosiologi modern. Dengan menghubungkan teori dengan budaya abad ke-21, buju ini beresonansi dengan para siswa melalui cara yang sedikit berbeda dibandingkan dengan buku lain, membuka mata mereka tentang berbagai masalah yang sedang berkembang, khususnya dalam bidang konsumsi dan globalisasi.

Seperti dalam edisi sebelumnya, buku ini telah diperbaharui dan menawarkan berbagai pembahasan baru, diantaranya, In-N-Out-Burger dan Pret A Manager sebagai antitesis McDonaldisasi. Namun demikian, perubahan terbesar adalah buku ini banyak disederhanakan untuk memberikan penjelasan lebih baik tentang tesis McDonaldisasi yang terkenal saat ini.

Kamis, 08 Mei 2014

Jual Buku Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia

Jual Buku Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop  dalam Masyarakat Komoditas Indonesia,  Penulis : Idi Subandy Ibrahim, Jalasutra,
Title / Judul : Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop
dalam Masyarakat Komoditas Indonesia
Harga Rp 85.000
TERJUAL 20/8/14
Penulis : Idi Subandy Ibrahim (ed.)
Cetakan : 2004
Tebal : 292 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-02-X
Kondisi stok lama
Deskripsi:

Mengapa kalau lapar ke McDonald’s, dan bila haus mesti minum Coca Cola? Mengapa shopping malls kian menjamur, sementara pasar-pasar tradisional mulai menusut? Mengapa produksi hand phone terus digenjot, sementara fasilitas telepon umum cenderung mandeg? Mengapa produksi mobil pribadi kian menderas sementara kendaraan umum senantiasa kekurangan? Gaya hidup, berikut simbol-simbolnya saat ini tengah mengguncang struktrur kesadaran manusia. Masyarakat cenderung terserap dalam keperkasaan kebudayaan pop yang kian hegemonik dengan segala atributnya. Gaya hidup telah menjadi komoditas, dan dalam menapaki kehidupannya, kebanyakan orang tamak lebih mementingkan “kulit” ketimbang “isi”.

Buku ini mencoba menunjukkan ada mesin besar “ideologi gaya hidup”, “ideologi waktu senggang”, “halusinasi haus kenikmatan”, dan mitologi penampilan diri yang mendorong manusia modern untuk terus mengonsumsi demi kehidupan yang “wah” dan penuh hura-hura. Gelombang kebudayaan pop dalam masyarakat komoditas Indonesia ditelusuri dari pelbagai sudut pandang oleh para pakar yang kompeten di bidangnya. Buku ini berguna bagi para pengkaji kebudayaan Indonesia, pemerhati industri hiburan, pengkaji sastra, dan seni populer, serta para dosen dan mahasiswa dalam disiplin komunikasi dan politik.
Resensi Buku:
Kebudayaan Massa di Tengah Masyarakat
oleh: Rimbun Natamarga
Idi Subandi Ibrahim pernah menyunting sebuah kumpulan tulisan tentang kebudayaan massa di Indonesia yang diberi judul Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia (Mizan, Bandung, 1997) sembari menanyakan keberadaan moralitas di dalamnya. Terlepas dari apapun moralitas yang dipertanyakan dalam produk-produk kebudayaan massa, dalam Lubang Hitam Kebudayaan (Kanisius, Yogyakarta, 2002) hasil penelitian Hikmat Budiman, generasi yang lahir dan tumbuh di dalam kebudayaan tersebut di Indonesia ini justru telah berperan penting menjatuhkan Suharto dari kekuasaannya pada tahun 1998. Generasi itu, dengan mengutip istilah Bre Redana, seorang wartawan Kompas, olehnya disebut sebagai “Generasi MTV.” Penerbit Jalasutra akhirnya menerbitkan kembali kumpulan tulisan tersebut. Ada 24 tulisan di dalamnya ditambah semacam “Kata Pengantar” oleh penyunting. Beberapa kontributor antara lain—dapat disebutkan di sini—Ariel Heryanto, Ashadi Siregar, Bre Redana, Clifford Geertz, Danarto, Darmanto Jatman, Jalaluddin Rahmat, Keith Foulcher, Kuntowijoyo, Marwah Daud Ibrahim, Masri Singarimbun, Sapardi Djoko Damono, Sarlito Wirawan Sarwono, Umar Kayam, dan Yasraf Amir Piliang. Kesemuanya itu dibagi dalam empat bagian, yakni “Budaya Massa atau Budaya Pop: Sebuah Pendahuluan,” “Budaya Media dan Budaya Citra,” “Budaya Simbolik dan Komodifikasi Gaya Hidup,” dan “Hegemoni Kesadaran dan Industri Budaya Kapitalisme.” Mengenai “kebudayaan massa”, ini adalah istilah kita untuk mass culture. Istilah Inggris ini konon berasal dari bahasa Jerman Masse dan Kultur. Sebenarnya istilah “kebudayaan massa” sendiri merupakan istilah yang mengandung nada mengejek atau merendahkan. Istilah ini merupakan pasangan dari high culture, “kebudayaan elite” atau “kebudayaan tinggi.” Biasanya, istilah “kebudayaan tinggi” diacukan tidak hanya ke berbagai jenis kesenian produk simbolik yang menjadi pilihan kaum elit terpelajar dalam masyarakat Barat, tetapi juga ke segala sesuatu yang ada kaitannya dalam pikiran dan perasaan mereka yang memilih jenis kesenian dan produk simbolik tersebut. Sebaliknya, “mass” atau “masse” mengacu ke mayoritas masyarakat Eropa yang tak-terpelajar dan non-aristokratik, terutama sekali masyarakat yang sekarang ini biasa kita sebut sebagai kelas menengah bawah, kelas pekerja, dan kaum miskin. Dengan demikian, jika “kebudayaan tinggi” dikaitkan dengan mereka yang “berbudaya”, yang elit dan terpelajar, maka istilah “kebudayaan massa” dianggap milik mayoritas masyarakat tak berbudaya dan tak-terpelajar. Dalam sosiologi, istilah “massa” mengandung pengertian kelompok manusia yang tak bisa dipilah-pilah, bahkan semacam kerumunan (crowd) yang bersifat sementara dan dapat dikatakan: segera mati. Dalam kelompok manusia yang seperti ini, identitas seseorang biasanya tenggelam. Masing-masing akan mudah sekali meniru tingkah laku orang-orang lain yang “sekerumunan.” Puncak dari tingkah laku mereka akan dilalui, katakanlah maksudnya selesai, apabila secara fisik mereka sudah lelah dan tujuan bersamanya tercapai. Begitu pula halnya dengan kebudayaan. Kebudayaan massa lebih kurang menunjuk pada berbagai produk dan praktek-praktek kultural yang melibatkan sekumpulan besar orang tanpa organisasi sosial, adat, tradisi, struktur peran dan status, tidak memiliki kompetensi dalam menilai kualitas suatu produk budaya, dan juga...berselera dangkal! Bagi mereka yang “terjerat” di dalamnya, produk-produk dari kebudayaan massa adalah komoditas yang semata-mata ditujukan untuk konsumsi, (dan celakanya) tanpa mereka sendiri memiliki kesanggupan untuk menolaknya—meskipun umur produk-produk itu relatif sementara. Bagaimana kita dapat mengenali produk-produk dan/atau praktek-prakteknya? Untuk mengenalinya, menurut Kuntowijoyo dalam tulisannya (“Budaya Elite dan Budaya Massa”), kita dapat lihat dari ciri-ciri yang selalu menyertainya. Sebab kebudayaan massa adalah akibat dari massifikasi. Adapun massifikasi sendiri, terjadi bila orang kebanyakan memakai simbol lapisan atas melalui proses industrialisasi dan komersialisasi dalam sektor budaya, sekalipun industrialisasi dan komersialisasi tidak selalu berarti negatif bagi budaya. Ciri pertama adalah objektivasi; artinya, pemilik hanya menjadi objek, yaitu penderita yang tidak mempunyai peran apa-apa dalam pembentukan simbol budaya. Ia hanya menerima produk budaya sebagai barang jadi yang tidak boleh berperan dalam bentuk apapun. Ciri kedua adalah alienasi; artinya pemilik budaya massa akan terasing dari dan dalam kenyataan hidup. Dengan demikian ia juga kehilangan dirinya sendiri dan larut dalam kenyataan yang ditawarkan produk budaya. Dan ciri ketiga (ciri terakhir) adalah pembodohan, yang terjadi karena waktu terbuang tanpa mendapatkan pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup yang berguna jika ia mengalami hal serupa. Senada dengan itu, Sapardi Djoko Damono dalam tulisannya (“Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil”) mengatakan bahwa, pada hakikatnya yang kita risaukan adalah kebudayaan massa ini yang, sebagai akibat dari semakin berkembangnya komunikasi, memang tak dapat dihindari. Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan kerisauan kita itu: (1) kebudayaan massa diproduksi secara besar-besaran berdasarkan perhitungan dagang belaka, (2) kebudayaan massa itu merusak kebudayaan tinggi dengan cara meminjam atau mencuri atau memperalatnya, (3) kebudayaan massa menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak, dan (4) penyebarluasan kebudayaan massa dianggap tidak hanya memerosotkan atau mengurangi nilai kebudayaan (tinggi) itu sendiri tapi juga menciptakan khalayak yang pasif yang sangat tanggap terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan, sehingga membuat peluang bagi munculnya totalitarianisme. Lantas, bagaimana kita mengenali produk-produk kebudayaan tinggi? Dalam kebudayaan tinggi, pemiliknya (1) tetap menjadi pelaku (subjek budaya); (2) tidak mengalami alienasi, dan jati dirinya tetap; serta (3) akan mengalami pencerdasan. Bahwa pemiliknya menjadi pelaku, artinya menjadi orang yang utuh, yang identitasnya tidak tenggelam dalam budaya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri dan ia pun berhak penuh untuk menafsirkan apa yang dialaminya. Ia tidak larut dalam objeknya, tetapi tetap menjadi subjek. Akibatnya, pemilik sekaligus pelakunya tidak mengalami alienasi. Ia akan merasa akrab dengan kehidupan, sebab disuguhkan realitas tanpa polesan. Karena menjadi pelaku yang utuh dan tak teralienasi, maka ia akan mengalami pencerdasan. Ia pun akan mendapatkan kebijaksanaan dan menjadi lebih pandai dari sebelumnya. Sayangnya, menurut Ashadi Siregar, istilah kebudayaan massa sering disaling-pertukarkan dengan kebudayaan pop(uler), termasuk oleh penyunting buku ini. Sebab, berdasarkan pandangan MacDonald yang dikutip Hikmat Budiman dalam Lubang Hitam Kebudayaan (hal.114) tadi, keduanya memiliki perbedaan yang sering tak disadari oleh banyak orang. Pembeda paling penting di antara keduanya tidak terutama terletak pada jumlah khalayak yang menerimanya, melainkan lebih pada motif di belakang produksi yang menghasilkan dua jenis produk budaya tersebut. Budaya massa jelas budaya yang semata-mata dan secara langsung merupakan objek untuk konsumsi massa, sedangkan budaya populer tak melulu hanya dikonsumsi massa tapi juga sering dikonsumsi oleh kalangan elit-terpelajar. Sebagai sebuah kumpulan tulisan, buku ini merupakan pengantar-memadai untuk mengenal kebudayaan massa berikut contoh-contohnya yang berkembang di Indonesia ini. Menariknya, contoh-contoh tersebut diberikan sekaligus dianalisis oleh para ahli di bidangnya. Misalnya, Clifford Geertz yang mengambil contoh “kesenian populer” dalam tradisi Jawa; Kuntowijoyo yang mengambil contoh pergeseran sensibilitas pers masa Orde Baru; Umar Kayam yang menggambarkan secara ringkas perkembangan kebudayaan massa dalam film, musik, seni pertunjukan, dan sastra; Marwah Daud Ibrahim, Danarto, Krishna Sen, dan Saraswati Sunindyo yang membahas citra wanita dalam berbagai media; atau Ashadi Siregar, Sarlito W. Sarwono dan Jalaluddin Rahmat yang mengangkat contoh gaya hidup anak muda sekarang ini; dan tak ketinggalan adalah Bre Redana serta Yasraf Amir Piliang yang membahas gaya hidup konsumerisme berikut motif di belakangnya.

Minggu, 30 Maret 2014

Jual Buku Jihad VS McWorld / Benjamin R Barber

Jual Buku Buku Jihad VS McWorld (Fundamentalisme,  Anarakisme Barat dan Benturan Peradaban)  Penulis Benjamin R Barber  Penerbit Pustaka Promethea Judul : Buku Jihad VS McWorld (Fundamentalisme,
Anarkisme Barat dan Benturan Peradaban) 
Harga Rp 90.000
Penulis Benjamin R Barber
Penerbit Pustaka Promethea
Tahun 2002
Kertas Hvs
Sampul Softcover
Dimensi 15x21
Tebal : liii+607 hlm
Kondisi Lawas, Bukan Bekas
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029
"Sebuah buku baru yang penting." (News Week)

"Mr. Barber adalah... Yang pertama kali menyandingkan Jihad dan McWorld bersama-sama dalam dialektika tak terhindarkan... Sebagai undangan yang berani untuk memperdebatkan kontur yang lebih luas serta masa depan dunia." (Barbara Ehrenreich, The New York Times Book Review)

* Benjamin R. Barber adalah Profesor Ilmu Politik di Universitas Rutgers dan Direktur pada 'Whitman Center for the Culture and Politics of Democracy.' Dia menulis sejumlah buku, termasuk buku ilmu politik klasik 'Strong Democracy' dan 'An Aristocracy of Everyone'. Bersama Patrick Watson, Barber juga menulis buku dan serial televisi yang memenangkan penghargaan 'The Struggle for Democracy'. Secara reguler Barber menulis untuk Harper's the Atlantic Monthly, dan banyak publikasi lainnya.

Jual Buku Belanja Sampai Mati / Alissa Quart

Jual Buku Belanja Sampai Mati, Alissa Quart, ResistBook Buku Belanja Sampai Mati
Penulis Alissa Quart
Harga Rp 38.000 TERJUAL
Penerbit ResistBook
Kondisi Stok lama
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029

Jual Buku Saya Berbelanja, Maka Saya Ada

Buku Saya Berbelanja, Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris, Haryanto SoedjatmikoJudul: Saya Berbelanja, Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris
Harga Rp 39.100
Penulis: Haryanto Soedjatmiko
Penerbit: Jalasutra,
Tahun : 2008
Tebal: 132 halaman
Kondisi: Bagus

Salah satu aktivitas paling penting yang membedakan manusia modern dengan pendahulunya yang primitif adalah belanja. Diakui atau tidak, pada masa ini, berbelanja tidak lagi merupakan aktivitas ekonomi demi pemenuhan kebutuhan saja. Berbelanja telah menjadi laku kultural yang memiliki kontribusi penting dalam pembentukan identitas kita sebagai makhluk sosial. Manusia kontemporer, suka atau tidak, adalah “manusia belanja”.
Jean Baudrillard pernah memaklumatkan hadirnya sebuah “masyarakat baru” yang ditandai dengan makin pentingnya makna konsumsi dalam kehidupan sosial. Alih-alih hanya merupakan tindak memenuhi kebutuhan, konsumsi adalah proses yang menandai diferensiasi dalam masyarakat. Baudrillard menyebut, di dalam sebuah “masyarakat konsumer”, konsumsi berperan sebagai sebuah “sistem diferensiasi” yang membeda-bedakan masyarakat ke dalam kategori-kategori tertentu.
Buku karya Haryanto Soedjatmiko ini merupakan studi tentang laku konsumsi dalam kebudayaan kontemporer. Studi Haryanto diawali dengan telaah tentang perkembangan proses konsumsi yang dikaitkan dengan tindak pemenuhan kebutuhan manusia sampai kemunculan konsumerisme sebagai cara hidup (a way of life).

Sejak awal abad 18 di Inggris, mulai tampak sebuah masyarakat yang lebih berorientasi pada kepemilikan benda-benda yang up to date daripada materi-materi yang tahan lama. Gejala ini dilihat Haryanto sebagai asal mula sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “konsumerisme”. Peningkatan kapasitas konsumsi masyarakat Inggris pada 1880-1980-an juga menjadi titik penting yang menandai penyemaian “budaya belanja” dalam masyarakat.

Setelah tahun-tahun itu, berbarengan dengan peningkatan teknologi dan pertumbuhan penduduk yang cenderung berkonsentrasi di daerah-daerah urban, daya belanja masyarakat terus bertambah. Secara khusus, setelah Perang Dunia II, sebuah pasar massa barang-barang konsumsi telah terbentuk. Sejak tahun 1980-an, seperti disampaikan Martyn J. Lee di dalam Consumer Culture Reborn (1993), telah terjadi perubahan global yang berakibat terbentuknya “budaya konsumsi”.
Sejumlah perubahan global yang disebut Martyn J. Lee menyebabkan maraknya perbincangan mengenai wacana konsumsi antara lain: (1) pertumbuhan teknologi komputer; (2) internasionalisasi perdagangan yang membuka pasar bebas antar negara; (3) kemajuan teknologi produksi imaji atau citra yang berpegang pada estetika bentuk; (4) perkembangan dalam sistem produksi yang membawa tambahan kemakmuran bagi kelas pekerja; dan (5) munculnya wacana posmodern dalam bidang seni dan akademik.
Pada perkembangan yang lebih lanjut, budaya konsumsi masuk ke dalam berbagai ranah sosial dalam masyarakat. Dalam buku ini, Haryanto menunjuk sejumlah ranah yang telah dimasuki oleh budaya konsumsi, seperti teknologi informasi, musik, dan olahraga. Perkembangan lebih jauh juga menunjukkan bahwa laku konsumsi atau belanja menjadi makin penting dalam relasi sosial manusia.
Mike Featherstone menyatakan, pada akhirnya konsumsi secara alamiah akan membentuk identitas bagi tiap individu dalam masyarakat. Pada masa sekarang, perbedaan dalam aktivitas berbelanja memang bisa mengakibatkan diferensiasi identitas antarindividu. Mereka yang membeli produk mewah tentu akan memiliki identitas berbeda dengan orang yang hanya mampu mengonsumsi produk kelas bawah. Seperti judul buku ini, berbelanja memang menjadi sebuah aktivitas yang bisa menegaskan eksistensi kita sebagai manusia. Kita berbelanja maka kita ada!

Paradoks
Salah satu yang paling menarik dari buku ini adalah telaah mengenai paradoks yang terkandung dalam konsep konsumerisme. Pada mulanya, konsumerisme berkaitan dengan sebuah upaya untuk ikut menyertakan pandangan para konsumen terhadap proses produksi barang. Dalam The Concise Oxford Dictionary, term konsumerisme diartikan sebagai “perlindungan kepada minat para konsumen terhadap produsen”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti nomor satu konsumerisme adalah “gerakan/kebijakan melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan”.
Dilihat dari sisi ini, konsumerisme menawarkan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk yang mereka sukai sekaligus memberikan pendapat pada produsen tentang barang yang mereka inginkan. Namun dalam praktiknya, wacana kebebasan yang disuarakan oleh konsumerisme tahap awal ini hanyalah sebuah retorika. Secara substansial, kebebasan konsumen tak pernah benar-benar ada. Haryanto mengatakan, para konsumen lebih sering digiring kepada sebuah tujuan yang telah ditetapkan oleh para produsen.
Alih-alih memenuhi keinginan para konsumen tentang produk yang mereka inginkan, para produsen lebih sering melakukan “pendiktean” terhadap konsumen tentang produk apa yang seharusnya mereka beli. Salah satu aspek penting dari upaya “pendiktean” ini adalah dengan melakukan pembaharuan terus-menerus dalam hal desain produk. Haryanto menyebut, perkembangan teknologi desain produk menjadi salah satu faktor kunci perkembangan konsumerisme.
Sebagai sebuah pengantar, buku ini bisa membawa kita menjelajahi sejumlah tema berkait dengan konsumsi dan konsumerisme. Meski masih belum bisa disebut komprehensif, paling tidak karya ini membuat kita sadar bahwa aktivitas berbelanja pada masa ini ternyata memiliki peran yang cukup signifikan dalam kehidupan kita. Berbelanja bisa menjadi sebuah aktivitas penegasan identitas dan eksistensi. Kita berbelanja maka kita ada!


Jual Buku Posmodernisme dan Budaya Konsumen / Mike Featherstone

Buku Posmodernisme dan Budaya Konsumen, Penulis  Mike FeatherstoneBuku Posmodernisme dan Budaya Konsumen
Penulis  Mike Featherstone
Harga Rp 50.000
Penerbit Pustaka Pelajar
Kondisi Baru
Minat please sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029

Sabtu, 29 Maret 2014

Jual Buku Generasi MTV / Dadang Rusbiantoro

Jual Buku Generasi MTV, Penulis Dadang Rusbiantoro
Judul buku : Generasi MTV
Penulis : Dadang Rusbiantoro
Harga Rp 30.000
Penerbit : Jalasutra, Bandung
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 203 halaman
Kondisi Stok lama


Di New York, 8 Desember 1980, sebuah kegemparan terjadi. Mark David Champman, seorang penggemar berat The Beatles, menembak John Lennon. Champman memuntahkan peluru pistolnya berkali-kali ke arah Lennon sampai vokalis The Beatles itu meninggal dunia.

Pada psikiaternya, Champman menjelaskan alasannya melakukan pembunuhan mengerikan itu. Kata Champman, ia merasa dirinya sebagai John Lennon. Dalam seluruh kehidupannya, Champman memang mengidentifikasi dirinya dengan Lennon. Bahkan, saat diminta menuliskan namanya, Champman menuliskan “John Lennon” sebagai namanya. Pembunuhan itu dilakukannya karena ia merasa tak mungkin ada dua John Lennon di dunia. Hanya boleh ada satu John Lennon di dunia, kata Champman, sehingga dengan terpaksa Lennon yang asli dibunuhnya.

Jean Baudrillard menyebut fenomena Champman yang mengidentikkan dirinya dengan John Lennon, sebagai “fatalitas”: sebuah fenomena di mana seorang fans terlalu mencintai ikon pujaannya menuju ke titik ekstrem sampai melampaui batas dan menyalahi logika. Ketika kecintaan seorang fans pada ikon pujaan telah melebihi batas logika, yang terjadi adalah penghancuran diri sang fans sekaligus sang idola. Pembunuhan Lennon oleh Champman membuktikan tesis ini.

Bagi Dadang Rusbiantoro, penulis buku ini, apa yang terjadi pada Champman bisa saja berulang pada jutaan anak muda di dunia. Pengidentikkan diri pada seorang musisi, menurut Dadang, adalah sebuah fenomena yang umum terjadi, terutama setelah kemunculan sebuah saluran televisi bernama Music Television (MTV). Buku Generasi MTV merupakan sebuah telaah kritis yang mencoba menghubungkan kemunculan dan penyebaran MTV ke seluruh dunia dengan “krisis identitas” yang terjadi pada anak-anak muda seperti yang dialami Champman.

Dadang mengawali pemaparannya dengan menjelaskan sejarah kemunculan budaya populer pada 1960-an di Amerika Serikat. Pada kala itu, budaya populer terutama ditandai dengan munculnya sejumlah gerakan politik dan budaya tanding yang mencoba keluar dari norma-norma kemasyarakatan yang baku. Sejumlah kelompok seperti Kaum Hippie yang menolak perang Vietnam dan Student for Democratic Society (SDS) yang merupakan gerakan politik kiri para remaja Amerika Serikat, menandai era tersebut.

Yang menarik, semua gerakan politik dan budaya tanding kala itu menggunakan musik sebagai sarana mengekspresikan perlawanannya. Dadang mencatat, sejumlah festival musik legendaris digelar sebagai sebentuk protes sosial, seperti festival musik Summer of Love dan The Woddstock Music and Art Festival. Pada era inilah dimulai sebuah pertautan penting antara musik, gaya hidup, dan identitas. Musik bukan sekadar lantunan tembang hiburan, tapi juga sebuah ekspresi dari budaya tertentu. Para musisi kala itu bukan hanya menyanyikan lagu tapi juga memiliki gaya pakaian dan pola hidup tertentu yang juga diduplikasi oleh fans mereka. Duplikasi itu merupakan sebuah upaya penegasan identitas.

TV Kebudayaan
MTV mulai dirintis sejak 1977 dan resmi mengudara pada 1981. Pada mulanya, format siarannya masih mencontoh siaran Top 40 di radio. Ketika diambilalih raksasa media Viacom, MTV mulai melakukan banyak inovasi yang membuat ratingnya naik. Sumner Redstone, pemilik Viacom, mengatakan bahwa MTV bukan hanya saluran “TV musik” tapi juga “TV kebudayaan”. Pernyataan Redstone ini menunjukkan niatan MTV untuk tidak hanya memperkenalkan musik tapi juga mengintrodusir “sebuah kebudayaan” bagi para pemirsanya.

Kemunculan MTV membuat para anak muda bisa melihat musisi pujaannya secara langsung dari kotak kaca televisi. Namun, mereka bukan hanya melihat video klip musik, tapi juga menyaksikan gaya hidup para idola mereka. Pada perkembangannya, MTV tidak hanya menyajikan video musik tapi juga acara reality show dan talk show yang mengupas gaya pakaian dan gaya hidup para musisi. Jadi, persis yang dikatakan Redstone, MTV tidak hanya memberi musik, tapi juga mendiktekan “sebuah kebudayaan”.

Menariknya, seringkali para musisi yang sebelumnya diidentikkan dengan perlawanan terhadap kemapanan dan kapitalisme serta identik dengan budaya minoritas tertentu, pada akhirnya toh masuk juga ke MTV. Begitu masuk ke MTV, musik mereka berhenti menjadi ekspresi perlawanan. Gaya pakaian para musisi itu yang sebenarnya juga merupakan sebentuk perlawanan, pada akhirnya direproduksi sebagai komoditas dalam dunia fesyen.

Dalam literatur kajian budaya, fenomena ini disebut sebagai “inkorporasi”: suatu proses sosial dimana kelas yang dominan mengambil elemen-elemen kebudayaan kelas subordinat dan menggunakannya untuk memperkuat status quo. (Antariksa; 2000). Musik dan gaya hidup yang telah kehilangan aura perlawanannya itulah yang disebarkan MTV ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Para remaja Indonesia yang melihat grup musik Nirvana, misalnya, mungkin akan tertarik pada musik dan gaya pakaian grup band itu. Tapi mereka tak akan paham bahwa pada awalnya aliran musik dan gaya pakaian Nirvana merupakan ekspresi perlawanan tertentu. Gaya pakaian Nirvana mungkin ditiru, tapi tanpa pemahaman akan ideologi di balik pakaian itu.

Terlepas dari persoalan itu, menurut Dadang, penyebaran MTV ke seluruh dunia memang akan menimbulkan problem identitas bagi kaum muda. Kaum muda rawan menjadi “pembebek” bagi gaya hidup para ikon yang datang dari luar. Secara khusus, di bagian akhir buku ini, Dadang mencoba menyarankan sejumlah “strategi kebudayaan” guna menangkal pengaruh buruk MTV di Indonesia.

Sayangnya, refleksi tentang “strategi kebudayaan” itu terlalu terburu-buru dan terkesan tidak tuntas. Diperlukan perenungan lebih dalam dan pengkajian lebih luas untuk mencegah bersemainya pengaruh buruk dari ekspansi kebudayaan global di Indonesia.

Haris Firdaus


Jumat, 28 Maret 2014

Ketika Kapitalisme Berjingkrang /George Ritzer

Ketika Kapitalisme Berjingkrang
Penulis George Ritzer
Harga Rp 50.000
TERJUAL

Jual Buku Budaya Konsumen Terlahir Kembali

Title Judul: Budaya Konsumen Terlahir Kembali
Penulis Martin J Lee
Penerbit: Kreasi Wacana, 2006
Tebal :xvi + 328 hlm
Dimensi : 14x21cm
ISBN: 979-3722-71-1
Kondisi : Baru
Harga Rp 45.000

Order: sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 3300A029