Rabu, 30 Desember 2015

SEJARAH AGAMA-AGAMA DI INDONESIA MENGUNGKAP PROSES MASUK dan PERKEMBANGANNYA

Jual Buku SEJARAH AGAMA-AGAMA DI INDONESIA MENGUNGKAP PROSES MASUK dan PERKEMBANGANNYASEJARAH AGAMA-AGAMA DI INDONESIA MENGUNGKAP PROSES MASUK dan PERKEMBANGANNYA
Harga Rp 42.000
Penulis Djenar Respati
Penerbit: ARASKA PUBLISHER
Terbit:  2014
Tebal : 208 halaman
Ukuran : 13,5 x 20,5 cm
Berat : 0.34 kilogram
No.ISBN: 978-602-300-038-8
BARU SEGEL PENERBIT


Sikap mengahargai tehadap suku, ras dan agama yang menjadi kunci dalam menja Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah kewajiban bagi setiap warga. Terlepas dari pewacanaan suku dan ras, setiap warga negara Indonesia yang beragama layak mengetahui sejarah tentang agama-agama resmi di Indonesia., yakni Hindu, Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan Khong Hu cu.
Melalu buku ini, diharapkan pembaca bisa membangkitkan spirit kebinekaan di negeri yang tersohor sebagai bangsa pluralis. Anda juga tidak hanya akan mengetahui perihal sejarah ( proses) masuk dan berkembangnya agama-agama resmi di Indonesia, tetapi juga akan mengenal berdasarkan fakta historis mengenai kehidupan agama-agama tersebut di tanah kelahirannya.

PEMBALASAN TUHAN (Kebangkitan Agama - Agama Samawi di Dunia Modern) (Judul Asli The Revenge Of God) Penulis Gilles Kepel

Jual Buku PEMBALASAN TUHAN (Kebangkitan Agama - Agama Samawi di Dunia Modern) (Judul Asli The Revenge Of God) Penulis	Gilles Kepel
Buku PEMBALASAN TUHAN (Kebangkitan Agama - Agama Samawi di Dunia Modern)
(Judul Asli The Revenge Of God)
Penulis Gilles Kepel Harga Rp 70.000
Penerjemah Masdar Hilmy
Penerbit Pustaka Hidayah
Terbit Cetakan I 1997
Tebal 299 Hlm
Kondisi : sampul bersih, isi utuh lengkap

Dekade 1970-an merupakan dekade ketika agaa islam, kristen dan yahudi menemukan kembali sebuah pendekatan keagamaan baru yang tidak lagi bertujuan menyesuaikan diri pada nilai-nilai sekular, tetapi lebih pada penemuan kembali suatu landasan suci bagi organisasi kemasyarakatan, dengan mengubah masyarakat,jika perlu. Sejak saat itu fenomena ini terus menyebar ke sleuruh duni. Ia muncul dalam bernagai peradaban yang berbeda, baik dalam akar kulturalnya maupun dalam tingkat perkembangannya. Namun dimana pun ia muncul, ia mengukuhkan dirinya melawan krisis dalam masyarakat, mengklaim telah menemukan sebab-sebab krisis itu di luar gejala ekonomi, politik dan kultural yang menjadi penyebabnya.

Dari kairo atau Aljir hingga Praha, dari penginjil amerika hingga para pengikut setia Gush Emunim, dari militan islam hingga krismatik kaatolik, dari Lubavtch sampai Communion and Liberation, buku ini merupaka sebuah upaya mendeteksi sebagian ciri utama gerakan - gerakan yang berkembang, yang secara sekilas tampaknya sulit dianalisis. Buku ini bertujuan membahas hanya tiga agama ibrohimi - islam, kristen dan yahudi - sekalipun perkembangan terakhir dalam paham hindhu dan shinto, sekedar mengambil dua contoh lain, juga menghadirkan kemiripan-kemiripan dengan apa yang tengah terjadi pada ketiga " agama samawi " itu. Diantara yang menarik untuk disimak adalah bahwa pada ketiga agama itu selalu ada dua arah gerakan : " dari atas dan dari bawah ". Dua arah gerakan inilah yang menjadi ciri utama fenomena kebangkitan kembali agama-agama samawi di dunia modern - yang oleh penulisnya diistilahkan sebagai "Pembalasan Tuhan".

Dari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat Penulis: Sri-Edi Swasono

Jual Buku Dari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat Penulis: Sri-Edi SwasonoDari Daulat Tuanku Ke Daulat Rakyat
Penulis: Sri-Edi Swasono
Harga Rp 37.000
Terbit: 1992
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Bekas, sampul lusuh, isi utuh
Halaman: 283
Berat Buku: 350gram
Dimensi(LxP): 19X12,5

Jual buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi Editor: Didik J. Rachbini

Jual buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi Editor: Didik J. RachbiniJudul buku: Politik Pembangunan, Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi
Editor: Didik J. Rachbini
Harga Rp 49.000
Pengantar: Sjahrir
Penerbit: LP3ES
Tahun: 1990
Halaman: xiv + 244 hal.
Kondisi: Baik

Catatan halaman belakang:

Isu demokrasi ekonomi rupanya telah menjadi isu yang laten dalam kehidupan ekonomi-politik di negeri ini. Dari waktu ke waktu, isu ini berulang kali muncul dan tenggelam searus dengan dinamika perkembangan masalah perekonomian kita. Pasang naiknya seolah menjadi pertanda dari ketimpangan ekonomi dan isyarat-isyarat kegelisahan para pemikir ekonomi untuk mengaktualisasikan cita-cita keadilan dan pemerataan.

Sejalan dengan munculnya isu konglomerasi nasional, isu demokrasi ekonomi sekarang mencuat lagi, kali ini dengan dimensi baru. Satu hal yang perlu dicatat adalah, bahwa pencarian bentuk penerapan atas demokrasi ekonomi untuk latar Indonesia kontemporer, masih saja terus berlangsung di dalam silang-debat mengenai problematik institusionalnya. Buku ini adalah salah satu rekamannya, menghimpun tulisan-tulisan: Emil Salim, Frans Seda, Nurcholish Madjid, Umar Juoro, Anwar Nasution, Sritua Arief, dan lain-lainnya.

Daftar Isi:
Pengantar
Bagian kesatu: Pendahuluan
Bagian kedua: Politik Pembangunan
Bagian ketiga: Dimensi keadilan sosial dalam proses demokratisasi ekonomi
Bagian keempat: Membangun kelembagaan ekonomi
Sumber-sumber tulisan
Index

Sabtu, 26 Desember 2015

Islam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 by Ahmad Syafi'i Maarif

Islam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 by Ahmad Syafi'i MaarifIslam dan Politik: Teori Belah Bambu - Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965
by Ahmad Syafi'i Maarif
Harga Rp 70.000 LANGKA
Islam and political conditions during the 1959-1965 period in Indonesia.
KERTAS : Paperback, TEBAL 218 pages
TERBIT 1996 by Gema Insani Press
KONDISI STOK LAMA, BAGUS SEPERTI BARU

MENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii Maarif

Jual Buku MENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii MaarifMENEROBOS KEMELUT oleh Ahmad Syafii Maarif
Harga Rp 75.000
Kondisi Bekas, cukup bagus

Buku Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag

Buku Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik  Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.AgJudul Buku : Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik
Penulis : Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag
Harga 39.000
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I Agustus 2007
Tebal : XVI + 212 Halaman
Peresensi : Sungatno*

Dewasa ini, walaupun pemilihan calon presiden (capres) dan Wakil Presiden (cawapres) masih lama, sekitar bulan Juli 2009, banyak diantara para petinggi-petinggi pengurus partai politik (parpol) yang secara tidak langsung mencuri start untuk berkampanye mensosialisasikan atau memantapkan visi dan misi parpolnya kepada massa pendukung atau calon pendukung suatu parpol.

Bisa dilihat ketika ada berbagai jenis warna maupun wajah label, simbol, pernak-pernik atau bendera suatu parpol dan beberapa ‘obrolan” yang membuntuti gerak langkah berlangsungnya suatu acara atau bencana. Semisal, di hari-hari libur maupun cuti bersama, para petinggi-petinggi atau orang-orang parpol berlomba-lomba mengadakan suatu acara yang beraroma bakti sosial, pengajian, Open House atau sekedar menjadi sponsor terselenggaranya suatu acara atau bantuan secara gratis kepada masyarakat yang tertimpa musibah.

Dalam konteks ini, sosialisasi suatu parpol tidak lagi memperhitungkan situasi dan kondisi. Setiap masyarakat, jikalau bertepatan pada situasi dan kondisi yang dianggap cocok untuk dibidik oleh orang-orang dari parpol, maka saat itulah orang-orang dari parpol untuk melancarkan aksi sosialisasi partainya dengan harapan mampu memberi kesan dan pesan terhadap publik, supaya dikemudian hari mau pemilih parpol yang dielu-elukan. Sehingga tidak menutup kemungkinan aktor-aktor yang berperan dari parpol itu bermunculan dari orang yang akan dinobatkan sebagai capres dan cawapres, tokoh-tokoh politik, masyarakat, kiai bahkan orang-orang yang kita anggap sama sekali tidak memiliki kepandaian maupun kepiawaian dalam ranah percaturan politik.

Kehadiran buku yang berjudul Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik ini, mencoba turut mengisi, mengapresiasi dan berperan dalam gencarnya parpol yang sedang mencari arah dan harapan ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang dililit berbagai krisis, dekadensi moral dan berbagai jenis bencana alam yang saling berurutan. Buku yang ditulis H Achmad Patoni ini, menelaah berbagai kiprah para Kiai pesantren selama ini dalam gelanggang percaturan parpol, motivasi, harapan dan tantangan serta pembelotan langkah-langkah mereka yang menyebabkan predikat ke-Kiai-an mereka luntur bahkan mencoreng keindahan nama baik agama yang dipeluknya.

Dalam lika-liku perjalanan sejarah di Indonesia mulai sebelum era kemerdekaan hingga sekarang, peran para Kiai tidak bisa dinafikan secara cuma-cuma. Ini bisa ditelusuri melalui catatan-catatan arsip sejarah bahwa para kiai pesantren maupun kiai masyarakat ikut berperan aktif dalam mengusir dan mempertahankan kedaulatan republik Indonesia dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik, yang muncul dari dalam (laten) maupun luar negeri. Dengan berbagai cara dan atribut serta simbol-simbol khas ala Islam, mereka juga turut berkecimpung dalam menata, mengolah dan memantapkan visi dan misi kedaulatan republik Indonesia.

Tetapi, dewasa ini para Kiai, khususnya Kiai pesantren, dihadapkan pada keadaan yang sulit dalam mewujudkan rasa cintanya terhadap bangsa (hubbul wathan). Keadaan ini terbentuk ketika para Kiai pesantren yang dianggap 'gagal' dalam mensukseskan peran ganda mereka selama dalam lingkaran parpol yang selalu menuntut jadwal kesibukan. Dilain sisi mereka harus tetap mempertahankan status ke-Kiai-an mereka sebagai pembimbing dan menjadi panutan santri, disisi yang lain pula, mereka harus memperhatikan keluarga dan jadwal kesibukan yang berlipat-lipat serta "tikungan-tikungan syetan" dari dunia perpolitikan.

Sehingga, tidak jarang apabila ada seorang kyai pesantren yang hendak turut berkiprah dalam dunia partai politik, terlebih dahulu dihantui rasa kekhawatiran dari dirinya pribadi dan para santri mereka, walupun akhirnya dienyahkan.
Peran Kiai dalam Parpol

Menurut penulis, yang berangkat dari penelitian didaerah Kediri, Jawa Timur, peran Kiai dalam partai politik diklasifikasikan dalam tiga bagian. pertama, Kiai berperan sebagai aktor. Dalam hal ini, Kiai berperan sebagai anggota tim sukses sekaligus juru kampanye partai tertentu.
Kedua,

Kiai berperan sebagai pendukung. Yakni, Kiai mendukung partai tententu, namun tidak berada pada garis depan dalam memperjuangkan keberhasilan partai yang didukungnya. Ketiga, Kiai berperan sebagi partisipan. Pada peran ini Kiai hanya memberikan restu terhadap calon tertentu, dan tidak terlibat dalam aksi dukungan atau menjadi tim sukses.

Dari ketiga bagian diatas, yang paling rentan terhadap pertaruhan antara 'nama' sekaligus agama Islam adalah bagian yang pertama. Ketika seorang Kiai berperan sebagai aktor, secara tidak langsung mereka memikul beban moral lebih berat dari pada bagian yang lain. Karena sedikit saja diantara mereka salah langkah dalam menentukan keputusan, maka 'bencana' yang timbul tidak hanya pada diri pribadi Kiai yang bersangkutan. Melainkan, semua santri dan pengikut-pengikutnya akan 'tercoreng' dan tidak menutup kemungkinan meluber dan menciderai nama Agama yang dipeluk. Semisal, adanya kasus korupsi (sendiri maupun berjamaah) baik secara terang-terangan (keadaan sadar) maupun tipu daya para lawan politik yang bertujuan merusak reputasi.

Buku yang hadirnya lebih dini didalam mengawal para Kiai pesantren yang berkeinginan berjuang melalui jalur struktural ini, selain mengajak pembaca untuk melakukan refleksi bersama atas 'kegagalan-kegagalan' para Kiai dalam mengemban tugas ganda, juga berusaha menyadarkan anggapan bahwa politik tidak selamanya –dalam bahasa yang ekstrim- menjijikkan, tergantung aktor yang memerankannya. Perlu diingat, adanya agama Islam sampai pada kita ternyata tidak lepas dari sentuhan-sentuhan politik, yang dalam hal ini dekat dengan aspek kepemimpinan. ***

* Peresensi adalah Aktivis pada Scriptorium Lintang Sastra yogyakarta.

Rabu, 23 Desember 2015