Judul : Demokrasi Substansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme
Penulis : Donny Gahral Adian
TERJUAL
Tebal Buku: 129+xii
Ukuran : 140mm x 210mm
Penerbit : Penerbit Koekoesan, 2010
Kehidupan demokrasi di Indonesia semakin hari terlihat semakin
semarak. Berbagai wacana demokrasi digembar-gemborkan para elit politik.
Demokrasi menjadi semacam kata sakti untuk melegitimasi hal-hal yang
bisa jadi bermuatan lain di luar demokrasi. Lalu pertanyaannya, apakah
sebenarnya demokrasi? Sudahkah demokrasi di Indonesia berjalan
sebagaimana mestinya? Lalu demokrasi macam apakah yang sebenarnya kita
anut di negeri ini? Melalui
Demokrasi Sustansial: Risalah Kebangkrutan Liberalisme, Donny Gahral Adian membawa kita “berwisata” ke dalam substansi demokrasi yang sesungguhnya.
Kita lihat realitas demokrasi di Indonesia saat ini. Demokrasi kini
telah menjadi alat bagi orang-orang yang memiliki modal besar atau
memiliki kepopuleran untuk mendulang kekuasaan dan keuntungan pribadi.
Mereka tidak lagi berbicara atau bertindak atas kepentingan bersama.
Mereka kini berbicara dan bertindak atas kehendak hasrat untuk berkuasa
dan meraup sebesar-besarnya keuntungan ekonomi.
Setiap hari kita lihat di berbagai media, para elit yang mengklaim
demokrasi sebagai kendaraan mereka naik ke panggung politik saling
menyikut untuk menaikkan keuntungan ekonomi dan simbolik. Demokrasi di
negeri ini harus dipertanyakan. Banyak hal yang tidak lagi sesuai dengan
kepentingan bersama. Para pemilik modal (ekonomi atau simbolik) saling
berlomba-lomba untuk mengambil hati rakyat. Setelah mereka berhasil
mengambil hati rakyat, lalu dengan mudah mereka melupakan janji-janji
yang mereka umbar. Mereka lalu berbicara atau bertindak atas nama
pribadi, partai, atau golongan tertentu. Akan tetapi, mereka tetap
mengatasnamakan semuanya berdasar demokrasi.
Menurut Adian, tujuan demokrasi tak lain adalah perluasan akses
politik kaum miskin, marjinal, dan minoritas. Adian menyatakan bahwa
proseduralisme demokrasi mengandung dua ancaman yang sama latennya.
Pertama,
demokrasi dibajak oleh mereka yang sejatinya anti demokrasi.
Kelompok-kelompok sectarian dapat mengambil hati konstituen secara
demokratis, tapi setelah berkuasa mereka membakar jembatan yang mereka
pakai sendiri.
Kedua, demokrasi dibajak oleh orang-orang
berpunya. Demokrasi merosot maknanya menjadi kompetisi untuk mendulang
suara yang di dalamnya popularitas menjadi kunci utama. Sementara,
polpularitas jarang dibangun dari keringat kerja politik, melainkan
iklan politik belaka. Tak ayal, para pemenang pun adalah mereka yang
bermodal atau dimodali oleh para cukong. Kualitas demokrasi pun
dipertaruhkan ketika relasi politik berubah menjadi transaksi ekonomi
belaka.
Para elit politik dengan sangat bebas dapat mempermainkan kata
demokrasi untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka dapat
dengan mudah membangun citra tertentu hingga mereka berhasil
mendapatkan suara rakyat. Lalu setelah mereka mencapai posisi yang
mereka inginkan, mereka dengan mudah melepaskan tanggung jawab kepada
rakyat yang memilihnya.
Piliang dalam
Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas (2005:
16) menyatakan bahwa fenomena permainan bebas tanda dan citra, tanpa
perlu mengikatkan diri pada satu determinasi (metafisik) tertentu
seperti dijelaskan di atas, tampaknya telah menjadi lukisan dunia
politik masa kini. Dalam konteks ini, tanda dan citra politik tidak lagi
dibicarakan dalam konteks kebenaran dan kepercayaan yang ditawarkannya,
melainkan permainan murni, dalam rangka mencapai kekuasaan murni, yaitu
kekuasaan yang tidak lagi mempunyai tanggung jawab sosial. Demokrasi
pun digunakan para elit politik sebagai permainan bebas tanda dan citra.
Para elit politik ini lalu melepaskan tanggung jawabnya kepada rakyat.
Mereka menjadi pemenang yang meruntuhkan jembatan yang membawa mereka
pada panggung politik dan kekuasaan.
Adian menyatakan bahwa kekhawatiran tentang terperosoknya demokrasi
ke dalam lubang leberalisme telah juga dikemukakan Soekarno. Liberalisme
telah mengubah demokrasi menjadi ajang perebutan sumber daya ekonomi
belaka. Orang-orang berlomba-lomba untuk mencapai kemenangan kompetisi
politik. Diskusi di kalangan elit legislatif dan eksekutif menjadi
topeng negosiasi elit yang bertujuan mencari solusi yang menguntungkan
diri mereka sendiri, bukan rakyat. Kendatipun demikian, kata rakyat
sering dipelintir. Mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan
adalah untuk rakyat. Padahal di dalam kenyataannya, tidak ada rakyat
yang mereka bela, melainkan diri dan golongan mereka sendiri.
Buku ini dibagi menjadi tiga bab yang saling berhubungan, yaitu:
politikal, paradoks, dan konstitusi. Agar lebih memudahkan pembaca
mengikuti perbincangan pada buku ini, penulis memberikan contoh-contoh
kontekstual dan aktual pada kehidupan politik kita (misalnya,
bail out
Bank Century, konflik Palestina-Israel, peristiwa 9/11). Hal tersebut
berhubungan dengan tujuan buku ini. Jika dilihat, menurut Adian tujuan
buku ini adalah mendekonstruksi demokrasi liberal dan membangkitkan
’politik’ dari mati suri selama dua ribu lima ratus tahun lebih.
Terlihat usaha untuk memikirkan substansi politik untuk mengisi lubang
demokrasi yang dibiarkan oleh liberalisme tanpa terjebak ke dalam
fondasionalisme atau absolutisme.
Substansi politik republik ini bukan finalitas. Komitmen terhadap
nilai-nilai dasar bukan sesuatu yang stabil karena sangat tergantung
pada kemauan subjek masa kini untuk menauladani proses kebenaran yang
dijalani para pendiri bangsa di masa lalu (hal. 86). Ketika banyak elit
politik menggunakan kata atau konsep politik untuk mendulang keuntungan
pribadi, kita agaknya harus melihat lagi, sebenarnya demokrasi macam apa
yang sedang merajarela di negeri ini. Buku ini memberikan gambaran
tentang pentingnya kembali ke demokrasi substansial. Hal ini tentu saja
supaya kita tidak terjebak atau bahkan terperosok ke lautan liberalisme.
Adian menyebutkan bahwa Demokrasi liberal berupaya menyelesaikan
kemajemukan dengan merancang prosedur rasional yang netral. Netral
karena prosedur tersebut tidak mengandaikan konsep kebaikan atau nilai
apa pun. Prinsip, nilai, identitas sosial, konsep kebaikan beserta kuasa
yang menyertainya diturunkan ke ruang privat agar peluang konsensus
terbuka lebar di ruang publik.
Buku ini sangat menarik dibaca untuk melihat di manakah sebenarnya
demokrasi yang kita jalankan di negeri ini. Buku ini tidak hanya laik
dibaca oleh para peminat demokrasi, politik, atau filsafat. Buku ini
bisa menjadi asupan “bergizi” bagi siapa saja, yang merasa hidup di alam
demokrasi dan menginginkan demokrasi yang sesungguhnya.***sinomcity87