Minggu, 15 November 2015

Model Model Kesejahteraan Sosial dalam ISLAM perspektif Normatif Filosofis dan Praktis oleh UIN Suka

Jual Buku Model Model Kesejahteraan Sosial dalam ISLAM perspektif Normatif Filosofis dan Praktis oleh UIN SukaModel Model Kesejahteraan Sosial dalam ISLAM perspektif Normatif Filosofis dan Praktis oleh UIN Suka
Harga Rp 40.000
stok lama, tanpa segel dari penerbit, isi dan sampul utuh lengkap bersih, LANGKA STOK

Pantulan Cahaya Rosul oleh KH.Munawir Abdul Fatah

Jual Buku Pantulan Cahaya Rosul oleh KH.Munawir Abdul Fatah Judul Pantulan Cahaya Rosul
No. ISBN xx54
Harga rp 55.000 off
Penulis KH.Munawir Abdul Fatah
Penerbit Lkis
Tebal 295hlm
Tanggal terbit 2005

Huruf-Huruf Magis Penulis Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy

Jual Buku  Huruf-Huruf Magis   Penulis  Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy
Judul     Huruf-Huruf Magis 
Harga Rp 52.000
ISBN     9798452100
Penulis     Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy, Diya 'uddin Luqoni' Dahril Kamal
Penerbit     Lkis
Tanggal terbit     Agustus - 2005
Jumlah Halaman     264


Sastra Hizib Penulis Murtado Hadi


Sastra Hizib   Penulis  Murtado Hadi
Judul     Sastra Hizib 
Harga Rp 27.000
No. ISBN     9798452364
Penulis     Murtado Hadi
Penerbit     Lkis
Tanggal terbit     2007

Hujani aku dengan butiran permata sebesar gunung Sarondib. dan banjiri aku dengan butiran emas. Selama napas masih melekat, rezeki tak pernah beranjak  dariku. Kelak kalau aku mati, kuburan siap menerimaku. Puisi Imam Syafi'i ini meluncur deras saat ia dihina seorang tukang cukur karena jubahnya yang lusuh berdebu dan surbannya yang acak-acakan usai mengadakan perjalanan jauh. Dan, lantaran tampangnya yang tampak miskin itu, Sang Imam tak boleh masuk "salon" milik si tuklang cukur tadi. Itulah gambaran Sastra Hizib. Sastra yang meluncur "apa adanya" seolah sudah terpatri di lubuk hati dan tinggal menunggu waktu untuk diluncurkan. Ia bukan "rekayasa" kata dan bahasa seperti dilakukan oleh banyak penyair kita. Tak pelak lagi, Sastra Hizib ini bisa melengkapi genre sastra yang sudah ada di masyarakat kita.

Dislokasi Wacana Kewarganegaraan Penulis: Ignasius Jaques Suru

Dislokasi Wacana Kewarganegaraan  Penulis: Ignasius Jaques Suru
Dislokasi Wacana Kewarganegaraan
Harga Rp 50.000
Penulis: Ignasius Jaques Suru
Editor: Ali Minanto
Terbitan: Cetakan pertama, April 2013
Jumlah halaman: 147 + xii halaman

 Ada seorang opsir Jerman yang sering mengunjungi Picasso di studionya di Paris selama Perang Dunia II. Dia melihat Guernica dan kaget pada lukisan “modernis Chaos” itu. Sang perwira bertanya kepada Picasso, “Apakah kamu yang melakukan ini?” dengan tenang Picasso menjawab, “Tidak, kamulah yang melakukan ini!” Jawaban yang mengusik kesadaran reflektif terhadap realitas itu menjadi ilustrasi sederhana dari isi buku ini.

Buku ini dipahami sebagai langkah “menuju dua arah”: pertama, mendekonstruksi wacana Kewarganegaraan Liberal; dan kedua, mengkonstruksi identitas baru kewarganegaraan. Mendekonstruksi tapi sekaligus mengkonstruksi adalah wujud dislokasi dari wacana kewarganegaraan. Identifikasi berbagai elemen demokratis yang tersimbolisasi dalam wacana Kewarganegaraan Liberal melahirkan suversi terhadap tatanan simbolik tersebut. Subversi terhadap Liberalisme secara positif mendorong terjalinnya artikulasi elemen-elemen demokratis dalam wacana kewarganegaraan agonistik.

Merebut Kewarganegaraan Inklusif Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful

Jual Buku Merebut Kewarganegaraan Inklusif  Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful
Merebut Kewarganegaraan Inklusif
Harga Rp 50.000
Penulis: Nilam Hamiddani Syaiful
Editor: Wigke Capri Arti & Rangga Herdi Seno Prakoso
Terbitan: Cetakan pertama, April 2013
Jumlah halaman: 145 + xv halaman



Dominasi bahasan mengenai kewarganegaraan dewasa ini telah melangkah lebih jauh dari sekadar relasi antara hak dan kewajiban. Konsep kewarganegaraan kini harus menghadapi berbagai kritik yang muncul seiring dinamika sosial, kultural, dan ekonomi di era global posmodern. Konsepsi kewarganegaraan modern yang semata-mata dinilai sebagai status hukum di bawah otoritas negara telah berkembang dan melibatkan berbagai tuntutan akan pengakuan sosial dan politik serta redistribusi ekonomi. Di Indonesia, pemenuhan hak warga negara selama ini selalu dimaknai dalam koridor redistribusi ekonomi, sehingga bentuk tuntutan yang seringkali muncul adalah mengenai redistribusi yang tidak adil dan munculnya kelas-kelas sosial. Perlunya redefinisi warga negara di Indonesia terjadi akibat pergeseran paradigma dari isu ketidakadilan ekonomi menjadi isu ketidakadilan berbasis identitas warga negara.

Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat Penulis : Nurcholish Madjid

 Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat Penulis : Nurcholish Madjid
Judul : Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat
Penulis : Nurcholish Madjid
Harga Rp 54.000
Penerbit : Paramadina-Dian Rakyat, 2009
Tebal : xxii + 221 halaman
Kondisi : Segel

Dilema Kesetaraan Gender: Refleksi dan Respons Praksis Penulis: Sri Djoharwinarlien

Dilema Kesetaraan Gender: Refleksi dan Respons Praksis Penulis: Sri Djoharwinarlien
Dilema Kesetaraan Gender: Refleksi dan Respons Praksis Harga Rp 40,000
Penulis: Sri Djoharwinarlien
Editor: Purwo Santoso dan Joash Tapiheru
Terbitan: Cetakan pertama, September 2012
Jumlah halaman: 131 + iii halaman
Kondisi segel


Ada sejumlah kontradiksi yang secara faktual dihadapi oleh perempuan Indonesia, telrepas dari klaim dukungan negara dan masyarakat terhadap epran serta kontribusi perempuan bagi kehidupan publik. Kontradiksi tersebut antara lain inkonsistensi penegakan aturan formal yang menempatkan perempuan sebagai subyek warga negara yang setara dengan partner-nya. Masih bertahannya pandangan sebagian besar publik Indonesia yang melihat asosiasi antara perempuan dan kerja wilayah domestik sebagai bagian dari “hukum alam” dibarengi dengan pandangan yang melihat kerja wilayah domestik merupakan subordinat dari kerja di wilayah publik. Dalam situasi tersebut, di satu sisi ide emansipasi perempuan telah relatif diterima sebagai norma masyarakat Indonesia modern. Namun, di sisi lain ada sejumlah ide serta praktik sosial lama yang masih secara kuat menstruktur alam pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, tidak hanya laki-laki tetapi juga para perempuan itu sendiri.

Sabtu, 14 November 2015

Quo Vadis Demokrasi Indonesia Penulis : Riswandha Imawan

Quo Vadis Demokrasi Indonesia Penulis : Riswandha Imawan
Quo Vadis Demokrasi Indonesia
Penulis : Riswandha Imawan
Harga Rp 65.000
Penerbit : POLGOV UGM
Kondisi : Baru
Berat : 500gram
Tahun : 2015

Dalam politik, konflik hanya sebatas perbedaan visi, bukan pribadi. BOleh : saja kita berbeda pendapat, pandangan. Namun tidak berarti menghapus sama sekali persamaan yang ada diantara kita. Apalagi kita menganut konsep kekeluargaan dalam bernegara. Kita dibentuk Oleh : penderitaan yang sama, menghadapi tantangan yang sama, menghirup udara dan meminum air yang sama. Maka seharusnya tingkat toleransi manusia Indonesia menempati rangking tertinggi diantara bangsa-bangsa di muka bumi ini. Bagi Ilmuwan politik, ketidakmampuan ini bisa dimaklumi. Mayoritas aktor politik kita adalah politisi karbitan. Mereka hadir dan dibesarkan dibawah payung popularitas orang lain. Liat saja penggunaan vote getter ataupun para artis untuk menarik massa. Itu artinya aktor yang henak mewakili rakyat, tidak memiliki kemampuan minimal sama dengan para vote getter atau bahkan artis. Politik praktis itu berurusan dengan konflik kepentingan dan pengerahan massa. Untuk mengolahnya dibutuhkan ilmu dan seni. Itu sebabnya hanya mereka yang laihr dan terlibat langsung dalam dinamika sosial yang memiliki kemampuang memadai untuk mengendalikan konflik sosial.

Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar

 Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar
Buku: Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar
Penerbit    :    Desantara
Tahun Terbit    :    2012
ISBN    :    978-979-19646-5-4
Jumlah Halaman    :    260
Harga    :    Rp 69,000
Editor    :    M. Nurkhoiron dan Ruth Indiah Rahayu

Buku yang berjudul Identitas Urban, Migrasi, dan Perjuangan Ekonomi-Politik di Makassar ini merupakan hasil proses panjang pelatihan riset sekaligus menulis etnografi dan historiografi yang dilakukan Yayasan Desantara bekerjasama dengan LAPAR Makassar pada akhir 2010 sampai awal 2011 di Makassar.

Yang menarik dari buku ini adalah, kita diajak berkeliling kota Makassar menjumai orang-orang yang selama ini tak tercatat dalam buku-buku kebijakan perkotaan. Buku ini menawarkan perspektif baru, melihat sudut-sudut kota, baik dari bangunan-bangunan fisik maupun para penduduk yang jarang didiskusikan dan dijadikan oleh para pengambil kebijakan kota sebagai referensi kebijakan.