Tampilkan postingan dengan label Bertrand Russel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bertrand Russel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Jual Buku Serpih-serpih pemikiran Bertrand Russell /editor EGNER, Robert E

Buku Serpih-serpih pemikiran Bertrand Russell /editor  EGNER, Robert EJudul Buku Serpih-serpih pemikiran Bertrand Russell
/editor
Penyususn  EGNER, Robert E [ed.]. Harga Rp 38.000
Penerbit: Yogyakarta Sadasiva
Tahun : 2003
Tebal: xiii, 190hlm
Ukuran 12x 19 cm.
ISBN: 9799748119.
Kondisi : stoklama, langka, bagus

Senin, 11 Agustus 2014

Jual Buku AKAL SEHAT DAN ANCAMAN NUKLIR/Bertrand RUSSEL

Jual Buku AKAL SEHAT DAN ANCAMAN NUKLIR Penulis: Bertrand RUSSELJudul Buku AKAL SEHAT DAN ANCAMAN NUKLIR
Penulis: Bertrand RUSSEL
Harga Rp 28.000 
Penerbit : IKON
Tebal : 137 hal,
Kertas isi : HVS,
Sampul : soft cover
Ukuran (13 x 19,5 cm)
Kondisi : stok lama, bagus, 1 buah

“…Analisis dаn peringatan Bertrand Russel уаng cair dаn fasih mеmреrοlеh arti уаng begitu tinggi, dаn аkаn menemukan tempat уаng mulia dalаm pemikiran orang-orang уаng berharap mampu membalik dorongan уаng dahsyat terhadap penghancuran diri.”
– Noam Chomsky


Kamis, 05 Juni 2014

Jual Buku TEORI RELATIVITAS EINSTEIN /Russel

TEORI RELATIVITAS EINSTEIN, penjelasan populer untuk umum.
Pengarang: BERTRAND RUSSELL
Penerbit PUSTAKA PELAJAR
Tahun Terbit    2006
Kondisi Baru
Harga Rp 30.000

The Problems of Philosophy

The Problems of Philosophy
Bertrand Russel
Kondisi Baru stok Lawas ,bagus
Harga Rp 50.000

Sabtu, 19 April 2014

Jual Buku Sejarah Filsafat Barat / Bertrand Russel

Jual Buku Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang,  Penulis: Bertrand Russell Judul : Buku Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik, Zaman Kuno hingga Sekarang
Harga 165.000 dari Rp 195.000
Penulis: Bertrand Russell
Penerjemah: Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro, Imam Muttaqien, Imam Baihaqi, Muhammad Shodiq
Penerbit: Pustaka Pelajar,
Cet, November 2002
Tebal: xxvi+1110 halaman
Kondisi Baru

 Buku sangat tebal (xxvi+1.110 halaman) ini bukan hanya menguraikan pertanyaan filosofis di dunia filsafat, namun juga menguraikan akar sejarah yang mempengaruhi setiap pemikiran filsafat sepanjang zaman dan mengupas persoalan berdasarkan kondisi sosial politik yang mempengaruhinya. Sebab, menurut Russell, sejak manusia dapat berpikir bebas, tindakan-tindakannya--dalam berbagai hal penting yang tidak terbatas jumlahnya--bergantung pada teori-teori yang mereka hasilkan tentang dunia dan kehidupan manusia, tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Untuk memahami sebuah zaman atau bangsa, kata Russell, kita harus memahami filsafatnya. Untuk memahami filsafatnya, kita harus--sampai batas-batas tertentu--menjadi filosof. Di sini ada hubungan klausul timbal balik: lingkungan kehidupan manusia banyak menentukan filsafatnya, dan sebaliknya, filsafat juga banyak menentukan lingkungan kehidupannya. Deskripsi antara filsafat dan lingkungan kehidupan manusia selama berabad-abad merupakan topik utama buku yang ketebalannya cukup langka di Indonesia ini.

Karya ini, judul aslinya History of Western Philosophy and its Connection with Politicak and Social Circumstances from the Earliest Time to the Present Day, merupakan buku Russel yang paling sukses dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dalam buku ini Russell berusaha mengaitkan sejarah filsafat (dunia pemikiran) dengan sejarah sosial, politik, dan kemasyarakatan (dunia kenyataan).

Dengan data yang absah dan lengkap, Russell membahas sosok para filsuf yang mempunyai kontribusi besar dalam peradaban manusia dan merinci ide-ide dasar, pemikiran-pemikiran, pengaruhnya terhadap masyarakat dan para filsuf berikutnya. Juga dimasukkan bab-bab khusus mengenai sejarah sosial murni, yang dimaksudkan untuk melihat kaitan antara seorang filsuf, pemikiran dan kondisi sosial-politiknya.

Buku ini terdiri dari tiga bagian besar. Bagian I membahas filsafat kuno yang meliputi filsafat pra-Sokratik, Sokrates-Plato-Aristoteles, dan filsafat kuno setelah Aristoteles (terdiri 3 bagian dan 30 bab). Bagian II membahas filsafat Katholik, meliputi filsafat Para Bapa dan para filsuf Abad Pertengahan (terdiri 2 bagian dan 15 bab). Sedangkan bagian III membahas filsafat Modern, mencakup pembahasan filsafat dari Renaissans hingga Hume, dan dari Rousseau hingga para filsuf kontemporer abad ini (terdiri 2 bagian dan 31 bab).

Buku ini merupakan buku pertama berbahasa Indonesia terlengkap yang membahas tokoh dan pemikiran filsafat terdiri 76 bab. Literatur filsafat berbahasa Indonesia yang selama ini diyakini cukup lengkap adalah Kamus Filsafat karya Lorens Bagus. Namun karya Bagus tidak bisa disandingkan dengan buku ini karena bukan buku, melainkan kamus.

Jika Anda mempercayai opini tertentu tentang mutu buku yang diterjemahkan oleh penerjemah non-otoritatif di bidangnya, maka membaca buku ini opini itu akan sirna. Di samping buku ini diterjemahkan oleh tim yang menguasai bidangnya, hasilnya juga sangat memuaskan (bahasanya elegan, tampaknya melalui proses editing yang ketat) dibanding terjemahan-terjemahan sebelumnya yang diterbitkan Pustaka Pelajar.

Kholilul Rohman Ahmad, pustakawan, kandidat Sarjana Filsafat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini pernah dimuat di KORAN TEMPO 26 January 2003

Kamis, 10 April 2014

Jual Buku Bertuhan Tanpa Agama, Penulis Bertrand Russel

Jual Buku Bertuhan Tanpa Agama, Penulis Bertrand Russel Judul Buku Bertuhan  Tanpa Agama
Softcover, 320 pages
Publish 2nd 2013
(Published 1st May 2008) by Resist Book
Harga Rp 78.000
line. sms.wa. 0896-6116-2026  BBM 570BD803

Deskripsi buku:Bertrand Russell adalah figur pemikir-bebas dan filosof yang kontroversial. Karya-karyanya terkenal luas dalam berbagai bidang: dari filsafat, bahasa, politik, sains, hingga agama. Meski dikenal dengan pandangannya yang keras dan kritis terhadap agama, namun sosiolog Max Weber justru menyebutnya sebagai “laki-laki kalem yang religius”. Ribuan pembacanya bahkan menganggap Russell sebagai guru spiritual yang sederajat dengan tokoh-tokoh mistik seperti Tagore, Albert Schweitzer, dan guru spiritual lain di jaman kita.

Bertuhan Tanpa Agama merupakan karya paling provokatif yang dihasilkan penulis tentang sains, filsafat, dan agama, sejak awal hingga akhir masa hidupnya. Penulis mendekati agama sebagai seorang filosof, sejarawan, kritikus sosial dan individu. Buku ini menghadirkan sekumpulan tulisan komprehensif penulis, serta penolakannya yang keras terhadap akar-akar fundamentalisme, irasionalisme dan dogmatisme dalam beragama


Opini pembaca:
 AGNOTISME RUSSELL: BERTUHAN TANPA AGAMA
Secara umum, seseorang yang berkeyakinan agama tertentu (atau setidaknya menganut paham mistisisme) mempercayai tiga hal. Yakni percaya pada Tuhan (atau sejenis kekuatan ‘supra’ lainnya), percaya pada utusan Tuhan bagi manusia di bumi, dan percaya pada kehidupan keabadian setelah kematian (immortality after death). Percaya pada hari pembalasan menjadi modus bagi kaum beragama untuk mengabarkan tentang kebaikan. Karena perbuatan jahat di muka bumi akan membuahkan hukuman dan siksa di ‘hari kemudian’ demikian pula sebaliknya. Perbuatan baik yang dilakukan di bumi semata-mata untuk tabungan kebaikan di kehidupan berikutnya. Maka, pertanyaan seorang murid yang tangah dan tak henti-hentinya berkontemplasi dengan kehidupan, tentang siksa neraka menjadi menarik untuk dielaborasi.

Iman dan Kepercayaan

Seseorang yang membutuhkan agama untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri adalah orang yang takut. Kepercayaan adalah kejahatan karena ia berarti menambahkan lebih banyak arti pada bukti melebihi yang diperlukan. Kita seringkali menggunakan kepercayaan pada hal-hal yang meragukan, belum pasti kebenarannya, atau paling tidak masih debatable statusnya. Kita tidak pernah membicarakan kepercayaan pada tabel perkalian, misalnya. Maka, Iman adalah kejahatan, karena ia berarti memercayai dalil ketika tidak ada alasan yang sahih untuk mempercayainya (Bertrand Russel, dalam : “Bertuhan tanpa Agama”).

Russel adalah seorang agnostik. Dia menunda untuk percaya pada Tuhan, Nabi dan hari Akhir sampai ada hal-hal yang secara sahih dan memadai dapat dibuktikan kebenarannya. Konsep kebaikan dan kejahatan tidak didasarkan pada perintah Tuhan, Nabi, atau motivasi hari akhir. Tidak juga pada hati nurani. Melainkan pada empati. Konsep empati ia terapkan untuk mendorong orang-orang putus asa tidak dengan dalil-dalil melainkan dengan sebuah logika sederhana: "Saya akan mendorong orang yang putus asa dengan menunjukkan sesuatu yang bias ia capai. Pada diri kita terdapat sesuatu yang bias kita lakukan, dan kita akan menjadi lebih baik dengan melakukannya. Tidak perlu melibatkan agama. Selalu ada banyak hal yang perlu Anda kerjakan. Misalkan ia berupa kebaikan Anda sendiri. Anda makan pagi tetapi Anda tidak peduli pada agama. Jika Anda peduli pada orang lain Anda akan membutuhkan sangat sedikit agama untuk menyediakan mereka makan pagi. Selalu ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk orang lain, dan saya memasukkan Anda di dalamnya. Anda tidak memerlukan agama untuk mengetahui hal ini, Anda hanya membutuhkan tindakan rasional atas apa yang mungkin (dilakukan)” (p. 120)

Tentang Dosa dan Neraka.

Mengenai konsep ‘dosa’, ia menganggapnya bukan konsep yang berguna. Tentu saja, ia mengakui bahwa sebagian jenis tingkah laku diinginkan dan sebagian tidak diinginkan, tetapi ia berpendapat hukuman atas jenis tindakan yang tidak diinginkan hanya dijatuhkan untuk pencegahan atau perbaikan, bukan dijatuhkan karena hukuman tersebut dianggap hal yang baik dalam dirinya sehingga orang yang bersalah harus menanggungnya. Kepercayaan pada hukuman pembalasan inilah yang menjadikan orang menerima neraka. Inilah sebagian bahaya dari gagasan ‘dosa’. Setiap orang melakukan apa saja yang ia sukai. Misalnya, Anda sangat membenci seseorang sehingga Anda ingin membunuhnya. Mengapa Anda tidak melakukannya? mungkin Anda menjawab : ‘Karena agama mengajarkan pada saya bahwa membunuh itu dosa’. Tetapi sebagai data statistik, penganut agnostik tidak lebih cenderung membunuh dibanding yang lain, pada kenyataannya lebih kecil kecenderungannya. Saya kira setiap orang yang mengkaji sejarah masa lampau dengan cara yang adil akan sampai pada kesimpulan bahwa agama telah menyebabkan lebih banyak penderitaan daripada mencegahnya (p.40).

Russel, bukanlah seorang komunis. Komunisme, menurut Russel tidak menentang agama, ia hanya menentang agama Kristen demikian juga Islam. Russel adalah sebagian kecil dari orang-orang yang gelisah dengan perkembangan peradaban kemanusiaan saat ini. Kita tengah berada di jaman kemerosotan moral, katanya. Dan indikasi kemajuan moral adalah adanya simpati yang meluas. Sayangnya sejauh ini agama belum memiliki fungsi yang siginifikan dalam hal meluasnya rasa simpati kemanusiaan (kalau tidak ingin dikatakan sebalik, seperti pertikaian antar dan interagama, misalnya).

“Rasa takut adalah induk dari kekejaman, karenanya tidak mengherankan jika kekejaman dan agama berjalan beriringan. Ini karena rasa takut menjadi dasar bagi keduanya. Di dunia ini kita sekarang bisa mulai sedikit memahami sesuatu, dan sedikit demi sedikit menguasainya dengan bantuan sains, yang secara bertahap bergerak maju melawan agama dan melawan semua ajaran-ajaran lama. Sains bisa membantu kita menghilangkan penjara ketakutan. Hati kita sendiri pun bisa mengajari kita, untuk tidak lagi mencari dukungan semu, tidak lagi mencari sekutu di langit, tetapi melihat pada upaya kita sendiri di bawah langit untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat yang cocok ditempati, bukannya semacam tempat yang dibangun oleh agama-agama dogma selama berabad-abad (p.99).”

Russel, menurut para koleganya, lebih saleh dari orang-orang beragama yang mereka kenal. Maka, meski kurang tepat, buku kumpulan esainya yang berjudul "Russel on Religion" diterjemahkan menjadi “Bertuhan Tanpa Agama”.
diposting oleh Oir Nikonian