Tampilkan postingan dengan label Booked. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Booked. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2015

Kerjasama Perdagangan Internasional, IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional, Integrasi Keuangan dan Moneter di ASIA TIMUR

Jual Buku Kerjasama Perdagangan Internasional, IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional, Integrasi Keuangan dan Moneter di ASIA TIMURKerjasama Perdagangan Internasional, IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional, Integrasi Keuangan dan Moneter di ASIA TIMUR
Harga Rp 165.000 [Bundle] BOOKED
Kondisi : bekas, isi dan sampul utuh bagus, ada bekas stempel, LANGKA

Kamis, 15 Oktober 2015

Dari Penjara ke Penjara TAN MALAKA (Tiga jilid, full set), Tan Malaka Teplok Press

Jual Buku Dari Penjara ke Penjara TAN MALAKA (Tiga jilid, full set), Tan Malaka Teplok PressJudul Dari Penjara ke Penjara TAN MALAKA
(Tiga jilid, full set)
Harga Rp 700.000 off booked JKT
Penerbit Teplok Press
Cetakan II, Tahun 2000
Kertas Isi HVS Putih
Kertas Sampul Ivory

Jilid Satu, 303 hlm
Jilid Dua, 401 hlm
Jilid Tiga, 381 hlm

Kondisi : Stok lama, Baru, Original, Mulus, dari penerbit dibungkus plastik sendiri

Minggu, 02 Agustus 2015

Jual Buku Pandangan sosial agama Buddha Penulis Cornelis Wowor

Jual Buku Pandangan sosial agama Buddha Penulis Cornelis Wowor Pandangan SOSIAL agama Buddha,
Harga Rp 32.000 booked
Penulis Cornelis Wowor
Penerbit Aryasuryacandra,
Tahun - 1991
Tebal - 139 halaman
Kondisi bagus, lawas.


Daftar Isi 
Kata Sambutan
1
Kebudayaan Buddha
15
CitaCita Sosial
43

Jumat, 17 Juli 2015

Jual Buku Ajaran Spiritual Sufi Besar Hazrat Inayat Khan: Dimensi Mistik Musik dan Bunyi, Penulis: Hazrat Inayat Khan

Judul: Ajaran Spiritual Sufi Besar Hazrat Inayat Khan: Dimensi Mistik Musik dan Bunyi
Penulis: Hazrat Inayat Khan
Harga Rp 95.000 TERJUAL
Harga Hardcopy Rp 75.000
Tebal: 410
Penerbit: Pustaka Sufi, Yogyakarta
Tahun: 2002
Harga: Rp51.250
Kondisi Buku: Bagus

Senin, 13 Juli 2015

Jual Buku Paradigma Pengembangan Masyarakat Islam, studi Epistemologis Pemikiran Ibnu Khaldun, Penulis Wendy Melfa

Jual Buku Paradigma Pengembangan Masyarakat Islam, studi Epistemologis Pemikiran Ibnu Khaldun,  Penulis Wendy MelfaJudul Paradigma Pengembangan Masyarakat Islam, studi Epistemologis Pemikiran Ibnu Khaldun,
Penulis Wendy Melfa SH MH,
Harga Rp 50.000 terjual JKT.U 14/7
Bandar Lampung: Matakata.
Terbit 2007
Kondisi Baru, stok lama, segel lepas,

Sabtu, 11 Juli 2015

Jual Buku Sosiologi Feminisme, Konstruksi Perempuan dalam Industri Media Penulis : Widjajanti M. Santoso

Jual Buku Sosiologi Feminisme, Konstruksi Perempuan dalam Industri Media Penulis : Widjajanti M. SantosoSosiologi Feminisme; Konstruksi Perempuan dalam Industri Media
Penulis : Widjajanti M. Santoso
Harga Buku : Rp 79.000 dari Rp 91.000

Penerbit : LKiS
Tebal : 354halaman
Ukuran : 14,5 x 21cm
Terbit : I, Juli 2011M

Sabtu, 27 Juni 2015

Jual Buku Terus Mencoba Budaya Tanding, Penulis Emha Ainun Nadjib

Judul Terus mencoba Budaya Tanding.
Pengarang:Emha Ainun Nadjib
Rp 90.000 BOOKED
Bahasa:Indonesian
Penerbit:Pustaka Pelajar,
Tahun 1995.
Edition:Cet. 1.
Tebal: xxii, 290 hlm. ; 14x22 cm.
ISBN:9798581164 /9798581148
Kondisi Stok lama, Bagus,
original, lawas, Bukan Bekas

Seperti yang dikatakan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya “ Terus Mencoba Budaya Tanding “ bahwa “ budaya tanding tak bisa tak ada, dalm dimensi yang manapun dari hidup ini. Konflik diperlukan untuk mementaskan sejarah dari kehidupan. Bahkan untuk supaya alam ini barnama alam. Dialektika abadi“

Selasa, 09 Juni 2015

Jual Buku Syariat Islam, Pandangan Muslim Liberal Penulis: Al Asymawi, Saiful Mujani, Azyumardi Azra

Jual Buku Syariat Islam, Pandangan Muslim Liberal Penulis: Al Asymawi, Saiful Mujani, Azyumardi AzraJudul Buku: Syariat Islam, Pandangan Muslim Liberal
Penulis: Al Asymawi, Saiful Mujani, Azyumardi Azra, Taufik Adnan Amal, Ulil Abshar-Abdalla, et all.
Harga Rp 55.000 TERJUAL (sedia hardcopy)
Editor: Burhanuddin
Penerbit: Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation,
Tahun : Juni 2003
Tebal; xii, 277 hal.
Kondisi, stok lama, bagus

Wacana syariat Islam bersifat pelik berkenaan dengan sifat hubungan Islam sebagai sebentuk keyakinan atau agama dengan formulasi hukum Islam historis yang selama ini disebut syariat (An-Na’im, 1994). Pada saat syariat Islam dibicarakan dalam locus dan konteks historis dan profan, maka syariat Islam harus siap didudukkan dalam bingkai penilaian yang fair tanpa berharap ada keistimewaan apapun karena anggapan akan sakralitas fungsi dan sumbernya.
Kebanyakan aktivis syariat Islam tidak siap meletakkan syariat Islam dalam diskusi publik yang rasional. Statemen-statemen semacam “syariat tak bisa divoting,” “syariat lebih unggul daripada konstitusi sekuler” misalnya, selalu mewarnai sidang-sidang tahunan di MPR belakangan ini. Ruang pergumulan untuk mengisi cetak biru (blue print) konstitusi, terutama di negara-negara Muslim, sering diramaikan oleh aspirasi religius sebagian kelompok untuk memberi visi Islami pada konstitusi.

Memang dewasa ini muncul kecenderungan baru di banyak negara Muslim untuk menerapkan syariat Islam dengan cara memanfaatkan kebebasan dan demokrasi yang —suka tidak suka— juga memberi peluang bagi munculnya ekspresi keagamaan dalam kutub paling ekstrem sekalipun. Aspirasi penerapan syariat Islam berbanding lurus dengan pasang naik demokrasi di negara-negara muslim. Di antara mereka juga fasih melantunkan idiom-idiom demokrasi dan memaksimalkan lembaga-lembaga demokrasi sebagai sarana mencapai tujuan.

Partai Keadilan di Indonesia, FIS di Aljazair yang memenangkan pemilu putaran pertama tahun 1991 yang kemudian dibatalkan oleh rezim militer, hanyalah sebagian contoh partai-partai Islamis yang memperjuangkan agenda syariat Islam dalam pemerintahan. Di sejumlah negara Muslim lain seperti Pakistan, Yordania, Mesir, Maroko, Iran, dan Kuwait, kelompok-kelompok Islamis mereka ikut bersaing di pentas politik nasional masing-masing dengan menggunakan prosedur pemilihan umum.

Namun demikian, sebagian besar pemerintahan Islam dibangun lewat prosedur non-demokrasi. Arab Saudi misalnya, secara konsisten memberlakukan syariat Islam dalam kehidupan sosial-politik melalui jalur otoritarianisme sejak Muhammad al-Saud dan Muhammad bin Abd al-Wahhab menyepakati suatu kontrak politik yang melahirkan kerajaan kaya minyak itu.

Pemerintahan Taliban sebelum dirobohkan koalisi Amerika Serikat juga menjadi contoh yang baik betapa otoritarianisme menjadi jalan tol bagi pelaksanaan syariat Islam yang eksesif di di Afghanistan. Demikian juga di Pakistan tahun 1980-an di mana program “Islamisasi” yang digelindingkan rezim militer di bawah Zia ul-Haq menarik minat kekuatan politik Islamis —yang tidak pernah menuai simpati rakyat dalam pemilu seperti Jamaat-i-Islami yang didirikan Abu A’la al-Mawdudi—untuk berkolaborasi dengan militer.

Buku yang ada di hadapan Anda ini pada dasarnya berambisi menyuguhkan sederetan fakta pengalaman negara-negara Islam dalam berdialektika dengan syariat Islam dan isu-isu kontemporer soal demokrasi, HAM, civil society dan lain-lain. Pertanyaan pendek yang kerap menghantui adalah: “Mengapa para pengusung syariat Islam tak pernah menarik pelajaran dari banyak negara Islam yang melakukan eksperimentasi yang gagal dalam memberlakukan syariat Islam?”

Atau, jangan-jangan, kenyataan yang tersajikan di negara-negara yang menerapkan syariat Islam itulah yang mereka tempuh dengan sengaja, di mana pertumbuhan ekonomi per-kapita yang rendah, tingkat pendidikan dengan indikator tingkat melek huruf yang amburadul, pendeknya harapan hidup (life span), dan absennya kesetaraan gender, siap dimaklumkan asalkan syariat Islam terlaksana.

Alih-alih memberi garansi bagi terpeliharanya hak-hak politik (political rights) dan hak-hak sipil (civil liberties) warga negara, para pengusung syariat Islam juga tidak serius membenahi —apa yang disebut Saiful Mujani sebagai— “indeks kemaslahatan publik.” Jikalau sedari awal berdirinya rezim syariat Islam selalu memaklumkan jalan pintas otoritarianisme, maka adalah sulit, untuk tidak menyebut mustahil, mengharapkan indeks kemaslahatan publik akan lahir dari tangan-tangan mereka.

Realitas sui-generis itulah yang akan diketengahkan buku yang dibagi menjadi dua bagian ini. Sebelum beranjak pada bagian pertama, buku ini didahului “provokasi intelektual” juris asal Mesir, Muhammad Sa’id al-Asymawi. Pendahuluan bertajuk “Jalan Menuju Tuhan” ini berdasarkan terjemahan dari salah satu sub-bahasan dalam master-piece al-Asymawi, Al-Islam al-Siyasi (1992).

Bagian pertama terdiri dari lima tulisan panjang, yaitu “Syariat Islam, Konstitusionalisme, dan Demokrasi,” “Negara dan Syariat dalam Perspektif Politik Hukum Indonesia,” “Syariat Islam di Aceh,” “Simbolisasi, Politisasi dan Kontrol terhadap Perempuan: Studi Kasus di Aceh,” dan “Selamatkan Indonesia dengan Syariah.” Tulisan pertama yang ditulis Saiful Mujani dimaksudkan untuk memotret gambaran komparatif negara-negara yang menerapkan syariat Islam dibandingkan dengan asas paling dasar dari raison d’etre berdirinya sebuah negara, yakni kemasla-hatan sebesar-besarnya bagi warganya.

Tulisan kedua dari Arskal Salim dan Azyumardi Azra coba mengulas hubungan negara (baca: Indonesia) dengan syariat dari perspektif legal-formal dan sejarahnya. Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean menukikkan kasus penerapan syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sejak UU No. 44 tahun 1999 dikeluarkan. Kedua penulis dari Forum Kajian Budaya dan Agama (FKBA), Yogyakarta, ini menyinggung aspek kesejarahan, sosiologis dan yuridis dari penerapan syariat Islam di NAD. Sementara aspek kesetaraan perempuan ter-cover dalam tulisan Lily Z. Munir. Adapun tulisan Ir. M. Ismail Yusanto memberikan perspektif dari sudut kalangan yang selama ini gencar memperjuangkan penerapan syariat Islam di Indonesia.

Bagian kedua dari buku ini berisi materi perdebatan dalam acara workshop terbatas yang diadakan Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tanggal 10-11 Januari 2003 di Puncak, Jawa Barat. Workshop itu bertajuk Shari’a: Comparative Perspective yang diramaikan oleh kehadiran Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na’im dan kontributor JIL di seluruh Indonesia. Workshop itu sendiri terbagi menjadi tiga sesi; pertama, Shari’a: Comparative Country Case Studies; kedua, Shari’a: The Indonesia Case; dan ketiga, Toward Reformation of Islamic Law. Sesi pertama diantarkan oleh Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na’im dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, sementara Ir. M. Ismail Yusanto, Samsu Rizal Panggabean dan Lily Z. Munir bertugas mengantarkan sesi kedua. Adapun sesi ketiga tidak ada “narasumber” yang mengantarkan diskusi, kecuali Ulil Abshar-Abdalla, Lies Marcoes-Natsir dan Syafiq Hasyim yang memandu sesi terakhir ini. Setiap peserta menjadi narasumber dalam workshop di awal tahun ini.

Demikianlah, isu syariat Islam selalu menawarkan perdebatan menarik, bak tabir misteri yang tak kunjung usai dibicarakan. Dalam konteks nation-building kita, perdebatan di seputar isu syariat Islam bisa dikatakan setua umur republik ini. Hanya saja, kini kalangan yang terlibat dalam perdebatan isu syariat Islam tidak lagi terpaku pada narasi-narasi besar. Tak ada lagi oposisi biner antara kalangan Islam vis-à-vis nasionalis dalam menerima atau menolak syariat Islam. Menariknya, baik yang mengusung maupun mementahkan penerapan syariat Islam oleh negara sama-sama berasal dari “rahim” Islam, sama-sama lahir dan besar dari tradisi Islam, dan sama-sama fasih memakai justifikasi teologis dari kekayaan khazanah klasik Islam untuk membenarkan argumennya.

Dengan demikian, persepsi dan pandangan umat terhadap konsep syariat Islam tidaklah monolitik, apalagi jika syariat Islam dikaitkan dengan konsep politik, demokrasi dan pemerintahan. Persepsi terhadap syariat Islam tergantung pada ruang dan waktu di mana faktor politis, sosiologis, ekonomis dan antropologis berperan membentuk apresiasi dan persepsi yang beragam. Lihatlah suasana sidang-sidang konstituante pasca pemilu 1955, Masyumi dan NU merupakan kekuatan utama pengusung Islam sebagai dasar negara. Kini NU dan Muhammadiyah justru paling depan menolak amandemen pasal 29 UUD 1945. NU dan Muhammadiyah menjadi “tembok pertama” yang harus dilewati bagi kelompok-kelompok baru dalam Islam (new Islamic movement) yang belakangan ini gencar mempromosikan syariat Islam sebagai solusi krisis.

Krisis multidimensional yang berkepanjangan di Indonesia memang seringkali memunculkan keputusasaan beberapa pihak dalam mencari formula penyelesaiannya. Karenanya, dalam menyikapi isu-isu teknis yang meniscayakan solusi rasional malah melahirkan respon-respon simbolis seperti anggapan bahwa penerapan syariat Islam akan menjadi panacea, menuntaskan segala krisis bangsa. Ia dianggap sebagai eliksir, obat mujarab yang langsung manjur menyembuhkan segala penyakit. Ironisnya, pada saat bersamaan, solusi rasional yang diharapkan muncul dari orang atau pranata-pranata “sekuler” tidak kunjung tiba, malah pranata tersebut dinilai bagian dari sumber persoalan yang harus segera diatasi.

Last but not least, diskusi publik soal syariat Islam di Indonesia yang melibatkan “pertarungan” antara “anak-anak kandung” Islam membuktikan kebenaran adagium “Islam warna-warni.” Syariat Islam menjadi korpus teks yang terbuka untuk ditafsirkan siapa saja. Tidak ada lagi pihak yang berani mengklaim paling punya otoritas menafsirkan Islam karena tidak ada satupun orang di muka bumi ini yang berhak mengklaim bahwa dialah yang memiliki “hak paten” atas Islam. Selamat Membaca !

Burhanuddin

Utan Kayu, 20 Mei 2003

Selasa, 12 Mei 2015

Jual Buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat(New Edition), Achmad Chodjim

Jual Buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat(New Edition) Author : Achmad ChodjimJudul : Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat(New Edition)
Penulis : Achmad Chodjim
Harga : Rp 69,900 TERJUAL
Penerbit Serambi
Terbit : Pebruari 2004
Halaman : 312 hal. SC
Ukuran : 15 x 23.5 cm

Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat

Sunan Kalijaga, alias Raden Syahid. Dia seorang putra tumenggung. Tetapi dia tidak mau mewarisi kekuasaan dari ayahandanya. Justru dia memilih menjadi pegiat spiritual Islam di Tanah Jawa, yang pada akhirnya oleh Dewan Wali Sanga, dia diangkat sebagai salah satu anggotanya untuk menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia. Namanya akrab di telinga Islam Jawa. Dan, nyatanya dialah satu-satunya Wali yang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh mutihan atau abangan, santri atau awam.

Banyak buku mengungkapkan kisah Sunan Kalijaga. Sebatas kisah hidupnya belaka. Buku yang ada di hadapan Anda ini tidak bertutur kata tentang kisah Sunan Kalijaga. Meski kisahnya banyak diketahui orang, tapi tak banyak orang yang tahu tentang ajaran yang dibawanya. Nah, yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah kupasan tentang ajaran dan kearifannya. Anda akan tahu bahwa banyak praktik-praktik agama Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, berasal dari Sunan Kalijaga.

Ada sebuah doa bahasa Jawa yang masih diamalkan oleh orang-orang Islam di Nusantara. Khasiat doa ini untuk menolak bala. Menyingkirkan penyakit. Mengusir hama dan penyakit tanaman. Membebaskan diri dari jeratan hutang. Bahkan untuk melindungi diri dalam pertempuran. Itulah doa "Rumeksa ing Wengi". Sebuah doa yang disusun oleh Sunan Kalijaga. Sunan pun melakukan dakwah dengan pendekatan budaya. Mungkin Anda pernah mendengar Gerebeg Mulud dan Sekaten. Itulah cara-cara Sunan Kalijaga untuk mengajak orang lain masuk agama Islam.

Dalam Islam "wasilah" merupakan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara yang ditempuh seseorang untuk sampai kepada-Nya. Namun, bentuk wasilah itu diperdebatkan kebenarannya oleh para ulama. Sunan tak hendak berdebat masalah teologi. Tapi dia memberikan contoh wasilah ala Jawa. Yang jika dipelajari ternyata menyentuh hakikat keislaman. Sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap para nabi, sahabat dan keluarga Rasul. Sunah Rasul pun tidak sesempit sebagaimana yang kita kenal selama ini. Bahkan diwujudkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, misalnya penggunaan baju takwa.

Diri manusia juga dikupas dengan sisi pandang yang berbeda. Mungkin Anda pernah dengar "Sedulur papat kalima pancer", saudara empat yang pusatnya adalah Diri manusia. Itulah ajaran makrifat Islam. Di situ keimanan dalam Islam bukan semata-mata dipandang sebagai kepercayaan, tapi oleh Sunan diamalkan untuk membangkitkan Sang Pribadi. Agar dapat kembali dengan sempurna ke Hadirat-Nya.

Syariat, tarekat, dan hakikat dirajut menjadi satu. Dirajut menjadi makrifat dalam bentuk mistik Jawa. Sehingga agama tidak sekadar menjadi formalitas kehidupan. Tapi menjadi bagian kehidupan itu sendiri. Mistik dan makrifat yang umumnya dipandang sebagai klenik [dalam pengertian negatif], oleh Sunan diolah menjadi ajaran yang bermakna bagi kehidupan. Selamatan pun tak ketinggalan. Jika selama ini selamatan hanyalah tradisi yang tidak diketahui maksudnya, maka dalam buku ini makna dari selamatan sehari hingga seribu hari itu disajikan dengan bahasa yang sederhana. Karena hakikat kebenaran itu satu. Maka, dengan satu ikatan yang benar, yang juga disebut tauhid, itulah seseorang menghadap ke Hadirat Tuhannya.

Yang terakhir mengenai reinkarnasi atau dilahirkan kembali. Banyak yang salah paham tentang ajaran ini. Dikiranya ajaran menitis atau dilahirkan kembali itu pengaruh dari ajaran Hindu atau Buddha. Itulah hikmah Islam yang diambil oleh Sunan. Hikmah yang ditemukan di Jawa. Sebagaimana pesan Rasul, hikmah adalah barang orang mukmin yang hilang, maka ambillah di manapun hikmah itu ditemukan! Memang benar, ajaran reinkarnasi itu ada di Hindu dan Buddha. Tapi, sebelum kedua agama itu masuk Jawa, hikmah tentang reinkarnasi itu sudah ada di ajaran Jawa. Oleh Sunan Kalijaga ajaran reinkarnasi ini dipadukan dengan konsep kebangkitan dari Islam.

Minggu, 10 Mei 2015

Jual Buku Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, Penulis:Benedicta A.Surodjp

Jual Buku Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku Penulis:Benedicta A.Surodjp,JMV.SoeparnoJudul: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku
Penulis:Benedicta A.Surodjp,JMV.Soeparno
Harga: Rp 95.000 TERJUAL HDF
Penerbit: PT Media Lintas Inti Nusantara & Institut Studi Arus Informasi, Jakarta
Terbit: 2001
Bahasa: Indonesia
ISBN: 979-8933-32y
Cover: Soft Cover
Kondisi:stok lama, bagus

Laporan: Heru Margianto
Jakarta, KCM
Tujuh setengah bulan sebelum dihadapkan ke depan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), mantan Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dani (77) sudah tahu bahwa hukuman mati akan diterima. Semua yang dituduhkan kepadanya dalam sidang Mahmilub hanya untuk mendukung tuduhan yang sudah ada sebelumnya.

Demikian terungkap dalam buku "Tuhan Pergunakanlah Hati, Tangan, dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani". Buku yang disusun oleh Benedicta A Soerojo dan GMV Supartono itu diluncurkan Selasa (30/1) sore ini di Balai Sudirman, Jakarta.

Peluncuran buku ini terasa istimewa karena dihadiri oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, duta besar dan perwakilan negara tetangga, dan sesepuh TNI AU. Tampak pula hadir Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hanafie Asnan, mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Kemal Idris, Benjamin Mangkudilaga, Hendardi, Romo Sandyawan, dan Luhut MP Pangaribuan.

Peluncuran buku ini juga dimeriahkan dengan diskusi bedah buku, dengan pembicara George Aditjondro, dan Roeslan Abdulgani.

Saat memberikan bukunya kepada Megawati, Omar Dani mengatakan, "Saya menyerahkan buku ini kepada mbak Mega karena Mbak Mega telah berjasa dalam berjuang melawan kezaliman dan teror. Sifatnya yang pendiam, keibuan, sabar, ramah dan anggun, menimbulkan rasa iri manusia yang berambisi pada kedudukan," ujarnya.

Omar juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Megawati atas perjuangan Megawati yang selalu digoyang kiri kanan, namun akhirnya berhasil menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sementara penulis buku Benedicta A Soerojo, menyatakan bahwa buku setebal 372 halaman ini mengisahkan tentang apa yang dialami, dan diketahui Omar Dani, berkaitan deangan tuduhan terhadap dirinya terlibat dalam peristiwa G30S/PKI.

"Banyak hal baru yang diungkapkan dalam buku ini, misalnya banyak orang tak tahu, bahwa Omar Dani pergi ke Phnom Penh atas perintah Presiden Soekarno. Kemudian juga peristiwa semasa Omar Dani berada di dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga), dimana pak Harto juga ada disana. Perubahan atau pergantian pimpinan di kolaga itu adalah hal yang paling baru, dan ada bukti-bukti otentik, kita berikan dalam attachment," ujar Soerojo yang mengenal Omar Dani sejak usia 12 tahun ketika bersama ayahnya pak Soerojo mengunjungi Omar Dani di penjara Nirbaya pada tahun 1966.

Judul Buku "Tuhan, Pergunakanlah Hati, Tangan, dan Pikiranku" adalah cuplikan doa Omar Dani dalam kesendiriannya di kamar tahanan mempersiapkan pledoi beberapa saat menjelang sidang Mahmilub.

Dalam buku yang rencananya akan diterbitkan dalam bahasa Inggris itu, diungkapkan keterpojokan Omar Dani berhadapan dengan kekuatan propaganda media massa. Omar Dani akhirnya dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati.

Ia bebas pada tahun 1995, setelah menjalani hukuman selama 29 tahun 4 bulan. Pada kesempatan itu direktur penerbit ISAI yang menerbitkan buku ini, Bimo Nugroho, mengungkapkan betapa pada tahun 1965-1966, adalah tahun-tahun yang gelap bagi generasi yang lahir sesudah itu. Fakta sejarah yang didapatkan di bangku sekolah adalah sejarah versi penguasa.

"Buku ini tidak sekedar pledoi, tapi secercah jawaban, tentang masa yang tidak jelas itu," ujarnya.(zrp)

Sabtu, 09 Mei 2015

Jual Buku Memories Dreams Reflections, CG Jung

Judul: Memories, Dreams, Reflections
Penulis: Carl G. Jung
Harga Rp 120.000 BOOKED LPG 15/5
Penerbit: Jendela,
Tahun : 2003
Tebal: 600 halaman
Kondisi: Buku stok lama, Bagus
sms.wa.line 0896 6116 2026 bbm 330a029

Pada musim semi 1957, tepatnya ketika berusia delapan puluh satu tahun, C.G. Jung menyusun kisah hidupnya. Dengan teratur ia melakukan dialog bersama kolega sekaligus temannya yang bernama Aniela Jaffe, dan berkolaborasi dengannya dalam menyiapkan dasar-dasar teks dalam pembicaraan ini. Sekarang, ia menuangkan seluruh bab dalam tulisan ini dengan tangannya sendiri, dan dengan kontinu ia mengerjakan naskah ini hingga tingkat akhir sampai sesaat sebelum ia meninggal duni tahun 1961.

“Sesuatu yang penting, dokumen langsung yang ditulis untuk para pembaca yang ingin mengetahui tulisan dan pemikirannya di masa-masa akhir hidup Jung”

***
Memories, dreams, reflections adalah karya kontroversial karena karya ini masih berupa naskah ketika Jung meninggal, dan perlu disunting lebih lanjut agar bisa terbit sebagai buku. Tapi buku ini menginspirasi banyak orang untuk menjadi seorang psikoanalis. Buku ini menekankan pada kebangkitan spiritual dan intelektual dari psikolog besar ini.

Jung meyakini, semua orang memiliki gagasan religius dalam diri mereka, memiliki perasaan tentang Tuhan atau isyarat tentang arti yang lebih besar. Ia mengamati bahwa mereka yang menolaknya seringkali menderita gangguan saraf. Tetapi orang semacam ini tidak akan “dipisahkan dari diri mereka sendiri” seandainya mereka hidup di jaman dulu, dimana kehidupan mereka sangat dekat dengan mitos , ritual dan alam. Orang modern terlalu objektif, pandangan spiritual mereka terlalu sempit; banyak jiwa yang menjalani hampir seluruh kehidupannya di alam sadar, pikiran rasional. Jung meyakini, jika mereka mampu menghilangkan jarak antara ego dan pikiran bawah sadar, mental mereka akan kembali sehat sepenuhnya. Dalam sebuah wawancara Jung ditanya apakah ia percaya kepada Tuhan, Jung menjawab : “Saya bukan mempercayai-saya mengetahui”.

Tujuan yang disebut Jung sebagai “Individualisasi” adalah penyatuan sisi-sisi kita yang bertentangan, atau mengenali kontradiksi dalam diri kita. Pemahaman tentang diri ini akan memungkinkan munculnya perasaan menyatu antara tujuan hidup kita dengan kepribadian kita. Ada 2 aspek dalam diri kita yang ia sebut sebagai kepribadian no.1 (apa yang biasa kita pikirkan tentang diri kita) dan kepribadian no.2 (yang bersemayam dalam kebijaksanaan yg “kekal dan abadi”). Menurut Jung kepribadian no.2 inilah yang paling berharga dan harus kita dengarkan yang biasa ia sebut sebagai “diri yang lebih tinggi” atau “diri sejati”. Tanpa integrasi ini, kita cenderung memproyeksikan kepada orang atau hal-hal lain apa yang tidak kenali dalam diri kita, seringkali dengan konsekuensi yang merugikan.

Jung menemukan gagasan yang disebut dalam istilah psikologi sebagai “kompleks”, “Introver” dan ‘ekstrover”. Ia melangkah lebih jauh lagi dengan gagasannya tentang “ketidaksadaran kolektif”, yaitu pikiran manusia yang lebih besar dimana setiap individu adalah suatu bagian dimanifestasikan dalam gambar, simbol, mimpi dan mitos yang sepertinya muncul di semua budaya. Ia juga mengembangkan konsep mengenai “arketipe”, cara mewujudkan atau bertindak yang diadopsi tanpa berpikir oleh manusia, yang juga terdapat dalam jiwa kolektif yang lebih luas.

Gagasan Jung lainnya yang terkenal adalah “sinkronisitas” atau terjadinya peristiwa kebetulan yang kelihatannya penuh arti yang melampau bidang probabilitas normal, mengusulkan suatu alam semesta dimana batas2 atara pikiran dan materi yang biasa dirasakan manusia di sejumlah keadaan menjadi tidak jelas. Konsep ini juga banyak ditulis dalam buku spritual modern saat ini. Jung juga tertarik pada numerologi, terutama signifikansi nomor 4 dalam seni dan mitologi, serta mendalami alkemi, Gnotisisme dan Kitab Suci. Ia memahami bahwa alkemi yang sesungguhnya bukan merubah besi biasa menjadi emas, melainkan transformasi jiwa, suatu kebangkitan.

Jung mengakui bahwa “permitologiannya” ini telah memberikan kehidupan suatu daya tarik yang, sekali merasakannya, sulit untuk menjalani hidup tanpanya. Tetapi mengapa kita harus hidup tanpa hal itu?

Bagi para intelektual, hal-hal yang berkaitan dengan mimpi dan ketidaksadaran mungkin tampak membuang-buang waktu, tetapi jika mereka memang memperkaya kehidupan emosional kita dan menyembuhkan pikiran yang tercerai berai, mereka tentu berharga. Jika kita murni hidup mengandalkan rasio dan tanpa seni, tidak pernah memperhatikan mimpi dan fantasi kita, kita akan menjadi makhluk satu dimensi. Dalam mencari penjelasan yang sempurna, kita tidak pernah mendalami “hal hal yang tidak dapat dimengerti” seperti mendeskripsikan misteri ruang dan waktu, tetapi hal hal yang misteriuslah yang memberi arti bagi hidup kita.

Buku ini mencetuskan sebuah minat baru terhadap pikiran bawah sadar sebagai panduan dan sumber kebijaksanan.