Tampilkan postingan dengan label Henk Schulte Nordholt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Henk Schulte Nordholt. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 November 2014

Jual Buku Outward Appearances : Trend Identitas Kepentingan /Henk Schutle

Jual Buku Outward Appearances : Trend Identitas Kepentingan, Henk Schutle,  Penerbit Lkis Buku Outward Appearances : Trend Identitas Kepentingan
Harga Rp 140.000
Penulis Henk Schutle Penerjemah : M Imam Aziz
Penerbit Lkis
No. ISBN 9799492955
Tanggal terbit     2005
Jumlah Halaman    549
Berat Buku     800gram
Jenis Cover     -Soft
Dimensi(L x P)    15 x21
Stok lama, Segel, 1buah

Pakaian merupakan kulit luar yang menegaskan identitas kita kepada lingkungan sosial. Pakaian menjadi media yang efektif untuk menunjukkan status, kedudukan, kekuasaan, gaya hidup, gender, dan bahkan jenis kelamin dari masa ke masa. Menurut Wilson, "pakaian merupakan perpanjangan dari tubuh, namun bukan benar-benar bagian dari tubuh yang menghubungkan dengan dunia sosial sekaligus memisahkannya". (lihat hlm.1)

Buku ini membahas dimensi sosial dan dimensi politik dari aturan berpakaian di satu pihak dan keterlibatan individu di pihak lain. Perhatian tulisan-tulisan dalam buku ini terpusat pada cara dan sarana yang dilalui oleh para individu, kelompok sosial, dan institusi sosial untuk dapat saling memahami melalui pakaian.

Penulis-penulis dalam buku ini menghindari penggunaan dikotomi-dikotomi, seperti substansi batiniah versus penampilan luar, individu versus identitas sosial, negara sebagai aktor versus individu sebagai subjek pasif, dan lain-lain. Buku ini kaya dengan perspektif karena ditulis oleh para ahli dengan berbagai latar berlakang disiplin ilmu. Inilah buku komprehensif tentang sejarah "pakaian" di Indonesia.

Kees Van Dijk menyuguhkan tinjauan historis yang luas, bermula dari kontak pertama antara penduduk setempat dan bangsa Eropa pada abad ke-17 dan diikuti perkembangan terbaru. Sejarah pertemuan antara sarung (pakaian setempat), jubah (pengaruh Islam), dan celana (pangaruh Barat) ditulis sebagi proses interaksi yang kompleks dan dinamis meliputi peminjaman selektif, adaptasi timbal balik, penataan ulang makna, dan sebagainya.

Dalam tulisan berikutnya, Jean Gelman Taylor menerapkan perspektif gender dalam mengeksplorasi bagaimana negara kolonial telah mendorong perbedaan penampilan antara laki-laki dan perempuan. Ia menunjukkan bahwa warisan aturan berpakaian tampak dalam penampilan-publik para pemegang kekuasaan.

Selanjutnya, Rudolf Mrazek menulis tentang perubahan permanen sejak permulaan abad ini dan seterusnya. Mrazek juga menulis tentang sejarah mentalitas kolonial yang menekankan kebersihan dan kenecisan yang mereka anggap tidak dimiliki pribumi.

Elsbert Locher mendeskripsikan perubahan gaya hidup perempuan Eropa di Hindia-Belanda pada periode kolonial, dengan pusat perhatian pada mode dan makanan Eropa sebagai penanda identitas kulit putih yang eksklusif. Perempuan-perempuan inilah yang menimbulkan proses pembaratan atau Totokisasi yang memisahkan para penguasa dan rakyat. Henk Maier meneliti iklan dan menemukan ketegangan yang tersembunyi di balik representasi modernitas kolonial yang terdomestifikasi.

Selain menampilkan beragam tulisan tentang sejarah pakaian dalam arti sebenarnya, buku ini juga mengulas berpakaian metaforis ala negara, bagaimana negara-bangsa mendandani diri dan bersolek untuk menunjukkan eksistensinya melalui arsitektur, pahlawan nasional, nama jalan, perangko, patung, monumen, dan ritual.

Menurut tulisan Klaus Schreiner, hingga 1995 Indonesia--dalam periode pemerintahan otoriter--telah menetapkan 102 pahlawan nasional. Inilah salah satu "bisnis terbirokratisasi" pemerintahan otoriter yang fenomenal. Adapun tentang monumen, Jacques Leclerc mengupas bagaimana Orde Baru melakukan mitologi terhadap monumen yang dibangunnya, seperti mitologi atas monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya.

Selanjutnya, Teruo Sekimoto menganalisis tiga fenomena yang saling berkaitan, yakni "demam seragam" yang menyertai kebangkitan Orde Baru, perayaan Hari Kemerdekaan, dan proyek komunal yang mengubah penampilan daerah pedesaan. Akhirnya, buku ini ditutup dengan tulisan Lizzy van Leeuwen yang secara deskriptif menjelajahi gaya hidup dan pola konsumerisme orang kaya masa kini di Jakarta.

Selama ini sejarah di Indonesia banyak diungkap dengan pendekatan politis, sehingga sering kali perspektif ini mempengaruhi dan mendominasi cara berpikir kita dalam melihat sejarah bangsa ini. Pendekatan antropologis dan sosiologis yang digunakan buku ini dalam membaca sejarah Indonesia menimbulkan efek pemahaman dan kepekaan pada keberagaman dan kekayaan budaya serta menonjolkan pendekatan manusiawi sisi sejarah Indonesia.

Buku ini kaya dengan sumber-sumber yang berasal dari foto-foto peninggalan kolonial maupun arsip negara yang akan membawa kita dalam wisata sejarah dan nuansa nostalgia yang kental. Untuk itu, buku ini layak disandingkan dengan buku sejarah "resmi" yang wajib dibaca. Selamat membaca!

l Khotimatul Husna
Editor dan Pencinta Buku, tinggal di Yogyakarta

Sabtu, 24 Mei 2014

Sell Books > Jual Buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia

Judul Perspektif Baru Penulisan Sejarah
Indonesia (cetak ulang ke-2)
Oleh : Henk Schulte Nordholt,
Bambang Purwanto, dan Ratna
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia,
KITLV-Jakarta
Tahun 2013
ISBN:978-979-461-840-0
Dimensi :16x24 cm
sAMPUL: soft cover
Berat : 500
Jenis Kertas :Book Paper
Tebal: xiv+446 halaman
Kondisi Baru
Harga Rp.95.000,-
Menulis sejarah, terutama sejarah nasional, bukan sekadar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga kegiatan yang bermakna politis. Hal ini karena sejarah dianggap sebagai dasar kesadaran bangsa yang fungsinya untuk memperkokoh identitas nasional atau kolektif.
Buku ‘Perspektif Baru Penulisan Sejarah’ berusaha untuk mengangkat historiografi yang reflektif tidak saja untuk menguji secara kritis metodologi sejarah, tetapi juga menguji dan merumuskan kembali berbagai klaim kebenaran dan melihat bagaimana hal ini merupakan hasil dinamika sejarah. Melalui berbagai tema yang selama ini sering dianggap umum diketahui maupun berdasarkan berbagai bentuk sumber sejarah yang sebelumnya jarang digunakan, kumpulan tulisan ini berusaha memberi sumbangan lain untuk penulisan dan pemahaman sejarah Indonesia.
Tema-tema seperti peran sejarawan dalam penulisan sejarah, periode-periode sejarah yang sering dilupakan, penulisan sejarah lokal, pemahaman kembali  arti peristiwa sejarah tertentu maupun kelompok-kelompok yang terlupakan mendapat sorotan besar dalam buku ini. Tak kurang penting adalah perhatian terhadap sumber yang jarang digunakan seperti film, foto, sejarah, lisan, karya sastra, maupun lukisan untuk membuat narasi sejarah yang lain.




   

Senin, 05 Mei 2014

Sell Books > Jual Buku POLITIK LOKAL DI INDONESIA

Jual Buku POLITIK LOKAL DI INDONESIA Henk Schulte NordholtJudul Buku: POLITIK LOKAL DI INDONESIA
(Judul Asli: Renegotiating Boundaries; Local Politics in Post-Suharto Indonesia)
Editor : Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken
Penerjemah : Bernard Hidayat
Penerbit : YOI dan KITLV-Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : xvi + 706 Halaman
Harga Rp 150.000
Sejak sepuluh tahun proses reformasi digulirkan, terjadi pergeseran politik pasca lengsernya Soeharto yang merambah hingga ke ranah politik lokal. Terhitung mulai Juli 2005, sejak penerbitan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang mengatur sistem pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada), banyak “festival demokrasi” atau pesta politik digelar di berbagai daerah: gubernur di tingkat provinsi dan bupati atau wali kota di tingkat kabupaten/kota.
Inilah pendulum demokrasi yang bakal mengubah peta politik lokal, setelah selama lebih dari tiga dasawarsa masyarakat terbiasa dengan drop-dropan pejabat daerah yang dikendalikan dari pusat. Lantas, bagaimana kita merefleksikan kembali tumbangnya Orde Baru dan proses reformasi ini secara empiris dan teoretis? Bagaimana membaca bangkitnya politik lokal di tengah penerapan instrumen Pilkada itu? Apakah praktek desentralisasi kekuasaan itu otomatis akan menumbuhkan demokratisasi lokal? Atau hanya akan mengembangkan gejala desentralisasi oligarki? Apakah daerahisme akan lebih menonjol? Atau apakah sektarianisme dan separatisme berbasis politik etnisitas dan agama bakal menjadi praksis politik yang menguat di pelbagai daerah?
Buku yang aslinya berjudul Renegotiating Boundaries; Local Politics in Post-Suharto Indonesia ini secara garis besar mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Secara sistematis, di samping pengantar dan pendahuluan, buku ini berisi 18 hasil penelitian mendalam yang dilakukan 24 penelititerutama dari Indonesia dan Belanda, juga dari Amerika Serikat, Australia, Jerman, Kanada, dan Portugal-selama dua tahun, dan disajikan dengan bahasa yang mudah dicerna.
Berbagai tulisan dalam buku ini menghadirkan dinamika politik lokal secara spesifik dan tajam. Dari mulai dinamika di Aceh, Riau, Sumatra Barat, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, sampai dengan di Papua dikupas secara mendetail dan menarik. Para penulisnya memiliki pemahaman yang sangat baik tentang subjek yang menjadi kajiannya, dan hal ini membuat kejadian- kejadian di tiap wilayah itu diberi konteks yang benar dan dianalisis dengan alat analisis yang tepat pula.
Setiap tulisan dalam buku ini seakan memberikan potret mikro Indonesia dan membawa pembaca untuk melihat bentuk mozaik Indonesia dengan indikasi-indikasi, bahwa di berbagai daerah yang diteliti masih percaya pada potensi politik pluralis yang cukup besar sebagai basis pengembangan masyarakat sipil. Tetapi para peneliti juga melihat besarnya kemungkinan berlanjutnya kekuasaan negara yang berwatak otoritarian, juga berbagai operasi politik kalangan elite dominan yang memainkan isu-isu pertentangan agama dan etnis dalam berbagai konflik sosial di seluruh wilayah di Indonesia. Dua kecenderungan tersebut, menurut editor dalam pendahuluan buku ini, masih berlangsung di dalam proses politik lokal.
Meski desentralisasi belum menghasilkan munculnya identitas lokal yang kuat, di beberapa wilayah dengan preseden ketegangan etnis dan agama, ada kemungkinan para elite dominan lokal akan memainkan politik identitas demi kepentingan sendiri. Mereka bisa menggunakan instrumen-instrumen demokrasi untuk membakar sentimen massa dalam kerangka penguatan politik identitas. Beberapa kemelut di sekitar pemilihan kepala daerah selama ini membuktikan gejala seperti itu mulai muncul sebagai pola perebutan pengaruh dan perang legitimasi, untuk meraih jabatan kekuasaan lokal.
Dengan gambaran tersebut, Jaap Timmer, misalnya, dalam penelitiannya Desentralisasi Salah Kaprah dan Politik Elit di Papua juga menunjukkan bahwa politik lokal tampaknya memang segera akan berkembang menjadi lokus bagi perluasan praktek oligarkis. Desentralisasi kekuasaan yang dimanfaatkan oleh aliansi-aliansi kepentingan elite politik dan ekonomi di tingkat lokal tak lain hanya menjadi wahana bagi desentralisasi oligarki (hlm. 595).
Begitu kelamkah potret desentralisasi demokrasi di era pasca- Soeharto? Kalau kita membaca hasil penelitian dalam buku ini secara keseluruhan dan mendalam, jawabannya tentu saja: ya. Buku ini memang enak dibaca kalau kita tertarik dengan pendekatan-pendekatan teoretis untuk memahami dinamika politik lokal di era pasca- Soeharto. Ada sebuah pesan implisit tentang betapa parsialnya kajian politik Indonesia bila hanya memfokuskan pada dinamika politik nasional saja. Lebih jauh lagi, ada berbagai persoalan politik nasional yang dapat dirunut awalnya dari daerah dan begitu pula sebaliknya.
Selain itu, buku ini juga menggambarkan harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan dalam masyarakat Indonesia di pengujung abad ke-21, khususnya di daerahdaerah yang terabaikan kebijakan Orde Baru, seperti rusaknya gagasan tentang bangsa, legitimasi negara dipertanyakan, sifat dan masa depan identitas-identitas daerah digugat, dan batas-batas antara ‘negara’, ‘bangsa’, ‘daerah’ telah menjadi wilayah-wilayah konflik.
Namun di tengah pergunjingan mengenai batas-batas itu, buku ini menyimpulkan bahwa orang-orang Indonesia juga menunjukkan kepercayaan diri yang mengagumkan bahwa masa depan bisa dibuat baru, sebuah ketahanan yang mencengangkan dalam menghadapi ketidakpastian dan kemiskinan, beserta tingkat kesantunan yang tinggi dalam menghadapi perbedaan- perbedaan (hlm. 41).
Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat diceritakan tentang dinamika politik lokal di berbagai tempat di Indonesia. Namun, yang masih terasa kurang dalam buku ini adalah gambaran perbandingannya dengan daerah lain di Asia Tenggara. Tema inilah yang harus terus digali mengingat ada kemungkinan menawarkan kemajemukan data empiris dan karena itu akan memperkaya penafsiran teoretis.
Demikian pula halnya dengan perspektif perbandingan di mana politik lokal di Indonesia bisa dibandingkan dengan Thailand, Filipina, dan Malaysia. Misalnya, studi politik lokal tingkat provinsi dan tambon (setingkat kabupaten/kota) di Thailand telah maju pesat. Begitu juga studi di Filipina untuk tingkat provinsi dan barrio (desa). Barangkali dan semoga kekurangan ini akan diisi oleh para peneliti dan akademisi lain, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.
Hadirnya buku ini jelas membuat pemahaman kita akan politik lokal Indonesia makin mendalam dan bernuansa. Editor dan terutama para penelitinya harus dihargai atas upayanya melebarkan horizon penelitian berspektrum luas. Karenanya, buku ini sayang diabaikan, terutama bagi mereka yang memerlukan bahan rujukan atau karya pembanding tema politik lokal.
TASYRIQ HIFZHILLAH Pemerhati sosial, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.

Rabu, 26 Maret 2014

Sell Books > Jual Buku KRIMINALITAS, MODERNITAS, DAN IDENTITAS DALAM SEJARAH INDONESIA

Jual Buku KRIMINALITAS, MODERNITAS, DAN IDENTITAS DALAM SEJARAH INDONESIAJudul KRIMINALITAS, MODERNITAS, DAN IDENTITAS DALAM SEJARAH INDONESIA
Harga Rp. 60.000
Penulis Henk Schulte Nordholt
Pustaka Pelajar, 2002
Isi HVS. Ukuran 16x23cm.
Halaman 273hlm. Berat 0,5kg
Kondisi bagus,fisik baru, stok lama dan persediaan langka.
Minat ?sms.wa.089661162026 BBM 3300A029