Tampilkan postingan dengan label Kajian Kekerasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Kekerasan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

KAJIAN PEREMPUAN: Kodrat Perempuan, Perempuan dan Politik, Membina Keluarga, Kekerasan terhadap Perempuan (Bundel)

KAJIAN PEREMPUAN: Kodrat Perempuan, Perempuan dan Politik, Membina Keluarga, Kekerasan terhadap Perempuan (Bundel)KAJIAN PEREMPUAN:
-Buku Satu : Kodrat Perempuan, Takdir atau Mitos
-Buku Dua : Perempuan dan Politik dalam ISLAM,
-Buku Tiga : Membina Keluarga SAKINAH,
-Buku Empat : Kekerasan terhadap Perempuan
Harga Rp 60.000 Terdiri 4 buku @20rb
Kondisi Segel penerbit

Sabtu, 14 November 2015

Ritus Kekerasan Dan Libido Nasionalisme Penulis: Teuku Kemal Fasya


Jual Buku Ritus Kekerasan Dan Libido Nasionalisme Penulis: Teuku Kemal Fasya
Judul: Ritus Kekerasan Dan Libido Nasionalisme
Penulis: Teuku Kemal Fasya
Harga Rp 39.000
Penerbit: BukuBaik, 2005
Tebal: 338 halaman
kondisi buku baru segelan

Rabu, 02 September 2015

Judul : Kabar-kabar Kekerasan Dari Bali Penulis : Arifatul Choiri Fauzi

Judul : Kabar-kabar Kekerasan Dari Bali
harga 36.000 dari 41000
Penulis : Arifatul Choiri Fauzi
Tebal : 255 halaman
Ukuran : 12,5 x 18 cm
ISBN : Terbit : Cet I, Oktober 2007

Sinopsis
Polemik peristiwa bom Bali tidak bisa dilepaskan dari peran media massa. Media massa memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembentukan oruhi peristiwa tertentu bahkan membuat audien tidak sadar akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Setiap berita yang disajikan oleh media tentunya telah didesain sesuai "kepentingan" media, baik secara internal maupun eksternal. Perselingkuhan media, pemilik modal, dan kekuasaan merupakan "lingkaran setan" yang membatasi otoritas wartawan. Buku ini mengajak kita masuk pada dunia berita, khususnya media massa, untuk mencari basis ideologis dan sosiologis dari sosok media dalam menyajikan "produknya". Sebuah buku yang menawarkan model dan perangkat analisis media sehingga media dan pemberitaannya menjadi hidup.

Rabu, 01 Juli 2015

Jual Buku Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim

Jual Buku Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim, Penulis Hamim, Thoha.Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim
Harga Rp 60.000
Penulis: Hamim, Thoha.
Bahasa : Indonesian ; English
Penerbit: Kerjasama Lembaga Studi Agama dan Sosial (LSAS), IAIN Sunan Ampel, IAIN Press, dan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, 2007.
Edition: Cet. 1.
Kategori : Social conflict > Religious aspects > Islam. Conflict management > Religious aspects > Indonesia.
Tebal : x, 315 p. : ill. ; 25 cm.
ISBN: 9789799492241
9799492246
Kondisi Bagus

Jumat, 12 Juni 2015

Jual Buku Pergeseran Kekuasaan (bagian Kedua) pengetahuan, kekayaan dankekerasan di penghujung abad 21.oleh Alvin Toffler

Judul Buku Pergeseran Kekuasaan (bagian Kedua) pengetahuan, kekayaan dankekerasan di penghujung abad 21.
Harga: Rp 60.000
Penulis: Alvin Toffler
Tahun Terbit: 1992
Bahasa: Indonesia
ISBN:
Sampul: Soft Cover
Kondisi: Bekas,Bagus
Tebal: 285hlmn
Berat Buku: 400(gram)
Ukuran: 21 x 14.2
Stok: 1

Kamis, 04 Juni 2015

Jual Buku Agama dan Politik Antikekerasan Penulis: YB. Sudarmanto

Jual Buku Agama dan Politik Antikekerasan Penulis: YB. SudarmantoJudul: Agama dan Politik Antikekerasan
Penulis: YB. Sudarmanto
Harga: 39.000
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Tahun: Cetakan Pertama, 1989
Tebal: 105 Halaman
Dimensi: 14,5 x 21 Cm
Bahasa: Indonesia
Sampul: Soft Cover
Kondisi: Bagus
Tersedia : 1

Sabtu, 23 Mei 2015

Jual Buku Kekerasan Terhadap Istri, Penulis Dr. Hj. Zaitunah Subhan

Jual Buku Kekerasan Terhadap Istri,   Penulis Dr. Hj. Zaitunah Subhan Judul  Kekerasan Terhadap Istri
Penulis Dr. Hj. Zaitunah Subhan
Harga Rp 29.000
Penerbit Lkis
Tanggal terbit 2003
ISBN 9799492912
Jumlah Halaman 130
Berat Buku 150grm
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) 12 x 18
Kondisi Stok lama, Bagus

Senin, 27 April 2015

Jual Buku Lebih Tajam dari Pedang, Refleksi Agama Agama tentang Paradoks Kekerasan, Penulis Daniel L Smith

Jual Buku Lebih Tajam dari Pedang, refleksi Agama Agama tentang Paradoks Kekerasan, Daniel L SmithJudul Buku Lebih Tajam dari Pedang, Refleksi Agama Agama tentang Paradoks Kekerasan,
Penulis Daniel L Smith, Harga  Rp 60.000
Penerbit Kanisius
Terbit : 2005
Tebal : 282hlm
Berat : 380gram
Ukuran : 16x23cm
ISBN : 979-21-1252-9
Kondisi Baru, stok lama, segel

Sinopsis
Persaingan antaragama sepanjang sejarah telah sering menjadi akar konflik manusia. Dalam buku ini tokoh-tokoh dari sembilan agama dunia memberikan wawasan tentang bagaimana tiap tradisi itu dapat menanggulangi racun kebencian. Tidak hanya tentang arti penting prinsip antikekerasan dalam masing-masing tradisi, mereka pun merefleksikan dengan jernih bagaimana agama-agama menghadapi persoalan dalam mengejawantahkan cita-cita luhur ini ke dalam praktek. Buku ini menghadirkan khazanah pengetahuan dan perspektif baru berkenaan dengan tantangan perdamaian sepanjang masa.

Sabtu, 11 April 2015

Jual Buku Prakarsa Perdamaian :Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial

Jual Buku Prakarsa Perdamaian :Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial,
Judul : Prakarsa Perdamaian Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial Harga  Rp 33.000
Penulis: Khamami Zada dkk.
Editor : Fathuri SR
Isi : vii+183 Halaman
Ukuran : 16 x23
Penerbit: PP Lakpesdam NU & European Initiative for Democracy and Human Rights (EIDHR) Komisi Eropa
Tahun : 2008
ISBN: 978-979-95818-8-4
Kondisi : Baru, stok lama

Eskalasi kekerasan antar kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang masih marak terjadi di negeri ini. Beragam model konflik yang terjadi baik vertikal maupun horizontal seolah tidak ada tanda untuk berhenti. Terbukti dengan banyaknya kasus kekerasan seperti penyerangan terhadap Ahmadiyah (di Parung, Kuningan, Majalengka, Lombok, dll.), komunitas Salamullah (Lia Eden), Pondok Nabi di Bandung (2004), Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) di Probolinggo Jawa Timur serta beberapa penyerangan terhadap aliran yang dianggap sesat dan budaya yang bertentangan dengan golongan mainstream.
Menurut Guru Besar filsafat STF Driyarkara Franz Magnis Suseno dalam pengantar buku terbitan pustaka pelajar yang berjudul melawan kekerasan tanpa kekerasan, ada empat faktor yang melatarbelakangi budaya kekerasan di Indonesia. Pertama, transformasi didalam masyarakat atau pengaruh globalisasi dan modernisasi. Kedua, akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, masyarakat yang sakit. Keempat, pengaruh Orde Baru sebagai sistem institusionalisasi kekerasan. Kemudian dalam buku yang digarap oleh Khamami Zada, dkk. ini menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya konflik sosial adalah hilangnya toleransi yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Toleransi telah terkikis oleh aksi kekerasan dengan klaim memperjuangkan kebenaran. Meskipun kebenaran itu masih bersifat objektif.
Buku ”Prakarsa Perdamaian” ini adalah hasil penelitian (research) tentang respon dan sikap tokoh agama maupun adat untuk mewujudkan perdamaian di daerahnya serta inisiatif apa yang mereka lakukan dalam menyelesaikan konflik. Maskipun telah ada penelitian yang terkait dengan aksi kekerasan dan inisiatif perdamaian sebelumnya, tetapi masih berkutik pada peran kelompok masyarakat saja (misalnya, LP3ES-Forum sebangsa melakukan penelitian Peran Pesantren dalam membangun jaringan komunitas untuk pengembangan Budaya Damai di Indonesia). Atau beberapa penelitian yang sangat menonjolkan peran negara (pemerintah, kepolisian, militer, dan perangkat daerah lainnya) seperti penelitian yang dialakukan Departemen Agama RI. Namun, buku ini lebih menyoroti aspek peran tokoh agama dan adat dalam upaya untuk menciptakan sebuah prakarsa perdamaian.
Langkah tersebut dipilih dengan alasan bahwa dari sekian konflik yang terjadi, peran tokoh agama dan adat memainkan peran vital dalam sebuah upaya perdamaian. Karena para pemimpin agama inilah yang akan membawa kemana agama akan dibawa, kearah kesejukan dan perdamaian atau ke arah distrust, konflik, dan kekerasan. karena alasan itulah kenapa tokoh agama dan adat memegang peran strategis dalam penyelesaian konflik .
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah kajian metodologi yang menggunakan metode kualitatatif, kemudian difokuskan pada wawancara mendalam (indepth interview) dengan 100 informan yang mewakili 12 kabupaten di 3 provinsi yaitu Sulawesi Selatan, NTB, Jawa Barat. Dengan metode ini tentunya akan lebih elaboratif dalam menganalisis dinamika dan ragam inisiatif yang dilakukan tokoh agama.
Bagian awal buku ini secara rinci menjelaskan hubungan antara sikap, otoritas, dan legitimasi berpengaruh terhadap tumbuhnya benih perdamaian. Sikap manusia menurut ahli psikologi Louis Thurstone (1928), rensis Likert (1932), dan Charlest Osgood adalah suatu bentuk evalusi atau reaksi perasaan. Sikap dalam hal ini sebagai kecenderungan terhadap sesatu yang negatif dan positif. Sikap ini tidak berdiri sendiri melainkan dipengaruhi banyak faktor seperti ekonomi, politik, agama, lingkungan, norma-norma dan group. Jika orang mempunyai sikap positif terhadap permainan, maka dia akan berusaha mewujudkan perdamaian itu, begitupun sebaliknya.
Di dalam permasalahan otoritas, khamami zada, dkk meninggalkan teori ”kiri” Karl Marx yang mencita-citakan hadirnya masyarakat sosialis tanpa kelas. Sikap yang sama ditujukan kepada kaum konservatisme ”kanan” seperti Adam Smith dan John Rawls yang menegaskan setiap individu pada dasarnya setara. Tetapi lebih melirik analisis Weber yang tidak menafikan aspek otoritas dalam keharmonisan didalam kehidupan masyarakat maupun negara. Jadi, dalam bentuk ruang sosial apapun diperlukan otoritas untuk menjaga ketertiban sosial. Dari analisis inilah kemudian dapat ditarik benang merah, prakarsa perdamaian sangat ditentukan oleh bagaimana persepsi dan sikap pemimpin keagamaan dan adat terhadap persoalan sosial karena kekuatan otoritas dan legitimasi yang dimiliki mereka.
Buku terbitan PP Lakpesdam NU bekerjasama dengan European Initiative for Democracy and Human Rights (EIDHR) komisi Eropa ini, secara intens mengupas model prakarsa perdamaian di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan di Jawa Barat. Masing-masing dieksplorasi hal-hal yang bersinggungan dengan konflik dan kekerasan. Dimulai dengan setting geografis dan sosiologis masing-masing daerah, peta konflik dan kekerasan yang meliputi berbagai macam kekerasan yang terjadi beserta penyebabnya. Setelah itu, memperbincangkan sikap dan respon tokoh agama dan adat terhadap kekerasan, baik dalam fisik maupun psikis terhadap perbedaan yang ada. Yang tidak kalah penting adalah profil informan sebagai bagian sumber data primer dan acuan data informasi. Selain itu informan dituntut sebisa mungkin untuk mewakili aktor, baik aktif maupun pasif, yang berada dalam lingkaran kasus kekerasan tersebut.
Konflik yang terjadi di Sulawesi Selatan misalnya, provinsi yang berpenduduk kurang lebih 7,63 juta jiwa dan juga multikultur ini tidak lepas dari ancaman konflik sosial. Konflik antar suku Bugis dan Makasar, konflik antar agama, penyesatan terhadap ahmadiyah, sengketa tanah adat kajang dengan PT Lonsum serta sejumlah konflik akibat perda syari’at sempat meletupkan api ketegangan di Sulawesi Selatan. Konflik-konflik tersebut dilatarbelakangi berbagai hal dari pemberitaan media yang provokatif sampai penyesatan ideologi. Dari konflik sosial ini tentunya terdapat figur-figur yang diharapkan mampu untuk menyiasati sebuah perdamaian yang utuh. Diantara beberapa figur ini adalah tokoh agama dan adat seperti H. Colleng ketua jamaat ahmadiyah, Hj. Rusdaya Basri, Lc. Sekretaris Himpunan Daiyah Muslimat NU sekaligus pengajar STAIN Pare-Pare dan tokoh adat seperti Amma Toa, pemimpin tertinggi komunitas kajang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Figur-figur seperti ini sekaligus menjadi informan dalam penelitian ini dan menjadi agen menuju perdamaian dengan legitimasi yang mereka miliki. Mereka mempunyai pengalaman dalam setiap kasus konflik dan mempunyai sosialisasi perdamian dengan versi yang beragam. Media yang telah dipakai untuk mengampanyekan perdamaian seperti pendidikan, diskusi, dialog lintas iman sampai menerapkan nilai perdamian dalam kegiatan sehari-hari.
Pada bagian akhir dari masing-masing pembahasan daerah konflik ini, selalu dirinci jelas bentuk-bentuk prakarsa perdamaian. Dilengkapi dengan dat-data media-media yang dipakai serta advokasi dan diseminasi perdamaian yang didiskripsikan secara objektif terhadap dimensi sosial ada. Setidaknya konflik dari 12 kabupaten yang ada di 3 provinsi, dapat disimpulkan menjadi empat kategori konflik berdasar aktor yang terlibat. Pertama, konflik antar pemeluk agama yang berbeda (NTB). Kedua, konflik internal umat beragama (Jemaat Ahmadiyah, Kelompok Salafi). Ketiga, konflik antara ”agama resmi” dengan komunitas adat (kasus masyarakat To Lotang SulSel, Agama Sasak NTB). Keempat, konflik masyarakat adat dengan pemerintah (konflik adat Kajang dan PT Lonsum). Kelima, konflik intern masyarakat adat (konflik Dusun Rembitan dan Penyalu NTB).
Semua kekerasan yang timbul berawal dari baragam aktor dan pola konflik serta sikap dan perilaku sesorang dalam melihat persoalan. Hal itu sangat dipengaruhi banyak faktor, sebut saja jarak sosial (social distance), situasi dan kondisi individu, kepercayaan umum, dll. Oleh sebab itu, upaya bersama-sama merupakan langkah riil untuk mewujudkan perdamaian. Perdamaian tidak bisa dipasrahkan pemerintah saja atau diprakarsai tokoh agama dan adat. Melainkan serentak oleh berbagai elemen masyarakat untuk berhasrat mempunyai kepentingan bersama menorehkan perdamaian.
Buku laporan penelitian Khamami Zada, dkk. setebal 183 halaman ini berhasil membawa pembaca pada medan konflik sekaligus mengajak untuk merintis sebuah prakarsa perdamaian. Tentu buku ini bermanfaat bagi para penggiat isu perdamaian. Dengan buku ini kita akan bisa merenungkan beberapa langkah strategis dalam mengupayakan perdamaian di muka bumi ini. []

* Penulis adalah Warga Piramida Circle dan Penggiat Perdamaian Lintas Iman

Jumat, 20 Maret 2015

Jual Buku Ambivalensi Agama, Konflik & Nirkekerasan Penulis:Zakiyuddin Baidhawy

Jual Buku  Ambivalensi Agama, Konflik & Nirkekerasan Penulis:Zakiyuddin Baidhawy
Judul Buku  Ambivalensi Agama, Konflik & Nirkekerasan
Penulis:Zakiyuddin Baidhawy
Harga:Rp. 45.000
Penerbit:LESFI
Tahun : 2002
Tebal:263 hlm
Kondisi:Stok lama

Dalam konteks sosial, agama tidak semata dimaknai sebagai ritus, liturgu, doa dan pengalaman mistik yang bersifat personal dan unik, namun juga hadir dengan fungsi manifest dan latent yang kadang tidak dikehendaki oleh pemeluknya sendiri. Di satu sisi, agama dapat menjadi sarana integrasi sosial, mengikat solidaritas sesame penganutnya dalam jamaah, gereja, sangha dan komunitas-komunitas keagamaan, wahana pencipta, pembangun, dan pemelihara perdamaian dan kedamaian; sekaligus instrument yang cukup efektif bagi disintegrasi sosial, menciptakan konflik, ketegangan, friksi, kontradiksi, dan bahkan perang, memandang outsider sebagai “kafir” yang harus diproselitisasi secara paksa di sisi lain.
Agama tampaknya selalau hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebih bila penganutnya menempatkan diri sebagai actor sekali dan selamanya. Bukan pengamat apalagi peneliti. Bukan kritikus tapi pembela dan watchdog tradisi dan ortodoksi.

Rabu, 11 Maret 2015

Jual Buku Membedah Ideologi Kekerasan WAHHABI JILID ke 3 / Nur Khalik Ridwan

Jual Buku: Seri Gerakan Wahhabi, Buku ke 3, Penulis: Nur Khalik Ridwan
Judul Buku Membedah Ideologi Kekerasan WAHHABI Seri Gerakan Wahhabi, Buku ke 3
Harga Rp 85.000 (jilid ke 3 ) 
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit : Tanah Air, Jogjakarta
Cetakan : Pertama, November 2009

Resensi Oleh Ali Usman
KECURIGAAN banyak orang terhadap ideologi wahabi yang diduga menjadi induk semang atas tindak kekerasan atau teror atas nama agama di belahan dunia mendapat perhatian sejumlah kalangan, baik dari agamawan, aktivis sosial, dan bahkan pengamat politik.

Gerakan wahabi sebenarnya merupakan langgam lawas, tetapi pemunculannya selalu aktual, karena dikait-kaitkan dengan setiap tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Tragedi 11 September 2001 yang meluluhlantahkan WTC, gedung kebanggaan negeri Paman Sam, sepertinya menjadi ”perantara positif” sekaligus ”hikmah”. Pascaperistiwa September kelabu itu, sejumlah analisis kritis membuka tirai ideologi wahhabi yang ternyata mempunyai andil dalam mendoktrinisasi kelompok Islam tertentu yang secara sosiologis dikategorikan ”keras” dan ”ekstrem”.

Pertanyaannya, bagaimana menguji kebenaran asumsi dan stereotip negatif itu? Buku ini selain memberikan informasi penting tentang seluk-beluk yang menyangkut gerakan wahhabi, juga menyediakan ruang dialektika-kritis bagi pembacanya -bagaimana mestinya kita menyikapi gerakan yang mewabah bernama wahhabi itu.

Nur Khalik Ridwan, penulisnya, terlihat sangat bersemangat dan berapi-api mengeksplorasi bahasan tema dalam buku yang dirangkai dalam tiga seri ini. Sebab, jika dilihat dari aspek kapabilitas intelektualnya, Nur Khalik Ridwan dikenal sebagai sosok muda yang sangat produktif melahirkan karya bergenre kritis, terutama dalam bidang pemikiran keagamaan. Itu sebabnya, tidak heran, Kang Khalik -sapaan akrabnya- oleh sebuah majalah terkemuka di tanah air pernah dinobatkan sebagai salah seorang sosok penggiat revolusi kaum muda.

Buku ini adalah satu-satunya karya (setidaknya di Indonesia) yang berhasil merekam dan memotret keberadaan gerakan wahhabi secara kritis dan komprehensif. Pada buku pertama, diterangkan aspek historisitas, doktrin, dan penamaan istilah ”wahhabi”, yang dinisbatkan pada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab. Dua kritikus legendaris atas wahhabi, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hanbali dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan as-Safi’i, juga tak luput dari perhatian Nur Khalik Ridwan yang ditampilkan secara dramatis. Buku pertama ini diberi judul Doktrin Wahhabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam.

Menurut Nur Khalik Ridwan, penulisan buku ini dilandasi beberapa faktor penting, yaitu adanya pengaruh wahhabisme yang begitu besar terhadap banyak gerakan Islam dan radikalisasi-radikalisasi lain berbasis agama; belum ada kajian di Indonesia yang secara khusus membahas wahhabi dari akar sejarah hingga soal bagaimana posisinya di negara Arab; terjadinya tren pergeseran dan penolakan wahhabisme justru di kalangan ormas yang dulu terpengaruh ide-ide wahhabi; semakin gencarnya transnasionalisasi ide-ide wahhabi dan ekspansi yang bertubi-tubi, hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia; dan menjamurnya web blog yang dikuasai para wahhabi untuk menyebarkan wacana, ideologi, dan gerakannya (Jld I, hlm 3-10).

Buku kedua, yang bertitel Perselingkuhan Wahhabi dalam Agama, Bisnis, dan Kekuasaan, memuat analisis tajam persoalan relasi gerakan wahhabi dengan kekuasaan -dalam hal ini Kerajaan Arab Saudi. Hamid Algar menulis komentar menarik dalam Wahhabism: A Critical Essay (2002), yang sayangnya, tidak dirujuk oleh Nur Khalik. Menurut Algar, dalam sejarah pemikiran Islam yang berlangsung lama dan sangat kaya, wahhabisme tidak menempati posisi yang memiliki arti penting. Gerakan wahhabi bernasib baik karena muncul di Semenanjung Arab (Najad, sebuah tempat yang relatif jauh dari semenanjung itu) dan karena itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung dunia muslim.

Keluarga Saudi, yang menjadi patron gerakan wahhabi, sangat mujur ketika pada abad ke-20 memperoleh kekayaan minyak luar biasa, yang sebagiannya telah digunakan untuk menyebarluaskan paham wahhabisme di dunia Islam dan wilayah-wilayah lain. Jika kedua faktor itu tidak ada, wahhabisme mungkin hanya akan tercatat dalam sejarah sebagai gerakan sektarian yang marginal dan berumur pendek.

Pada buku ketiga, Membedah Ideologi Kekerasan Wahhabi, Nur Khalik mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan kajian kritis terhadap ajaran atau doktrin, serta cara berpikir wahhabi yang sangat eksklusif dan menekankan absolutisme. Nur Khalik mencatat, di ranah ini tidak jarang mereka (kelompok wahhabi) mengafirkan umat Islam di luar kelompoknya, seperti tuduhan takfir (pengafiran) kepada umat Islam salaf dan khalaf yang ber-tawassul dengan para nabi, sahabat, tabi’in, dan wali-wali Allah yang saleh (Jld III, hlm 129). Ini sekaligus menjadi salah satu ciri seseorang sebagai anggota kelompok wahhabi.

Karena itu, ajaran dan doktrin-doktrin wahhabi sungguh bertentangan dengan keyakinan mayoritas muslim dunia (Sunni). Memang, sejak awal, para ulama Sunni telah mengamati bahwa kelompok wahhabi tidak termasuk bagian dari ahlu sunnah wal jamaah. Hal itu karena hampir seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang dikecam Muhammad bin Abdul Wahhab secara historis telah merupakan bagian integral Islam Sunni, yang dipelihara dalam berbagai literatur yang sangat kaya dan diterima mayoritas kaum muslim.

Di buku ketiga ini, diskusi tentang bagaimana gerakan wahhabi bergerilya ke wilayah-wilayah Islam, termasuk di Indonesia, terasa semakin lengkap dan menemukan pijakan relevansi dengan kenegaraan kita. Namun, Nur Khalik belum tuntas menganalisisnya. Sebab, menurut pengakuannya, dia masih dalam proses mengimajinasikan, dan direncanakan disusun menjadi buku tersendiri di lain waktu.

Yang pasti, inilah buku ”babon” (induk) yang secara khusus membongkar gerakan wahhabi beserta peran dan implikasi politisnya. Selamat membaca. (*)

Selasa, 06 Januari 2015

Buku Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan / Zaiyardam Zubir


Jual Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau, Penulis: Zaiyardam Zubir
Judul : Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau  .Harga: Rp. 50.000
Penulis: Zaiyardam Zubir
Penerbit: Insist Press,
Tahun :2010
Tebal: 325 halaman
Kondisi: Stok lama,Bagus

Reformasi di negeri ini ternyata tak seluruhnya membawa perubahan yang positif. Serentak dengan embusan reformasi dan demokratisasi, bangsa ini seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga: nilai-nilai kemanusiaan.

Tengok saja. Hanya dalam hitungan bulan setelah reformasi, pecah konflik horizontal di berbagai daerah. Hingga detik ini kekerasan demi kekerasan masih terus bergulir. Di tingkat bawah, rakyat di banyak daerah tetap kerap bakupukul bahkan saling membunuh. Konflik yang melebar menjadi kerusuhan pun jadi tontonan sehari-hari di layar televisi.

Tak hanya di tingkat bawah, elemen masyarakat di tingkat atas pun tampak sudah mencabik-cabik rasa kemanusiaan. Berapa banyak dari mereka yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menjarah uang rakyat. Dalam banyak kasus, tanpa malu-malu pula kalangan atas ini lalu mengadu-domba rakyat kecil atas nama demokrasi.

Buku ini memang tidak bicara budaya konflik dan kekerasan secara umum di Indonesia. Ini merupakan hasil kajian tentang budaya konflik yang pernah tumbuh di Sumatera Barat. Zaiyardam Zubir dalam penelitiannya menemukan kearifan lokal di balik budaya konflik urang awak itu. Ia mendapati, konflik pada masyarakat Minangkabau bukan sekadar melahirkan kekerasan, melainkan justru juga menjadi sumber dinamika kehidupan mereka.

Selama ini diketahui, ada dua nilai yang kuat mempengaruhi cara berpikir, cara pandang, dan tingkah laku masyarakat Minangkabau: adat dan agama Islam. Pada suatu masa, benturan kedua nilai ini menjadi sumber konflik yang keras dan berkepanjangan. Konflik berkepanjangan itu pada akhirnya melahirkan filosofi dasar urang awak: adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Buku ini mengindikasikan, dalam konflik yang bagaimanapun keras dan panjangnya mesti ada jalan tengah. Tentu saja sejauh budaya konflik yang jadi sumber dinamika kehidupan masyarakat tidak ditempatkan dalam jaringan kekerasan. Kenyataannya selama ini, ada pihak ketiga yang menempatkannya dalam jaringan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu.

Erwin Y. Salim

Senin, 08 Desember 2014

Jual Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Novri Susan

Jual Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Novri Susan, Prenada,Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Edisi Revisi
Pengarang : Novri Susan, M.A.
Harga Buku : Rp 58.000
Penerbit : Prenada Media Grup (Kencana)
Halaman : 296
Cetakan : Ukuran : 13,5X20,5 cm

Deskripsi
Mengapa kajian -Sosiologi Konflik- dibutuhkan? Sosiologi konflik dan kekerasan melalui tradisi kajian analisis sosiologi. Pertama, sosiologi konflik memberi perspektif analisis yang konflik memberi analisis terhadap berbagai fenomena komprehensif mengenai dimensi konflik sehingga bisa diketahui skala, latar belakang, dan arah perkembangan konflik dalam masyarakat. Kedua, hasil kajian analisis sosiologi konflik dapat dimanfaatkan untuk memberi kejelasan bentuk penanganan seperti tata kelola konflik, pendidikan perdamaian, dan pembangunan perdamaian. Penanganan konflik dalam kajian kontemporer ditujukan untuk mereduksi tingkat kekerasan dan mentransformasi konflik yangdestruktif menjadi konflik yang konstruktif.

Buku ini berhasil menjelaskan teori sosiologi konflik klasik dan kontemporer, dari Ibnu Khaldun, Karl Marx, Max Weber, Georg Simmel, Emile Durkheim. Dari tradisi positivisme yang direpresentasikan oleh Lewis Coser dengan teori fungsi konflik sosial atau Ralf Dahrendorf dengan dialektika konflik, dan Paul Wehr dengan tindakan dan sumber konfliknya. Juga tradisi humanisme ilmu sosial seperti konstruksi sosial konflik dan interaksionisme simbolis. Bahkan tradisi ilmu sosial kritis yang direpresentasikan oleh 3rgen Habermas, C. Wright Mills, dan Pierre Bourdieu yang menguraikan keterkaitan dominasi kekuasaan dan penindasan.

Sebagai pengantar kajian Sosiologi Konflik yang pertama di Indonesia, buku ini berhasil merangkakan berbagai teori konflik, menyajikan contoh analisis konflik, dan memetakan beragam isu konflik kontemporer di Indonesia.

Penting bagi mahasiswa ilmu sosial-politik dan humaniora, kalangan aktivis pemberdayaan sosial dan pembangunan, serta para pemegang kebijakan.

Daftar Isi
Bab 1 Metodologi Ilmu Sosial
Bab 2 Teori Sosiologi Konflik Klasik
Bab 3 Teori Sosiologi Konflik Kontemporer
Bab 4 Kekerasan dan Perdamaian
Bab 5 Contoh Analisis Konflik

Bab 6 Mengenali Isu-isu Konflik

Rabu, 10 September 2014

JUAL Buku Dari Gandring sampai Einstein ,Imaji Imaji Kekerasan

Jual Buku Dari Gandring sampai Einstein ,Imaji Imaji KekerasanDari Gandring sampai Einstein, Imaji Imaji Kekekerasan
Sanggar Talenta,
Penerbit Kanisius .RP 20.000
Kondisi : stok lama, bukan bekas, bersih bagus

Selasa, 19 Agustus 2014

Jual Buku Luka Aceh, Duka Pers / Editor: J Anto

Jual Buku Luka Aceh, Duka Pers, Editor: J Anto, Penerbit: KIPPASJudul: Buku Luka Aceh, Duka Pers
Editor: J Anto
Harga Rp 50.000Penerbit: KIPPAS, Medan,
Cetakan I, September 2002
Tebal: xxiii + 318 halaman
Kondisi Stok lama, Bagus, Bukan Bekas

Kata-kata “Luka Aceh” dalam penggalan judul buku ini boleh jadi mudah diduga apa maksudnya sebab konflik Aceh termasuk persoalan lama di negeri ini. Konflik itu mengorbankan banyak jiwa secara mengenaskan dengan darah bersimbah akibat luka di sana-sini. Ironisnya, setelah status DOM (Daerah Operasi Militer) di bumi Serambi Mekkah itu dicabut pada Agustus 1998, konflik bersenjata antara rakyat Aceh, pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dan tentara Indonesia justru kian meningkat. Apa maksudnya “Duka Pers” dalam penggalan lain judul buku ini? Ternyata, dalam memotret fakta-fakta konflik tersebut, insan pers tidak jarang mengalami atau berhadapan dengan hal-hal yang membuat mereka berduka. Sebutlah, ketika 5.000 eksemplar koran Waspada yang hendak didistribusikan ke Aceh Utara, medio Mei 1999 habis dibakar oleh GAM. Penyebabnya, GAM memandang sejumlah pemberitaan Waspada tentang konflik Aceh cenderung memojokkan mereka. Parahnya lagi, pengalaman pahit serupa dialami Waspada pada medio Februari 2000. Contoh kasus lain, pernah juga GAM mengancam dengan mendatangi langsung kantor redaksi Serambi Indonesia. Akibatnya, koran itu tidak terbit selama 13 hari (11-23 Agustus 2001) karena tidak mau mengambil risiko atas keselamatan jiwa mereka. Masih banyak contoh kasus lain yang dipaparkan dalam buku ini. Intinya, begitu berat pergumulan para insan pers yang peduli akan berita-berita tentang konflik Aceh. Ancaman dan tekanan yang datang dari sana-sini mungkin tidak kurang besar dengan apa yang dialami insan pers di era Orde Baru (Orba). Pers harus betul-betul bergumul sebelum memutuskan untuk memuat suatu berita yang menyoroti konflik Aceh sebab bukan cuma GAM yang harus diwaspadai, tetapi juga pihak TNI/Polri. Tak pelak, keselamatan insan pers menjadi rentan karenanya. Buku ini menghimpun enam hasil riset mengenai pemberitaan media pers tentang konflik Aceh dan berbagai eksesnya, dalam kurun waktu yang berbeda-beda (antara 1999 sampai pertengahan 2002). Sedangkan media-media pers yang diriset itu adalah beberapa surat kabar yang terbit di Medan dan Banda Aceh, terutama yang dianggap sangat intents dalam meliput kasus-kasus konflik di Aceh. Yakni, Serambi Indonesia, Waspada, Analisa, Radar Medan, dan Sumut Pos. Metode yang digunakan adalah analisis isi dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Ada beberapa alasan yang melandasi kajian pers itu. Pertama, pemberitaan media pers tentang konflik Aceh dapat dijadikan titik tolak untuk menilai kecenderungan perubahan perilaku pers dalam memberitakan konflik Aceh. Sebagaimana diketahui, semasa rezim Orba berkuasa, apalagi ditambah status Aceh sebagai DOM, akses pers terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik, khususnya GAM, sangat terbatas. Bahkan, kalau boleh dibilang, tak ada sama sekali. Berita konflik Aceh beserta kasus-kasus kekerasan terhadap rakyat sipil hanya dikonstruksi dari keterangan versi militer. Persoalannya, setelah status DOM dicabut dan rezim Orba tidak lagi berkuasa, apakah ada perubahan signifikan dalam pemberitaan pers tentang Aceh? Apakah orientasi pemberitaan pers lebih jujur dan berimbang? Kedua, sebagai daerah yang tak pernah sepi dari konflik, jurnalis(me) menjadi rebutan dari pihak-pihak yang bertikai, khususnya antara pihak GAM dan TNI/ Polri. Persoalan tersebut bertambah menarik dengan harapan publik untuk memperoleh informasi-informasi yang akurat dan objektif dalam rangka right to know sebagai landasan untuk menyatakan right to expression-nya. Sejauh manakah produk jurnalis(me) memenuhi harapan publik tersebut, khususnya publik yang menjadi korban dari konflik bersenjata antara GAM dan TNI/Polri? Ketiga, sesuai dengan teori proksimitas, berbagai pemberitaan menyangkut hal-hal yang terjadi di Tanah Rencong itu jelas memiliki daya tarik tersendiri. Meski berbagai penderitaan rakyat Aceh tak bisa diperbandingkan dengan penderitaan rakyat di wilayah lain, sebagai tragedi yang mengoyak-ngoyak harkat kemanusiaan “bangsa” Indonesia, konflik berdarah di Aceh juga bagian dari wajah rakyat Indonesia yang berdarah-darah. Buku ini dibagi atas tiga bagian. Kesatu, yang diberi judul Wajah Jurnalis(me) Aceh, berisi enam artikel. Kedua, berjudul Jurnalis(me) Aceh di Mata Pengamat dan Praktisi Pers, berisi empat tulisan. Ketiga, berjudul Jurnalis(me) Aceh dalam Perbincangan, berisi tiga tulisan. Khususnya pada bagian terakhir itu, setiap artikel merupakan hasil rekaman seminar tentang kecenderungan pemberitaan media pers dalam meliput konflik Aceh yang dibagi menjadi tiga sesi. VICTOR SILAEN(buntomi.wordpress)

Jumat, 27 Juni 2014

Jual Buku Agama Kekerasan dan Islam Kontemporer /Hassan Hanafi

Jual Buku Agama Kekerasan dan Islam Kontemporer, Hassan Hanafi
Judul: Agama, Kekerasan, dan Islam Kontemporer
Penulis: Hassan Hanafi
Harga: Rp. 45.000 
Penerbit: Jendela,
Tahun : 2001
Tebal: 182 halaman
Kondisi: Bekas, sedang

Buku ini adalah percikan pemikiran Hassan Hanafi dalam menganalisis fenomena kekerasan yang bernuansa agama. Dengan sangat genial, buku ini menghadirkan pandangan dan analisis Hassan Hanafi dengan kosmologi Islam kontemporer atas benturan budaya Timur dan Barat yang terjadi saat ini.

Sebagai sebuah wacana, karya Hassan Hanafi ini sangat bangus dijadikan referensi studi Islam baik di lingkungan Perguruan Tinggi maupun kalangan intelektual Islam sebagai bahan komparasi dan metodologi kritik atas fenomena globalisasi yang banyak melahirkan aras kekrasan.

Kamis, 12 Juni 2014

Jual Buku BANALITAS KEKERASAN,Telaah Pemikiran Hannah Arendt

Jual Buku BANALITAS KEKERASAN,Telaah Pemikiran Hannah Arendt ttg kekerasan Negara Penulis :Rieke Dyah Pitaloka,  Penerbit Koekoesan 












Judul BANALITAS KEKERASAN,Telaah Pemikiran Hannah Arendt ttg kekerasan Negara
Penulis :Rieke Dyah Pitaloka,

Harga Rp. 45.000
Penerbit Koekoesan
Kondisi Baru, stok lama
Tersedia 2 buah

Minggu, 11 Mei 2014

Sell Books > Jual Buku GENDER DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

Jual Buku GENDER DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL Sebuah Pengantar Penulis Ani Soetjipto
Title /Judul :GENDER DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
Sebuah Pengantar
Penulis Ani Soetjipto, dkk
Harga  Rp 70.000
Penerbit Jalasutra
Cetakan I, 2013
Tebal xii + 332 hlm;
Ukuran 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-8252-93-5
Deskripsi
Gender dan feminisme adalah kajian yang multidisipliner. Oleh karena itu, ketika studi Hubungan Internasional (HI) menggunakan lensa gender dan perspektif feminis, analisis dan pembahasan isu-isu politik internasional menjadi lebih komprehensif, mendalam, dan lebih tajam.

Isu internasional yang dikaji menggunakan lensa gender pun menjadi lebih beragam dan lebih luas melampaui isu-isu tradisional HI yang kita kenal selama ini.

Isu kekerasan terhadap perempuan dalam perang, perempuan sebagai agen perdamaian, migrasi global, persoalan perdagangan perempuan (women trafficking), buruh migran perempuan, PRT, hingga soal hak-hak perempuan dalam konvensi dan protokol konvensi internasional adalah sebagian dari isu internasional berdimensi gender yang secara khusus dibahas dalam buku ini.

Buku ini adalah bacaan pengantar untuk para pembaca pemula tentang gender, teori feminis, dan Hubungan Internasional. Buku ini bisa dibaca oleh para mahasiswa, dosen, peneliti, dengan beragam latar belakang bidang studi maupun para aktivis perempuan dan aktivis pro-demokrasi lainnya. Buku ini juga bermanfaat bagi kalangan umum yang belum memiliki pengetahuan dasar tentang gender, feminisme dan ilmu Hubungan Internasional.

Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih
Pengantar Editor
PENDAHULUAN: Gender, Feminisme, dan Hubungan Internasional
Ani Soetjipto
BAGIAN I: Gender, Feminisme, dan Kajian Keamanan Internasional
Pengantar
1. Perempuan dalam Konflik
Adinda Tenriangke Muchtar
2. Perdamaian dari Sudut Pandang Feminis
A.A. Sg. Dwinta Kuntaladara
3. Perkosaan Perempuan dalam Konflik
Fitri Bintang Timur
BAGIAN II: Gender, Feminisme, dan Ekonomi Politik Internasional
Pengantar
4. Migrasi Internasional dan Ketidaksetaraan Global:
Peluang dan Tantangan
Pande K. Trimayuni
5. Peningkatan Arus Migrasi TKW-PRT ke PEA
Mita Yesyca
6. Perkawinan dalam Kajian Ekopolin
Ilmu Hubungan Internasional
Andy Yentriyani
BAGIAN III: Hak Asasi Perempuan dalam Hubungan Internasional
Pengantar
7. Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia:
Perjuangan di Benua Afrika
Witania Larasati dan A.A. Sg. Dwinta Kuntaladara
8. Konvensi Perempuan: Sebuah Peluang Menggugat Ketidakadilan Berbasis Gender di Iran
Septi Shilawati
Daftar Pustaka
Indeks
Tentang Penulis

Endorsement
“Perspektif gender dalam studi hubungan internasional jelas memperkaya disiplin ilmu yang kompleks ini, yang umumnya cenderung didominasi oleh perspektif realisme. Melalui buku ini, Ani Soetjipto dkk membuktikan bahwa studi hubungan internasional bukan hanya studi tentang perang dan damai.”
Dr. Rizal Sukma, Direktur Eksekutif CSIS, Jakarta
“Buku ini menjadi penting untuk dinikmati,  tidak hanya oleh para mahasiswa dan sSarjana hubungan internasional,  maupun praktisi hubungan internasional, namun juga  pembaca umum yang tertarik untuk mengeksplorasi kompleksitas berpikir  isu-isu gender dan feminisme dalam konteks global.”
Jaleswari Pramodhawardani, Kepala Bidang Hukum dan Gender - Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB)-LIPI
“Terbitnya buku ini diharapkan membantu memperluas wawasan para pengamat dan praktisi hubungan internasional bahwa dengan menggunakan perspektif gender berbagai permasalahan regional dan global dapat ditangani secara lebih inklusif dan berkeadilan."
Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik,
Kantor Wakil Presiden Republik Indonesia
“Para penulis buku ini mengemukakan pikiran dan pandangannya tentang pentingnya memahami keterkaitan antara hubungan internasional, feminisme dan gender, sekaligus menunjukkan perlunya  mengenali beragam perspektif dalam melakukan kajian hubungan internasional.”
Saparinah Sadli