Tampilkan postingan dengan label Penerbit IRE Press. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit IRE Press. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

Jual Buku Prakarsa Desentralisasi & OTONOMI DESA, Pengarang Rozaki, Abdur

Jual Buku Prakarsa Desentralisasi & OTONOMI DESA  Pengarang     Rozaki, AbdurPrakarsa Desentralisasi & OTONOMI DESA
Pengarang     Rozaki, Abdur
Harga Rp 65,000
Pengarang tambahan     Anang Sabtoni
Penerbit     Yogyakarta: Institut for research and empowerment, 2005
ISBN     979-98181-5-X
Deskripsi Fisik     xx,154 hlm.;29x21 cm
Bahasa     Indonesia

Jumat, 31 Juli 2015

Jual Buku Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern Penulis: Alan Woods dan Ted Grant

Jual Buku Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern Penulis: Alan Woods dan Ted GrantJudul buku: Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern
Penulis: Alan Woods dan Ted Grant
Harga Rp 150.000
Penerjemah: Rafiq N
Penerbit: IRE Press Yogyakarta, 2006
Tebal: 568 hlm + xxiii
Kondisi stok lama, isi bersih bagus, sampul lumayan bersih

“Ketika kita merenungi alam atau sejarah umat manusia atau aktivitas intelektual kita sendiri, pertama-tama kita melihat satu gambar yang terdiri dari jaring-jaring hubungan yang tiada ujung-pangkalnya, dimana tidak sesuatupun yang tinggal tetap, dimana dan sebagaimana adanya, tapi segala sesuatu bergerak, berubah, lahir dan mati…”
Buku yang dibuat oleh Ted Grant dan Alan Woods berjudul asli Reason in Revolt: Marxism  and Modern Science ini mencoba membuktikan bahwa marxisme bukanlah persoalan ekonomi  dan politik saja. Di dalam marxisme tersebut tersimpan satu filsafat materialisme-dialektik, satu aliran filsafat yang merupakan metode berpikir dalam memandang perkembangan alam secara keseluruhan.
Materialisme dialektik secara sederhana dapat dicirikan dengan perkembangan yang terus menerus, sebagaimana dialektika Hegel, melalui proses tesis-antitesis-sintesis dan perkembangan ini  dapat digambarkan dengan model spiral, model menuju perkembangan tertinggi. Perbedaan antara dialektika Hegel dan Marx (juga Engels) adalah Hegel menganggap dialektika ini terjadi di dunia ide, sedangkan realitas hanya merupakan cerminan dari apa yang ada di dunia ide tersebut, maka dari itu dialektika Hegel adalah dialektika-idealis. Hal ini bertolak belakang dengan Marx yang menyandarkan perkembangan masyarakat pada apa yang benar-benar terjadi, pada realitas, pada dunia materi. Maka muncullah hukum yang tenar itu “bukan kesadaran yang menentukan keadaan, sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran”.
Materialisme-dialektis inilah metode berpikir yang coba dibuktikan dalam buku ini, bahwa materialisme-dialektis merupakan satu-satunya metode berpikir yang dapat dengan memuaskan menjelaskan proses kehidupan. Melalui bab-babnya yang membuat kening berkerut, kita diantarkan pada kenyataan bahwa sejarah perkembangan alam ini, dari terciptanya alam semesta, kehidupan sederhana sel tunggal hingga kompleksitas perkembangan ras manusia merupakan proses yang dialektis, proses yang terus menerus namun tidak gradual sebagaimana teori darwin melainkan penuh dengan gejolak dan perubahan yang mendadak. Mari kita simak satu contoh kasus dalam bab ini, yaitu perkembangan umat manusia.
Dalam teori darwin, umat manusia (homo sapien sapien) merupakan hasil dari evolusi, hasil dari seleksi alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Sepintas lalu teori darwinisme ini cocok dengan penjelasan materialisme bahwa segala sesuatu bermula dari materi, yang ada pasti berasal dari yang ada dan tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Namun, ada perbedaan yang mencolok dari kedua teori ini. Darwinisme menganggap bahwa seleksi alam terjadi secara gradual, perlahan dan linier. Sedangkan materialisme-dialektik mengangggap sejarah perkembangan umat manusia merupakan suatu proses yang revolusioner dengan lompatan disana-sini. Kemudian, materialisme-dialektis, khususnya Engels dalam Anti Duhring-nya menjelaskan bahwa darwinisme  masih sangat terpengaruh ajaran idealisme dan maltuhusisme. Dengan meyakini darwinisme, berarti mendukung gerakan perbudakan yang mayoritas merupakan kulit hitam karena dalam proses evolusi mereka hanya satu tingkat dibawah hewan (dimana kulit putih menduduki kasta tertinggi).
Bagaimana umat manusia dapat berkembang menjadi mahluk yang sangat kompleks seperrti saat ini?  Tarik menarik penjelasan adalah antara paham materialisme dan idealisme. Menurut kaum idealis, umat manusia sudah diberkahi  ‘otak yang cerdas’ dari sang pencipta (dan ini didukung oleh kaum agamawan), dengan ‘otak yang cerdas’ tersebut mereka mampu untuk menciptakan alat yang paling sederhana seperti kapak untuk menguliti hewan dan menemukan api. Hal yang bertolak belakang dijelaskan oleh para materialis, bahwa perkembangan umat manusia pada awalnya adalah ketika kera tidak lagi hidup di pohon dan memutuskan hidup di atas tanah dengan kedua kakinya, sehingga, hal ini berakibat pada lebih leluasanya penggunaan tangan untuk bekerja. Demikianlah, perkembangan manusia bukan karena dia diberkahi pikiran yang cerdas, namun keadaan merekalah (terutama kerja pembuatan alat), yang beradaptasi dengan lingkungannya, membuat lompatan lompatan revolusioner. Dalam proses ini mulai dikenallah pembagian kerja antara laki laki dan perempuan, hingga kemampuan berbahasa. Proses-proses ini dibarengi dengan peningkatan volume otak, dan telah dibuktikan secara ilmiah. Sekali lagi, bukan kesadaran yang menentukan keadaan, sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran, dan hukum materialisme-dialektis ini telah dibuktikan dalam perkembangan umat manusia.
Menariknya, hukum-hukum materialisme-dialektis, lebih khususnya, apa yang ditulis Engels dalam Anti Duhring makin kesini makin terbukti secara ilmiah. Satu contoh yang paling mencengangkan adalah teori chaos,  yaitu teori yang mencoba menerangkan alam ini dari perspektif ketidakteraturan. Hukum dialektis yang menerangkan bahwa terjadi perubahan kuantitas menjadi kualitas (dan sebaliknya) memainkan peran utama dalam teori chaos, bahwa satu sistem yang kompleks sekalipun memiliki titik-titik instabilitas, titik dimana dorongan yang kecil saja dapat menghasilkan konsekuensi yang besar.
Yang paling menakjubkan dari kemiripan antara teori chaos yang dipelopori ilmuwan alam dengan materialisme-dialektis adalah kebanyakan dari mereka tidak memiliki pengetahuan sedikitpun, bahkan tidak pernah membaca tulisan-tulisan Marx dan Engels, bahkan juga Hegel! Dalam makna tertentu, hal ini memberikan pembenaran yang paling tegas mengenai kebenaran materialisme-dialektis.
Bab terakhir dari buku ini, kembali mengajak kita berefleksi (juga berlawan) atas sistem kapitalistik dan pasar bebasnya yang telah menguasai dunia tanpa ampun. Dimana akibat dari motif pencarian keuntungan, disatu belahan dunia pasokan bahan makanan tersimpan begitu saja, bahkan hingga membusuk dan kemudian dibakar, karena tidak ada yang membeli. Sedangkan dibelahan dunia lain, khususnya di negera dunia ketiga kelaparan hampir setiap saat dapat kita jumpai. Belum lagi masalah masalah lain yang sudah menjadi kebiasaan seperti wabah penyakit, pengangguran, kriminalitas, kerusakan alam, dan berbagai masalah lain akibat dari sistem yang menuhankan perputaran modal ini. Ini bukan soal menyangkal teknologi, tapi perlawanan penyalahgunaan teknologi demi keuntungan pribadi yang menghancurkan lingkungan dan menciptakan neraka di dunia. Dibutuhkan suatu perekonomian terencana yang dijalankan secara demokratik agar potensi dari ilmu dan teknologi dapat ditempatkan sebagai alat bantu manusia, bukan sebaliknya. Dan inilah tugas sentral umat manusia di abad ke 21 ini.

Kamis, 21 Mei 2015

Jual Buku Menggantang Asap? Kritik dan Refleksi atas Gerakan Kembali ke Nagari Pengarang Sutoro Eko

Jual Buku Menggantang Asap? Kritik dan Refleksi atas Gerakan Kembali ke Nagari, Pengarang Sutoro EkoJudul  Menggantang Asap? Kritik dan Refleksi atas Gerakan Kembali ke Nagari
Pengarang  Sutoro Eko
Harga Rp 40.000
Penerbit IRE Press
Tahun Terbit 2005
Tempat Terbit Yogyakarta
Tebal xii + 256 hal.
Ukuran 13 x 21 cm
Bahasa Indonesia
Kondisi Stok lama, Bagus, bersih,bukan bekas

Senin, 16 Maret 2015

Jual Buku Pentas Politik INDONESIA Pasca Orde Baru, Munafrizal Manan,

Jual Buku Pentas Politik INDONESIA Pasca Orde Baru, Munafrizal Manan, IRE Press, Judul Buku Pentas Politik INDONESIA Pasca Orde Baru,
Harga Rp 75.000
Pengarang Munafrizal Manan - Personal Name
Sunaryo Hadi Wibowo - Personal Name
ISBN/ISSN9799818257
Bahasa Indonesia
Penerbit IRE Press
Tahun Terbit 2005
Tempat Terbit Yogyakarta
Tebal xvi, 480hlm
Kondisi,stok lawas, segel.


Bagikan: FacebookTwitterGoogleDiggRedditLinkedInStumbleUpon
Jika ada yang berpendapat alam kebebasan merupakan zaman keemasan untuk leluasa mengemukakan pikiran atau pendapat tentu ada benarnya. Namun, ternyata tidak sepenuhnya benar apabila ada yang percaya bahwa alam kebebasan seketika meluapkan produksi buku yang ditulis oleh anak bangsa di negara bersangkutan. Kisah inilah yang dialami Indonesia seusai lepas dari belenggu autoritarian dan hegenomi kekuasaan rezim Orde BAru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto. Tumbangnya kekuasaan "Bapak Pembangunan" Orde BAru itu pada 21 Mei 1998 lalu, tak lantas disusul oleh membuncahnya produktivitas buku-buku yang merupakan salah satu ukuran tingginya peradaban sebuah bangsa.
.................
.................
Buku ini merupakan bunga rampai tulisan-tulisan yang pernah penulis buat sejak tahun 1996 hingga 2004 ini. Ada 46 judul tulisan dalam buku ini yang mengupas tema politik, demokrasi, pemilihan umum, partai politik, dan sosial. Beberapa tulisan itu ada yang memang sengaja ditulis untuk dikirim ke media massa cetak dan ada pula yang awalnya sebagai tugas kuliah ketika penulis mengikuti studi S-2 Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tahun 1999-2002.

Jurnal Mandatory, Politik Perlawanan, edisi 2005

Jurnal Mandatory, Politik Perlawanan, Redaksi : Sutoro Eko, Penerbit IRE Press
Jurnal Mandatory, Politik Perlawanan
Redaksi : Sutoro Eko
Penerbit IRE Press Harga Rp 38.000
Tahun 2005
Tebal xi, 139 hal
Ukuran: 16 x 23 cm
Kondisi stok lawas, sedia 1 buah.


Demokrasi berbicara tentang perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Sebuah demokrasi yang hanva menunjukkan kehadiran lembaga-lembaga formal seperti pemilu, sistem multipartai dan kebebasan pers hanyalah sebuah lelucon ketika tidak mampu menghilangkan penindasan dan ketidakadilan. Hanva perlawanan lah yang memberi kontribusi penting atas masa depan dan prospek dari sebuah demokrasi. Untuk itu Mandatory edisi kali ini berniat mencermati tema "Politik Perlawanan" sebagai bagian yang terabaikan dalam kerangka demokrasi liberal.
******
Dalam edisi yang lalu, Mandatory mendiskusikan krisis demokra¬si liberal. Krisis ini, diantaranya, bersumber dari obsesi ber¬lebihan demokrasi liberal terhadap metode, prosedur dan in stitusi dalam memaknai dan menjelaskan arti penting pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Akibatnya model demokrasi liberal tidak peka pada isu-isu seperti partisipasi, keadilan atau budaya demokrasi. Tam¬paknya model ini percaya inklusi politik, kesejahteraan dan civility akan datang dan terbentuk dengan sendirinya jika lembaga-lembaga sudah berhasil dibangun. Terbukti kemudian lembaga-lembaga selalu perlu diketuk agar benar-benar membunyikan demokrasi. Jika tidak, lembaga baru sekali¬ber pemilu yang jujur dan adil sekalipun akan terjebak konservatisme. Contohnya, sebagai metode seleksi pemimpin ia justru memperkuat posisi kekuatan-kekuatan anti-demokrasi. Bukankah dengan jalan demokrasi, Sultan Yogya misalnya, ingin mengembalikan feodalisme? Dengan lain perkataan, lembaga-lembaga demokrasi secanggih apapun selalu rentan sabotase. Tapi apa persoalan yang sesungguhnya di balik ini semua? Pertama-tama sejarah menunjukkan demokrasi adalah soal perju-angan politik. Demokrasi adalah soal perimbangan kekuatan antara ke-lompok yang pro dan anti demokrasi untuk memperebutkan hak meme-rintah. Mulanya, penulis seperti Barrington Moore, Jr. percaya kekuatan penting di balik demokratisasi adalah borjuasi. Tapi kemudian keyakin¬an ini dibantah oleh studi Therborn dan Rueschemeyer (et., al) yang menemukan semangat demokratisasi dalam diri kelas pekerja. Sementara beberapa penulis lain seperti Laclau dan Mouffe lebih percaya pada peran kelompok-kelompok pinggiran yang berada di luar formasi sosial dominan seperti perempuan, aktivis lingkungan, aktivis homosek¬sual dan kelompok etnis minoritas. Yang jelas, siapapun yang dianggap paling progresif , semua pe¬mikir ini sepakat bahwa demokrasi adalah soal perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Demokrasi—dalam bentuk kehadiran lembaga­lembaga formal seperti pemilu, sistem multipartai dan kebe¬basan pers—akan tampak seperti lelucon, jika penindasan dan ketidak¬adilan masih terus berlanjut. Sebaliknya perlawanan akan selalu menjadi bagian penting dari masa depan dan prospek sebuah demokrasi. Untuk itu Mandatory edisi kali ini berniat mencermati tema â€Å“Politik Perlawanan” sebagai bagian yang terabaikan dalam kerangka demokrasi liberal. Artikel pertama merupakan analisa tentang gerakan oposisi baru yang sedang berkembang. Amalinda Savirani menunjukkan dalam tuli¬sannya yang berjudul ‘Oposisi Indonesia dalam Era Everyday Politics” bahwa gerakan oposisi tidak lagi hanya memfocuskan pada isu­isu besar dalam lingkup gerakan anti rezim. Namun demikian, gerakan oposisi juga ber¬ada dalam ranah yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari­hari. Menyangkut isu­isu sepele dan bahkan tanpa bentuk organisasi yang kuat. Pada artikel kedua dengan judul ‘Memetakan Lokasi bagi ‘Politik Identitas” dalam Wacana Politik Poskolonial”, Arie Setyaningrum dalam analisanya menunjukkan bahwa formasi (pembentukan) identitas seba¬gai suatu kepentingan politik berakar di dalam agensi sosial yang dipenga¬ruhi oleh efek­efek lanjutan poskolonial sebagai konsekuensi yang diaki¬batkan oleh kolonialisme. Dalam pandangan akhirnya, politik identitas dilihat sebagai sebuah penyikapan terhadap dilema struktural di dalam mengartikulasikan kesetaraan dan mendistribusikan keadilan sosial. Artikel ketiga, keempat dan kelima merupakan artikel­artikel yang mendasarkan pada studi kasus yang terjadi di Indonesia. Artikel ketiga yang ditulis oleh Gerry van Klinken dengan judul ‘The Forest, The State, and Communal Conflict in West Kalimantan, Indonesia”, merupakan sebuah pencarian jawaban atas pertanyaan tentang persoalan konflik komunal yang terjadi di Kalimantan Timur. Ruthviana Mefi Hermawanti dalam artikelnya yang berjudul â€Å“The Role of InternasionalNon­Governmental Orga¬nizations (NGOs) In Third WordDisaster Relief and The Failure of Globaliza¬tion: The Cases of Aceh and West Timor”, melakukan pelacakan atas relasi NGOs dengan proses globalisasi melalui studi kasus Aceh dan Timor Timur. Tulisan Mimin Dwi Hartono yang berjudul ‘Konflik Umbul Wadon:Upaya Membangun Gerakan Sosial di Hulu–Hilir”, menghadirkan rekam¬an pengalaman aksi advokasi yang dilakukan oleh sekelompok pihak yang memiliki konsern pada persoalan lingkungan dalam kasus Konflik Umbul Wadon. Pada artikel keenam, yang ditulis Nuraini Juliastuti dengan judul â€Å“Dayang Sumbi Bertemu Cinderella: Kode Feminitas dalam Seni Visual Indone¬sia” bercerita tentang kompleksitas perkembangan wacana perempuan dan interkoneksitasnya dengan hal-hal lain dalam seri visual Indonesia. Dengan memperhatikan karya seniman perempuan Indonesia, Nuraini menggambarkan tentang tubuh yang dipakai sebagai medan pertarung¬an, tentang wacana yang bermunculan, serta tentang hal-hal yang mem¬pengaruhi seniman dalam berkarya. Jurnal ini ditutup dengan Tulisan Leo Agustino tentang demokrasi. Menggambarkan optimisme penulis terhadap berbagai keuntungan pada sebuah negara yang menjalankan prinsip-prinsip Demokrasi. (REDAKSI)