Tampilkan postingan dengan label Kajian Konflik Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Konflik Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

Nasionalisme dan Konflik Etnis di Indonesia

Judul  Nasionalisme Dan Konflik Etnis Di Indonesia
Penulis Jacques Bertrand
Harga Rp 70.000
Penerbit Ombak | 2012 | xl+384 h
Penerbit Ombak

“Dalam buku ini menunjukkan bagaimana, pada akhir 1990-an, model kebangsaan ini mendapat tekanan yang hebat akibat prospek transformasi kelembagaan, konfigurasi ulang hubungan-hubungan etnis, dan meningkatnya peran Islam dalam lembaga-lembaga politik Indonesia. Dalam konteks tantangan-tantangan inilah, definisi mengenai bangsa Indonesia dan apa yang dimaksud dengan orang Indonesia dikupas secermat-cermatnya. Buku ini menerangkan akar-akar konflik agama dan etnis pada suatu titik balik dalam sejarah Indonesia.”

Minggu, 30 Agustus 2015

Jual Buku Prasangka dan Konflik Komunikasi, Penulis Dr. Alo Liliweri

Jual Buku  Prasangka dan Konflik Komunikasi, Penulis  Dr. Alo Liliweri Judul Prasangka dan Konflik Komunikasi
Harga Rp 95.000
Penulis Dr. Alo Liliweri
Penerbit Lkis
Terbit April - 2005
Tebal 438 hlm
Berat 690
Kulit Muka Soft Cover -
Dimensi(L x P) - 14 x21cm

Rabu, 26 Agustus 2015

Konflik Sosial Nelayan : Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan

Jual Buku Konflik Sosial Nelayan : Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan
Judul Konflik Sosial Nelayan : Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan
Harga Rp 44.000 dari 52.000
Penulis Drs. Kusnadi, M.A
Penerbit Lkis
Terbit Agustus - 2006
Tebal     266  Halaman
ISBN 9799492688
Ukuran 130 x 120
Kondisi Baru

Rabu, 12 Agustus 2015

Jual Buku : Strategi Migran Banjar, Penulis : Taufik Arbain

Jual Buku : Strategi Migran Banjar, Penulis : Taufik ArbainJudul Buku : Strategi Migran Banjar
Penulis     : Taufik Arbain
Harga : Rp 63000 dari 72.000
Penerbit   : LKiS
Tahun   : 2009
Tebal        : xxiv + 266 hlm
Ukuran     : 14 x 21 cm

Deskripsi :
Buku ini menyajikan suatu riset lapangan tentang strategi adaptasi oleh etnis Banjar sebagai penduduk migran (pendatang) terhadap penduduk asli kota Palangkaraya. Strategi adaptasi itu dilakukan guna menghindari konflik antaretnis di tengah menguatnya sentimen etnisitas akibat konflik-konflik etnis yang sering terjadi di Indonesia.

Rabu, 01 Juli 2015

Jual Buku Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim

Jual Buku Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim, Penulis Hamim, Thoha.Resolusi Konflik Islam Indonesia, Oleh Thoha Hamim
Harga Rp 60.000
Penulis: Hamim, Thoha.
Bahasa : Indonesian ; English
Penerbit: Kerjasama Lembaga Studi Agama dan Sosial (LSAS), IAIN Sunan Ampel, IAIN Press, dan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, 2007.
Edition: Cet. 1.
Kategori : Social conflict > Religious aspects > Islam. Conflict management > Religious aspects > Indonesia.
Tebal : x, 315 p. : ill. ; 25 cm.
ISBN: 9789799492241
9799492246
Kondisi Bagus

Aceh Dame, TA Sakti, Sulaiman Gani

















Aceh Dame, TA Sakti, Sulaiman Gani, Rp 28.000

Sabtu, 11 April 2015

Jual Buku Prakarsa Perdamaian :Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial

Jual Buku Prakarsa Perdamaian :Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial,
Judul : Prakarsa Perdamaian Pengalaman dari berbagai Konflik Sosial Harga  Rp 33.000
Penulis: Khamami Zada dkk.
Editor : Fathuri SR
Isi : vii+183 Halaman
Ukuran : 16 x23
Penerbit: PP Lakpesdam NU & European Initiative for Democracy and Human Rights (EIDHR) Komisi Eropa
Tahun : 2008
ISBN: 978-979-95818-8-4
Kondisi : Baru, stok lama

Eskalasi kekerasan antar kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang masih marak terjadi di negeri ini. Beragam model konflik yang terjadi baik vertikal maupun horizontal seolah tidak ada tanda untuk berhenti. Terbukti dengan banyaknya kasus kekerasan seperti penyerangan terhadap Ahmadiyah (di Parung, Kuningan, Majalengka, Lombok, dll.), komunitas Salamullah (Lia Eden), Pondok Nabi di Bandung (2004), Yayasan Kanker dan Narkoba Cahaya Alam (YKNCA) di Probolinggo Jawa Timur serta beberapa penyerangan terhadap aliran yang dianggap sesat dan budaya yang bertentangan dengan golongan mainstream.
Menurut Guru Besar filsafat STF Driyarkara Franz Magnis Suseno dalam pengantar buku terbitan pustaka pelajar yang berjudul melawan kekerasan tanpa kekerasan, ada empat faktor yang melatarbelakangi budaya kekerasan di Indonesia. Pertama, transformasi didalam masyarakat atau pengaruh globalisasi dan modernisasi. Kedua, akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, masyarakat yang sakit. Keempat, pengaruh Orde Baru sebagai sistem institusionalisasi kekerasan. Kemudian dalam buku yang digarap oleh Khamami Zada, dkk. ini menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya konflik sosial adalah hilangnya toleransi yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Toleransi telah terkikis oleh aksi kekerasan dengan klaim memperjuangkan kebenaran. Meskipun kebenaran itu masih bersifat objektif.
Buku ”Prakarsa Perdamaian” ini adalah hasil penelitian (research) tentang respon dan sikap tokoh agama maupun adat untuk mewujudkan perdamaian di daerahnya serta inisiatif apa yang mereka lakukan dalam menyelesaikan konflik. Maskipun telah ada penelitian yang terkait dengan aksi kekerasan dan inisiatif perdamaian sebelumnya, tetapi masih berkutik pada peran kelompok masyarakat saja (misalnya, LP3ES-Forum sebangsa melakukan penelitian Peran Pesantren dalam membangun jaringan komunitas untuk pengembangan Budaya Damai di Indonesia). Atau beberapa penelitian yang sangat menonjolkan peran negara (pemerintah, kepolisian, militer, dan perangkat daerah lainnya) seperti penelitian yang dialakukan Departemen Agama RI. Namun, buku ini lebih menyoroti aspek peran tokoh agama dan adat dalam upaya untuk menciptakan sebuah prakarsa perdamaian.
Langkah tersebut dipilih dengan alasan bahwa dari sekian konflik yang terjadi, peran tokoh agama dan adat memainkan peran vital dalam sebuah upaya perdamaian. Karena para pemimpin agama inilah yang akan membawa kemana agama akan dibawa, kearah kesejukan dan perdamaian atau ke arah distrust, konflik, dan kekerasan. karena alasan itulah kenapa tokoh agama dan adat memegang peran strategis dalam penyelesaian konflik .
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah kajian metodologi yang menggunakan metode kualitatatif, kemudian difokuskan pada wawancara mendalam (indepth interview) dengan 100 informan yang mewakili 12 kabupaten di 3 provinsi yaitu Sulawesi Selatan, NTB, Jawa Barat. Dengan metode ini tentunya akan lebih elaboratif dalam menganalisis dinamika dan ragam inisiatif yang dilakukan tokoh agama.
Bagian awal buku ini secara rinci menjelaskan hubungan antara sikap, otoritas, dan legitimasi berpengaruh terhadap tumbuhnya benih perdamaian. Sikap manusia menurut ahli psikologi Louis Thurstone (1928), rensis Likert (1932), dan Charlest Osgood adalah suatu bentuk evalusi atau reaksi perasaan. Sikap dalam hal ini sebagai kecenderungan terhadap sesatu yang negatif dan positif. Sikap ini tidak berdiri sendiri melainkan dipengaruhi banyak faktor seperti ekonomi, politik, agama, lingkungan, norma-norma dan group. Jika orang mempunyai sikap positif terhadap permainan, maka dia akan berusaha mewujudkan perdamaian itu, begitupun sebaliknya.
Di dalam permasalahan otoritas, khamami zada, dkk meninggalkan teori ”kiri” Karl Marx yang mencita-citakan hadirnya masyarakat sosialis tanpa kelas. Sikap yang sama ditujukan kepada kaum konservatisme ”kanan” seperti Adam Smith dan John Rawls yang menegaskan setiap individu pada dasarnya setara. Tetapi lebih melirik analisis Weber yang tidak menafikan aspek otoritas dalam keharmonisan didalam kehidupan masyarakat maupun negara. Jadi, dalam bentuk ruang sosial apapun diperlukan otoritas untuk menjaga ketertiban sosial. Dari analisis inilah kemudian dapat ditarik benang merah, prakarsa perdamaian sangat ditentukan oleh bagaimana persepsi dan sikap pemimpin keagamaan dan adat terhadap persoalan sosial karena kekuatan otoritas dan legitimasi yang dimiliki mereka.
Buku terbitan PP Lakpesdam NU bekerjasama dengan European Initiative for Democracy and Human Rights (EIDHR) komisi Eropa ini, secara intens mengupas model prakarsa perdamaian di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan di Jawa Barat. Masing-masing dieksplorasi hal-hal yang bersinggungan dengan konflik dan kekerasan. Dimulai dengan setting geografis dan sosiologis masing-masing daerah, peta konflik dan kekerasan yang meliputi berbagai macam kekerasan yang terjadi beserta penyebabnya. Setelah itu, memperbincangkan sikap dan respon tokoh agama dan adat terhadap kekerasan, baik dalam fisik maupun psikis terhadap perbedaan yang ada. Yang tidak kalah penting adalah profil informan sebagai bagian sumber data primer dan acuan data informasi. Selain itu informan dituntut sebisa mungkin untuk mewakili aktor, baik aktif maupun pasif, yang berada dalam lingkaran kasus kekerasan tersebut.
Konflik yang terjadi di Sulawesi Selatan misalnya, provinsi yang berpenduduk kurang lebih 7,63 juta jiwa dan juga multikultur ini tidak lepas dari ancaman konflik sosial. Konflik antar suku Bugis dan Makasar, konflik antar agama, penyesatan terhadap ahmadiyah, sengketa tanah adat kajang dengan PT Lonsum serta sejumlah konflik akibat perda syari’at sempat meletupkan api ketegangan di Sulawesi Selatan. Konflik-konflik tersebut dilatarbelakangi berbagai hal dari pemberitaan media yang provokatif sampai penyesatan ideologi. Dari konflik sosial ini tentunya terdapat figur-figur yang diharapkan mampu untuk menyiasati sebuah perdamaian yang utuh. Diantara beberapa figur ini adalah tokoh agama dan adat seperti H. Colleng ketua jamaat ahmadiyah, Hj. Rusdaya Basri, Lc. Sekretaris Himpunan Daiyah Muslimat NU sekaligus pengajar STAIN Pare-Pare dan tokoh adat seperti Amma Toa, pemimpin tertinggi komunitas kajang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Figur-figur seperti ini sekaligus menjadi informan dalam penelitian ini dan menjadi agen menuju perdamaian dengan legitimasi yang mereka miliki. Mereka mempunyai pengalaman dalam setiap kasus konflik dan mempunyai sosialisasi perdamian dengan versi yang beragam. Media yang telah dipakai untuk mengampanyekan perdamaian seperti pendidikan, diskusi, dialog lintas iman sampai menerapkan nilai perdamian dalam kegiatan sehari-hari.
Pada bagian akhir dari masing-masing pembahasan daerah konflik ini, selalu dirinci jelas bentuk-bentuk prakarsa perdamaian. Dilengkapi dengan dat-data media-media yang dipakai serta advokasi dan diseminasi perdamaian yang didiskripsikan secara objektif terhadap dimensi sosial ada. Setidaknya konflik dari 12 kabupaten yang ada di 3 provinsi, dapat disimpulkan menjadi empat kategori konflik berdasar aktor yang terlibat. Pertama, konflik antar pemeluk agama yang berbeda (NTB). Kedua, konflik internal umat beragama (Jemaat Ahmadiyah, Kelompok Salafi). Ketiga, konflik antara ”agama resmi” dengan komunitas adat (kasus masyarakat To Lotang SulSel, Agama Sasak NTB). Keempat, konflik masyarakat adat dengan pemerintah (konflik adat Kajang dan PT Lonsum). Kelima, konflik intern masyarakat adat (konflik Dusun Rembitan dan Penyalu NTB).
Semua kekerasan yang timbul berawal dari baragam aktor dan pola konflik serta sikap dan perilaku sesorang dalam melihat persoalan. Hal itu sangat dipengaruhi banyak faktor, sebut saja jarak sosial (social distance), situasi dan kondisi individu, kepercayaan umum, dll. Oleh sebab itu, upaya bersama-sama merupakan langkah riil untuk mewujudkan perdamaian. Perdamaian tidak bisa dipasrahkan pemerintah saja atau diprakarsai tokoh agama dan adat. Melainkan serentak oleh berbagai elemen masyarakat untuk berhasrat mempunyai kepentingan bersama menorehkan perdamaian.
Buku laporan penelitian Khamami Zada, dkk. setebal 183 halaman ini berhasil membawa pembaca pada medan konflik sekaligus mengajak untuk merintis sebuah prakarsa perdamaian. Tentu buku ini bermanfaat bagi para penggiat isu perdamaian. Dengan buku ini kita akan bisa merenungkan beberapa langkah strategis dalam mengupayakan perdamaian di muka bumi ini. []

* Penulis adalah Warga Piramida Circle dan Penggiat Perdamaian Lintas Iman

Jual Jurnal Afkar :Inisiatif Perdamaian Meredam Konflik Agama dan Budaya

Jual Jurnal Afkar :Inisiatif Perdamaian Meredam Konflik Agama dan BudayaJurnal Afkar :Inisiatif Perdamaian Meredam Konflik Agama dan Budaya.
Harga Rp 33.000
Kondisi Baru, stok lama

Sabtu, 14 Februari 2015

Jual Buku Brumaire XVIII Louis Bonaparte / Karl Marx

Jual Buku Brumaire XVIII Louis Bonaparte, Karl MarxBuku Brumaire XVIII Louis Bonaparte 
Harga: Rp 50.000
Penulis: Karl Marx
Penerjemah: Oey Hay Djoen
Penerbit: Hasta Mitra

Tahun: Cetakan Pertama, 2006
Bahasa: Indonesia
Sampul: Soft Cover
Tebal: 140 hlm
Ukuran: 15 x 21,5 Cm
Tersedia 1 buah
Kondisi: Stok lama,Bagus


 Ditulis oleh Marx pada bulan Desember 1851 hingga Maret 1852. Diterbitkan dalam majalah Die Revolution, New York 1852. Edisi kedua, direvisi oleh Marx, terbit sebagai sebuah buku terpisah di Hamburg pada tahun 1969. Edisi ketiga terbit di Hamburg pada tahun 1885 dengan suatu kata-pengantar Engels. Dicetak sesuai teks edisi kedua, Diterjemahkan dari bhs. Jerman

Pada tanggal 2 Desember 1851, para pengikut Presiden Louis Bonaparte (kemenakan Napoleon) membubarkan Majelis Legislatif dan mendirikan suatu kediktatoran. Setahun kemudian, Louis Bonaparte memproklamasikan dirinya sendiri sebagai Kaisar Napoleon III. Marx menulis Brumaire XVII Louis Napoleon antara Desember 1851 dan Pebruari 1852. Brumaire XVIII mengacu pada 9 November 1799 dalam Kalender Revolusioner Prancis – hari Napoleon Bonaparte I menjadikan dirinya sendiri diktator dengan suatu kudeta. Dalam karyanya ini Marx mencari bagaimana konflik berbagai kepentingan sosial menyatakan dirinya dalam jaringan rumit perjuangan politik, dan khususnya hubungan-hubungan kontradiktif antara bentuk luar suatu perjuangan dan kandungan sosialnya yang sesungguhnya. Proletariat pada waktu ini juga tidak berpengalaman untuk merebut kekuasaan, tetapi pengalaman-pengalaman 1848 –51 akan terbukti takterhingga nilainya bagi revolusi kaum buruh tahun 1871.

"Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih mereka sendiri, melainkan dalam situasi-situasi yang langsung dihadapi, ditentukan dan ditransmisikan dari masa lalu. Tradisi dari semua generasi-yang mati membeban bagaikan sebuah impian impian-buruk atas benak yang hidup. Dan tepat manakala mereka tampak terlibat dalam merevolusionerkan diri mereka sendiri dan segala sesuatu, dalam menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, justru pada periode-periode krisis revolusioner seperti itu mereka dengan cemas membangkitkan roh-roh masa lalu untuk melayani mereka dan meminjam darinya nama-nama, teriakan-teriakan dan busana-busana perang untuk menyajikan adegan baru sejarah dunia dalam samaran lama dan bahasa pinjaman ini." —Karl Marx, Brumaire XVIII Louis Bonaparte (Hasta Mitra, 2006, Hlm 15)

Kenyataan bahwa suatu edisi baru dari The Eighteenth Brumaire telah diperlukan, tigapuluh tahun sejak penerbitannya yang pertama, membuktikan bahwa hingga sekarang buku kecil ini tidak sedikitpun kehilangan nilainya.

Sesungguhnyalah, buku itu sebuah karya zenial. Seketika setelah peristiwa yang menggetarkan seluruh dunia politik bagaikan suatu halilintar di siang bolong, yang dikutuk sementara pihak dengan teriakan-teriakan lantang kejengkelan moraldan diterima oleh pihak-pihak lain sebagai penyelamatan revolusi dan sebagai hukuman atas kesalahan-kesalahannya, namun dipertanyakan oleh semua orang dan tidak dipahami oleh tidak seorangpun—seketika setelah peristiwa itu Marx tampil dengan suatu pemaparan ringkas, epigramatik yang membuka tabir seluruh perjalanan sejarah Prancis sejak hari-hari Februari dalam antarhubungan-internalnya, mereduksi keajaiban 2 Desember menjadi suatu akibat wajar dan niscaya dari antar-hubungan ini dan begitu bahkan tidak perlu memperlakukan pahlawan coup d'etat secara lain daripada kenistaan yang memang sangat layak diterimanya.

Dan gambaran itu dilukiskan dengan tanda tangan sedemikian ahli sehingga setiap pengungkapan baru dibuat sejak itu hanya memberikan bukti-bukti baru betapa setia pengungkapan itu mencerminkan realitas. Pemahaman nyata mengenai sejarah hidup jamannya, apresiasi yang jernih mengenai peristiwa-peristiwa pada saat kejadiannya, sungguh tiada bandingnya.—Frederick Engels

Selasa, 06 Januari 2015

Buku Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan / Zaiyardam Zubir


Jual Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau, Penulis: Zaiyardam Zubir
Judul : Buku  Budaya Konflik dan Jaringan Kekerasan: Pendekatan Penyelesaian Berdasarkan Kearifan Lokal Minangkabau  .Harga: Rp. 50.000
Penulis: Zaiyardam Zubir
Penerbit: Insist Press,
Tahun :2010
Tebal: 325 halaman
Kondisi: Stok lama,Bagus

Reformasi di negeri ini ternyata tak seluruhnya membawa perubahan yang positif. Serentak dengan embusan reformasi dan demokratisasi, bangsa ini seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga: nilai-nilai kemanusiaan.

Tengok saja. Hanya dalam hitungan bulan setelah reformasi, pecah konflik horizontal di berbagai daerah. Hingga detik ini kekerasan demi kekerasan masih terus bergulir. Di tingkat bawah, rakyat di banyak daerah tetap kerap bakupukul bahkan saling membunuh. Konflik yang melebar menjadi kerusuhan pun jadi tontonan sehari-hari di layar televisi.

Tak hanya di tingkat bawah, elemen masyarakat di tingkat atas pun tampak sudah mencabik-cabik rasa kemanusiaan. Berapa banyak dari mereka yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi menjarah uang rakyat. Dalam banyak kasus, tanpa malu-malu pula kalangan atas ini lalu mengadu-domba rakyat kecil atas nama demokrasi.

Buku ini memang tidak bicara budaya konflik dan kekerasan secara umum di Indonesia. Ini merupakan hasil kajian tentang budaya konflik yang pernah tumbuh di Sumatera Barat. Zaiyardam Zubir dalam penelitiannya menemukan kearifan lokal di balik budaya konflik urang awak itu. Ia mendapati, konflik pada masyarakat Minangkabau bukan sekadar melahirkan kekerasan, melainkan justru juga menjadi sumber dinamika kehidupan mereka.

Selama ini diketahui, ada dua nilai yang kuat mempengaruhi cara berpikir, cara pandang, dan tingkah laku masyarakat Minangkabau: adat dan agama Islam. Pada suatu masa, benturan kedua nilai ini menjadi sumber konflik yang keras dan berkepanjangan. Konflik berkepanjangan itu pada akhirnya melahirkan filosofi dasar urang awak: adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Buku ini mengindikasikan, dalam konflik yang bagaimanapun keras dan panjangnya mesti ada jalan tengah. Tentu saja sejauh budaya konflik yang jadi sumber dinamika kehidupan masyarakat tidak ditempatkan dalam jaringan kekerasan. Kenyataannya selama ini, ada pihak ketiga yang menempatkannya dalam jaringan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu.

Erwin Y. Salim

Sabtu, 27 Desember 2014

Jual Buku Revitalisasi Kearifan Lokal, studi Resolusi Konflik di Kalimantan Maluku dan Poso

Jual Buku Revitalisasi Kearifan Lokal, studi Resolusi Konflik di Kalimantan Maluku dan Poso
Buku Revitalisasi kearifan lokal : studi resolusi konflik di Kalimantan Barat, Maluku, dan Poso Harga Rp 50.000
(Revitalization of Local Wisdoms: Conflict Resolution Studies in West Kalimantan, Maluku and Poso)
Penulis  : Tamrin Amal Tomagola, John Haba, Lies Marantika, George Junus Aditjondro, Ridwan Rosdiawan, Zaenuddin Hudi, Ibrahim M. Shalej, Hasbollah Toisuta, Abubakar Kabakoran, M. Yani Kubangun, Eka. D. Uar, Mustakim Zein Nuhuyanan, Florida Attamimy, Agustanty e. S. Ruagadi, Darwin Waru, Sonny V. E. Lempadely dan Syamsul Alam Agus ; Editor, Alpha Amirrachman
Penerbit Jakarta : International Center for Islam and Pluralism : European Commission,
Terbit : 2007
Tebal : xviii, 360 hlm.
Ukuran : 14x 22 cm.
ISBN 9799994233

Daftar Isi :
-Revitalisasi kearifan lokal untuk perdamaian / Alpha Amirrachman
-Merajut perdamaian di Kalimantan Barat / Ridwan Rosdiawan, Zaenuddin Hudi, dan Ibrahim M. Shaleh
-Damai
-damai di Maluku
-! / Hasbollah Toisuta ... [et al.]
-Bersatu kita teguh di Tana Poso / Agustanty E.S. Ruagadi ... [et al.]
-Anatomi konflik komunal di Indonesia / Tamrin Amal Tamagola
-Motambu tana, pranata resolusi konflik atau landasan pelebaran konflik? / George Junus Aditjondro
-Peran strategis perempuan untuk perdamaian di daerah konflik / Lies Marantika
-Analisis SWOT kearifan lokal dalam resolusi konflik / John Haba.



Senin, 08 Desember 2014

Jual Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Novri Susan

Jual Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Novri Susan, Prenada,Buku Pengantar Sosiologi Konflik, Edisi Revisi
Pengarang : Novri Susan, M.A.
Harga Buku : Rp 58.000
Penerbit : Prenada Media Grup (Kencana)
Halaman : 296
Cetakan : Ukuran : 13,5X20,5 cm

Deskripsi
Mengapa kajian -Sosiologi Konflik- dibutuhkan? Sosiologi konflik dan kekerasan melalui tradisi kajian analisis sosiologi. Pertama, sosiologi konflik memberi perspektif analisis yang konflik memberi analisis terhadap berbagai fenomena komprehensif mengenai dimensi konflik sehingga bisa diketahui skala, latar belakang, dan arah perkembangan konflik dalam masyarakat. Kedua, hasil kajian analisis sosiologi konflik dapat dimanfaatkan untuk memberi kejelasan bentuk penanganan seperti tata kelola konflik, pendidikan perdamaian, dan pembangunan perdamaian. Penanganan konflik dalam kajian kontemporer ditujukan untuk mereduksi tingkat kekerasan dan mentransformasi konflik yangdestruktif menjadi konflik yang konstruktif.

Buku ini berhasil menjelaskan teori sosiologi konflik klasik dan kontemporer, dari Ibnu Khaldun, Karl Marx, Max Weber, Georg Simmel, Emile Durkheim. Dari tradisi positivisme yang direpresentasikan oleh Lewis Coser dengan teori fungsi konflik sosial atau Ralf Dahrendorf dengan dialektika konflik, dan Paul Wehr dengan tindakan dan sumber konfliknya. Juga tradisi humanisme ilmu sosial seperti konstruksi sosial konflik dan interaksionisme simbolis. Bahkan tradisi ilmu sosial kritis yang direpresentasikan oleh 3rgen Habermas, C. Wright Mills, dan Pierre Bourdieu yang menguraikan keterkaitan dominasi kekuasaan dan penindasan.

Sebagai pengantar kajian Sosiologi Konflik yang pertama di Indonesia, buku ini berhasil merangkakan berbagai teori konflik, menyajikan contoh analisis konflik, dan memetakan beragam isu konflik kontemporer di Indonesia.

Penting bagi mahasiswa ilmu sosial-politik dan humaniora, kalangan aktivis pemberdayaan sosial dan pembangunan, serta para pemegang kebijakan.

Daftar Isi
Bab 1 Metodologi Ilmu Sosial
Bab 2 Teori Sosiologi Konflik Klasik
Bab 3 Teori Sosiologi Konflik Kontemporer
Bab 4 Kekerasan dan Perdamaian
Bab 5 Contoh Analisis Konflik

Bab 6 Mengenali Isu-isu Konflik

Selasa, 07 Oktober 2014

Buku Pendidikan Pasca Konflik / M Tahir Sapsuha Dr

Jual Buku Pendidikan Pasca Konflik Pendidikan Multikultural berbasis Konseling Budaya Masyarakat MALUKU UTARA.M Tahir Sapsuha Dr, LKiSBuku Pendidikan Pasca Konflik:Pendidikan Multikultural berbasis Konseling Budaya Masyarakat MALUKU UTARA., LKiS, Harga  RP 70.000
Penulis : Dr. M. Tahir Sapsuha
ISBN : 979-16776-7-0
ISBN 13 : 978-979-16776-7-7
Tebal 284 halaman

Tahun : 2013, Cetakan Ke-I
Kondisi Baru

Selasa, 26 Agustus 2014

Jual Buku HALMAHERA BERDARAH / Jan Nanere

Jual Buku  HALMAHERA BERDARAH, Jan Nanere dkk, kondisi stok lama, penerbit Bimaspela ,Tahun 2000, 234hlm, 18halaman peta dan foto . Harga Off Rp 55.000Judul HALMAHERA BERDARAH, 
Jan Nanere dkk, Harga Rp 55.000
Penerbit Bimaspela ,
Tahun 2000,
Tebal 234hlm, termasuk 18halaman peta dan foto . 
Kondisi Baru, stok lama, sampul agak lusuh 

Kamis, 21 Agustus 2014

Jual Buku Trying to Disable The Explosive, experiences in dealing with he causes ,effectsand impacts of SOCIAL CONFLICTS in Indonesia / Thamrin Tomagola

Jual Buku Trying to Disable The Explosive, experiences in dealing with he causes ,effectsand impacts of SOCIAL CONFLICTS in Indonesia, Thamrin TomagolaJudul Buku Trying to Disable The Explosive, experiences in dealing with he causes ,effectsand impacts of SOCIAL CONFLICTS in Indonesia.Harga RP 45.000 off.
Thamrin Tomagola, Nani Zulminarni.
Penerbit PPSW
Tahun 2003,
Tebal 153hlm,include photos ,
Ukuran 18x24,
Kertas isi hvs.
Kondisi : Stok lama, agak lusuh luarnya


Selasa, 19 Agustus 2014

Jual Buku Luka Aceh, Duka Pers / Editor: J Anto

Jual Buku Luka Aceh, Duka Pers, Editor: J Anto, Penerbit: KIPPASJudul: Buku Luka Aceh, Duka Pers
Editor: J Anto
Harga Rp 50.000Penerbit: KIPPAS, Medan,
Cetakan I, September 2002
Tebal: xxiii + 318 halaman
Kondisi Stok lama, Bagus, Bukan Bekas

Kata-kata “Luka Aceh” dalam penggalan judul buku ini boleh jadi mudah diduga apa maksudnya sebab konflik Aceh termasuk persoalan lama di negeri ini. Konflik itu mengorbankan banyak jiwa secara mengenaskan dengan darah bersimbah akibat luka di sana-sini. Ironisnya, setelah status DOM (Daerah Operasi Militer) di bumi Serambi Mekkah itu dicabut pada Agustus 1998, konflik bersenjata antara rakyat Aceh, pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dan tentara Indonesia justru kian meningkat. Apa maksudnya “Duka Pers” dalam penggalan lain judul buku ini? Ternyata, dalam memotret fakta-fakta konflik tersebut, insan pers tidak jarang mengalami atau berhadapan dengan hal-hal yang membuat mereka berduka. Sebutlah, ketika 5.000 eksemplar koran Waspada yang hendak didistribusikan ke Aceh Utara, medio Mei 1999 habis dibakar oleh GAM. Penyebabnya, GAM memandang sejumlah pemberitaan Waspada tentang konflik Aceh cenderung memojokkan mereka. Parahnya lagi, pengalaman pahit serupa dialami Waspada pada medio Februari 2000. Contoh kasus lain, pernah juga GAM mengancam dengan mendatangi langsung kantor redaksi Serambi Indonesia. Akibatnya, koran itu tidak terbit selama 13 hari (11-23 Agustus 2001) karena tidak mau mengambil risiko atas keselamatan jiwa mereka. Masih banyak contoh kasus lain yang dipaparkan dalam buku ini. Intinya, begitu berat pergumulan para insan pers yang peduli akan berita-berita tentang konflik Aceh. Ancaman dan tekanan yang datang dari sana-sini mungkin tidak kurang besar dengan apa yang dialami insan pers di era Orde Baru (Orba). Pers harus betul-betul bergumul sebelum memutuskan untuk memuat suatu berita yang menyoroti konflik Aceh sebab bukan cuma GAM yang harus diwaspadai, tetapi juga pihak TNI/Polri. Tak pelak, keselamatan insan pers menjadi rentan karenanya. Buku ini menghimpun enam hasil riset mengenai pemberitaan media pers tentang konflik Aceh dan berbagai eksesnya, dalam kurun waktu yang berbeda-beda (antara 1999 sampai pertengahan 2002). Sedangkan media-media pers yang diriset itu adalah beberapa surat kabar yang terbit di Medan dan Banda Aceh, terutama yang dianggap sangat intents dalam meliput kasus-kasus konflik di Aceh. Yakni, Serambi Indonesia, Waspada, Analisa, Radar Medan, dan Sumut Pos. Metode yang digunakan adalah analisis isi dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Ada beberapa alasan yang melandasi kajian pers itu. Pertama, pemberitaan media pers tentang konflik Aceh dapat dijadikan titik tolak untuk menilai kecenderungan perubahan perilaku pers dalam memberitakan konflik Aceh. Sebagaimana diketahui, semasa rezim Orba berkuasa, apalagi ditambah status Aceh sebagai DOM, akses pers terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik, khususnya GAM, sangat terbatas. Bahkan, kalau boleh dibilang, tak ada sama sekali. Berita konflik Aceh beserta kasus-kasus kekerasan terhadap rakyat sipil hanya dikonstruksi dari keterangan versi militer. Persoalannya, setelah status DOM dicabut dan rezim Orba tidak lagi berkuasa, apakah ada perubahan signifikan dalam pemberitaan pers tentang Aceh? Apakah orientasi pemberitaan pers lebih jujur dan berimbang? Kedua, sebagai daerah yang tak pernah sepi dari konflik, jurnalis(me) menjadi rebutan dari pihak-pihak yang bertikai, khususnya antara pihak GAM dan TNI/ Polri. Persoalan tersebut bertambah menarik dengan harapan publik untuk memperoleh informasi-informasi yang akurat dan objektif dalam rangka right to know sebagai landasan untuk menyatakan right to expression-nya. Sejauh manakah produk jurnalis(me) memenuhi harapan publik tersebut, khususnya publik yang menjadi korban dari konflik bersenjata antara GAM dan TNI/Polri? Ketiga, sesuai dengan teori proksimitas, berbagai pemberitaan menyangkut hal-hal yang terjadi di Tanah Rencong itu jelas memiliki daya tarik tersendiri. Meski berbagai penderitaan rakyat Aceh tak bisa diperbandingkan dengan penderitaan rakyat di wilayah lain, sebagai tragedi yang mengoyak-ngoyak harkat kemanusiaan “bangsa” Indonesia, konflik berdarah di Aceh juga bagian dari wajah rakyat Indonesia yang berdarah-darah. Buku ini dibagi atas tiga bagian. Kesatu, yang diberi judul Wajah Jurnalis(me) Aceh, berisi enam artikel. Kedua, berjudul Jurnalis(me) Aceh di Mata Pengamat dan Praktisi Pers, berisi empat tulisan. Ketiga, berjudul Jurnalis(me) Aceh dalam Perbincangan, berisi tiga tulisan. Khususnya pada bagian terakhir itu, setiap artikel merupakan hasil rekaman seminar tentang kecenderungan pemberitaan media pers dalam meliput konflik Aceh yang dibagi menjadi tiga sesi. VICTOR SILAEN(buntomi.wordpress)

Jual Buku Aceh Dame / TA Sakti ,Sulaiman Gani.

Jual Buku Aceh Dame, TA Sakti ,Sulaiman Gani, TSAD, Aceh Recovery Forum,Judul Buku Aceh Dame,
Harga RP 35.000
Penulis TA Sakti ,Sulaiman Gani. 
Penerbit Aceh Recovery Forum
Tahun 2006
Tebal 198hlm.
Kondisi bagus,stok lama, 
Tersedia 1buah

Selasa, 05 Agustus 2014

Jual Buku Politisasi Agama dan Konflik Komunal

Jual Buku Politisasi Agama dan Konflik Komunal Beberapa Isu Penting di Indonesia Ahmad Suaedy
Judul Politisasi Agama dan Konflik Komunal, beberapa Isu Penting di Indonesia
Harga Rp 90.000 jadi 75.000
Penulis Ahmad Suaedy dkk
Penerbit The Wahid Institute
Kondisi Stok Lama, cover lusuh, isi utuh bersih,

Minggu, 03 Agustus 2014