Tampilkan postingan dengan label Donny Gahral Ahdian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donny Gahral Ahdian. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Jual Buku Setelah Marxisme; Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer, Penulis Dr. Donny Gahral Adian

Jual Buku Setelah Marxisme; Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer,  Penulis Dr. Donny Gahral AdianSetelah Marxisme; Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer,
Penulis Dr. Donny Gahral Adian (dosen filsafat Universitas Indonesia). Harga Rp 45.000 OFF
Kertas Paperback,
Tebal 200 hal.
Kondisi baru, stok lama, segel

Kamis, 02 April 2015

Jual Buku Teknik Berargumentasi, berpikir sebagai kecakapan hidup Pengarang : Donny Gahral Adian

JUal Buku Teknik Berargumentasi, berpikir sebagai kecakapan hidup, Pengarang : Donny Gahral Adian
Buku Teknik Berargumentasi, berpikir sebagai kecakapan hidup
Pengarang : Donny Gahral Adian
Harga Buku : Rp 38.000
Penerbit : Prenada
Halaman : 174
Cetakan : I, 2013
Ukuran : 13,5X20,5 cm

Deskripsi
Buku ini disusun untuk membantu pembaca menguasai teknik-teknik berargumentasi baik dalam format lisan maupun tulisan. Aspek-aspek argumentasi yang kuat dan baik dijelaskan secara sistematis dan komprehensif dalam empat bab dengan paparan yang mudah dicerna. Dengan membaca buku ini, para pembaca dapat memperluas wawasan tentang argumentasi serta mempertajam kemampuannya dalam berargumentasi, apapun bidangnya dan apapun latar belakang profesinya.

Daftar Isi
--------
BAB 1 APA ITU ARGUMENTASI
BAB 2 MEMERIKSA ARGUMENTASI
BAB 3 MEMBACA KRITIS
BAB 4 MENULIS SECARA ARGUMENTATIF

Senin, 13 Oktober 2014

Jual Buku Rasionalitas kerjasama ,Donny Gahral Adian

Jual Buku Rasionalitas kerjasama ,Donny Gahral, Koekoesan
Buku Rasionalitas Kerjasama : Sebuah Teori Rekonsiliasi Sosial
Penulis: Donny Gahral Adian
.Harga: Rp. 45000
ISBN: 978-979-14-4262-6
Penerbit: Koekoesan
Tahun Terbit: 2013
Ukuran: 14 x 21 cm; vi + 202 hlm

Sinopsis
Kenapa pihak-pihak yang terlibat konflik sulit membangun kepercayaan dan hampir tidak dapat memutus siklus kekerasan? Inilah pertanyaan penting yang hendak digali dengan penelusuran filsafati. Penulis melakukan kajian mendalam dari titik pijak “dimana narapidana” dalam tradisi teori permainan. Dilema narapidana adalah situasi ketika dua narapidana yang dipisahkan secara fisik sama-sama memilih untuk bersaksi atas rekannya berdasarkan antisipasi bahwa yang lain pun bersaksi atas nya.

Persoalannya, keduanya merugi karena apabila karena apabila mereka mau bekerja sama, maka mereka akan mendapat hukuman yang lebih ringan. Situasi dilematis itu disebabkan oleh”rasionalitas instrumetaril” yang menuntut pihak pertama mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi adalah fokus kerja rasionalitas instrumental sehingga nasib atau kepentingan orang lain  dikesampingkan. Buku ini menyingkap kemungkinan watak kerjasama dalam rasionlitas hingga membuahkan sebuah refleksi kefilsafatan yang disebut teori rekonsiliasi sosial.  

Minggu, 12 Oktober 2014

Minggu, 03 Agustus 2014

Senin, 19 Mei 2014

Sell Books > Jual Buku Kembalinya Politik Ideologi: Manifesto Politik PDI-Perjuangan

Title Judul : Kembalinya Politik Ideologi: Manifesto Politik PDI-Perjuangan
Penulis Donny Garhal Adian, Jaleswari Pramodhawardani, Yudi Latif
Pustaka Empat Lima
ISBN-13 :9786029724615
ISBN-10 :6029724614
Dimensi 18x11cm
Harga Rp 22.000
Kondisi : Baru, Segel
Buku ini berisikan pidato politik Megawati pada pembukaan Kongres III PDI-Perjuangan April 2010 di Denpasar, yang dianggap sebagai kembalinya politik ideologi. Pidato itu mengajak perubahan pandangan politik: dari sekadar arena perebutan kekuasaan di kalangan elit menjadi sarana kebudayaan rakyat untuk mewujudkan tata kehidupan yang berkeadilan dan memakmurkan rakyat. Pidato itu kemudian diulas lebih lanjut oleh tiga intelektual: Donny Garhal Adian, Jaleswari Pramodhawardani, dan Yudi Latif.

Rabu, 02 April 2014

Jual Buku Demokrasi Substansial


Judul  : Demokrasi Substansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme
Penulis  : Donny Gahral Adian TERJUAL
Tebal Buku: 129+xii
Ukuran  : 140mm x 210mm
Penerbit :  Penerbit Koekoesan, 2010




Kehidupan demokrasi di Indonesia semakin hari terlihat semakin semarak. Berbagai wacana demokrasi digembar-gemborkan para elit politik. Demokrasi menjadi semacam kata sakti untuk melegitimasi hal-hal yang bisa jadi bermuatan lain di luar demokrasi. Lalu pertanyaannya, apakah sebenarnya demokrasi? Sudahkah demokrasi di Indonesia berjalan sebagaimana mestinya? Lalu demokrasi macam apakah yang sebenarnya kita anut di negeri ini? Melalui Demokrasi Sustansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme, Donny Gahral Adian membawa kita “berwisata” ke dalam substansi demokrasi yang sesungguhnya.
Kita lihat realitas demokrasi di Indonesia saat ini. Demokrasi kini telah menjadi alat bagi orang-orang yang memiliki modal besar atau memiliki kepopuleran untuk mendulang kekuasaan dan keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi berbicara atau bertindak atas kepentingan bersama. Mereka kini berbicara dan bertindak atas kehendak hasrat untuk berkuasa dan meraup sebesar-besarnya keuntungan ekonomi.
Setiap hari kita lihat di berbagai media, para elit yang mengklaim demokrasi sebagai kendaraan mereka naik ke panggung politik saling menyikut untuk menaikkan keuntungan ekonomi dan simbolik. Demokrasi di negeri ini harus dipertanyakan. Banyak hal yang tidak lagi sesuai dengan kepentingan bersama. Para pemilik modal (ekonomi atau simbolik) saling berlomba-lomba untuk mengambil hati rakyat. Setelah mereka berhasil mengambil hati rakyat, lalu dengan mudah mereka melupakan janji-janji yang mereka umbar. Mereka lalu berbicara atau bertindak atas nama pribadi, partai, atau golongan tertentu. Akan tetapi, mereka tetap mengatasnamakan semuanya berdasar demokrasi.
Menurut Adian, tujuan demokrasi tak lain adalah perluasan akses politik kaum miskin, marjinal, dan minoritas. Adian menyatakan bahwa proseduralisme demokrasi mengandung dua ancaman yang sama latennya. Pertama, demokrasi dibajak oleh mereka yang sejatinya anti demokrasi. Kelompok-kelompok sectarian dapat mengambil hati konstituen secara demokratis, tapi setelah berkuasa mereka membakar jembatan yang mereka pakai sendiri. Kedua, demokrasi dibajak oleh orang-orang berpunya. Demokrasi merosot maknanya menjadi kompetisi untuk mendulang suara yang di dalamnya popularitas menjadi kunci utama. Sementara, polpularitas jarang dibangun dari keringat kerja politik, melainkan iklan politik belaka. Tak ayal, para pemenang pun adalah mereka yang bermodal atau dimodali oleh para cukong. Kualitas demokrasi pun dipertaruhkan ketika relasi politik berubah menjadi transaksi ekonomi belaka.
Para elit politik dengan sangat bebas dapat mempermainkan kata demokrasi untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka dapat dengan mudah membangun citra tertentu hingga mereka berhasil mendapatkan suara rakyat. Lalu setelah mereka mencapai posisi yang mereka inginkan, mereka dengan mudah melepaskan tanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya.
Piliang dalam Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas (2005: 16) menyatakan bahwa fenomena permainan bebas tanda dan citra, tanpa perlu mengikatkan diri pada satu determinasi (metafisik) tertentu seperti dijelaskan di atas, tampaknya telah menjadi lukisan dunia politik masa kini. Dalam konteks ini, tanda dan citra politik tidak lagi dibicarakan dalam konteks kebenaran dan kepercayaan yang ditawarkannya, melainkan permainan murni, dalam rangka mencapai kekuasaan murni, yaitu kekuasaan yang tidak lagi mempunyai tanggung jawab sosial. Demokrasi pun digunakan para elit politik sebagai permainan bebas tanda dan citra. Para elit politik ini lalu melepaskan tanggung jawabnya kepada rakyat. Mereka menjadi pemenang yang meruntuhkan jembatan yang membawa mereka pada panggung politik dan kekuasaan.
Adian menyatakan bahwa kekhawatiran tentang terperosoknya demokrasi ke dalam lubang leberalisme telah juga dikemukakan Soekarno. Liberalisme telah mengubah demokrasi menjadi ajang perebutan sumber daya ekonomi belaka. Orang-orang berlomba-lomba untuk mencapai kemenangan kompetisi politik. Diskusi di kalangan elit legislatif dan eksekutif menjadi topeng negosiasi elit yang bertujuan mencari solusi yang menguntungkan diri mereka sendiri, bukan rakyat. Kendatipun demikian, kata rakyat sering dipelintir. Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk rakyat. Padahal di dalam kenyataannya, tidak ada rakyat yang mereka bela, melainkan diri dan golongan mereka sendiri.
Buku ini dibagi menjadi tiga bab yang saling berhubungan, yaitu: politikal, paradoks, dan konstitusi. Agar lebih memudahkan pembaca mengikuti perbincangan pada buku ini, penulis memberikan contoh-contoh kontekstual dan aktual pada kehidupan politik kita (misalnya, bail out Bank Century, konflik Palestina-Israel, peristiwa 9/11). Hal tersebut berhubungan dengan tujuan buku ini.  Jika dilihat, menurut Adian tujuan buku ini adalah mendekonstruksi demokrasi liberal dan membangkitkan ’politik’ dari mati suri selama dua ribu lima ratus tahun lebih. Terlihat usaha untuk memikirkan substansi politik untuk mengisi lubang demokrasi yang dibiarkan oleh liberalisme tanpa terjebak ke dalam fondasionalisme atau absolutisme.
Substansi politik republik ini bukan finalitas. Komitmen terhadap nilai-nilai dasar bukan sesuatu yang stabil karena sangat tergantung pada kemauan subjek masa kini untuk menauladani proses kebenaran yang dijalani para pendiri bangsa di masa lalu (hal. 86). Ketika banyak elit politik menggunakan kata atau konsep politik untuk mendulang keuntungan pribadi, kita agaknya harus melihat lagi, sebenarnya demokrasi macam apa yang sedang merajarela di negeri ini. Buku ini memberikan gambaran tentang pentingnya kembali ke demokrasi substansial. Hal ini tentu saja supaya kita tidak terjebak atau bahkan terperosok ke lautan liberalisme.
Adian menyebutkan bahwa Demokrasi liberal berupaya menyelesaikan kemajemukan dengan merancang prosedur rasional yang netral. Netral karena prosedur tersebut tidak mengandaikan konsep kebaikan atau nilai apa pun. Prinsip, nilai, identitas sosial, konsep kebaikan beserta kuasa yang menyertainya diturunkan ke ruang privat agar peluang konsensus terbuka lebar di ruang publik.
Buku ini sangat menarik dibaca untuk melihat di manakah sebenarnya demokrasi yang kita jalankan di negeri ini. Buku ini tidak hanya laik dibaca oleh para peminat demokrasi, politik, atau filsafat. Buku ini bisa menjadi asupan “bergizi” bagi siapa saja, yang merasa hidup di alam demokrasi dan menginginkan demokrasi yang sesungguhnya.***sinomcity87