Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Antardisiplin Ilmu
Harga Rp 50.000
Penulis : M. Deden Ridwan;
Penerbit : Nuansa
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2001
Tebal : 288 hal.; 21 cm.
Kondisi : Lumayan
Sedia dan Jual Buku Referensi Skripsi.:Thesis dan Research Bidang: Filsafat.Sosiologi.Antropologi.Pemerintahan.Hubungan Internasional. Politik.Komunikasi.Psikologi.Sejarah.Hukum.Pendidikan.Sastra Budaya dan Bahasa.
Tampilkan postingan dengan label Nuansa Cendekia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nuansa Cendekia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Agustus 2015
Kamis, 09 April 2015
Jual Buku Pengantar Analisis PolitiK Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisme / Abubakar Eby Hara
Buku Pengantar Analisis PolitiK Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisme
Harga : Rp 47,000
Penulis : Abubakar Eby Hara, Ph.D
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbit : Cet 1: 2011
Tebal : 242 Halaman
Ukuran : 15.5 x 23.5 Cm, Soft Cover
ISBN : 978-602-839-443-7
Buku ini mencoba memberi panduan bagi para peminat politik luar negeri, tidak hanya mahasiswa dan akademisi, tetapi juga khalayak ramai yang makin sensitif terhadap setiap kebijakan luar negeri Indonesia.
Masyarakat kini makin sadar dan peka terhadap apa yang dilakukan pemerintah. Selain terhadap Malaysia, kebijakan yang lebih pro-Barat, terlalu lunak pada Israel yang terus menindas rakyat Palestina, yang tidak peka terhadap aspirasi mayoritas masyarakat, akan mendapatkan protes di masyarakat.
Selain untuk memahami situasi, memberi penjelasan terhadap puzzel yang muncul dalam berbagai kebijakan luar negeri, buku ini juga bermaksud memberi preskripsi, membuka jalan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam urusan dan masalah luar negeri.
Harga : Rp 47,000
Penulis : Abubakar Eby Hara, Ph.D
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbit : Cet 1: 2011
Tebal : 242 Halaman
Ukuran : 15.5 x 23.5 Cm, Soft Cover
ISBN : 978-602-839-443-7
Buku ini mencoba memberi panduan bagi para peminat politik luar negeri, tidak hanya mahasiswa dan akademisi, tetapi juga khalayak ramai yang makin sensitif terhadap setiap kebijakan luar negeri Indonesia.
Masyarakat kini makin sadar dan peka terhadap apa yang dilakukan pemerintah. Selain terhadap Malaysia, kebijakan yang lebih pro-Barat, terlalu lunak pada Israel yang terus menindas rakyat Palestina, yang tidak peka terhadap aspirasi mayoritas masyarakat, akan mendapatkan protes di masyarakat.
Selain untuk memahami situasi, memberi penjelasan terhadap puzzel yang muncul dalam berbagai kebijakan luar negeri, buku ini juga bermaksud memberi preskripsi, membuka jalan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam urusan dan masalah luar negeri.
Selasa, 31 Maret 2015
Jual Buku Kamus Hubungan Internasional Penulis: Khasan Ashari
Buku Kamus Hubungan InternasionalPenulis: Khasan Ashari
Harga: Rp125.000
Penerbit: Nuansa Cendekia
Ukuran: 15,5 x 23,5 cm
Kertas: Premium Bookpaper 52 gram
Tebal: 488 hlm
Cetakan: I, Februari 2015
ISBN: 978-602-3500-00-0
Tersedia 2 eks
Baik sebagai disiplin ilmu maupun dalam konteks kehidupan sehari-hari, hubungan internasional bersifat kompleks dan dinamis. Kompleks karena melibatkan banyak aktor dengan beragam kepentingan, dinamis karena yang menjadi pokok bahasan terus berkembang. Sifat hubungan internasional yang kompleks ini melahirkan beragam konsep dan terminologi yang sebagian hanya digunakan dalam diskusi kelas, dan sebagian besar justru muncul di pemberitaan media dan perbincangan sehari-hari.
Pemahaman mengenai konsep dan terminologi tersebut berperan penting dalam membantu kita memahami fenomena hubungan internasional. Oleh karena itu, Kamus Hubungan Internasional ini disusun berdasarkan pemikiran tersebut dan keprihatinan akan masih sedikitnya buku penunjang studi hubungan internasional.
Buku ini memuat lebih dari 1.350 konsep dan terminologi di bidang hubungan internasional, diplomasi, dan politik luar negeri. Penulis menjadikan literatur hubungan internasional sebagai rujukan dipadukan dengan pengalaman dalam dunia diplomasi selama kurang lebih sepuluh tahun. Penjelasan setiap entri disusun dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.
Selasa, 17 Februari 2015
Jual Buku Tahafut Al Falasifah / Imam Al Ghazali
Tahafut Al Falasifah (Kerancuan Para Filosof/Filsuf/Filsafat)
Harga Rp 69.000 TERJUAL
Penulis : Imam Al - Ghazali
Penerbit : MARJA (Nuansa Cendekia Grup)
Tahun : 2012
Tebal : 307hlm
Dimensi : 16x 23.5
Berat : 400gram
Sinopsis
Kitab Tahafut ini diterjemahkan secara khusus sebagai upaya memberikan pemahaman filsafat karya besar Imam Al-Ghazali kepada pembaca di Indonesia. Bahasannya populer, isinya berbobot.
Karya yang paling monumental sang Hujjatul Islam Imam Imam Al-ghazali, yang secara terbuka menyerang legitimasi dan bahasa seputar logosentrisme berkaitan dengan wujud (being). Kontoversi mengemukakan karena Imam Al-ghazali secara argumentatif menyerang rasionalisme tulen
Ibnu Rusyd menulis pembelaan paling brilian terhadap filsafat dalam Tahafut at-tahafut, yang kemudian menimbulkan polemik hebat antara filsafat dan agama (islam)
Polemik inilah yang membawa berkah bagi umat islam dan para pemikir dunia karena berdampak positif yakni mampu merangsang setiap generasi memikirkan Tuhan, Manusia, Alam semesta dan Hari Akhir secara mendalam
Harga Rp 69.000 TERJUAL
Penulis : Imam Al - Ghazali
Penerbit : MARJA (Nuansa Cendekia Grup)
Tahun : 2012
Tebal : 307hlm
Dimensi : 16x 23.5
Berat : 400gram
Sinopsis
Kitab Tahafut ini diterjemahkan secara khusus sebagai upaya memberikan pemahaman filsafat karya besar Imam Al-Ghazali kepada pembaca di Indonesia. Bahasannya populer, isinya berbobot.
Karya yang paling monumental sang Hujjatul Islam Imam Imam Al-ghazali, yang secara terbuka menyerang legitimasi dan bahasa seputar logosentrisme berkaitan dengan wujud (being). Kontoversi mengemukakan karena Imam Al-ghazali secara argumentatif menyerang rasionalisme tulen
Ibnu Rusyd menulis pembelaan paling brilian terhadap filsafat dalam Tahafut at-tahafut, yang kemudian menimbulkan polemik hebat antara filsafat dan agama (islam)
Polemik inilah yang membawa berkah bagi umat islam dan para pemikir dunia karena berdampak positif yakni mampu merangsang setiap generasi memikirkan Tuhan, Manusia, Alam semesta dan Hari Akhir secara mendalam
Minggu, 21 September 2014
Buku Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching and Learning / Win Wenger
Kamis, 18 September 2014
Jual Buku yang Dipenjarakan: Memoar Orang Terbuang / Sobron Aidit Harga:
Judul: Buku yang Dipenjarakan: Memoar Orang Terbuang
Penulis: Sobron Aidit
Harga: Rp. 35.000 TERJUAL BDG
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbit 2006
Tebal: 152 halaman
Kondisi: Stok lama ,BAGUS
Bagaimanakah caranya agar kita bisa membaca buku-buku terlarang—terutama yang dilarang Rezim Orde Baru? Sobron Aidit (2006) dalam buku yang berjudul Buku yang Dipenjarakan: Memoar Orang Terbuang menjelaskan bagaimana temannya bisa membaca buku-buku terlarang itu. Pertama, orang itu harus memiliki surat tanda bebas G30S/PKI yang dikeluarkan oleh kelurahan dan militer setempat.
Kedua, untuk bisa membaca buku-buku terlarang—termasuk karya sastrawan Lekra—orang itu harus mengantongi izin dari Kepala Perpustakaan Nasional. Lalu, surat itu harus dikuatkan dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional (dulu namanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). Kalau izin dari menteri itu sudah turun, harus mendapatkan izin dari Kejaksaan Agung. Tidak cukup sampai di situ; setelah mendapat izin dari Kejaksaan Agung, maka harus pula diteliti oleh Badan Intelijen Negara (BIN); apakah membahayakan negara atau tidak. Jika tidak, maka harus ada pula persetujuan dari Bakin sebagai eksekutor.
Kalau semua surat itu sudah lengkap, barulah diserahkan kepada Kepala Perpustakaan Nasional kembali. Dan, orang itu akan dibawa ke sebuah ruangan tempat penyimpanan buku-buku terlarang itu. Buku itu tidak boleh dipinjam, apalagi difotokopi. Buku itu hanya boleh dibaca di dalam ruangan itu. Dan, si pembaca dikunci dalam ruangan yang berjeruji itu. Jadi, sepanjang Orde Baru, yang dipenjara bukan hanya sastrawan-sastrawan Lekra saja, buku-bukunya pun dipenjara.
Kini sedikit demi sedikit buku-buku yang dilarang dan ditakuti Rezim Orde Baru itu sudah mulai bermunculan. Di antaranya terhimpun dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 dan Laporan Dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra Harian Rakjat 1950-1965. Dalam kedua buku itu bisa kita temui karya-karya Sobron Aidit.
Dalam memoarnya yang lain, yakni Gajah di Pelupuk Mata, Sobron Aidit (2002) menjelaskan bahwa ia termasuk sastrawan generasi 1950-an. Sastrawan lain yang menulis di zamannya adalah Ajip Rosidi, S.M. Ardan, Rijono Pratikto, Sukanto S.A., W.S. Rendra, Ramadhan K.H., Nugroho Notosusanto, A.S. Dharta, Hr. Bandaharo, Agam Wispi, Aziz Akbar, S.W. Kuncahyo, Sabar Anantaguna, Boejoeng Saleh, Rivai Apin, dan Nyoto.
Puisinya yang dimuat dalam Gugur Merah memperlihatkan ideologinya yang sangat kental. Dalam puisi “Aku dan Keyakinan”, Sobron Aidit (2008) menulis demikian:
Otakku, hatiku, jantungku
Segalaku, hanya satu
Hanya partai
Itu saja
…
Dada kepalaku Marxis
Diriku Leninis
Berpadu dalam satu deretan
Sikap penyair seperti ini sangat jelas—sebagai sikap yang distingtif terhadap lawan partainya. Sikap yang jelas dan terbuka semacam ini disadari atau tidak bisa membuat repot sang penyairnya. Dalam memoar Buku yang Dipenjarakan, Sobron Aidit menceritakan bagaimana ia selalu diikuti oleh intel-intel selama ia berada di Indonesia pada 1990-an. Bahkan ketika Partai Rakyat Demokratik (PRD) dijadikan kambing hitam dalam peristiwa 27 Juli 1996, nama Sobron Aidit pun disangkutpautkan pula. Panglima TNI Feisal Tandjung menyebutnya sebagai Ketua Bagian Luar Negeri PRD. Padahal, menurut Sobron, itu tidak benar sama sekali.
Cerpennya yang berjudul “Dokter Tjoa” dalam buku Laporan Dari Bawah memperlihatkan bahwa Sobron Aidit (2008) mengutamakan pesan yang ingin disampaikan melalui cerpen tersebut. Dalam cerpen itu, Sobron ingin mengatakan bahwa orang yang patut dihormati itu bukan orang yang memiliki jabatan tinggi, melainkan orang yang mau peduli terhadap orang-orang kecil, meskipun orang itu keturunan China sekalipun. Gaya bercerita Sobron Aidit memang seperti orang yang mendongeng; tokoh-tokohnya tidak dibiarkan “berbicara sendiri”. Sebagian besar cerpennya menggunakan gaya penceritaan seperti itu, bahkan dalam memoar-memoarnya pun gaya seperti itu tetap dipergunakan Sobron Aidit.
Dalam buku Razia Agustus, Sobron Aidit (2004) tetap mempergunakan gaya bercerita yang mirip orang mendongeng. Pembaca hanya memiliki ruang sempit untuk berimajinasi dengan tokoh-tokohnya maupun dengan jalannya cerita. Namun, yang tampak menonjol dalam kumpulan cerpen Razia Agustus dan juga dalam memoar Gajah di Pelupuk Mata dan Buku yang Dipenjarakan adalah rasa hormat Sobron Aidit pada kakaknya, Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC Partai Komunis Indonesia. Berikut saya kutip tiga alinea dari cerpen “Razia Agustus”:
Sejarah menjadi lain. Belasan tahun sesudah itu Bang Amat dikabarkan gugur di dekat Boyolali dalam perjalanan penahanannya ke ibukota. Orang-orang bilang waktu itu “disembur logam panas.” Jangankan jasad, nisannya pun tak berjejak. Bang Amat yang hidupnya terutama untuk orang banyak, untuk rakyat, telah tiada. Ia benar-benar telah pergi, bukan menyamar, bukan lari ke luar negeri.
Sementara itu, banyak orang mengaku bahwa diri merekalah yang menghabisi nyawa Bang Amat. Seorang jenderal, misalnya, mengatakan di depan umum bahwa dialah yang menamatkan hidup Bang Amat. Tapi ada lagi serdadu lain yang mengatakan, bukan sang jenderal, namun justru sang serdadulah yang menembak abangku itu. Aku tahu betul, ia tak pernah jauh dari rakyat. Dan bersamanya pergi adalah ratusan ribu jiwa lainnya dalam suatu huru hara pembalasan dendam politik di tanah airku.
Abangku tersayang, tak kan kusua kembali. Kapan pun…. Namun aku memahaminya. Keprihatinannya yang mendalam atas nasib wong cilik pasti telah diwariskannya kepada siapa saja. Juga kepadaku, jauh hari sebelum peristiwa berdarah di tahun 1965 itu. Ketika pintu kamar pondokanku berirama ketokan dua-dua satu: Tok-tok… tok-tok… tok! (Aidit, 2004).
Bang Amat adalah panggilan Sobron Aidit kepada abangnya, D.N. Aidit. Bahasa yang digunakan Sobron Aidit sederhana, mudah dimengerti, namun memiliki kedalaman—sejauh kedalaman pengalamannya. Jadi, pengalaman hidup yang demikian matang membuat cerpen dan memoar Sobron Aidit terasa berisi.
Cerpennya yang berjudul “Prajurit yang Bodoh” dalam buku yang berjudul sama, saya pikir merupakan cerpen yang menarik. Karena, tokoh-tokoh dalam cerpen ini seperti “berbicara sendiri” kepada pembacanya. Ceritanya sangat sederhana, namun sangat mengena di hati pembaca. Seorang anak yang bernama Kasim, 12 tahun, yang berjualan kue mendapat tugas oleh ayahnya, Talip, seorang gerilyawan untuk menghitung kekuatan tentara fasis yang berada di sebuah bandara. Suatu hari, komandan tentara itu “keceplosan” menyebutkan jumlah prajuritnya, sehingga informasi ini sampai ke tangan gerilyawan. Dan, suatu malam, bandara itu dapat ditaklukkan dengan mudah oleh para gerilyawan. Itulah sindiran Sobron Aidit (2006) dalam cerpen “Prajurit yang Bodoh”.
Penulis: Sobron Aidit
Harga: Rp. 35.000 TERJUAL BDG
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbit 2006
Tebal: 152 halaman
Kondisi: Stok lama ,BAGUS
Bagaimanakah caranya agar kita bisa membaca buku-buku terlarang—terutama yang dilarang Rezim Orde Baru? Sobron Aidit (2006) dalam buku yang berjudul Buku yang Dipenjarakan: Memoar Orang Terbuang menjelaskan bagaimana temannya bisa membaca buku-buku terlarang itu. Pertama, orang itu harus memiliki surat tanda bebas G30S/PKI yang dikeluarkan oleh kelurahan dan militer setempat.
Kedua, untuk bisa membaca buku-buku terlarang—termasuk karya sastrawan Lekra—orang itu harus mengantongi izin dari Kepala Perpustakaan Nasional. Lalu, surat itu harus dikuatkan dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional (dulu namanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). Kalau izin dari menteri itu sudah turun, harus mendapatkan izin dari Kejaksaan Agung. Tidak cukup sampai di situ; setelah mendapat izin dari Kejaksaan Agung, maka harus pula diteliti oleh Badan Intelijen Negara (BIN); apakah membahayakan negara atau tidak. Jika tidak, maka harus ada pula persetujuan dari Bakin sebagai eksekutor.
Kalau semua surat itu sudah lengkap, barulah diserahkan kepada Kepala Perpustakaan Nasional kembali. Dan, orang itu akan dibawa ke sebuah ruangan tempat penyimpanan buku-buku terlarang itu. Buku itu tidak boleh dipinjam, apalagi difotokopi. Buku itu hanya boleh dibaca di dalam ruangan itu. Dan, si pembaca dikunci dalam ruangan yang berjeruji itu. Jadi, sepanjang Orde Baru, yang dipenjara bukan hanya sastrawan-sastrawan Lekra saja, buku-bukunya pun dipenjara.
Kini sedikit demi sedikit buku-buku yang dilarang dan ditakuti Rezim Orde Baru itu sudah mulai bermunculan. Di antaranya terhimpun dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 dan Laporan Dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra Harian Rakjat 1950-1965. Dalam kedua buku itu bisa kita temui karya-karya Sobron Aidit.
Dalam memoarnya yang lain, yakni Gajah di Pelupuk Mata, Sobron Aidit (2002) menjelaskan bahwa ia termasuk sastrawan generasi 1950-an. Sastrawan lain yang menulis di zamannya adalah Ajip Rosidi, S.M. Ardan, Rijono Pratikto, Sukanto S.A., W.S. Rendra, Ramadhan K.H., Nugroho Notosusanto, A.S. Dharta, Hr. Bandaharo, Agam Wispi, Aziz Akbar, S.W. Kuncahyo, Sabar Anantaguna, Boejoeng Saleh, Rivai Apin, dan Nyoto.
Puisinya yang dimuat dalam Gugur Merah memperlihatkan ideologinya yang sangat kental. Dalam puisi “Aku dan Keyakinan”, Sobron Aidit (2008) menulis demikian:
Otakku, hatiku, jantungku
Segalaku, hanya satu
Hanya partai
Itu saja
…
Dada kepalaku Marxis
Diriku Leninis
Berpadu dalam satu deretan
Sikap penyair seperti ini sangat jelas—sebagai sikap yang distingtif terhadap lawan partainya. Sikap yang jelas dan terbuka semacam ini disadari atau tidak bisa membuat repot sang penyairnya. Dalam memoar Buku yang Dipenjarakan, Sobron Aidit menceritakan bagaimana ia selalu diikuti oleh intel-intel selama ia berada di Indonesia pada 1990-an. Bahkan ketika Partai Rakyat Demokratik (PRD) dijadikan kambing hitam dalam peristiwa 27 Juli 1996, nama Sobron Aidit pun disangkutpautkan pula. Panglima TNI Feisal Tandjung menyebutnya sebagai Ketua Bagian Luar Negeri PRD. Padahal, menurut Sobron, itu tidak benar sama sekali.
Cerpennya yang berjudul “Dokter Tjoa” dalam buku Laporan Dari Bawah memperlihatkan bahwa Sobron Aidit (2008) mengutamakan pesan yang ingin disampaikan melalui cerpen tersebut. Dalam cerpen itu, Sobron ingin mengatakan bahwa orang yang patut dihormati itu bukan orang yang memiliki jabatan tinggi, melainkan orang yang mau peduli terhadap orang-orang kecil, meskipun orang itu keturunan China sekalipun. Gaya bercerita Sobron Aidit memang seperti orang yang mendongeng; tokoh-tokohnya tidak dibiarkan “berbicara sendiri”. Sebagian besar cerpennya menggunakan gaya penceritaan seperti itu, bahkan dalam memoar-memoarnya pun gaya seperti itu tetap dipergunakan Sobron Aidit.
Dalam buku Razia Agustus, Sobron Aidit (2004) tetap mempergunakan gaya bercerita yang mirip orang mendongeng. Pembaca hanya memiliki ruang sempit untuk berimajinasi dengan tokoh-tokohnya maupun dengan jalannya cerita. Namun, yang tampak menonjol dalam kumpulan cerpen Razia Agustus dan juga dalam memoar Gajah di Pelupuk Mata dan Buku yang Dipenjarakan adalah rasa hormat Sobron Aidit pada kakaknya, Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC Partai Komunis Indonesia. Berikut saya kutip tiga alinea dari cerpen “Razia Agustus”:
Sejarah menjadi lain. Belasan tahun sesudah itu Bang Amat dikabarkan gugur di dekat Boyolali dalam perjalanan penahanannya ke ibukota. Orang-orang bilang waktu itu “disembur logam panas.” Jangankan jasad, nisannya pun tak berjejak. Bang Amat yang hidupnya terutama untuk orang banyak, untuk rakyat, telah tiada. Ia benar-benar telah pergi, bukan menyamar, bukan lari ke luar negeri.
Sementara itu, banyak orang mengaku bahwa diri merekalah yang menghabisi nyawa Bang Amat. Seorang jenderal, misalnya, mengatakan di depan umum bahwa dialah yang menamatkan hidup Bang Amat. Tapi ada lagi serdadu lain yang mengatakan, bukan sang jenderal, namun justru sang serdadulah yang menembak abangku itu. Aku tahu betul, ia tak pernah jauh dari rakyat. Dan bersamanya pergi adalah ratusan ribu jiwa lainnya dalam suatu huru hara pembalasan dendam politik di tanah airku.
Abangku tersayang, tak kan kusua kembali. Kapan pun…. Namun aku memahaminya. Keprihatinannya yang mendalam atas nasib wong cilik pasti telah diwariskannya kepada siapa saja. Juga kepadaku, jauh hari sebelum peristiwa berdarah di tahun 1965 itu. Ketika pintu kamar pondokanku berirama ketokan dua-dua satu: Tok-tok… tok-tok… tok! (Aidit, 2004).
Bang Amat adalah panggilan Sobron Aidit kepada abangnya, D.N. Aidit. Bahasa yang digunakan Sobron Aidit sederhana, mudah dimengerti, namun memiliki kedalaman—sejauh kedalaman pengalamannya. Jadi, pengalaman hidup yang demikian matang membuat cerpen dan memoar Sobron Aidit terasa berisi.
Cerpennya yang berjudul “Prajurit yang Bodoh” dalam buku yang berjudul sama, saya pikir merupakan cerpen yang menarik. Karena, tokoh-tokoh dalam cerpen ini seperti “berbicara sendiri” kepada pembacanya. Ceritanya sangat sederhana, namun sangat mengena di hati pembaca. Seorang anak yang bernama Kasim, 12 tahun, yang berjualan kue mendapat tugas oleh ayahnya, Talip, seorang gerilyawan untuk menghitung kekuatan tentara fasis yang berada di sebuah bandara. Suatu hari, komandan tentara itu “keceplosan” menyebutkan jumlah prajuritnya, sehingga informasi ini sampai ke tangan gerilyawan. Dan, suatu malam, bandara itu dapat ditaklukkan dengan mudah oleh para gerilyawan. Itulah sindiran Sobron Aidit (2006) dalam cerpen “Prajurit yang Bodoh”.
Jual Buku Mengenal Teori-Teori Politik; Dari Sistem Politik Sampai Korupsi /Toni Adrianus Pito, S.IP.
Mengenal Teori-Teori Politik; Dari Sistem Politik Sampai Korupsi .Harga Buku : Rp 96.000 TERJUAL Penulis : Toni Adrianus Pito, S.IP.
Penerbit : Nuansa Cendekia
Ukuran : 15,5 x 23,5 Cm
Kertas : HVS 60 Gram
Tebal : 464 Hal
Cover : Soft cover
Tahun : Cetakan III, 2013
Sinopsis
-------
Teori merupakan kajian bagi setiap akademisi, yang berarti seorang akademis diharuskan untuk mengenal dan mengerti bermacam-macam teori berdasarkan bidang kajiannya agar dapat melakukan kajian ilmu dengan sempurna. Dalam menganalisis suatu permasalahan, khususnya bagi mahasiswa, teori merupakan suatu hal penting, terutama dalam mengerjakan tugas-tugas penelitian di perkuliahan selama pendidikan. Buku ini sangat berguna, dan bisa menghemat waktu serta biaya karena kepadatan isinya sangat memudahkan pencarian suatu teori dan membuka cakrawal yang lebih luas akan banyaknya teori yang ada dari berbagai ilmuwan, baik klasik maupun modern
Selasa, 26 Agustus 2014
Langganan:
Komentar (Atom)







