Tampilkan postingan dengan label Penerbit Teraju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Teraju. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juli 2015

Jual Buku Nalar kemanusiaan nalar perubahan sosial; Piet H. Khaidir.

Jual Buku Nalar kemanusiaan nalar perubahan sosial; Piet H. Khaidir.Judul Nalar kemanusiaan nalar perubahan sosial; Piet H. Khaidir. Harga Rp 55.000
Edisi Editor Rifma Ghulam Dzaljad
ISBN/ISSN
Pengarang Dzaljad, Rifma Ghulam - Personal Name
Bahasa Indonesia
Penerbit Mizan Publika
Tahun Terbit 2006
Tempat Terbit Jakarta
Deskripsi Fisik xxv, 370 hal

Jumat, 03 Juli 2015

Jual Buku NALAR Kemanusiaan NALAR Perubahan Sosial Piet H Khaidir

Jual Buku NALAR Kemanusiaan NALAR Perubahan Sosial Piet H KhaidirJudul Buku NALAR Kemanusiaan NALAR Perubahan Sosial
Piet H Khaidir, Harga Rp 55.000
Edisi Editor Rifma Ghulam Dzaljad
ISBN/ISSN
Editor Dzaljad, Rifma Ghulam - Personal Name
Bahasa Indonesia
Penerbit Teraju
Tahun Terbit 2006
Tempat Terbit Jakarta
Tebal 395hal
Kondisi Baru, stok lama

Jumat, 26 Juni 2015

Jual Buku Plato Not Prozac, Berfilsafat sebagai Terapi Praktis Persoalan Sehari hari

Jual Buku Plato Not Prozac, Berfilsafat sebagai Terapi Praktis Persoalan Sehari hari
Judul Plato Not Prozac
Penulis: LOU MARINOFF
Harga  Rp 75.000(Judul Asli : Plato Not Prozac; Applying Philosophy to Everyday Problems)
Penerjemah : Kris Panggabean
Penerbit : Teraju ,
Tahun : Cet I / Desember 2003
Tebal  : 412hlm, Ukuran :16 x 23 cm,
Berat :570gram, Soft Cover, Isi HVS
Kondisi : stok lama, Bagus,agak lusush,bukan bekas

Sinopsis :
Bertolak dari keyakinan Socrates bahwa hidup yang bermakna memerlukan pemeriksaan filosofis, Lou Marinoff mencoba menyusun buku ini sebagai buku suci filsafat praktis. Filsafat yang mencoba bersiang dengan psikologi sebagai ilmu terapeutis.

Buku ini menandai gerakan kembali ke semangat filsafat klasik yang memandang berfilsafat lebih sebagai seni kehidupan. Bukan semata-mata teoretisasi abstrak yang jauh dari kehidupan. Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun yang percaya akan khasiat tersembunyi filsafat bagi kehidupan sehari-hari.

Selasa, 23 Juni 2015

Jual Buku Filsafat Itu heboh, oleh Stephen Law

Jual Buku Filsafat Itu heboh, Belajar Filsafat Itu Menyenangkan, Stephen Law,Filsafat Itu heboh, Belajar Filsafat Itu Menyenangkan
Stephen Law,
Teraju, Langka Rp 54.000 BOOKED
Kondisi Stok Lama, agak lusuh sampulnya

Jumat, 12 Juni 2015

Jual Buku Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat, Anas Urbaningrum

Jual Buku Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat,  Anas UrbaningrumBuku Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat,
Anas Urbaningrum
Harga Rp 65.000 TERJUAL
(Jakarta: Teraju), 2009
Kondisi : stok lama, Segel

Anas Urbaningrum adalah salah satu intelektual muda yang menuangkan gagasan, pemikiran tentang demokrasi produktif, dalam buku-nya “Takdir Demokrasi”. Ia mengatakan berbagai tantangan dan masalah nyata yang dihadapi negara-negara demokrasi adalah ruang, kesempatan dan sekaligus tuntuan bagi demokrasi untuk selalu adaptif, kenyal dan menawarkan solusi. Itulah ruang dialog antara sistem demokrasi dan realitas. Nilai–nilai demokrasi harus diterjemahkan untuk menjawab tantangan nyata. Karena demokrasi di Indonesia harus terus-menerus disempurnakan. Selain memang usia demokrasi kita masih muda, demokrasi di Indonesia belum menemukan bentuk yang mendekati cita-cita reformasi. Karena itu, kreativitas praktik dilapangan menjadi salah satu kunci dari keberhasilan. Berdasarkan kondisi tersebut Anas urbaningrum menawarkan poin-poin gagasan untuk menyempurnakan demokrasi.

Pertama adalah kesediaan untuk berfikir luas dan jangka panjang. Perbaikan undang-undang politik yang mendukung bangunan demokrasi yang makin baik dan produktif hanya bisa berjalan jika semua pihak (terutama partai politik) mampu melampaui kepentingan sendiri-sendiri. Sistem kepartaian yang makin sederhana dan sistem pemilu yang akuntabel. Kepentingan parsial partai dan golongan harus mampu ditempatkan di belakang. Karena demokrasi yang ideal adalah mengandalkan suatu kondisi masyarakat yang memiliki kematangan dalam berpolitik, memiliki penilaian yang baik, dan tentu saja mendahulukan tuntutan-tuntutan kesejahteraan umum daripada kepentingan-kepentingan pribadinya.

Kedua, kesediaan untuk bekerja amat keras untuk mendekatkan (bahkan mengawinkan) kemakmuran politik demokrasi dengan kemakmuran ekonomi. Reformasi telah mengusir tekanan politik negara otoritarian terhadap masyarakat politik. Kebebasan demikian nyata dan sangat berkelimpahan. Rakyat pun merasakan kebebasan tersebut. Kemakmuran politik inilah yang harus menjadi modal dasar bagi kerja keras untuk mengusir tekanan ekonomi yang masih dirasakan oleh rakyat miskin. Karena kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi sangat jelas berpengaruh secara langsung terhadap seluruh lapisan masyarakat. Modernisasi yang dijalankan pun haruslah berorientasi pada tujuan mencapai kesejahteraan rakyat. Karena demokrasi yang berkualitas, tentu bukan demokrasi yang hanya menekankan pada keberhasilan proses formal demokrasi seperti pemilu atau pilkada. Kualitas dan kesuksesan demokrasi hanya bisa ditakar dari sejauh mana para penyelenggara negara mampu mengutamakan pembangunan sosial-ekonomi yang berkeadilan dan mensejahterakan rakyat serta mewujudkan demokrasi menjadi jendela, fikiran, batin, jiwa dan tindakan sehari-hari seluruh masyarakat.

Ketiga, kesediaan para aktor demokrasi untuk menjadi teladan nyata. Bahkan keikhlasan untuk belajar dari rakyat banyak. Para pelaku utama harus lebih matang ketimbang pemain pembantu. Dendam tak berkesudahan dan memutus silaturahmi hanya karena kalah, hal-hal yang seperti itu mutlak harus dijauhkan dari praktik demokrasi. Para elit perlu bercermin dari sikap para pendukung yang sudah akur kembali dalam pergaulan sehari-hari, walaupun mereka sangat fanatik. Upaya untuk benar-benar berhasil membangun etika dan moralitas politik yang sebangun dengan tuntutan sistem politik demokratik.

Prasayarat penting yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan itu adalah pentingnya dibangun kebudayaan dan kepribadian politik demokratik yang meliputi elemen-elemen yaitu inisiatif rasional politik, kesantunan politik, disposisi reprositas toleransi, fleksibilitas dan open minded, komitmen kejujuran, serta keterbukaan. Oleh karena itu etika politik menjadi penting. Sejatinya para elit harus menjadi contoh yang baik untuk selalu menebar, menanam norma-norma etika politik kepada masyarakat, karena pengertian berpolitik bukan mengajarkan memperebutkan kekuasaan namun penghayatan moral dan etika politik yang mengedepankan pengorbanan altruistik untuk bangsa dan negara. Karena di pentas dan panggung politik, etika politik sepertinya sudah lama “tiarap”.

Etika politik hanya menjadi academic exercise yang menarik dibicarakan dalam konteks akademis di bangku kuliah. Realitas nya sekarang ini, etika politik sekedar pemanis bibir saja. Kompetisi politik tereduksi hanya pada persoalan kalah dan menang dalam meraih jabatan kekuasaan politik. Padahal jelas, politik tanpa etika hanya akan melahirkan sinetron demokrasi, yang hanya menyuguhkan kebohongan dan janji-janji kosong para demagog yang jelas-jelas mengancam demokrasi. Padahal etika dalam politik akan memberikan jaminan bahwa politik itu ada untuk meningkatkan harkat martabat sekaligus meninggikan akhlak bangsa.

Memperbaiki sistem, bukanlah persoalan politik belaka, betapa sistem di-ubah, diganti, tetap saja problem tak kunjung tuntas teratasi selama kita belum mau dan belum mampu membenahi etika berbangsa dan bernegara. Hal ini mengisyaratkan bahwa upaya perbaikan kondisi bangsa ini haruslah memperhatikan fakta bahwa krisis ini bertalian erat dengan krisis etika dan moralitas. Mengingat awal mula gagasan demokrasi itu lahir melalui penghadapan antara cita-cita dan realitas. Dimana ia merupakan suatu struktur makna dari perilaku dan perbuatan ide demokrasi bertolak dari kesadaran akan perlunya corak masyarakat yang demokratis. Karena etos demokrasi adalah sesuatu yang dipelajari dan bukan diwariskan. Artinya, untuk mencapai demokrasi produktif tidak hanya difahami dalam tatanan kognitif saja. Melainkan harus mempraktekan dalam perbuatan masyarakat.

Nilai-nilai demokrasi jika tumbuh dan berkembang dalam prilaku keseharian warga negara maka akan mendorong perkembangan demokrasi yang produktif, demokrasi yang mapan (established democracy). Sebaliknya, jika nilai etika dan moraliitas demokrasi tersebut tidak dikembangkan, maka demokrasi berada dalam keadaan yang rentan (fragile democracy). Kembali mengutip tulisan Anas Urbaningrum dalam bukunya “Takdir Demokrasi”, menanam pastilah bukan egois sebaliknya adalah tindakan altruis. Menanam sepragmatis apapun, pasti bermakna perduli kepada orang lain. Bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, kelompok sendiri, generasi sendiri. Menanam adalah amal shalih dari kebijakan yang mampu menggerakan dinamika sejarah.(Dewo Nitisastra)

Jumat, 22 Mei 2015

Jual Novel Radhamanthus, oleh Nafta S. Meika.


Jual Novel Radhamanthus,  Nafta S. Meika.
Radhamanthus
Novel Sains: Radhamanthus,
Nafta S. Meika.
Harga Rp 50.000
Penerbit Teraju
Tebal
Ukuran 14x21cm
Kondisi : stok lama, lumayan, halaman lengkap, kertas agak lembab

Senin, 27 April 2015

Selasa, 14 April 2015

Jual Buku Psikologi Kritis, metanalisis Psikologi Modern, Dennis Fox

Jual Buku Psikologi Kritis, metanalisis Psikologi Modern, Dennis Fox
Buku Psikologi Kritis: Metaanalisis Psikologi Modern
Harga Rp 65.000
Editor: Dennis Fox & Isaac Prilleltensky
Penerbit: Teraju
Terbit : 2005
Tebal: 434 halaman
Kondisi: Stok lama, isi utuh, lusuh, halaman lembab,
Terseda 1 buah

Psikologi kritis adalah "payung" terbaru untuk sedemikian banyak kritisme dalam psikologi. Dengan berbagai temuan teori-teori kritis, cultural studies, dan sumbangan psikologi itu sendiri, para penganjurnya mengupayakan apa yang disebut sebagai "metaanalisis" psikologi personal, institusi sosial, dan metodologi dalam psikologi itu sendiri. Pendekatan-pendekatan baru ini antara lain banyak mengkritik ilmu psikologi karena dianggap mendukung lembaga sosial yang melanggengkan ketidakadilan dan memajukan keegoisan dengan mencoba mendobrak tradisi status quo dalam wilayah psikologi. Isinya yang provokatif diharapkan dapat merangsang refleksi kritis para psikologi yang tidak terbiasa membaca jurnal yang mengkritik asumsi dan norma dasar psikologi.

Buku pengantar yang sangat komprehensif karena memuat banyak ruang lingkup dalam psikologi, seperti etika, moral, politik dan psikologi sebagai ilmu pengetahuan. bagian lain yang juga menarik dalam buku ini ialah mengenai perdebatan dan pengaruh antardisiplin ilmu pengetahuan yang semakin tiada batas dan kompleks.

Isaac Prilleltensky adalah Associate Professor Psikologi di Wilfrid Laurier University. Watrloo, Ontario, dan anggota Division of Community Psychology pada American Psychologycal Association. Menaruh perhatian pada bidang konsekuensi sosial, moral, dan politik dari teori dan politik psikologi. Buku lain yang ia tulis ialah The Moral and Politics of Psychology: Psychological Discourse and The Status Quo.

Dennis Fox adalah Associate Professor Psikologi di University of Illinois, Springfield dan pendiri Radical Psychology Network. Selain mengajar, aktif menulis hal-hal yang berkaitan dengan psikologi di blog pribadinya. Saat ini juga aktif dalam kegiatan politik.

"Menurut berbagai perspektif psikologi: psikologi feminis psikologi sosial, teori-teori kritis, posmodernisme, hermeneutika, dan psikologi diskursif. Wajib dijadikan panduan perkuliahan bagi mereka yang tertarik dengan wacana-wacana kritis dalam psikologis.
British Journal of Educational Psychology

Daftar Isi
Pengantar Menuju Psikologi Kritis: Nilai, Asumsi, dan Status Quo------1
Isaac Prilletensky dan Dennis Fox

Repolitisasi Sejarah Psikologi------31
Benjamin Harris

Teori Kritis, Posmodernisme, dan Hermeneutika: Wawasan untuk Psikologi Kritis------55
Frank C Richardson dan Blaine J Fowers

Teori-Teori Kepribadian: Ideologi dan yang Melampaui------91
Tod Sloan

Psikologi Abnormal dan Klinis: Politik Kegilaan------121
Rachel T Hare-Mustin dan Jeane Marecek

Psikologi Sosial: Krisis Berlanjut------153
S Mark Pancer

Kritik atas Psikologi Perkembangan----179
Erica Burman

Psikologi Politik: Suatu Perspektif Kritis----209
Maritza Montero

Psikologi Feminis----229
Sue wilkinson

Memahami dan mempraktikkan Psikologi Kritis----263
David Nightingale dan Tor Neilands

Psikologi Diskursif-----293
Ian Parker

Perspektif Kritis atas Psikologi Kritis: Suatu Pertanyaan Pendalaman----321
Julian Rappaport dan Eric Stewart

Selasa, 13 Januari 2015

Jual Buku Demokrasi Religius, Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais, OLEH Idris Thaha

Jual Buku Demokrasi Religius, Idris Thaha, Teraju,
Judul Buku: Demokrasi Religius: Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais;
Penulis: Idris Thaha;
Harga Rp 59.000
Penerbit: Penerbit Teraju, PT Mizan Publika;
Cetakan Pertama: Februari 2005;
Jumlah Halaman: xxi + 356;
Ukuran Buku: 14 x 20 cm.

REVIEW: Buku ini berusaha menggali pemikiran dua tokoh besar Islam di Indonesia, yakni Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais, mengenai hubungan antara Islam dan demokrasi di Indonesia. Pembahasan ini tentu tidak terlepas dari tiga variabel penting yang saling berkaitan, yakni Islam, demokrasi, dan Indonesia. Mengenai kaitan antara dua variabel pertama—Islam dan demokrasi—telah banyak melahirkan diskursus dan perdebatan di kalangan para ulama dan intelektual Muslim di seluruh dunia. Di antara kelompok Muslim ada yang menerima demokrasi, ada pula yang menolaknya, serta ada yang menerima dengan beberapa catatan. Sedangkan dalam konteks Indonesia, ketiga model hubungan tersebut—menerima, menolak, dan menerima dengan catatan—juga sama-sama hidup dan berkembang. Dalam konteks inilah penulis buku ini merasa curious untuk mengetahui di manakah posisi Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais di antara ketiga model tersebut. Bagaimanakah pemikiran dan pandangan kedua tokoh ini mengenai Islam dan demokrasi dalam kaitannya dengan praktik kehidupan politik bangsa Indonesia, tempat mereka hidup dan tinggal. Melalui buku inilah penulis berusaha mengemukakan jawaban-jawabannya.

Penulis membagi buku ini ke dalam enam bab. Bab pertama adalah pembukaan yang berisi pengantar menuju wacana. Bab kedua membahas tentang demokrasi dan sistem Syura dalam Islam. Selanjutnya, dalam bab ketiga penulis menyajikan pembahasan mengenai biografi pemikiran dan aksi politik kedua tokoh. Bab keempat membahas praktik demokrasi di Indonesia, serta pandangan kedua tokoh terhadapnya. Pada bab kelima penulis menjelaskan pemikiran politik kedua tokoh mengenai Islam dan demokrasi. Bab terakhir adalah kesimpulan. Dalam bab ini penulis menyajikan pemikiran kedua tokoh mengenai apa yang disebutnya sebagai “demokrasi religius” ala Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais yang patut diterapkan dalam kehidupan politik-pemerintahan bangsa Indonesia.

Terkait dengan demokrasi, penulis menjelaskan bahwa sebenarnya sistem ini, baik pemikiran teoretis maupun praktiknya, telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Tokoh-tokoh demokrasi Yunani Kuno yang dikenal dalam dunia pemikiran politik kala itu antara lain adalah Solon (638-558 SM), Kleitheus, Periclus (490-429 SM), dan Demosthenes (383-322 SM). Lebih jauh, praktik kehidupan politik-pemerintahan pada masa itu juga telah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Pada masa pemerintahan Periclus misalnya, semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum, terlibat dalam merumuskan kebijakan publik, serta jaminan akan kebebasan berbicara bagi seluruh rakyat (hlm. 20).

Kemudian pada abad-abad pertengahan, pemikiran dan praktik demokrasi juga mulai masuk dan berkembang di negara-negara Eropa. Ini tidak terlepas dari dua peristiwa penting yang terjadi kala itu, yakni Renaissance (1350-1600) dan Gerakan Reformasi (1500-1650). Renaissance merupakan aliran yang berusaha menghidupkan kembali minat kepada kesusasteraan dan kebudayaan Yunani Kuno. Sedangkan Reformasi adalah aliran yang menyerukan kebebasan beragama dan pemisahan yang tegas antara kekuasaan agama (Gereja) dan Negara. Kedua aliran inilah yang mengantarkan Eropa Barat kepada masa Aufklarung (Abad Pemikiran), liberalisme, serta rasionalisme pada tahun 1650-1800. Lahirlah pada masa-masa ini tokoh-tokoh demokrasi seperti John Lucke, Baron de Montesquieu, dan Jean Jacques Rosseau. Montesquieu adalah pencetus pemikiran Trias Politica, yaitu pemisahaan kekuasaan secara tegas antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Meskipun para ahli berbeda pendapat mengenai definisi demokrasi, namun penulis mengemukakan bahwa ciri khas yang paling fundamental dalam demokrasi adalah keterlibatan warga negara dalam pengambilan keputusan politik. Sedangkan prasyarat yang harus ada sebagai indikator penerapan demokrasi secara empirik adalah: akuntabilitas, rotasi kekuasaan, rekrutmen politik secara terbuka, pemilihan umum, serta jaminan hak-hak dasar bagi seluruh warga negara (hlm. 33).

Jika Barat mempunyai demokrasi, maka Islam juga mempunyai Syura yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan demokrasi. Syura (musyawarah) dalam Islam merupakan mekanisme untuk mengambil keputusan atau kebijakan yang terbaik dengan cara mempertimbangkan saran-saran yang ada, serta melibatkan komponen-komponen yang terdapat dalam masyarakat. Syura berasal dari tradisi Arab pra-Islam yang kemudian dilestarikan oleh Islam dengan beberapa perubahan, termasuk landasan teologisnya. Kemudian, sistem ini dipraktikkan oleh Rasulullah dan para Khulafa’ al-Rasyidin pengganti beliau terkait dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan pengelolaan pemerintahan. Landasan hukum dari Syura adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena banyaknya manfaat yang terkandung dalam Syura,  penulis berpendapat bahwa pelakanaan Syura merupakan kewajiban bagi setiap manusia, terutama bagi para pemimpin (hlm. 37-38).

Seiring dengan masuknya pemikiran dan budaya Barat ke negara-negara Muslim, maka pemikiran dalam bidang politik-pemerintahan berupa demokrasi juga turut masuk ke negara-negara yang berpenduduk Muslim tersebut. Dalam menyikapi demokrasi, para intelektual Muslim mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Kelompok pertama disebut penulis sebagai golongan ‘konservatif’, di mana mereka menolak keterpaduan antara Islam dan demokrasi. Kelompok kedua adalah golongan ‘liberal’, yang berpandangan bahwa Islam dan demokrasi memiliki keterkaitan yang erat dan berdampingan. Kelompok ketiga adalah golongan ‘moderat’, yang mencoba mencari titik temu antara kedua kelompok sebelumnya dengan mengemukakan adanya persamaan dan perbedaan antara Islam dan demokrasi. Terlepas dari perbedaan pendapat ketiga kelompok tersebut dengan segala argumentasinya, secara substansial demokrasi dan Islam memang memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya antara lain adalah: jaminan atas hak-hak dasar tertentu dalam perpolitikan, kedudukan yang sama di hadapan UU, kebebasan berpikir dan berkeyakinan, keadilan sosial, d.l.l. Sedangkan perbedaannya terletak pada: konsep ‘bangsa’ dalam demokrasi dan konsep ‘ummah’ dalam Islam, tujuan akhir keduanya, serta pemegang otoritas kekuasaan tertinggi. Demikian dikutip oleh penulis dari Dhiya’ al-Din Rais (hlm. 50).

Dalam bab tiga, penulis membahas tentang sejarah hidup dan latar belakang pendidikan yang mendasari pemikiran dan aksi politik Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais. Nurcholish Madjid lahir dan beranjak remaja di kalangan tradisionalis. Dia pernah mengenyam pendidikan dasar di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama (NU), selama beberapa tahun (hlm. 71). Ayahnya adalah seorang kyai ternama yang pada waktu belajar di Pesantren merupakan murid kesayangan K.H. Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU. Meskipun demikian, Nurcholish Madjid juga mengenyam pendidikan modern, yakni di Pesantren Modern Gontor, Ponorogo. Pemahaman tentang nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran modern juga didapatkan Nurcholish ketika studi di IAIN Jakarta, serta di University of Chichago, Illinois, A.S.  Latar keluarga dan pendidikan awal yang tradisionalis, serta pemahaman terhadap nilai-nilai modernitas di tingkat lanjut itulah yang membentuk karakter pemikiran Nurcholish Madjid mengenai keislaman dan modernitas.

Selain itu, Nurcholish Madjid juga memiliki sederet pengalaman yang panjang dalam mengelola organisasi, baik dalam ranah kemahasiswaan, intelektual-akademik, kemanusiaan, hingga politik. Bahkan dia pernah menjadi Ketua Umum PB HMI, sebuah organisasi kemahasiswaan yang cukup besar, pada tahun 1966-1970. Basis keilmuan dan intelektualitas yang kuat, serta pengalaman di pelbagai bidang organisasi mengantarkan Nurcholish Madjid untuk terjun di dunia politik. Pada tahun 2003 Nurcholish Madjid sempat mendeklarasikan diri sebagai bakal calon presiden pada Pilpres 2004. Namun, karena pertimbangan tertentu, akhirnya dia batal mengikuti Pilpres. Terkait dengan perpolitikan Indonesia, Nurcholish Madjid melandaskan pemikiran terhadap pengelolaan bangsa Indonesia atas paham pluralisme. Artinya, nilai-nilai positif pluralisme bangsa Indonesia seharusnya menumbuhkan sikap bersama yang sehat dalam kerangka kemajemukan itu sendiri, serta untuk mendukung pengayaan budaya bangsa (hlm. 104).

Berbeda dengan Nurcholish Madjid yang lahir dan beranjak remaja di lingkungan keagamaan yang tradisionalis, M. Amien Rais tumbuh dan berkembang dalam keluarga agamis yang modern. Orang tuanya yang Muhammadiyah tulen mengarahkan pendidikannya pada sekolah-sekolah agama yang berafiliasi kepada Muhammadiyah. Meskipun demikian, dia mendapatkan pendidikan tingginya di universitas-universitas umum, yakni S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pasca-sarjana di universitas-universitas di Amerika. Selain itu, Amien Rais juga aktif dalam organisasi Muhammadiyah, bahkan sempat menjadi ketua umumnya. Latar akademisi yang bagus dan pengalaman menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut akhirnya mengantarkannya terjun di dunia politik dengan mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 1998. Pemikiran sosial-politik yang selalu ditekankan oleh Amien Rais adalah ajarannya mengenai ‘tauhid sosial’. Tauhid sosial ini berarti pembebasan yang radikal dari tirani dan kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (hlm. 137). Manusia dan umat yang tauhid-oriented, menurut Amien Rais, memikul kewajiban untuk menegakkan suatu order sosial yang adil dan etis. Ini semua didasari atas pandangan bahwa semua manusia pada hakekatnya diciptakan dalam kedudukan yang sama dan setara. Tak ada satu manusia pun yang lebih superior ataupun lebih inferior atas manusia lainnya.

Pada bab empat penulis mengelaborasi pasang-surut pelaksanaan demokrasi di Indonesia sejak kemerdekaan hingga masa reformasi. Dalam hal ini penulis membagi masa-masa demokrasi di Indonesia menjadi empat periode. Keempat peride itu adalah masa Demokrasi Parlementer (Januari 1950 s.d. Juli 1959), Demokrasi Terpimpin (Juli 1959 s.d. September 1965), Demokrasi Pancasila (Oktober 1965 s.d. Mei 1998), dan Demokrasi Transisi, yakni pasca-reformasi tahun 1998. Dalam keempat masa-masa reformasi tersebut penulis juga menjelaskan peran, partisipasi, dan tanggapan umat Islam atas kondisi pemerintahan tersebut. Misalnya masa Demokrasi Parlementer, Ketua MASYUMI kala itu, yakni M. Natsir, berjasa menyatukan Negara Indonesia dari RIS menjadi NKRI. Karena itulah M. Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri pertama dalam sistem Demokrasi Parlementer (hlm. 161). Kemudian pada masa Demokrasi Pancasila yang dikendalikan oleh Pemerintah Orde Baru, penulis mengemukakan tiga bentuk interaksi antara pemerintah dengan umat Islam. Secara umum, umat Islam pada masa itu berada dalam posisi marginal. Partisipasi umat Islam dalam pengelolaan bangsa yang sangat intens pada awal-awal kemerdekaan, pada masa Orde Baru hampir sama sekali dibungkam. Setidaknya ini tampak dari kebijakan pemerintah yang enggan merehabilitasi MASYUMI. Praktis, umat Islam tak bisa mengakses panggung politik praktis dalam bentuk pendirian parpol Islam.

Pasca-tumbangnya Orde Baru, bangsa Indonesia—tak terkecuali umat Islam—mengalami euforia politik yang luar biasa. Tak pelak, partai-partai Islam banyak bermunculan begitu kran kebebasan politik dibuka. Namun pada Pemilu 1999 partai-partai Islam hanya memeroleh sedikit pendukung, masih kalah oleh parpol-parpol beraliran nasionalis-sekuler. Penulis mencatat, pada Pemilu 1999 partai Islam secara keseluruhan hanya meraih 17,7 % suara (hlm. 205). Meskipun demikian, koalisi partai-partai Islam kala itu berhasil mendudukkan wakilnya, K.H. Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden RI.

Atas pasang-surut perkembangan demokrasi di Indonesia selama puluhan tahun tersebut, Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais menganggap bahwa itu semua merupakan sebuah trial and error untuk menciptakan bentuk pemerintahan yang ideal. Meskipun demikian, ada saatnya para pemimpin berbuat kesalahan. Misalnya Soekarno yang pada masa Demokrasi Terpimpin mengangkat dirinya sebagai Presiden kseumur hidup. Atau Soeharto yang pada masa Demokrasi Pancasila menyeragamkan kehidupan nasional, khususnya dalam bidang politik, di tengah kondisi bangsa Indonesia yang plural. Karena itu, Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais menilai bahwa uji coba demokrasi selama ini menemukan jalan buntu, bahkan mengalami kegagalan (hlm. 209).

Bertolak dari kegagalan uji coba demokrasi selama beberapa periode tersebut, Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais menawarkan beberapa gagasan, pemikiran, dan aksi politik mereka tentang demokrasi di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Nurcholish Madjid mengajukan 10 platform politik pada tahun 2004 ketika dia bersiap mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2004. Sedangkan Amien Rais mengemukakan 10 kriteria demokrasi/ 10 harapan kepada Pemerintah yang diungkapkannya dalam pengantar sebuah buku yang terbit pada tahun 1986. Dalam buku ini, penulis merangkum gagasan-gagasan kedua tokoh ini menjadi 6 hal. Keenam pokok-pokok pemikiran itu adalah: melibatkan partisipasi rakyat, membuka kebebasan, menegakkan hukum, mewujudkan keadilan sosial, meningkatkan mutu pendidikan, dan menuju masyarakat madani.

Dalam bab penutup, penulis menguraikan sebuah konsep demokrasi yang dicetuskan oleh Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais dalam konteks bangsa Indonesia. Penulis menyebutnya dengan istilah ‘demokrasi religius’. Demokrasi Religius ini diartikan sebagai demokrasi yang sejalan dan mendapatkan rujukannya dari nilai-nilai agama Islam, khususnya tauhid (hlm. 314). Menurut Amien Rais, demokrasi dalam banyak hal telah sejalan dengan nilai-nilai keislaman, misalnya mengenai keadilan, persamaan, persaudaraan, musyawarah, toleransi, keterbukaan, dan kebebasan. Selain itu, menurut Nurcholish Madjid, Pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia secara tidak langsung sebenarnya menyerap nilai-nilai yang ada dalam agama Islam. Sila pertama misalnya, bisa dilacak rujukannya dari ajaran Islam berupa tauhid. Menurutnya, sebagaimana dikutip dari M. Hatta, sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila utama yang menyinari dan menjadi dasar etis atas sila-sila lainnya. Dalam pandangan Nurcholish, sila ini merupakan manifestasi dari iman kepada Tuhan. Sedangkan empat sila lainnya merupakan perwujudan dari amal shalih kepada sesama manusia. [*]
Diposkan oleh Muhammad Ruhani di 06:17

Senin, 25 Agustus 2014

Jual Buku Bisakah Orang Asia Berpikir / Kishore Mahbubani

Jual Buku Bisakah Orang Asia Berpikir / Kishore Mahbubani
Judul Buku: Bisakah Orang Asia Berpikir?
Penulis: Kishore Mahbubani
Harga RP 90.000
Penerjemah: Salahuddien GZ
Pengantar: M Dawam Rahadjo
Penerbit: Teraju, Jakarta, 2005
Tebal: xliv + 317 halaman

Membangunkan (Akal) Orang Asia
Oleh: Kholilul Rohman Ahmad

GLOBALISASI bukan masalah remeh. Sebab, kenyataan sistem dunia itu menjadi problem mendasar. Globalisasi akan sangat menentukan manusia dan kualitas kemanusiaan di masa depan. Oleh karena itu, memperbincangkan bagaimana menyikapi globalisasi mutlak diperlukan agar keberadaan kita selalu diakui oleh orang (bangsa) lain.

Seperti buku Bisakah Orang Asia Berpikir? karya Kishore Mahbubani ini, yang mengupas globalisasi dengan angle orang Asia. Mahbubani membedah struktur sosial orang Asia untuk menemukan titik-titik kekuatan dalam upaya bersaing dengan orang (bangsa) Barat. Hasil dari pembedahan itu memunculkan satu pertanyaan penting yang tidak membutuhkan jawaban segera: "Bisakah orang Asia berpikir?" Pertanyaan itu sangat menggelitik dan merangsang otak untuk berpikir. Bila dipersempit, pertanyaan itu akan berbunyi, "Bisakah bangsa Indonesia berpikir?" kata M Dawan Rahardjo dalam kata pengantar buku setebal 317 halaman ini.

Jika bangsa Indonesia mampu menemukan pertanyaan itu, tandanya bangsa Indonesia mampu berpikir. Meskipun, bangsa-bangsa Barat mungkin tidak suka jika pertanyaan itu muncul pada suatu bangsa di dunia ketiga. Sebab bangsa-bangsa yang menyadari kelemahannya akan cepat bangkit mencapai derajat kesuksesan seperti bangsa-bangsa Barat. Bangsa yang telah menemukan pertanyaan itu adalah China dan India.

Kata sejumlah ahli, diduga kuat tahun 2010 China akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Sebab sekarang tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita China mencapai 5,5% per tahun, jika dibandingkan dengan pencapaian negara-negara non-Barat yang hanya pada kisaran 2,5%. Terlebih lagi China mampu mencapai tahap berkembang dalam tempo 10 tahun bila dibandingkan dengan bangsa Inggris yang 58 tahun, Amerika Serikat 47 tahun, dan 33 tahun bagi Jepang.

Fenomena China, setelah empat macan Asia, oleh ahli Barat disebut keajaiban, walaupun Indonesia di masa Orde Baru bisa disebut demikian seandainya tidak dilanda krisis 1997. Melangkah cepat seperti China bukan proses mudah dan instan. Strategi menghadapi persaingan global dibutuhkan perangkat modal organisasi yang solid, kuat, dan cerdas. China mempunyai modal itu. Antara lain kecerdasan yang ditunjukkan oleh kemampuan berorganisasi secara demokratis, terutama organisasi skala besar.

Sementara itu, menurut Fukuyama, kemampuan berorganisasi skala besar secara demokratis tersebut sangat ditentukan oleh modal sosial (social capital) yang berintikan kepercayaan (trust) yang berperan sebagai perekat organisasi atau kegotong-royongan. Hanya saja sedikit bangsa-bangsa di dunia ini yang memiliki modal sosial tinggi (high trust society), misalnya Jerman, AS, dan Jepang. Bangsa-bangsa ini berhasil mencapai kemajuan.

Adapun bangsa-bangsa lain yang tipis modal sosialnya (low trust society) akan sulit mencapai kemajuan, kecuali dengan otoritarianisme atau sistem administrasi dan sistem hukum yang keras. Karena itu, bangsa China yang berhasil mencapai kemajuan pesat memerlukan otoritarianisme, seperti ditunjukkan dalam peristiwa Tiananmen (hlm xii).

Menurut Mahbubani, cara berpikir Asia berbeda dengan Barat. Dalam penilaian orang Barat sendiri, cara berpikir Asia dalam mendekati masalah cenderung holistik dan kurang bergantung pada logika. Hal ini berbeda dengan kecenderungan berpikir cara Barat, yang lebih percaya pada logika dan cenderung analitis pada fokus yang berbeda-beda. Dengan kata lain yang juga sering disebut, orang Barat lebih rasional, sedangkan Asia lebih emosional.

Tapi orang Asia modern makin cenderung mengikuti Barat, walaupun tidak mau atau tidak bisa meninggalkan kepribadiannya sehingga kecenderungannya adalah melakukan sintesis atau sinkretis. Hasilnya adalah pola pikir yang holistis. Peradaban Asia akan mencapai tingkat perkembangan yang sama dengan peradaban Barat. Realitas mendasar yang masih baru di Asia Timur adalah keyakinan sejati dan kepercayaan diri dalam pikiran baru orang Asia bahwa saat ini mereka telah datang. Banyak pikiran orang Asia telah mencapai tingkatan-tingkatan tertinggi peradaban Barat di bidang ilmu dan pengetahuan, bisnis dan administrasi, seni dan sastra. Hampir semuanya berkembang pesat.

Pikiran Asia, setelah bangkit, tidak bisa ditidurkan lagi esoknya. Dari hari ke hari, kekuatan-kekuatan globalisasi menyebabkan interdependensi yang semakin besar dan luas. Tindakan-tindakan yang terjadi di salah satu penjuru dunia akan terpengaruh pada penjuru dunia lainnya dalam tempo relatif singkat dan cepat.

Sebagian besar orang yang hidup di luar Amerika bisa merasakan dan memahami dampak globalisasi: Mereka merasa kehilangan otonomi setiap hari. Sebagian besar rakyat Amerika merasakan dampak ini, atau mungkin belum merasakannya. Mereka hidup dalam negara paling kuat yang pernah disaksikan dalam sejarah umat manusia. Kekuatan yang besar dan dua samudra luas membentang membuat rakyat Amerika tidak menyadari bagaimana dunia tengah berubah. Paradoks-paradoks besar yang muncul di sini adalah: masyarakat yang paling terbuka di dunia malah kurang mendapatkan informasi tentang dampak niscaya akibat perubahan-perubahan global. Sebuah gelombang pasang saat ini tengah berlari menuju pantai-pantai Amerika (hlm 231).

Tantangan utama abad ke-21 adalah bagaimana mengatur dunia yang mengecil ini pada saat kekuatan-kekuatan globalisasi menyebabkan interdependensi (saling ketergantungan). Kebutuhan akan adanya institusi dan proses multilateral akan tumbuh beriringan. Tapi multilateralisme hanya bisa berjalan jika kekuatan-kekuatan besar saat ini, khususnya Amerika Serikat, mendukung multilateralisme.

Buku bertema sentral tentang globalisasi ini ingin mendedahkan keyakinan orang-orang Asia bahwa kebangkitan hanya bisa dicapai dengan strategi dan keyakinan akan munculnya masa gemilang. Dengan pertanyaan, bisakah orang Asia berpikir? penulis bermaksud menggosok akal orang Asia untuk tidak meratapi, mengeluh, dan menyalahkan diri sendiri.


(Kholilul Rohman Ahmad, sarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Naskahj ini pernah dimuat di Harian Media Indonesia Sabtu)

Kamis, 14 Agustus 2014

Jual Buku Panorama Filsafat Ilmu Conny Semiawan Penerbit Teraju

Jual Buku Panorama Filsafat Ilmu  Conny Semiawan  Penerbit Teraju
Judul Buku Panorama Filsafat Ilmu
Conny Semiawan 
Harga Rp 40.000 TERJUAL JKT
Penerbit Teraju
Terbit 2007
Tebal 222hlm
Ukuran 16 x23
Kondisi Seken, Lumayan, 1 bua

Kamis, 10 Juli 2014

Kamis, 19 Juni 2014

Jual Buku Psikologi Kematian / Komaruddin Hidayat

Judul Buku PSIKOLOGI KEMATIAN : MENGUBAH KETAKUTAN MENJADI OPTIMISME Pengarang : Komaruddin Hidayat
Judul Buku PSIKOLOGI KEMATIAN : MENGUBAH KETAKUTAN MENJADI OPTIMISME
Pengarang : Komaruddin Hidayat
Harga : 45.000
Pengantar : M. Quraish Shihab
Penerbit : Hikmah, Jakarta
Tahun : Cet V / 2006
Tebal : xxii + 171 hlmn
Kondisi : Lawas
Tersedia : 1

Deskripsi :
Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan dalam setiap jiwa manusia; yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba serta punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah protes berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan ke pintu kematian.

Buku ini juga telah meruntuhkan bayang-bayang kematian yang amat menakutkan itu. Ternyata, seperti dijelaskan buku ini, kematian adalah sesuatu yang indah. Menyelami lautan hakikatnya membuat hidup kita semakin optimis.

Kamis, 05 Juni 2014

Jual Buku Nicomachean Ethics, Karya Aristoteles

Jual buku: Nicomachean Ethics, Sebuah "Kitab Suci" Etika
Judul buku: Nicomachean Ethics, Sebuah "Kitab Suci" Etika
(Judul Asli: The Nicomachean Ethic)
Karya Aristoteles
Harga Rp 150.000 BOOKED TGR 22/6
Penerbit Teraju
Tahun 2004
Tebal buku: 302 halaman
Kondisi Seken, Bagus, Langka

Dalam tradisi filsafat moral, etika keutamaan (virtue ethics) yang diajukan Aristoteles tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Munculnya aliran-aliran etika baru, seperti deontologi atau utilitarianisme, tidak membuat pemikiran Aristoteles tersebut lapuk dan usang begitu saja. Bahkan pendulum pemikiran etika kontemporer kembali berayun ke model-model etika keutamaan seperti yang digagas Aristoteles. Etika yang tidak hanya mementingkan pengetahuan tentang nilai-nilai kebaikan, tapi juga penubuhan keutamaan etis ke dalam, dan sebagai prasyarat bagi tindakan-tindakan moral. Etika lebih sebagai seni hidup ketimbang aturan-aturan kategoris yang hitam-putih.

 "Kita tidak pernah bisa membayangkan etika tanpa Aristoteles. Buku ini adalah traktat utama etika Aristoteles. Penting sebagai pijakan kuat untuk mendalami etika dan pelbagai penerapannya."
 Prof. Dr. Amin Abdullah
 Guru Besar Filsafat IAIN Sunan Kalijaga

 "Makaharya maestro filsafat yang menjadi rujukan utama untuk mendalami etika Aristoteles: mahasiswa, dosen, filosof, atau siapa saja yang tertarik dengan teori-teori moral."
 Gisela Striker
 Profesor Filsafat Klasik Harvard University

 "Terjemahan yang disajikan ini patut dipuji. Saya membandingkan beberapa halaman teks terjemahan lain yang saya miliki dan saya simpulkan bahwa terjemahan ke dalam bahasa Indonesia ini dibuat dengan cukup teliti dan cukup banyak pengertian tentang teks klasik ini."
 Prof. Dr. K. Bertens
 Guru Besar Filsafat Unika Atmajaya



Minggu, 04 Mei 2014

Jual Buku Panorama Filsafat Modern, Penulis K Bertens

Jual Buku Panorama Filsafat Modern, Penulis K BertensTitle  Judul : Panorama Filsafat Modern
K Bertens
Penerbit Teraju
Ukuran 16 x23cm
Harga Rp 45.000
Kondisi : stok lama,bagus, langka