Tampilkan postingan dengan label Alan Woods. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alan Woods. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2015

Jual Buku Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern Penulis: Alan Woods dan Ted Grant

Jual Buku Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern Penulis: Alan Woods dan Ted GrantJudul buku: Reason in Revolt: Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern
Penulis: Alan Woods dan Ted Grant
Harga Rp 150.000
Penerjemah: Rafiq N
Penerbit: IRE Press Yogyakarta, 2006
Tebal: 568 hlm + xxiii
Kondisi stok lama, isi bersih bagus, sampul lumayan bersih

“Ketika kita merenungi alam atau sejarah umat manusia atau aktivitas intelektual kita sendiri, pertama-tama kita melihat satu gambar yang terdiri dari jaring-jaring hubungan yang tiada ujung-pangkalnya, dimana tidak sesuatupun yang tinggal tetap, dimana dan sebagaimana adanya, tapi segala sesuatu bergerak, berubah, lahir dan mati…”
Buku yang dibuat oleh Ted Grant dan Alan Woods berjudul asli Reason in Revolt: Marxism  and Modern Science ini mencoba membuktikan bahwa marxisme bukanlah persoalan ekonomi  dan politik saja. Di dalam marxisme tersebut tersimpan satu filsafat materialisme-dialektik, satu aliran filsafat yang merupakan metode berpikir dalam memandang perkembangan alam secara keseluruhan.
Materialisme dialektik secara sederhana dapat dicirikan dengan perkembangan yang terus menerus, sebagaimana dialektika Hegel, melalui proses tesis-antitesis-sintesis dan perkembangan ini  dapat digambarkan dengan model spiral, model menuju perkembangan tertinggi. Perbedaan antara dialektika Hegel dan Marx (juga Engels) adalah Hegel menganggap dialektika ini terjadi di dunia ide, sedangkan realitas hanya merupakan cerminan dari apa yang ada di dunia ide tersebut, maka dari itu dialektika Hegel adalah dialektika-idealis. Hal ini bertolak belakang dengan Marx yang menyandarkan perkembangan masyarakat pada apa yang benar-benar terjadi, pada realitas, pada dunia materi. Maka muncullah hukum yang tenar itu “bukan kesadaran yang menentukan keadaan, sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran”.
Materialisme-dialektis inilah metode berpikir yang coba dibuktikan dalam buku ini, bahwa materialisme-dialektis merupakan satu-satunya metode berpikir yang dapat dengan memuaskan menjelaskan proses kehidupan. Melalui bab-babnya yang membuat kening berkerut, kita diantarkan pada kenyataan bahwa sejarah perkembangan alam ini, dari terciptanya alam semesta, kehidupan sederhana sel tunggal hingga kompleksitas perkembangan ras manusia merupakan proses yang dialektis, proses yang terus menerus namun tidak gradual sebagaimana teori darwin melainkan penuh dengan gejolak dan perubahan yang mendadak. Mari kita simak satu contoh kasus dalam bab ini, yaitu perkembangan umat manusia.
Dalam teori darwin, umat manusia (homo sapien sapien) merupakan hasil dari evolusi, hasil dari seleksi alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Sepintas lalu teori darwinisme ini cocok dengan penjelasan materialisme bahwa segala sesuatu bermula dari materi, yang ada pasti berasal dari yang ada dan tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Namun, ada perbedaan yang mencolok dari kedua teori ini. Darwinisme menganggap bahwa seleksi alam terjadi secara gradual, perlahan dan linier. Sedangkan materialisme-dialektik mengangggap sejarah perkembangan umat manusia merupakan suatu proses yang revolusioner dengan lompatan disana-sini. Kemudian, materialisme-dialektis, khususnya Engels dalam Anti Duhring-nya menjelaskan bahwa darwinisme  masih sangat terpengaruh ajaran idealisme dan maltuhusisme. Dengan meyakini darwinisme, berarti mendukung gerakan perbudakan yang mayoritas merupakan kulit hitam karena dalam proses evolusi mereka hanya satu tingkat dibawah hewan (dimana kulit putih menduduki kasta tertinggi).
Bagaimana umat manusia dapat berkembang menjadi mahluk yang sangat kompleks seperrti saat ini?  Tarik menarik penjelasan adalah antara paham materialisme dan idealisme. Menurut kaum idealis, umat manusia sudah diberkahi  ‘otak yang cerdas’ dari sang pencipta (dan ini didukung oleh kaum agamawan), dengan ‘otak yang cerdas’ tersebut mereka mampu untuk menciptakan alat yang paling sederhana seperti kapak untuk menguliti hewan dan menemukan api. Hal yang bertolak belakang dijelaskan oleh para materialis, bahwa perkembangan umat manusia pada awalnya adalah ketika kera tidak lagi hidup di pohon dan memutuskan hidup di atas tanah dengan kedua kakinya, sehingga, hal ini berakibat pada lebih leluasanya penggunaan tangan untuk bekerja. Demikianlah, perkembangan manusia bukan karena dia diberkahi pikiran yang cerdas, namun keadaan merekalah (terutama kerja pembuatan alat), yang beradaptasi dengan lingkungannya, membuat lompatan lompatan revolusioner. Dalam proses ini mulai dikenallah pembagian kerja antara laki laki dan perempuan, hingga kemampuan berbahasa. Proses-proses ini dibarengi dengan peningkatan volume otak, dan telah dibuktikan secara ilmiah. Sekali lagi, bukan kesadaran yang menentukan keadaan, sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran, dan hukum materialisme-dialektis ini telah dibuktikan dalam perkembangan umat manusia.
Menariknya, hukum-hukum materialisme-dialektis, lebih khususnya, apa yang ditulis Engels dalam Anti Duhring makin kesini makin terbukti secara ilmiah. Satu contoh yang paling mencengangkan adalah teori chaos,  yaitu teori yang mencoba menerangkan alam ini dari perspektif ketidakteraturan. Hukum dialektis yang menerangkan bahwa terjadi perubahan kuantitas menjadi kualitas (dan sebaliknya) memainkan peran utama dalam teori chaos, bahwa satu sistem yang kompleks sekalipun memiliki titik-titik instabilitas, titik dimana dorongan yang kecil saja dapat menghasilkan konsekuensi yang besar.
Yang paling menakjubkan dari kemiripan antara teori chaos yang dipelopori ilmuwan alam dengan materialisme-dialektis adalah kebanyakan dari mereka tidak memiliki pengetahuan sedikitpun, bahkan tidak pernah membaca tulisan-tulisan Marx dan Engels, bahkan juga Hegel! Dalam makna tertentu, hal ini memberikan pembenaran yang paling tegas mengenai kebenaran materialisme-dialektis.
Bab terakhir dari buku ini, kembali mengajak kita berefleksi (juga berlawan) atas sistem kapitalistik dan pasar bebasnya yang telah menguasai dunia tanpa ampun. Dimana akibat dari motif pencarian keuntungan, disatu belahan dunia pasokan bahan makanan tersimpan begitu saja, bahkan hingga membusuk dan kemudian dibakar, karena tidak ada yang membeli. Sedangkan dibelahan dunia lain, khususnya di negera dunia ketiga kelaparan hampir setiap saat dapat kita jumpai. Belum lagi masalah masalah lain yang sudah menjadi kebiasaan seperti wabah penyakit, pengangguran, kriminalitas, kerusakan alam, dan berbagai masalah lain akibat dari sistem yang menuhankan perputaran modal ini. Ini bukan soal menyangkal teknologi, tapi perlawanan penyalahgunaan teknologi demi keuntungan pribadi yang menghancurkan lingkungan dan menciptakan neraka di dunia. Dibutuhkan suatu perekonomian terencana yang dijalankan secara demokratik agar potensi dari ilmu dan teknologi dapat ditempatkan sebagai alat bantu manusia, bukan sebaliknya. Dan inilah tugas sentral umat manusia di abad ke 21 ini.

Jual Buku Reason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern, by Alan Woods dan Ted Grant

Jual Buku Reason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern, by Alan Woods dan Ted GrantReason in Revolt atau Nalar yang Memberontak, Filsafat Marxisme dan Sains Modern,
by Alan Woods dan Ted Grant
Harga Rp 135.000 OFF
Penerbit  Wellred Books dan Resist Book.
Tebal 590hlm
Kondisi Baru

Di dalam buku ini dikupas perkembangan sains dalam perspektif Marxis, dari genetika sampai antropologi, dari matematika sampai ilmu perkembangan kanak-kanak. Ditulis oleh Alan Woods dan Ted Grant, untuk mempersenjatai kaum buruh dan muda revolusioner dengan pemahaman dialektika materialis.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketidaktahuan Tidak Pernah Menolong Siapapun: Pengantar Nalar yang Memberontak
Militan Indonesia dengan bangga mempersembahkan buku Nalar Yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern kepada kaum buruh dan kaum muda revolusioner Indonesia. Di dalam buku ini para pembaca akan menemukan hukum-hukum dan metode-metode revolusi yang akan berguna bagi perjuangan pembebasan umat manusia dari rantai kapitalisme. Dapatkan buku ini dari Toko Buku Buruh Membaca (www.facebook.com/tokobuku.buruhmembaca).
***
Mari kita mulai pengantar buku “Nalar yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern” yang padat ini dengan sebuah kisah pendek Karl Marx.
Setelah dideportasi dari Prancis karena aktivitas revolusionernya, Marx menemukan dirinya di Brussel, Belgia pada 1845. Kota Brussel pada saat itu adalah sebuah kota yang padat dengan kaum revolusioner dari berbagai negeri, dan banyak dari mereka adalah eksil politik seperti Marx. Pada musim semi 1846, dalam usahanya untuk menghimpun seluruh kaum revolusioner, Marx bertemu dengan Wilhelm Weitling (1808-1871), seorang aktivis sosialis dan seorang buruh jahit. Mereka berdebat sengit mengenai signifikansi teori di dalam gerakan. Weitling menuduh Marx dan Engels terlalu intelektual dan menulis mengenai subjek-subjek yang tidak menarik dan tidak berguna sama sekali untuk buruh. Dia mengecam keras Marx yang menurutnya menulis “analisa kursi-goyang mengenai doktrin-doktrin yang jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita.” Marx, yang biasanya sangat sabar, menjadi geram dan menggebrak meja, begitu kerasnya hingga lampu di atasnya terguncang. Dia langsung berdiri dan dengan suara yang menggelegar mengatakan, “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun.”
Weitling menentang kerja teori dan propaganda yang sabar. Menurutnya, rakyat sudah cukup tertindas dan siap melawan. Yang dibutuhkan bukanlah teori dan propaganda mengenai hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan penderitaan rakyat, tetapi slogan-slogan agitasi yang sederhana, aksi-aksi langsung, dan keberanian tentunya. Sementara Marx memahami bahwa untuk bisa menumbangkan kapitalisme dibutuhkan sebuah batalion massa buruh yang diperlengkapi dengan senjata ideologi yang lengkap, yang tidak bisa tidak harus dibangun dengan kerja propaganda yang sabar. Massa buruh harus dididik dan dilatih untuk memiliki cara pandang dunia yang luas, yang tidak hanya berurusan dengan isi perut mereka saja, tetapi menyentuh semua aspek kehidupan: seni, sastra, sains, kebudayaan, sejarah, filsafat, dsb.
Pertentangan antara “teori” dan “praktek”, antara “para teoretikus intelektual” dan “para aktivis tulen”, antara “tendensi Marx” dan “tendensi Weitling”, masih mewarnai gerakan sampai hari ini. Akan tetapi, bahkan “para aktivis tulen” yang mengumbar bahwa mereka tidak membutuhkan teori, yang mengatakan dengan bangga bahwa mereka cukup bersandar pada “kehendak murni rakyat yang tertindas” sebagai sumber inspirasi dan pemikiran mereka, pada akhirnya meminjam teori-teori politik yang sudah ada, dengan sadar maupun tak sadar. Teori-teori politik yang sudah ada ini, yang dominan di dalam masyarakat, tidak lain adalah teori-teori borjuis. Ini karena kelas yang berkuasa mempertahankan kekuasaannya tidak hanya dengan senjata dan kekerasan, tetapi terutama dengan nilai-nilai, moralitas, gagasan, dan filsafat. Mereka berkuasa tidak hanya dengan polisi dan tentara saja, tetapi juga dengan para nabi-nabi bayaran mereka, yang mereka tempatkan di sekolah-sekolah, kantor-kantor media, tempat-tempat ibadah, dan di setiap sudut dimana rakyat ingin mencari pengetahuan. Di satu pihak, rakyat tertindas dibuat percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah bentuk yang paling alami, yang tanpanya umat manusia akan punah. Di lain pihak, dan ini yang lebih penting, rakyat pekerja yang melawan dalam setiap langkahnya dijauhkan dari kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Gerakan perlawanan mereka dirasuki dengan berbagai macam gagasan asing, yang di permukaan tampaknya radikal tetapi sebenarnya tidak memiliki konten revolusioner sama sekali, dan yang tujuan utamanya adalah mengandaskan usaha rakyat pekerja untuk merebut kekuasaan dan menumbangkan kapitalisme. Inilah mengapa perjuangan ideologi di dalam gerakan menjadi begitu pentingnya, mengapa kerja propaganda yang sabar di antara massa buruh, untuk meluaskan pandangan mereka, adalah prasyarat dasar untuk kemenangan proletariat.
Bukan untuk alasan sembarangan Marx dan Engels – dan juga banyak pemikir dan pejuang Marxis lainnya – memproduksi begitu banyak karya. Karya-karya ini ditulis bukan untuk memenuhi rasa keingintahuan pribadi mereka, tetapi sebagai bagian dari polemik atau perseteruan gagasan di dalam gerakan. Marx dan Engels tidak membatasi diri mereka hanya pada pertanyaan-pertanyaan konkret dan segera yang dihadapi oleh gerakan, tetapi juga mengenai “doktrin-doktrin yang jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita” – yang sebenarnya hanya tampak jauh bagi mereka-mereka yang pikirannya sempit dan rabun jauh. Misalnya, Engels menulis “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi Dan Negara”, sebuah karya antropologi yang mengupas evolusi kehidupan masyarakat primitif. Para kritikus “praktis” kita mungkin akan bertanya dengan nada mengejek: apa gunanya semua ini untuk gerakan buruh dan aksi mogok? Hanya ini: karya Engels tersebut menjadi dasar bagi teori Marxis mengenai Negara, yang dikembangkan lebih jauh oleh Lenin dalam “Negara dan Revolusi” dan menjadi fondasi teori bagi kaum Bolshevik untuk meremukkan Negara Kapitalis dan membangun Negara Buruh pada Revolusi Oktober 1917. Karya Engels yang “jauh dari dunia kehidupan rakyat yang menderita” itu menjadi dasar untuk kemenangan Revolusi Oktober, peristiwa terbesar di dalam sejarah dunia yang menjadi pemantik dan inspirasi dari hampir semua revolusi pada seluruh abad ke-20. Inilah mengapa teori bukanlah semacam pilihan tambahan, yang bisa dilakukan kalau ada waktu dan kesempatan saja.
Sering kali sikap “anti teori” ini juga merefleksikan semacam keangkuhan terhadap kaum buruh, bahwa buruh tidak akan sanggup – dan juga tidak mau – membaca dan mengkaji teori. Menurut para Weitling ini, buruh cukup diberitahu mengenai penindasan yang mereka alami, diajari bagaimana mengorganisir demo, diadvokasi, dsb. Tetapi, buruh yang maju sebenarnya haus akan gagasan dan teori. Mereka ingin memahami dunia di sekitar mereka. Mereka tidak perlu diberitahu hal-hal yang sudah mereka ketahui sendiri, bahwa mereka tertindas oleh majikan mereka, bahwa ada pengangguran yang tinggi, bahwa ada kemiskinan, bahwa mereka tinggal di rumah-rumah yang tak layak, dsb. Mereka ingin tahu mengapa dunia ini sedemikian rupa, apa yang terjadi di Rusia pada 1917, apa itu Marxisme, bagaimana kapitalisme lahir dan berkembang, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bersifat teoritik. Marx dan Engels menulis terutama untuk buruh, dan demikian juga buku ini ditujukan untuk buruh.
Akan cukup berguna bagi kita untuk mengupas sedikit mengenai latar belakang buku ini dan penulisnya. Mengapa dan bagaimana sebuah buku ditulis, dan siapa yang menulisnya, adalah sama pentingnya dengan konten buku tersebut. Hanya dengan demikian kita bisa lebih menghargai keseluruhan dari buku ini.
Diterbitkan pertama kali di Inggris pada 1995, buku ini adalah buah kolaborasi antara Ted Grant (1913-2006) dan Alan Woods (1944 - ). Keduanya adalah aktivis Marxis di Inggris dan teoretikus utama dari organisasi International Marxist Tendency (IMT). Sejak umur 14 tahun, Ted Grant telah menapak jalan perjuangan. Ketika dia bergabung dengan gerakan komunis pada akhir 1920an, sebuah gejolak besar sedang terjadi di dalam gerakan komunis internasional antara faksinya Leon Trotsky melawan faksinya Josef Stalin, yakni antara tendensi proletariat melawan tendensi birokratisme. Ted Grant sendiri sejak awal sudah berdiri di sisi faksi Leon Trotsky dan tidak pernah berpaling sampai akhir hayatnya.
Kegagalan revolusi-revolusi di negeri-negeri kapitalis maju di Eropa Barat menyusul Revolusi 1917 di Rusia – yang menurut Lenin tanpanya maka “revolusi Rusia akan menemui kehancuran” – menyebabkan keterisolasian Uni Soviet. Di tengah keterisolasian dan keterbelakangan ekonomi, teknologi dan budaya, revolusi proletariat di Uni Soviet akhirnya tercekik. Birokrasi muncul dan merebut kekuasaan politik dari kaum proletariat Uni Soviet. Stalin menjadi personifikasi dari birokrasi ini, yang lalu melikuidasi secara fisik dan ideologi semua warisan Revolusi Oktober.
Ada sungai darah yang memisahkan rejim Stalin dan Revolusi Oktober, antara Stalinisme dan Bolshevisme (Marxisme). Walau di sini bukan tempatnya untuk menganalisa Stalinisme, kami cukup memberikan fakta “kecil” ini untuk membuktikan pernyataan sebelumnya: dari 30 anggota Komite Pusat Bolshevik saat Revolusi Oktober 1917, yakni kepemimpinan tertinggi Partai Bolshevik yang memenangkan Revolusi, 18 dari mereka dieksekusi oleh rejim Stalin, dan hanya 4 yang selamat (termasuk Stalin sendiri); 8 lainnya “beruntung” meninggal secara alami sebelum 1927, yakni sebelum kaum birokrasi dan Stalin naik ke tampuk kekuasaan. Jadi, 18 dari 22 pemimpin tertinggi Revolusi Oktober, atau 80% dari mereka, entah dengan satu cara atau lainnya ditemukan bersalah oleh rejim Stalin sebagai “pengkhianat revolusi”, “agen imperialis”, “kaki tangan fasis”, dan 1001 tuduhan tak-masuk-akal lainnya. Nasib yang sama juga menimpa hampir semua kader Bolshevik Tua, yakni mereka-mereka yang telah lama berjuang bersama Lenin. Mereka dibuang ke Siberia untuk mati perlahan-lahan atau dieksekusi di gedung Lubyanka. Fakta ini saja sebenarnya sudah cukup untuk membantah pernyataan bahwa Stalin adalah penerus Lenin, sebuah pernyataan yang kerap dibuat oleh para musuh sosialisme yang ingin menyamakan sosialisme dengan karikatur buruk dan kejam dari rejim birokratik Stalinis.
Leon Trotsky, dan murid-muridnya seperti Ted Grant, berjuang dengan keras kepala untuk melawan Stalinisme dan menyelamatkan tradisi Revolusi Oktober. Perjuangan mereka sebagian besar adalah perjuangan ideologi, yakni perjuangan untuk mengklarifikasikan kembali gagasan Marx, Engels, dan Lenin. Semua yang dilakukan oleh Trotsky sampai akhir hayatnya adalah untuk membersihkan panji Marxisme agar bisa digunakan oleh proletariat sebagai senjata ideologi mereka untuk meruntuhkan kapitalisme. Buku ini ditulis oleh Ted Grant dan Alan Woods dengan semangat yang sama, terutama pada periode pasca runtuhnya Uni Soviet.
Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 merupakan pukulan telak bagi gerakan revolusioner. Keruntuhan Uni Soviet disajikan oleh para kapitalis sebagai bukti kegagalan Marxisme. Pada kenyataannya apa yang gagal di Rusia bukanlah Marxisme tetapi karikatur birokratisnya. Kaum kapitalis dan para akademisi bayaran mereka segera meluncurkan ofensif ideologis untuk mengubur Marxisme selama-lamanya. Berbagai buku ditulis untuk merayakan kemenangan kapitalisme atas sosialisme, sementara para “Marxis” didikan rejim Stalinis dan partai-partai “komunis” sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan serangan ideologi borjuis ini, karena Marxisme mereka adalah Marxisme kaku yang formalis. Seperti yang ditulis di buku ini: “Di tangan birokrasi [Stalinis], filsafat Marxisme (yang mereka sebut “diamat” atau singkatan dari dialektika materialisme) diubah menjadi dogma yang mandul, atau sebuah varian dari sofisme yang digunakan untuk membenarkan segala manuver dari para pemimpinnya.” Justru kebanyakan dari mereka dengan tergesa-gesa mencampakkan Marxisme, seperti tikus-tikus yang lari dari kapal yang terbakar.
Buku “Nalar yang Memberontak” ini ditulis dan diterbitkan dengan latar belakang politik demikian. Ketika ideologi revolusioner tengah digempur dan demoralisasi merasuki gerakan sampai ke sumsum-sumsumnya, tugas yang paling mendesak adalah membela gagasan-gagasan dan teori-teori dasar Marxisme. Ini ada kesamaannya dengan yang dilakukan oleh Lenin menyusul kekalahan Revolusi 1905. Kekalahan Revolusi ini membuka gerbang untuk periode reaksi dari 1907-1910, yang digambarkan Lenin seperti berikut: “Tahun-tahun reaksi (1907-1910). Tsarisme menang. Semua partai revolusioner dan oposisi remuk. Depresi, demoralisasi, perpecahan-perpecahan, pertikaian, pengkhianatan dan percabulan menggantikan politik. Ada pergeseran yang semakin besar ke arah filsafat idealisme; mistisisme menjadi kedok dari sentimen-sentimen kontra-revolusioner.” Apa yang Lenin lakukan? Dia menerbitkan sebuah buku filsafat yang tebal dan padat pada 1909, “Materialisme dan Empirio-Kritisme”, untuk kembali mengklarifikasikan filsafat Marxisme. Tentunya buku ini tidak bisa disamakan dengan bukunya Lenin, tetapi semangat yang menjiwainya sama: klarifikasi gagasan Marxisme di tengah badai kebingungan ideologi yang melanda gerakan.
Sudah lebih dari 20 tahun sejak buku ini pertama kali diterbitkan dan tentunya sejak itu sains sudah berkembang lebih jauh. Penemuan-penemuan baru, data-data baru, dan eksperimen-eksperimen baru telah mengklarifikasi sejumlah pertanyaan yang diajukan di buku ini, entah secara positif maupun secara negatif. Tetapi buku ini ditulis bukan sebagai kata akhir untuk sains, bukan sebagai prediksi bola-kristal mengenai sains. Buku ini ditulis sebagian besar sebagai pengamatan umum mengenai perkembangan sains modern, yang kalau dikaji secara cermat akan kita temui garis-garis umum Marxisme di dalamnya. Pada analisa terakhir, buku ini ditulis bukan untuk kepentingan akademis semata, tetapi sebagai bagian penting dari usaha aktif dan sadar manusia untuk membebaskan dirinya dari belenggu kekuatan-kekuatan yang tidak dipahaminya dan tidak dikontrolnya – yang dalam kapitalisme adalah kekuatan pasar bebas dan kapital – dan melompat ke ranah kebebasan.
Ted Sprague. Kamis, 30 Juli 2015.